NovelToon NovelToon
A Feeling Rising In Chaos

A Feeling Rising In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Misteri / Hari Kiamat / Fantasi / Romansa / Action
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.

Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Delapan Belas — Mencari Sebuah Bukti

Selamat membaca cerita baruku, semoga kalian suka yaa

Suara itu datang dari kejauhan. Awalnya samar, seperti dengung lebah raksasa tapi semakin jelas. Baling-baling, helikopter. Semua langsung menegang. “Itu…” bisik Arsya.

Jay bergerak cepat ke tangga, tapi tidak langsung membuka. Ia hanya naik dua anak tangga mendekatkan telinga ke celah ventilasi kecil. Dengungnya nyata, bukan halusinasi.

Bukan gema hutan, helicopter itu terbang rendah—terlalu rendah untuk sekedar melintas tanpa tujuan. Niki mendekat.”Militer?” Regan ragu, “atau…” ia tidak melanjutkan, karena kemungkinan lain jauh lebih buruk.

Jay akhirnya membuka celah ventilasi kecil seukuran telapak tangan. Cahaya senja masuk tipis. Ia mengintip ke langit melalui sela akar dan batu, siluet hitam melintas di atas kanopi bukan satu melainkan dua.

Dan ada lambang di bagian bawahnya, meski tak terlihat jelas dari sudut mereka. Helikopter itu tidak menembakkan apapun. Tidak menjatuhkan apapun hanya sedang berputar, seperti mencari sesuatu.

Arsya berdiri di bawahnya, jantungnya berdebar. “Kalau itu tentara, kenapa tidak ada suara pengeras? Tidak ada evakuasi?” jay menutup kembali celah itu perlahan. “Karena mereka tidak sedang mencari korban,” katanya pelan.

Sunyi.

Dazzel menelan ludah. “Lalu?” Jay menatap mereka satu per satu, “mereka sedang mencari sesuatu yang lain.” Lyno mengepalkan tangan. “Kita?” Niki menggeleng, “jika bukan kita, berarti yang mereka cari adalah Alpha.”

Helikopter itu kembali melintas, kali ini lebih jauh.

Regan berbisik, “kalau memang ada evakuasi di Kota Sejuk, pasti ada konvoi. Tapi kita tidak dengar apapun.” Arsya mengingat sesuatu. “Dokumen itu… Proyek Cermin. Aplikasi militer.” Jay mengangguk pelan.

“Kalau militer terlibat sejak awal,” katanya, “mereka mungkin tidak datang untuk menyelamatkan.”

Keheningan kembali menekan ruangan.

Harapan baru saja muncul—dan langsung retak oleh kemungkinan lain. Dazzel menggigit bibirnya.”Jadi kita tetap ke Kota Sejuk… atau menjauh dari arah helikopter?” Jay berpikir cepat. Jika ada tentara sungguhan, Kota Sejuk adalah peluang. Jika itu bagian dari proyek—maka mereka berjalan ke sarang yang lebih besar.

Helikopter itu akhirnya menjauh, suaranya memudar di balik hutan. Namun satu hal pasti— mereka tidak lagi sendirian dalam permainan ini. Bukan hanya makhluk eksperimen. Bukan hanya Alpha. Sekarang ada pihak yang masih aktif bergerak di langit.

Jay menarik nafas panjang. “Kita tetap ke Kota Sejuk.”

Semua menoleh.

“Tapi bukan lewat jalur biasa. Kita observasi dulu dari luar. Kalau itu zona evakuasi, kita masuk. Kalau itu zona operasi…”

Ia tidak melanjutkan, Niki menyelesaikan kalimatnya.”Kita tidak jadi target hidup mereka.” Arsya menatap ke arah langit-langit bunker.

Dua jam dengan kendaraan. Berarti mungkin semalaman berjalan kaki. Dan entah apa yang menunggu di sana. Namun untuk pertama kalinya sejak lama—ada kemungkinan lain selain bertahan dan bersembunyi.

Ada kemungkinan jawaban, atau pengkhianatan yang lebih besar.

Jay akhirnya memutuskan mereka tidak bergerak malam itu. “Kalau kita keluar sekarang, kita bergerak dalam kondisi lelah. Itu sama saja bunuh diri,” ujarnya pelan. Bunker kembali redup oleh cahaya senter kecil yang di nyalakan seperlunya.

Arsya membuka tasnya. Isinya tidak banyak. Beberapa botol air, dua bungkus roti—hati ini tanggal kadaluarsanya dan beberapa kue ringan yang sudah agak hancur karena perjalanan. Ia tersenyum tipis, “untung kita tidak langsung makan semua waktu itu.”

Niki duduk bersandar, menerima bagiannya tanpa komentar. Regan membantu membagi agar adil. Lyno menatap roti ditangan kakaknya. Arsya menyobeknya menjadi dua tanpa ragu, “ini buat kamu.” Lyno menggeleng. “Kak, kamu saja—”

Arsya menyodorkan paksa. “Aku sudah makan tadi.” padahal belum. Jay memperhatikan dari seberang ruangan, tapi tidak menyela, Lyno akhirnya menerima setengah roti itu. Sisanya mereka makan kue ringan. Rasanya sudah tidak terlalu enak, sedikit apek, tapi tetap mengisi perut yang kosong sejak siang.

Suasana bunker perlahan menjadi lebih manusiawi. Tidak ada perdebatan serta tidak ada strategi. Hanya suara kunyahan pelan dan nafas yang mulai stabil. Untuk beberapa menit, mereka bukan buronan eksperimen. Hanya delapan orang yang lapar.

Dazzel bersandar ke dinding. “Lucu ya… dulu kita pilih-pilih makanan. Sekarang expired sehari saja rasanya seperti hadiah.” Niki mendengus pelan. “Selama belum berjamur, masih mewah.” sedikit tawa tipis muncul.

Tipis, tapi nyata.

Arsya meneguk air terakhir sebelum menyisakan sedikit untuk nanti malam. Jay akhirnya berbicara pelan. “Kita bagi waktu istirahat. Dua orang jaga setiap dua jam.”

“Aku pertama,” ujar Niki cepat.

“Aku juga,” sahut Jay.

Mereka berdua memang paling sulit benar-benar tidur. Arsya bersandar ke dinding beton, bahunya hampir menyentuh bahu Lyno. lelah mulai menggerogoti tubuhnya. Namun sebelum matanya benar-benar terpejam, iia berbisik pelan pada Jay yang duduk tidak jauh.

“Kota Sejuk… kamu yakin?”

Jay menatapnya beberapa detik, tidak ada candaan maupun godaan. Serius. “Tidak,” jawabnya jujur. “Tapi itu satu-satunya arah yang memberi kemungkinan jawaban.” Arsya mengangguk pelan.

Ia akhirnya memejamkan mata. Di atas mereka hutan kembali sunyi. Helikopter sudah tidak terdengar, makhluk tawa patah itu juga tak kembali. Namun jauh di luar bunker— di antara pepohonan yang gelap, sepasang mata tidak sepenuhnya manusia mengamati sungai. Mengamati tanah berlumut. Mengamati tempat yang tadi di sentuh.

Lalu perlahan berbalik pergi. Seolah pesan sudah cukup jelas. Permainan belum selesai.

Niki menyandarkan punggungnya ke dinding beton bunker, suaranya rendah agar tidak membangunkan yang lain. “Nanti pas di luar, kita harus cari minimarket. Siapa tau masih ada stok yang belum dijarah.”

Jay tidak langsung mengangguk, “kalau kita melewatinya.” balasnya datar. “Kalau jalurnya aman. Kalau tidak, bisakah kalian menahan lapar?” pertanyaan itu bukan sinis, realistis.

Asa yang duduk bersila di sudut ruangan mengangkat kepala. “Tidak apa, kami sudah terbiasa menahan lapar.” Domi mengangguk kecil. “Dua hari juga pernah.” Jay menatap keduanya sebentar. Bukan iba melainkan menghitung.

Tubuh yang kekurangan energi lebih lambat bergerak. Reflek menurun. Emosi tidak stabil. Di tengah perburuan seperti ini—lapar bisa sama mematikannya dengan kanihu. Niki menyeringai tipis. “Tetap saja, kalau ada makanan gratis, kita ambil.”

“Gratis?” gumam Jay. “sekarang semua yang tersisa itu hasil rebutan.”

Sunyi kembali menyelimuti.

Di sisi lain ruangan, Arsya yang setengah terlelap masih bisa mendengar percakapan itu. Ia membuka mata pelan. “Kita cari makanan,”katanya lirih tanpa bangun. “Tapi jangan memaksa. Jangan karena roti kita mati.”

Jay meliriknya. “Aku tidak akan mempertaruhkan kalian demi rak mie instan,” jawabnya tenang. Niki menatap Jay sekilas. “Kota Sejuk pasti punya pusat distribusi kalau memang ada evakuasi.”

“Kalau memang ada,” ulang Jay.

Kata-kata itu kembali menggantung. Asa menghela nafas panjang. “Kalau tidak ada tentara… berarti kita cuma berjalan menuju kota kosong.” Domi menambahkan pelan, “atau kota yang sudah diambil alih.”

Semua memahami maksudnya.

Bukan hanya Kanihu, bisa saja ada kelompok manusia lain yang tidak lebih ramah. Jay berdiri pelan, menggantikan posisi jaga agar Niki bisa duduk lebih nyaman. “Kita tidak mencari minimarket,” ujarnya akhirnya. “Kita mencari informasi. Kalau dalam perjalanan ada makanan, kita ambil. Tapi tujuan utama tetap Kota Sejuk.”

Niki mengangguk kecil. “Berarti besok pagi?”

“Menjelang subuh,” jawab Jay. “Kita bergerak saat cahaya belum penuh. Cukup terang untuk melihat, cukup gelap untuk tidak terlalu terlihat.”

Di sudut Lyno sudah tertidur bersandar pada kakaknya. Arsya akhirnya benar-benar terlelap. Bunker kembali sunyi. Namun di luar— hutan tidak sepenuhnya kosong. Dan Kota Sejuk, dua jam dari sini– mungkin bukan hanya menyimpan makanan, tapi juga sebuah jawaban. Serta jebakan yang jauh lebih rapi?

Terima kasih sudah membaca, jangan lupa kasih like dan Vote yaa.. kita lanjut besok yaa jam 10 & 16..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!