NovelToon NovelToon
The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

The Director’S Secret: Menikahi Iblis Berwajah Malaikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Dark Romance
Popularitas:154
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: PESAN DALAM KESUNYIAN

Pagi itu, Mansion Valerius terasa seperti makam yang dilapisi emas. Abu dari kenangan yang dibakar Adrian semalam sudah dibersihkan tanpa sisa oleh para pelayan yang bekerja seperti robot. Tidak ada bau kertas terbakar, tidak ada noda hitam di marmer. Semuanya kembali sempurna, seolah-olah duka Arunika hanyalah imajinasi belaka.

Arunika duduk di meja makan panjang, menatap piring porselen berisi sarapan mewah yang tidak ia sentuh. Di ujung meja, Adrian sedang membaca koran digital di tabletnya, tampak tenang dan segar seolah ia tidak baru saja menghancurkan jiwa istrinya beberapa jam yang lalu.

"Makanlah, Arunika. Kau butuh energi untuk menyambut tamu kita nanti sore," ucap Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya.

Arunika mengangkat kepalanya perlahan. Suaranya serak. "Siapa?"

"Hanya kolega bisnis. Dan... aku mengundang Ayahmu."

Jantung Arunika berdegup kencang. Ayah? Ia sudah berminggu-minggu tidak mendengar kabar dari pria tua itu sejak pernikahan paksa ini dimulai. Adrian selalu memberikan alasan bahwa Ayahnya sedang beristirahat di resort kesehatan atau sedang sibuk dengan sisa-sisa utang perusahaannya.

"Kau membiarkanku bertemu dengannya?" tanya Arunika, mencoba menekan nada antusiasnya agar tidak terlihat mencurigakan.

Adrian meletakkan tabletnya dan menatap Arunika dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tentu saja. Aku bukan monster yang memisahkan anak dari ayahnya. Tapi ingat, Arunika... Aturan No. 15: Istri dilarang membicarakan masalah internal rumah tangga kepada pihak luar, termasuk keluarga asal. Kau mengerti konsekuensinya jika kau membuat Ayahmu khawatir, bukan?"

Arunika menelan ludah. Itu bukan undangan, itu adalah ujian. Jika ia mengadu, maka Ayahnya yang sakit-sakitan mungkin akan menjadi target "hukuman" Adrian berikutnya.

"Aku mengerti," jawab Arunika lirih.

Sepanjang siang, Arunika memutar otak. Ia tahu ia tidak akan bisa berbicara berdua saja dengan Ayahnya. Adrian pasti akan menempel seperti bayangan, atau setidaknya Sandra dan kamera tersembunyi akan mengawasi setiap gerak-gerik bibirnya.

Ia harus memberikan pesan. Sebuah peringatan bahwa ia dalam bahaya, tanpa mengeluarkan satu kata pun.

Arunika berjalan menuju perpustakaan besar di lantai dua. Ini adalah salah satu tempat di mana ia diizinkan bergerak sedikit lebih bebas. Di sana, ia menemukan sebuah buku tua tentang bahasa bunga. Sebuah ide gila muncul di kepalanya.

Ia mengambil secarik kertas kecil dari catatan di perpustakaan. Dengan tangan gemetar, ia menuliskan sesuatu yang sangat singkat: "Loker 402 Stasiun Pusat. Tolong."

Ia melipat kertas itu sekecil mungkin, lalu menyembunyikannya di dalam lipatan kain kain saputangan sutra yang ia bawa.

Sore harinya, Ayah Arunika, Pak Broto, tiba. Pria itu tampak jauh lebih kurus dan pucat. Saat melihat Arunika, matanya berkaca-kaca.

"Arunika... kau tampak... sangat mewah, Nak," ujar Pak Broto sambil memegang tangan putrinya.

Adrian berdiri tepat di samping mereka, tangannya melingkar di pinggang Arunika dengan protektif. "Dia sangat bahagia di sini, Pak Broto. Kami sedang belajar untuk saling memahami setiap hari."

Arunika memaksakan senyum yang paling meyakinkan yang pernah ia buat. "Iya, Ayah. Adrian sangat baik padaku. Dia memberiku segalanya."

Kata "segalanya" terasa seperti racun di lidahnya.

Makan malam berlangsung dengan tensi yang tinggi bagi Arunika. Setiap kali Ayahnya bertanya tentang kabarnya, Adrian yang menjawab lebih dulu dengan narasi yang sempurna. Arunika merasa seperti boneka ventriloquist yang digerakkan oleh tali-tali tak kasat mata.

Saat makan malam hampir usai, Pak Broto batuk dengan keras. "Maaf, aku butuh ke kamar kecil sebentar."

"Biarkan pelayan mengantarkan Anda, Pak Broto," sahut Adrian ramah.

"Tidak apa-apa, Adrian. Biar aku saja yang mengantar Ayah," potong Arunika cepat.

Adrian menatapnya tajam selama beberapa detik. Atmosfer di meja makan mendadak membeku. "Tentu. Temani Ayahmu, Sayang. Jangan lama-lama."

Arunika menuntun Ayahnya menuju lorong. Ia tahu Sandra sedang mengawasi dari kejauhan, dan kamera koridor menyorot punggung mereka. Saat mereka sampai di depan pintu kamar mandi yang tidak terjangkau kamera secara langsung, Arunika memeluk Ayahnya dengan sangat erat.

"Ayah, aku sangat merindukanmu," bisik Arunika sambil menangis sesenggukan.

Dalam pelukan itu, tangan Arunika dengan cepat merogoh saku jas Ayahnya dan memasukkan saputangan berisi pesan rahasia itu. Ia melakukannya dengan gerakan yang sangat halus, menutupi tangannya dengan rambut panjangnya.

"Aku juga, Nak. Kau yakin kau baik-baik saja? Wajahmu... matamu terlihat sangat ketakutan," bisik Pak Broto pelan.

"Aku bahagia, Ayah. Sangat bahagia," ucap Arunika dengan suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh mikrofon di langit-langit. Namun, ia meremas lengan ayahnya dengan kuat, sebuah kode rahasia yang dulu sering mereka gunakan saat ia masih kecil ketika ia merasa takut.

Pak Broto tertegun. Ia merasakan getaran hebat di tubuh putrinya. Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, suara langkah kaki Adrian terdengar mendekat.

"Sudah selesai temu kangennya?" tanya Adrian muncul dari balik sudut koridor.

Arunika segera melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. "Sudah. Ayah lelah, mungkin dia harus segera pulang agar bisa istirahat."

Malam itu, setelah Pak Broto pulang, Adrian membawa Arunika ke kamar mereka. Ia tidak marah, tapi ia terus menatap Arunika dengan senyuman yang aneh.

"Kau sangat emosional tadi, Arunika. Pelukan yang sangat lama," ujar Adrian sambil melepas dasinya.

"Aku hanya merindukannya, Adrian. Apa itu juga melanggar aturan?"

Adrian berjalan mendekat, membelai rambut Arunika. "Tidak. Tapi aku harap kau tidak memasukkan sesuatu yang tidak seharusnya ke dalam saku jas Ayahmu."

Darah Arunika terasa berhenti mengalir. Apa dia tahu?

Adrian mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah rekaman video. Itu adalah rekaman dari sudut yang sangat tersembunyi—kamera infra merah yang dipasang di dalam pigura lukisan tepat di depan pintu kamar mandi.

Dalam video itu, terlihat jelas tangan Arunika bergerak masuk ke saku jas Pak Broto.

"Kau pikir aku sebodoh itu, Sayang?" bisik Adrian. "Kau pikir aku akan membiarkanmu bicara tanpa pengawasan?"

Adrian menjentikkan jarinya. Pintu kamar terbuka, dan Sandra masuk membawa saputangan sutra milik Arunika. Kertas kecil di dalamnya sudah terbuka.

"Loker 402 Stasiun Pusat," Adrian membacakan tulisan itu dengan nada mengejek. "Kau ingin mengirim pesan pada kekasihmu, Rendra? Melalui Ayahmu yang sudah sekarat?"

Adrian meremas kertas itu dan membakarnya dengan korek api peraknya. "Ayahmu tidak akan pernah sampai ke rumah malam ini, Arunika. Sopirku sudah membawanya ke 'fasilitas kesehatan' yang lebih tertutup. Tempat di mana dia tidak akan bisa menerima pesan atau menemuimu lagi sampai kau belajar benar-benar patuh."

Arunika jatuh terduduk di lantai. Harapan terakhirnya untuk meminta bantuan baru saja hancur, dan sekarang ia telah membahayakan nyawa Ayahnya sendiri.

"Hukuman semalam tampaknya belum cukup," ujar Adrian sambil berjalan menuju lemari kecil di sudut ruangan dan mengeluarkan sebuah borgol kecil berlapis kain beludru. "Mulai malam ini, kau tidak akan meninggalkan kamar ini. Bahkan untuk makan sekalipun. Selamat datang di isolasi total, Nyonya Valerius."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!