Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17--Memberi Pelajaran
Tomy tahu. Semua tuduhan itu benar, ia harus akui bahwa ia kalah kali ini. Wajahnya berubah menjadi lebih kasar, tegak, dan terpojok. Tapi rasa takut itu cepat berubah jadi sesuatu yang lebih berbahaya.
Rasa ego, dan sombong.
Dia tertawa pelan. “Anggap aja semua itu benar.”
Preman-preman di belakangnya mulai berdiri. Jumlah lima belas orang, memasang kuda-kuda siap bertempur.
“Terus kenapa?” Tomy menatap Rahmat dengan dingin. “Lo pikir gue bakal nangis dan minta maaf?”
“Sayang sekali, kamu pintar, nak. Tapi lupa satu hal.”
“Seharusnya kalau punya bukti sebanyak itu kamu bisa lapor, tapi malah mutusin kesini sendirian.”
“Tololnya minta ampun, inilah kenapa bocah jaman sekarang naif.”
Semua preman itu saling melempar hinaan, dan ejekan. Rahmat tidak menjawab.
Tomy mengangkat tangan sedikit. Lima belas orang bergerak pelan membentuk setengah lingkara, gudang tua itu sudah seperti arena sekarang. Dipenuhi orang preman yang siap menjadi tukang pukul.
“Lo berubah, emang pinter nambah pintar” ucap Tomy. “Tapi lo lupa satu hal.”
Rahmat menatapnya dingin.
“Lo cuma bocah 16 tahun.” Senyum Tomy melebar. “Dan di sini… yang berlaku bukan matematika, teori, dan kepintaran. Tapi hukum rimba yang kuat dan yang lemah bertahan!”
Hukum rimba ya? Sungguh sombong, tidak mengetahui siapa yang berada diposisi untuk diburu
Tangan Tommy turun.
“Abisin dia, buat mampus sampai mati sekalian!”
Langkah kaki bergema. Satu orang maju duluan. Tubuh besar. Tangan penuh tato. Mereka juga tidak mau kena imbas jika Rahmat membocorkan aib Tommy maka mereka serius ingin membuat anak ini mampus.
Rahmat menghela napas pelan. “Keputusan yang tolol.” ia sangat kecewa akan pilihan tolol itu.
[DING!]
[MISI DARURAT TERPICU]
[BERTAHAN HIDUP – 15 LAWAN]
[Hadiah:] • Rp100.000.000
• Refleks Tempur Tingkat Menengah
• Insting Bahaya Aktif Permanen
• Peningkatan Fisik +20% aktif permanen
[Terima?]
Rahmat tidak ragu.
“Terima.”
Dalam sepersekian detik— Rasa panas menyebar ke seluruh tubuhnya. Otot-ototnya terasa ringan. Penglihatannya lebih tajam. Jarak, sudut, pergerakan— Semua seperti diperlambat.
Pria bertato itu mengayunkan botol.
Rahmat melangkah miring.
Tangan kirinya menangkap pergelangan.
Putar, lalu tangannya retak begitu saja, jeritan pecah di udara. Namun itu semua belum selesai—siku kanan Rahmat menghantam rahang, satu tubuh besar itu ambruk.
Tersisa 14 tukang pukul lagi.
Berkat gerakan itu semua jadi terkejut, pria bertubuh besar tadi adalah jagal tangan, tukul pukul paling kuat diantara mereka semua, bocah ini bukan sembarang orang.
Mereka menaikan tingkat kewaspadaan.
Sunyi setengah detik.
Lalu kembali chaos. Tiga orang menyerbu bersamaan, satu dari kiri, dua dari depan. Rahmat bergerak tanpa berpikir panjang, hanya mengikuti naluri dan respon cepat dari sistem.
[Prediksi Arah Serangan: Kiri – Pukulan keras]
[Waktu Respon Optimal: 0.4 Detik]
Tinju pertama ia tangkis, lututnya menghantam perut lawan. Orang kedua mencoba memeluk dari belakang— Rahmat menunduk, memutar pinggang, melempar tubuh itu melewati bahunya.
BRAK.
Punggung menghantam lantai beton. Yang ketiga sempat mengenai pipinya sedikit.
Rasa perih muncul.
Rahmat menoleh perlahan. Tatapannya berubah.
Dingin. Satu langkah cepat— Pukulan pendek ke ulu hati.
Lawan langsung muntah dan roboh.
Tomy membeku.
Ini bukan perkelahian anak sekolah, ini seperti melihat pertarungan orang profesional dan darimana datangnya kemampuan bela diri tingkat atas dari Rahmat? Perasaan kemarin-kemarin dia sangat mudah untuk jadi samsak tinju, bagaimana bisa tiba tiba berubah gini.
Lima orang sudah tumbang.
Sepuluh tersisa. Mereka mulai ragu.
Rahmat meluruskan bahunya. “Masih mau lanjut?”
Jawabannya adalah teriakan marah. Mereka menyerbu sekaligus.
Salah satu membawa pipa besi. Rahmat mengambil kursi kayu dan melemparnya sebagai penghalang.
Pipa menghantam kursi.
Retak.
Rahmat masuk ke jarak dekat.
Sikut, tendangan rendah, hantama telapak ke dagu. Semua adalah gerakan efisien, tidak berlebihan dan tidak menimbulkan gerakan yang percuma.
Satu per satu tumbang.
Beberapa mencoba kabur.
Rahmat menangkap satu yang terakhir dengan menarik kerah bajunya, memukul yang terakhir sampai pingsan.
[DING!]
[MISI SELESAI]
[Hadiah Diterima]
[Rp100.000.000
• Refleks Tempur Tingkat Menengah
• Insting Bahaya Aktif Permanen
• Peningkatan Fisik +20% selama 24 jam
Akhirnya—gudang kembali jadi sunyi. Lima belas orang tergeletak lemah, beberapa mengerang kesakitan, beberapa pingsan.
Tomy mundur satu langkah. Orang ini adalah monster.
Rahmat berjalan mendekat. Langkah itu pelan, tapi penuh otoritas, sepatu menggesek lantai berdebu. Sekarang dia berhenti tepat di depan tommy.
Tommy tampak ketakutan.
“Lo tadi bilang yang berlaku bukan matematika.”
Rahmat menatapnya lurus. “Sekarang yang berlaku adalah hukum rimba, bukan?” Rahmat memasang kuda-kuda penuh ancaman. Pukulan siap menghantam,
Tomy gemetar.
“Kukasih pilihan terakhir, buat hutangku seperti normal, bekerjasamalah dengan ku, dan kujamin nyawamu akan selamat.”