NovelToon NovelToon
TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Psikopat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: DINDING PARA PENDOSA

Malam itu, villa terasa sangat sunyi, namun bagi Ghea, kesunyian ini adalah celah. Adrian baru saja turun ke lantai bawah untuk menerima telepon penting yang nampaknya tidak bisa ditunda. Ghea berdiri di balik pintu kamarnya yang sedikit terbuka—sebuah kelonggaran yang diberikan Adrian karena ia menganggap Ghea sudah mulai "jinak" setelah cerita romantis palsu kemarin.

Ghea berjalan dengan langkah yang nyaris tak terdengar. Tujuannya bukan pintu keluar, melainkan sebuah pintu kayu berwarna gelap di ujung lorong lantai dua yang selalu terkunci rapat. Itu adalah ruang kerja pribadi Adrian, tempat di mana pria itu menghabiskan waktu berjam-jam setiap harinya.

Ghea menyentuh gagang pintunya, bersiap untuk mengeluarkan kawat korset yang selalu ia sembunyikan. Namun, ia tertegun.

Cklek.

Pintu itu tidak terkunci. Sepertinya Adrian terlalu terburu-buru saat menerima telepon tadi hingga lupa memutar kunci ganda. Ghea menarik napas dalam, lalu menyelinap masuk dan menutup pintu dengan sangat perlahan.

Udara di dalam ruangan itu terasa dingin dan berbau kertas lama serta aroma tembakau yang kuat. Cahaya bulan yang menembus jendela besar memberikan penerangan temaram yang cukup bagi Ghea untuk melihat sekeliling.

Awalnya, ruangan itu tampak seperti ruang kerja mewah biasa dengan rak buku yang menjulang tinggi. Namun, mata detektif Ghea menangkap sesuatu yang ganjil pada dinding di balik meja jati besar milik Adrian. Ada sebuah tirai beludru hitam yang menutupi area yang cukup luas.

Dengan tangan gemetar, Ghea menarik tirai itu.

"Ya Tuhan..." bisik Ghea ngeri.

Di balik tirai itu terdapat sebuah whiteboard raksasa yang menutupi hampir seluruh dinding. Namun, itu bukan papan tulis biasa. Itu adalah sebuah peta besar yang dipenuhi dengan foto, potongan berita koran, dan garis-garis merah yang saling terhubung.

Ghea melangkah mendekat, matanya menyisir setiap foto yang tertempel di sana. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa sakit.

Foto pertama: Samsul Bahri, seorang gembong narkoba kelas kakap yang pernah Ghea selidiki dua tahun lalu. Di atas fotonya, ada tanda silang besar berwarna merah.

Foto kedua: Hendra Wijaya, pelaku kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yang dibebaskan oleh pengadilan karena "kurangnya bukti". Foto itu juga dicoret dengan tanda silang merah.

Foto demi foto, Ghea mulai menyadari sebuah kenyataan yang mengerikan. Semua orang yang ada di dinding ini adalah penjahat-penjahat besar yang pernah ia selidiki saat ia masih menjadi detektif aktif. Mereka adalah orang-orang yang berhasil lolos dari hukum karena uang, kekuasaan, atau celah hukum yang sempit.

"Dia... dia memburu mereka semua," desis Ghea.

Ghea melihat catatan kecil di bawah setiap foto. Tulisan tangan Adrian yang rapi dan dingin menjelaskan metode eksekusi, waktu kematian, dan alasan mengapa orang tersebut harus "dibereskan".

Di tengah-tengah semua foto penjahat itu, terdapat sebuah foto besar yang membuat Ghea hampir terjatuh. Itu adalah fotonya sendiri. Foto Ghea saat masih mengenakan seragam kebesaran kepolisian, sedang tersenyum di hari kelulusannya.

Di bawah fotonya, tidak ada tanda silang merah. Hanya ada satu kata yang ditulis dengan tinta emas: PURIFICATION (Pemurnian).

Ghea menyadari sesuatu yang lebih gila lagi. Adrian tidak hanya membunuh orang-orang ini untuk "keadilan". Adrian membunuh mereka sebagai bentuk pemujaan kepada Ghea. Dia menganggap dirinya sebagai alat pembersih dunia bagi Ghea, menghancurkan siapa pun yang pernah membuat Ghea gagal atau kecewa dalam tugasnya.

"Jadi ini alasan kau mengurungku?" suara Ghea bergetar hebat. "Kau ingin aku menjadi 'dewi' di istanamu sementara kau menjadi eksekutor berdarah dinginmu?"

Ghea kemudian melihat sebuah brankas kecil di pojok meja kerja Adrian. Brankas itu memiliki lubang kunci yang unik. Tanpa membuang waktu, Ghea meraba saku gaunnya dan mengeluarkan Kunci Titanium yang ia temukan di sepatu botnya.

Ia memasukkan kunci itu. Klik.

Pas. Sangat pas.

Ghea membuka pintu brankas itu dengan perlahan. Di dalamnya tidak ada uang atau perhiasan. Hanya ada sebuah buku catatan harian dan sebuah flashdisk hitam. Ghea membuka halaman pertama buku catatan itu.

‘Ghea tidak tahu bahwa malam itu, akulah yang memotong kabel rem mobilnya. Aku harus melakukannya. Jika dia tidak "mati", dia akan terus mengejar bayang-bayang dan akhirnya benar-benar terbunuh oleh mereka. Aku hanya menjemputnya kembali ke rumah yang seharusnya.’

Dunia Ghea seolah runtuh. Adrian bukan penyelamatnya. Adrian adalah orang yang menyebabkan kecelakaan itu. Adrian yang mencelakainya agar bisa memalsukan kematiannya dan memilikinya seutuhnya di villa ini.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari koridor. Adrian sedang berjalan kembali menuju ruang kerja.

Ghea panik. Ia segera menutup brankas, mencabut kunci titaniumnya, dan menarik tirai beludru kembali ke posisinya. Ia tidak punya waktu untuk keluar lewat pintu utama. Ia segera bersembunyi di balik lemari buku besar yang menjorok ke dalam dinding, menahan napas sekuat mungkin.

Pintu ruang kerja terbuka. Cahaya dari koridor masuk, membentuk siluet tinggi Adrian yang mengerikan.

"Ghea? Aku tahu kau ada di sini, Sayang," suara Adrian terdengar sangat tenang, namun ada nada ancaman yang tidak bisa disembunyikan.

Ghea menutup mulutnya dengan tangan, air mata mengalir deras di pipinya. Di dalam genggamannya, ia meremas kunci titanium itu. Sekarang ia tahu segalanya. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi kasih sayang palsu.

Pria di depannya ini adalah orang yang menghancurkan hidupnya, dan dia sedang berjalan mendekat ke arah persembunyian Ghea.

1
sun
sinopsisnya bagus thor,tapi kalau untuk penulisannya kurang bagus,karena banyak kata yang hilang dan tidak nyambung.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....
Leebit: makasih ya atas komentarnya. sya usahakan bab 2 lebih baik lagi😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!