Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Jejak yang hilang
Freen menghela napas, namun matanya memancarkan gairah yang kembali menyala. Ia memasang kembali Mustika Merah Delima di lehernya.
"Baiklah, Manajer Dewi," gumam Freen, bangkit dari kursi. "Jika kau bilang sekarang, maka sekarang. Kita bertindak cepat, Nam."
Nam sudah sigap, tabletnya sudah menyala di tangan. "Aku akan memesan tiket pesawat. Nonthaburi... berarti kita menuju Bandara Internasional Suvarnabhumi atau Don Mueang. Kita ambil yang terdekat dan penerbangan paling awal ke Chiang Mai."
Sambil Nam sibuk menekan-nekan tablet untuk mencari penerbangan, Freen bergerak cepat menuju dapur.
"Logistik dasar!" seru Freen. Ia membuka lemari makanan dan mengambil beberapa bungkus roti lapis yang baru dibeli Nam dan beberapa botol air mineral.
"Kita tidak akan sempat makan malam yang benar-benar layak. Ini harus cukup untuk di perjalanan."
Nam menyelesaikan pemesanan tiket dengan kartu kredit Freen (mereka sudah sepakat menggunakan dana misi untuk semua pengeluaran terkait misi).
"Tiket beres! Penerbangan dua jam lagi, Freen. Kita harus segera ke bandara," lapor Nam. "Sekarang, taksi online."
Tidak sampai lima menit, mobil taksi online sudah menunggu di depan gerbang. Freen dan Nam segera melompat masuk, dengan Freen memastikan ransel berisi survival kit mereka (termasuk garam suci dan beberapa jimat pelindung) sudah berada di bagasi.
Begitu mobil melaju menuju bandara, Nam segera kembali fokus ke tabletnya.
"Oke, Freen. Misi 'Terikat' dan nama 'Jane'," kata Nam, mengetik dengan cepat.
"Aku akan mencari kaitan antara Chiang Mai, nama 'Jane', dan kata kunci apa pun yang menyiratkan terikat, terkunci, atau terperangkap secara spiritual atau fisik. Kita perlu tahu apa masalah 'Jane' ini sebelum kita mendarat."
Nam mengetikkan kueri pertama di mesin pencarinya: "Hilang Chiang Mai 'Jane' Terikat"
Freen bersandar, mengamati Mustika Merah Delima yang terasa hangat di dadanya. Perasaan mendesak dari Mae Nakha kali ini terasa lebih personal dan langsung. Ia yakin, kali ini mereka tidak akan berhadapan dengan Roh Kuno, melainkan dengan masalah yang melibatkan manusia dan takdir yang 'terikat' oleh sesuatu yang buruk.
"Cari juga kasus orang hilang, Nam. Jika Mae Nakha menggunakan nama, itu mungkin merujuk pada identitas nyata. Dan fokuskan pada legenda lokal di sekitar kuil atau situs kuno di Chiang Mai. Tempat-tempat seperti itu sering kali menyimpan 'ikatan' spiritual," saran Freen, memejamkan mata, mempersiapkan diri untuk analisis spiritual dan fisik yang akan datang.
Perjalanan singkat ke Bandara Internasional itu pun berubah menjadi sesi riset intensif. Freen menikmati roti lapis dan air minumnya, sementara Nam, dengan mata terpaku pada tablet, mulai menggali misteri baru di tengah kegelapan malam.
Nam mengerutkan kening, jari-jarinya menari cepat di atas layar tabletnya. Lampu redup mobil taksi memantul di kacamatanya, menambah suasana tegang pada riset mendadak mereka.
"Aku tidak menemukan apa pun yang jelas dengan kata kunci 'Jane' dan 'Terikat', Freen. Tidak ada laporan orang hilang dengan nama itu, dan tidak ada legenda kuil kuno yang secara eksplisit menyebutkan 'ikatan' spiritual yang baru-baru ini terjadi," lapor Nam, suaranya sedikit frustrasi.
"Mungkin 'Jane' adalah nama kode, atau 'Terikat' bukan ikatan fisik, melainkan spiritual yang tidak terlaporkan. Coba perluas pencarian," usul Freen.
"Fokus pada area di Chiang Mai yang terkenal memiliki energi spiritual tinggi atau yang terpencil. Area hutan, atau kuil tua di pegunungan."
Nam mengubah strateginya. Ia mulai mencari berita-berita lokal mengenai insiden aneh, tempat-tempat yang baru-baru ini dihindari penduduk, atau kisah-kisah di forum lokal.
Kueri baru Nam: "Kejadian Aneh Chiang Mai Pegunungan" dan "Kuil Terlarang Chiang Mai".
Tiba-tiba, mata Nam membulat. "Freen, lihat ini."
Nam memutar tabletnya. Di layar, ada tangkapan layar dari sebuah forum diskusi lokal di Chiang Mai.
Judul Thread: "Hilangnya Backpacker Asing di sekitar Doi Suthep - Ada yang Tahu?"
Isi Pesan Utama: "Teman saya, seorang backpacker asing, terikat pada sebuah janji spiritual kuno di sebuah kuil tua di utara Doi Suthep. Kuil itu ditutup untuk umum. Dia pergi beberapa hari yang lalu, dan tidak ada kabar. Polisi tidak mau mencari karena tidak ada izin resmi ke area itu. Ada yang bisa membantu?"
"Tunggu, backpacker asing. Dalam bahasa Inggris, sering dipanggil 'Jane Doe' jika identitas tidak diketahui, atau mungkin namanya memang mirip 'Jane'," analisis Freen, matanya memicing.
"Dan yang terpenting: dia disebut 'terikat pada janji spiritual kuno'."
"Ini pasti dia!" seru Nam.
"Kuil tua di utara Doi Suthep. Aku akan cari koordinat kuil itu. Sepertinya namanya 'Wat Pha Rakam' Kuil Hutan Terkutuk."
Nam segera mencari koordinat dan detail tentang kuil tersebut. Hasilnya menunjukkan sebuah kuil yang sudah lama ditinggalkan, letaknya jauh di dalam hutan, di ketinggian gunung. Jalur menuju ke sana sangat sulit dan terjal.
Freen mengangguk. "Tepat sekali. Misi ini bukan tentang menyegel hantu, tapi melepaskan ikatan spiritual yang mengikat seseorang, Nam."
"Kalau begitu, ini lebih sulit. Kita tidak hanya melawan entitas, tetapi juga janji dan sumpah yang telah dibuat oleh manusia. Janji spiritual itu mengikat jiwa," kata Nam.
Nam segera mengunduh peta topografi area Doi Suthep dan menandai lokasi Kuil Pha Rakam. Ia juga mencari informasi tentang ritual atau kepercayaan lokal terkait sumpah atau janji spiritual.
"Kami tiba di bandara!" ujar sopir taksi.
Freen dan Nam saling pandang. Mereka sudah siap, dengan target dan misi yang jelas.
"Ayo, Nam. Kita terbang ke Chiang Mai. Kita punya waktu dua jam di udara untuk merencanakan bagaimana cara melepaskan 'Jane' dari janji kuno," kata Freen, bangkit dengan energinya yang kembali.
Mereka bergegas keluar dari taksi, menuju terminal keberangkatan, siap untuk menghadapi misteri di Utara Thailand.
Freen dan Nam berhasil check-in tepat waktu dan duduk di kursi pesawat menuju Chiang Mai. Begitu pesawat lepas landas dan lampu kabin diredupkan, mereka langsung membuka laptop dan tablet Nam. Waktu dua jam di udara adalah jendela emas untuk menyusun strategi.
"Oke, kita asumsikan backpacker asing yang terikat janji spiritual di Wat Pha Rakam adalah target kita," kata Freen, meletakkan Kunci Emas di dalam kantung beludru Mustika Merah Delima, memperkuat koneksinya dengan dimensi spiritual.
"Nam, fokus riset sekarang adalah 'melepaskan ikatan' atau 'membatalkan janji' dalam ritual Lanna (Thailand Utara)."
Nam mengetik kueri dengan cepat: "Ritual Pembatalan Sumpah Lanna Spiritual"
Informasi yang mereka temukan cukup mendalam dan sedikit mengerikan.
"Freen, lihat ini," bisik Nam.
"Ritual pembatalan janji spiritual di utara sangat rumit. Jika janji itu dibuat di kuil kuno yang ditinggalkan, itu biasanya melibatkan penyerahan diri kepada roh penjaga kuil di sana. Untuk membatalkannya, bukan hanya butuh Biksu, tapi juga harus ada pengganti yang bersedia menerima ikatan, atau objek simbolis yang dihancurkan untuk memutus ikatan spiritual."
"Pengganti? Itu tidak mungkin. Kita tidak bisa menukar Jane dengan orang lain," tolak Freen segera. "Jadi, kita fokus pada objek simbolis. Apa yang bisa menjadi simbol ikatan itu?"
Nam membaca lebih lanjut. "Biasanya janji dibuat di depan Patung Buddha utama di kuil, dan ikatan itu sering kali berupa benang suci atau cincin yang dipakai. Jika backpacker itu adalah seorang foreigner, dia mungkin tidak tahu bahayanya dan mengambil atau mengenakan sesuatu di kuil itu."
Freen memikirkan skenario itu. "Dia pasti mengambil atau mengenakan sesuatu yang merupakan inti dari janji tersebut, dan sekarang, jiwa serta nasibnya 'terikat' pada kuil itu. Tugas kita adalah menemukan objek itu dan menghancurkannya—atau lebih baik, menyucikannya."
"Tapi bagaimana kita akan membedakan antara benda biasa dan objek ikatan di kuil yang penuh dengan barang-barang tua?" tanya Nam, frustrasi.
Freen memejamkan mata, menyentuh Mustika Merah Delima. "Aku akan tahu. Objek yang memiliki ikatan spiritual sekencang itu pasti memancarkan aura. Kali ini, kita akan menjadi arkeolog paranormal."
Freen kemudian mulai menyusun rencana aksi.
Pendekatan: Mereka akan menyamar sebagai pemandu spiritual yang disewa oleh keluarga backpacker itu (Freen akan menggunakan wibawa dari Mustika Merah Delima untuk meyakinkan pihak berwenang di kaki gunung, jika ada).
Akses: Mencari jalur tercepat dan teraman menuju Wat Pha Rakam.
Misi Inti: Menemukan backpacker ('Jane') dan objek ikatan. Memutuskan ikatan spiritual secepat mungkin.
Freen menunjuk peta yang ditandai Nam di tablet. "Wat Pha Rakam terletak di hutan yang sangat terpencil. Kita butuh kendaraan off-road dan pemandu lokal yang berani. Setelah mendarat, kita tidak boleh membuang waktu."
Saat pesawat mulai mengurangi ketinggian, Nam menyeringai. "Aku sudah mencari penyewaan mobil off-road di bandara, Freen. Dan aku sudah menyiapkan amplop berisi uang tunai untuk 'biaya pemandu' yang persuasif."
Freen tersenyum. "Bagus, Nam. Kau memang researcher yang handal. Kali ini, kita akan menjadi penyelamat spiritual di hutan Chiang Mai."
Mereka mendarat di Bandara Internasional Chiang Mai. Udara malam yang sejuk langsung menyambut mereka. Misi pencarian backpacker yang 'terikat' pun dimulai.