Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Perang Dalam Cawan Petri
Kegembiraan atas jatuhnya balon-balon udara Inggris tidak bertahan lama. Seminggu setelah kemenangan di langit, sebuah laporan mengerikan datang dari desa-desa di lereng Pegunungan Kendeng. Tanaman jagung yang menjadi tumpuan pangan rakyat mulai layu secara misterius, daunnya berubah menjadi hitam seperti terbakar, dan ternak-ternak penduduk mati mendadak dengan bercak-bercak aneh di kulitnya.
"Ini bukan musim kemarau, Raden," lapor Pak Sahid dengan tangan gemetar. "Ini seperti kutukan. Tanaman mati hanya dalam satu malam, dan air sumur di desa bawah mulai berbau busuk."
Jatmika segera menyadari bahwa ini adalah pekerjaan Dr. Van Helmont. Sang ahli kimia dari Leiden itu tidak menyerang dengan peluru, melainkan dengan Agen Biologi. Melalui mata-mata dan bantuan faksi Mas Danu yang masih tersisa, Van Helmont menyebarkan spora jamur dan bakteri Anthrax yang telah dikonsentrasi ke aliran air dan ladang-ladang.
"Dia ingin membuat kita kelaparan dan sakit hingga kita memohon belas kasihan Belanda," desis Jatmika.
Ia segera mengubah gudang senjatanya menjadi Laboratorium Mikrobiologi Improvisasi. Menggunakan lensa-lensa kaca dari teropong kapal yang ia asah kembali menjadi lensa objektif mikroskop berkekuatan tinggi, Jatmika mulai meneliti sampel air dan jaringan tanaman yang sakit.
"Lihat ini, Yusuf," Jatmika menunjukkan sebuah noda pada cawan kaca. "Ini bukan kutukan. Ini adalah mikroorganisme. Van Helmont menggunakan sains untuk membunuh, maka kita akan menggunakan sains untuk menyembuhkan."
Jatmika teringat pada prinsip dasar Pasteurisasi dan penemuan Penisilin yang seharusnya baru ada puluhan tahun di masa depan. Ia tidak memiliki waktu untuk riset bertahun-tahun, jadi ia beralih ke kearifan lokal yang diperkuat secara ilmiah. Ia memerintahkan rakyat untuk mengumpulkan jamur Penicillium yang tumbuh di sisa-sisa jagung dan mulai melakukan proses ekstraksi menggunakan alkohol murni hasil distilasi.
"Kita akan membuat Antibiotik dan Fungisida Organik," perintah Jatmika.
Namun, Van Helmont tidak hanya menyerang tanaman. Ia menyebarkan rumor melalui selebaran yang dijatuhkan dari kapal-kapal kecil bahwa Jatmika-lah yang membawa wabah tersebut karena kemarahannya kepada Tuhan. Ketakutan mulai merambat. Di beberapa sudut kota, rakyat mulai ragu untuk meminum air dari sistem pipa beton Jatmika.
Jatmika menyadari ia butuh demonstrasi publik untuk mengembalikan kepercayaan rakyat. Ia membangun sebuah Sistem Filtrasi Karbon Aktif dan Radiasi Ultraviolet (UV) di pusat kota. Menggunakan lampu uap raksa yang ia buat dari sisa-sisa laboratoriumnya, ia menciptakan cahaya ungu yang mampu membunuh kuman di dalam air.
"Rakyat Kendal!" Jatmika berseru di depan massa yang berkumpul di alun-alun. "Musuh kita menggunakan makhluk kecil yang tidak terlihat untuk menakut-nakuti kalian. Tapi lihatlah cahaya ini."
Ia mencelupkan sampel air yang terkontaminasi di bawah lampu UV-nya, lalu menunjukkannya kembali melalui proyeksi mikroskop raksasa yang ia buat menggunakan lampu busur karbon. Rakyat melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana "monster-monster kecil" itu berhenti bergerak dan mati di bawah cahaya buatan Jatmika.
"Cahaya ini bukan hanya untuk menerangi jalan," teriak Jatmika. "Ini adalah pelindung kita. Mulai hari ini, setiap desa akan memiliki kotak pemurni air ini."
Pertarungan intelektual antara Jatmika dan Van Helmont mencapai puncaknya ketika Jatmika berhasil menciptakan Vaksin Sederhana untuk ternak menggunakan metode atenuasi (melemahkan kuman dengan panas). Keberhasilan ini tidak hanya menyelamatkan ekonomi Kendal, tetapi juga mematahkan propaganda Belanda secara total.
Van Helmont, yang memantau dari Semarang, merasa terhina. "Bagaimana mungkin seorang pribumi di tengah hutan bisa mengisolasi bakteri tanpa peralatan dari Eropa?" tulisnya dalam laporan kepada Kolonel Thorne. "Orang ini bukan sekadar penemu. Dia adalah peradaban yang berdiri sendiri."
Namun, di balik kemenangan biologi ini, Jatmika menyadari satu hal: selama Kendal hanya sebuah "wilayah pemberontak", mereka akan selalu dianggap ilegal oleh hukum internasional. Ia butuh pengakuan politik yang sah. Ia butuh sebuah konstitusi.
"Yusuf, panggil para cendekiawan dan tetua," kata Jatmika malam itu. "Kita tidak akan hanya membuat mesin. Kita akan membuat Hukum Negara."