NovelToon NovelToon
CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.

Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.

Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."

Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Jawaban Singkat

Bab 12: Jawaban Singkat

"Boleh, jam berapa?"

Rafi menatap empat kata itu seolah-olah mereka adalah kode brankas yang baru saja terbuka setelah bertahun-tahun ia coba bobol. Layar Android-nya yang redup karena mode penghemat daya 7 persen justru membuat kata-kata itu tampak bercahaya di matanya. Tidak ada emotikon senyum, tidak ada tanda seru yang menunjukkan antusiasme berlebih, hanya sebuah pertanyaan logis dan singkat. Namun, di dunia Rafi, "Boleh" adalah sebuah pengakuan kedaulatan.

Ia masih terduduk di bawah pohon ketapang SMA 3 Tanjungbalai. Nasi garam di kotak makannya kini benar-benar terabaikan. Secara analitis, respons Nisa adalah respons efisien. Nisa tidak membuang waktu dengan basa-basi "Wah, asyik banget" atau "Tumben ngajak". Nisa langsung menuju inti teknis: waktu.

Rafi menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan tremor di jempolnya. Ia harus membalas. Tapi, jam berapa? Otaknya langsung memutar simulasi jadwal bus antar kota Tanjungbalai–Kisaran.

Bus pertama biasanya berangkat jam 7 pagi, tapi itu terlalu cepat, Nisa mungkin masih beres-beres rumah. Jam 10 pagi? Itu jam nanggung, sampai di Kisaran pas matahari lagi galak-galaknya di atas kepala, Terminal Kisaran bakal kerasa kayak oven.

"Jam 9 pagi," gumam Rafi pelan.

Secara rigoritas operasional, jam 9 adalah sweet spot. Jika mereka berangkat jam 9, mereka akan sampai di Kisaran sekitar jam 10 lewat sedikit. Masih ada waktu untuk jalan santai ke Irian sebelum antrean Food Court membeludak saat jam makan siang. Lagipula, suhu udara Tanjungbalai jam 9 pagi biasanya masih bisa ditoleransi oleh kulit, belum sampai tahap membuat keringat membanjiri kerah kemeja—hal yang sangat ingin Rafi hindari agar tidak terlihat kusam di depan Nisa.

Ia mulai mengetik: "Jam 9 pagi di Terminal ya? Biar nggak terlalu panas."

Ia menatap kalimat itu. Tunggu, pikirnya skeptis. Apakah aku harus menjemputnya? Di Tanjungbalai, menjemput teman wanita adalah norma kesopanan. Tapi Rafi tidak punya motor. Jika ia menjemput Nisa dengan angkot, lalu mereka naik angkot lagi ke terminal, itu akan memakan biaya tambahan sekitar 10 ribu sampai 15 ribu rupiah. Secara struktural, anggaran 315 ribunya sangat ketat. Setiap 5 ribu rupiah yang keluar tanpa rencana adalah ancaman bagi menu makan siang mereka nanti.

"Kalau aku minta dia langsung ke terminal, apakah aku bakal kelihatan kurang modal?" Rafi menggigit

bibir bawahnya.

Ia melakukan kalkulasi cepat. Biaya angkot jemput: 5.000 (Rafi ke rumah Nisa) + 10.000 (Berdua ke terminal) \= 15.000.

Jika ia langsung bertemu di terminal: 5.000 (Rafi ke terminal) + 5.000 (Nisa ke terminal sendiri) \= Hemat 10.000 bagi dompetnya.

Namun, logika sosial mengalahkan logika ekonomi kali ini. Ini adalah kencan pertamanya setelah sebulan menabung. Menunjukkan dedikasi adalah harga mati.

Ia menghapus kalimat tadi dan menggantinya: "Jam 9 aku jemput ke rumah ya? Kita naik angkot ke terminalnya biar barengan."

Tap. Kirim.

Layar ponselnya berkedip sekali lagi sebelum benar-benar mati total. Hitam. Mati. Baterai 0 persen.

Rafi menghela napas, menyandarkan punggungnya ke batang pohon yang kasar. Ia tidak tahu apakah pesan jemputan itu sudah centang dua atau belum. Ia tidak tahu apakah Nisa akan keberatan naik angkot berdua menuju terminal. Ketidakpastian kembali menyergap, tapi kali ini rasanya berbeda. Ada rasa manis yang tertinggal di lidahnya, lebih kuat daripada rasa asin garam yang baru saja ia telan.

"Boleh," bisiknya lagi, mencoba meresapi kemenangan kecil itu.

Di seberang lapangan, ia melihat Doni dan gerombolannya sedang tertawa sambil memegang botol minuman dingin yang mahal dari kantin. Biasanya, pemandangan itu akan membuat Rafi merasa minder atau iri secara objektif. Tapi sekarang, ia merasa memiliki sebuah rahasia besar yang membuat posisinya lebih unggul. Doni mungkin punya uang jajan harian yang lebih besar, tapi Doni tidak punya jadwal kencan hari Sabtu dengan Nisa.

Rafi menutup kotak makannya yang masih tersisa beberapa suap. Ia harus segera kembali ke kelas, tapi pikirannya sudah melompat jauh ke hari Sabtu. Ia mulai membayangkan rincian kecil yang akan terjadi.

Aku harus bangun jam 6 pagi. Mandi dua kali biar benar-benar bersih. Pakai kemeja flanel biru. Jangan lupa lem sepatu itu dicek lagi, kalau perlu tambahkan satu lapis Alteco di bagian tumit.

Secara mental, Rafi sedang menyusun Standard Operating Procedure (SOP) untuk dirinya sendiri. Di Tanjungbalai, kencan bagi orang tidak punya motor adalah sebuah ujian ketahanan fisik dan mental. Ia harus memastikan rute angkot yang tidak terlalu mutar-mutar agar Nisa tidak mabuk perjalanan sebelum sampai ke bus. Ia juga harus memikirkan posisi duduk di bus nanti.

"Duduk di sebelah kiri," gumamnya pelan. "Supaya nggak terlalu kena silau matahari pagi arah Kisaran."

Itu adalah detail mikroskopis yang hanya dipikirkan oleh orang-orang yang hidup dalam keterbatasan. Orang kaya hanya perlu memutar kunci kontak dan menyalakan AC. Orang seperti Rafi harus menghitung sudut kemiringan matahari agar pasangannya tetap merasa nyaman di atas kursi bus yang busanya sudah kempes.

Bel masuk berbunyi, memecah lamunannya. Rafi bangkit, merapikan celana sekolahnya yang sedikit berdebu. Sambil berjalan menuju kelas, ia merasa langkahnya lebih ringan. Ia tidak lagi melihat debu jalanan Tanjungbalai sebagai kotoran, melainkan sebagai saksi bisu perjuangannya.

Sepanjang sisa jam pelajaran, dari Ekonomi hingga Bahasa Indonesia, Rafi sama sekali tidak bisa konsentrasi. Ia hanya menggambar denah terminal di buku catatannya. Ia menandai di mana bus biasanya ngetem, di mana penjual koran berdiri, dan di mana ia akan menunggu Nisa muncul dari angkot.

Secara analitis, jawaban "Boleh" dari Nisa telah mengubah status hidup Rafi dari seorang "Penabung Tersembunyi" menjadi "Pelaksana Rencana".

Namun, ada satu ketakutan kecil yang tetap bersarang di sudut kepalanya. Nisa membalas sangat singkat. Terlalu singkat. Apakah itu tanda bahwa Nisa sebenarnya malas tapi merasa tidak enak untuk menolak? Ataukah itu memang gaya bicara Nisa yang lugas?

"Nggak usah dipikirkan, Rafi," ia mencoba menenangkan dirinya sendiri secara skeptis. "Hasil akhir adalah dia bilang ya. Jangan mencari-cari masalah dalam sebuah kemenangan."

Sore harinya, saat pulang sekolah, Rafi tidak langsung pulang ke rumah. Ia berjalan kaki sedikit lebih jauh menuju sebuah toko kelontong di dekat Pajak (pasar). Ia berdiri di depan etalase kaca, menatap sebuah botol kecil minyak wangi isi ulang yang harganya lima ribu rupiah.

Ia meraba sakunya. Ada uang sisa ongkos hari ini. Ia menimbang-nimbang secara logis. Jika ia membeli minyak wangi ini sekarang, saldo cadangannya di celengan tetap aman, tapi besok ia harus jalan kaki lebih jauh ke sekolah.

"Beli," putusnya singkat.

Wangi jeruk nipis yang tajam dan sedikit menyengat. Bukan wangi parfum mahal yang elegan, tapi bagi Rafi, ini adalah aroma perjuangan. Ia ingin saat duduk di sebelah Nisa nanti di bus yang panas, ia tidak tercium seperti bau asap knalpot Tanjungbalai.

Sesampainya di rumah, hal pertama yang ia lakukan adalah mencari charger ponsel. Setelah layar menyala kembali, ia langsung membuka WhatsApp dengan jantung berdebar.

Ada balasan baru dari Nisa.

Nisa SMK: "Oke, jam 9 ya. Nanti aku share lokasinya."

Rafi tersenyum lebar, jenis senyum yang jarang sekali muncul di wajahnya yang biasanya terlihat serius dan penuh perhitungan. Konfirmasi kedua. Semuanya sudah terkunci. Jadwal sudah dibuat. Target sudah ditetapkan.

Ia berjalan menuju kamarnya, mengambil draf rencana biaya di meja belajar. Ia mengambil pulpen, lalu di bawah tulisan "Cadangan (75rb)", ia menambahkan catatan kecil dengan huruf kapital:

JANGAN SAMPAI TERLAMBAT.

Rafi tahu, bagi orang lain, ini mungkin hanya jalan-jalan biasa ke kota sebelah. Tapi baginya, hari Sabtu nanti adalah pembuktian bahwa dengan nasi garam, lem sepatu, dan ketekunan mengetik tugas, seorang anak dari pinggiran Sungai Asahan bisa membawa impiannya duduk di kursi Foodcourt Kisaran.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam sebulan, Rafi tidur tanpa memikirkan saldo celengannya. Ia tidur dengan membayangkan pantulan cahaya lampu Irian Supermarket di mata Nisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!