NovelToon NovelToon
PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

PEMBALASAN ISTRI Yang DITINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.

Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.

Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.

Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Mobil Clara melaju keluar dari halaman Hotel Wirawan dalam suasana yang terasa sangat gelap.

Di kursi belakang Adrian duduk dengan dasi yang sudah dilonggarkan dan mata yang menatap jalan di luar jendela tanpa benar-benar melihat apapun. Clara di sampingnya masih dengan gaun merah anggurnya, masih dengan postur yang sama seperti biasanya, seperti ia baru pulang dari acara biasa dan bukan dari malam yang baru saja hancur berantakan.

Supir mereka tidak bersuara di depan. Seperti biasa.

Clara tidak membuka percakapan. Tidak menyentuh lengan Adrian. Tidak bertanya apakah ia baik-baik saja. Ia hanya duduk dan menatap jalan di depannya dengan cara orang yang sedang membiarkan sesuatu mengendap sebelum ia memutuskan apa yang akan ia lakukan dengan endapan itu.

Sepuluh menit berlalu sebelum Adrian akhirnya membuka mulutnya.

"Kenapa kamu bilang mereka terlihat akrab?"

Clara tidak langsung menjawab. "Karena mereka memang terlihat akrab."

"Kamu yang memancingku."

"Aku hanya bilang apa yang aku lihat." Suaranya ringan. "Kalau kamu merasa terpancing itu bukan salahku, Adrian."

Adrian menghela napas panjang dan membuang pandangannya ke luar jendela. "Aku mempermalukan diri sendiri malam ini."

"Iya." Clara tidak membantah. "Kamu mempermalukan diri sendiri."

Adrian menatapnya. "Kamu tidak perlu setuju dengan ucapanku secepat itu."

"Kamu minta kejujuran atau kamu minta dikasihani?" Clara melirik ke arahnya sebentar. "Karena aku tidak pandai mengasihani orang."

Adrian tidak menjawab.

"Leon Raffael bukan orang sembarangan." Clara melanjutkan dengan nada yang sama, ringan, terukur, seperti orang yang sedang menjelaskan sesuatu yang seharusnya sudah jelas. "Raffael Capital Group itu bukan perusahaan kecil. Keluarganya sudah bergerak di dunia investasi dan perbankan sejak dua generasi. Dan kamu berdiri di depannya malam ini dan hampir berteriak seperti orang yang tidak punya kendali atas dirinya sendiri."

"Aku tidak berteriak."

"Kamu hampir berteriak." Clara memotong dengan nada yang sangat datar. "Di depan para tamu. Di hotel milik keluarga Wirawan. Di acara perkenalan Elena ke dunia bisnis." Ia mengetukkan jarinya pelan di pahanya. "Kamu tidak bisa lebih buruk dari itu kalau kamu memang sengaja merencanakan untuk memperburuk situasimu sendiri."

Adrian diam saja.

"Dan sekarang semua orang di ruangan itu akan pulang ke rumah masing-masing dan menceritakan apa yang mereka lihat malam ini." Clara melanjutkan. "Bukan tentang Elena. Bukan tentang Leon. Tapi tentang laki-laki yang kehilangan kendali di pesta mewah karena cemburu melihat istrinya bicara dengan orang lain."

"Mantan istriku."

"Istrimu." Clara mengoreksi dengan tegas. "Karena kamu tidak mau tanda tangan surat cerai itu. Jadi ia masih istrimu. Dan malam ini kamu membuktikan ke seluruh ruangan bahwa kamu tidak layak untuk posisi itu."

Adrian spontan menatap Clara.

Ada sesuatu di cara Clara bicara malam ini yang berbeda dari biasanya, lebih tajam, lebih blak-blakan. Tidak ada lapisan lembut yang biasanya selalu ada di setiap kalimatnya.

"Kamu marah?" Adrian bertanya.

"Aku tidak marah." Clara menjawab singkat. "Aku hanya kecewa."

"Denganku?"

"Dengan situasinya." Clara menatap jalan di depannya. "Aku sudah bilang percayakan padaku. Aku sudah bilang kita perlu bergerak dengan hati-hati. Tapi kamu tidak bisa menahan diri satu malam saja."

"Karena kamu yang memulai."

"Adrian." Clara memotong. Suaranya turun menjadi sangat pelan, yang lebih terasa seperti peringatan. "Jangan salahkan aku untuk pilihan yang kamu buat sendiri."

Mobil berhenti di depan rumah Clara. Mereka turun dalam diam. Dan masuk ke dalam rumah.

Ruang tamu rumah Clara sepi malam itu. Bi Lastri sudah tidur. Lampu-lampu kecil yang tertinggal menyala membuat ruangan itu terlihat lebih hangat dari yang sebenarnya terasa malam ini.

Clara melepas heelsnya di dekat pintu m, gerakan kecil yang sangat berbeda dari cara ia bergerak sepanjang malam tadi. Ia berjalan ke dapur dan mengambil segelas air.

Adrian masuk dan duduk di kursi meja makan dengan jas yang masih ia pakai. Ia menatap punggung Clara.

"Clara."

"Apa?"

"Apa rencanamu sekarang?"

Clara mengambil seteguk airnya. Lalu ia berbalik dan menyandarkan punggungnya ke counter dapur, menatap Adrian dengan cara yang berbeda dari cara ia menatapnya di depan orang lain. Tidak ada senyum. Tidak ada kelembutan yang seperti biasanya. Hanya tatapan yang sangat langsung dari perempuan yang sedang berpikir.

"Entahlah." Ia berkata.

"Aku serius, Clara. Apa yang kita lakukan sekarang? Elena sudah...."

"Elena sudah masuk terlalu dalam." Clara memotong. Ia meletakkan gelasnya di counter dan melipat tangannya di depan dadanya. "Wirawan Group, Raffael Capital, semua itu bukan kebetulan, Adrian. Elena merencanakan semuanya dengan sangat rapi."

"Aku tahu itu." Adrian menghela napas. "Tapi kontrak Claresta dengan Wirawan kamu bilang itu bagus untuk bisnis kita."

"Itu jebakan." Clara berkata pelan.

Adrian mendongak. "Apa?"

"Kontrak itu jebakan." Clara mengulang dengan nada yang sama. Tidak ada panik di suaranya, ia hanya menyampaikan informasi yang sudah ia simpan selama ini dan baru memutuskan untuk mengeluarkannya. "Aku baru menyadarinya setelah aku cek ulang semua klausulnya dua hari lalu. Tenggat waktunya tidak masuk akal untuk kondisi keuangan Claresta sekarang. Kalau aku tidak bisa memenuhinya."

"Apa yang terjadi kalau tidak terpenuhi?"

Clara menatapnya sebentar.

"Manajemen Claresta jatuh ke tangan Wirawan." Ia menjawab singkat.

Ruangan itu hening.

Adrian menatap Clara dengan ekspresi yang berubah, tidak lagi marah, tidak lagi frustrasi, tapi sesuatu yang lebih tidak menyenangkan dari keduanya. "Jadi Elena yang...."

"Elena yang merancang ini dari awal." Clara mengangguk pelan. "Ia tidak datang ke pertemuan bisnis itu untuk menandatangani kontrak karena butuh Claresta. Ia datang karena ia sudah tahu Claresta sedang sekarat dan ia ingin memastikan saat Claresta jatuh yang menangkapnya adalah Wirawan."

Adrian diam sebentar.

Lalu ia tertawa kecil, tawa yang tidak ada lucunya, tawa orang yang baru saja menyadari bahwa ia sudah meremehkan seseorang jauh lebih dari yang seharusnya.

"Elena melakukan itu." Ia berkata pelan.

"Ya, Elena melakukan itu semua." Clara mengonfirmasi.

Hening lagi di antara mereka.

"Lalu sekarang apa?" Adrian menatap Clara. "Kamu punya rencana?"

Clara menatap jendela di sampingnya sebentar, menatap kegelapan di luar seperti orang yang sedang menyusun sesuatu di kepalanya.

"Aku selalu punya rencana." Ia menjawab akhirnya.

"Rencana apa?"

"Kalau Wirawan mau mengambil Claresta." ia berkata pelan, "mereka harus bisa membuktikan bahwa Claresta tidak memenuhi kontrak. Dan untuk itu mereka butuh waktu." Ia menatap Adrian. "Waktu yang bisa kita gunakan."

"Untuk apa?"

"Untuk memastikan bahwa sebelum Claresta jatuh." Clara tersenyum, senyum yang sangat berbeda dari senyum yang ia pakai selalu pakai selama ini, "Elena Wirawan sudah kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga dari perusahaan manapun."

Adrian menatapnya. "Apa maksudmu?"

Clara tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke arah ruang tamunya.

"Istirahat dulu, Adrian." Suaranya kembali lembut, lembut yang terdengar seperti biasanya. "Besok kita bicara lebih banyak."

Adrian menatap punggungnya.

"Clara."

Ia menoleh.

"Apa yang mau kamu lakukan ke Elena?"

Clara menatapnya sebentar dengan senyum yang tidak sampai ke matanya.

"Bukan ke Elena." Ia mengoreksi pelan. "Ke sesuatu yang Elena pedulikan."

Ia masuk ke kamarnya. Dan menutup pintunya.

Adrian duduk sendirian di meja makan yang sepi itu dengan isi kepala yang penuh dengan hal-hal yang belum sepenuhnya ia mengerti.

Di balik pintu kamarnya Clara duduk di depan cermin riasnya. Melepas anting-antingnya satu per satu.

Wajahnya sekarang berbeda dari wajah yang biasanya ia tunjukan pada orang-orang, tidak ada senyum, tidak ada kelembutan, tidak ada apapun yang terlatih. Hanya wajah perempuan yang sedang berpikir dengan sangat keras tentang langkah selanjutnya.

1
Lili Inggrid
lanjut
Ovha Selvia
Pasti si clara lah pelakunya, klo si adrian mah ngikut2 aja..
Ovha Selvia
Waaah gak nyangka ternyata clara juga pintar, dia bahkan tau niatnya elena.. Elena, kamu harus selangkah lebih maju daripada pelakor.. Buktikan klo kamu seorang Elena Wirawan 💪
As Tini
yg kyk gini br AQ suka, hrs tegas berwibawa dan TDK menye"😄
As Tini
knp GK minta bantuan ke kluarga sndiri, pdhl kaya raya, demi anak hilangkan ego dan malu. pasti bklan di bantu kok, kasian ara
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuut 💪
Dessy C: siap kak 🫰
total 1 replies
arniya
mampir kak
Dessy C: makasih kak🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!