NovelToon NovelToon
Academy Of Fallen Marks

Academy Of Fallen Marks

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:218
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sayap di Tengah Kabut

Pagi hari di Crimson Crest biasanya dimulai dengan dentang lonceng yang teratur, namun kali ini suara terompet perak yang melengking memecah kabut fajar. Seluruh siswa berkumpul di aula utama dengan wajah tegang. Di atas altar tinggi, Master Silas berdiri dengan tongkat sihirnya yang mengetuk lantai batu, menciptakan gema yang menuntut perhatian mutlak.

“Dengarkan, para ksatria sihir!” suara Silas menggelegar. “Dewan telah memutuskan. Hari ini adalah hari ujian ketangkasan dan keberanian. Sebuah pengumuman mendadak: Perburuan Burung Obsidian Abyss dimulai sekarang!”

Gumam kegembiraan dan kengerian menjalar di antara para siswa. Burung Obsidian adalah makhluk langka yang hanya muncul di dahan-dahan tertinggi pohon hitam Abyss. Mereka tidak hanya cepat, tetapi bulunya setajam silet dan mampu menyemburkan api ungu yang korosif. Menangkapnya berarti harus bertarung di medan yang paling tidak ramah.

“Ini adalah kompetisi peringkat,” lanjut Silas, matanya berkilat dingin. “Pemenangnya akan mendapatkan kenaikan poin prestasi yang signifikan. Siapkan senjata dan mana kalian. Kalian memiliki waktu hingga matahari terbenam untuk membawa satu ekor Burung Obsidian dalam keadaan hidup atau mati!”

Lucien berdiri di barisan belakang, jemarinya mengepal di balik jubahnya. Adrenalin dari pertarungannya kemarin masih terasa, dan instingnya berteriak untuk ikut terjun ke dalam perburuan itu. Namun tepat saat ia hendak melangkah maju bersama siswa lainnya, sebuah tangan besar menepuk bahunya.

Itu adalah salah satu instruktur pendamping Silas. Ia menunjuk ke arah bahu Lucien, di mana Simbol Daun Hijau masih bersinar terang, sebuah tanda peringatan yang mencolok.

“Kau lupa posisimu, Vlad?” instruktur itu mendengus remeh. “Seorang pelanggar yang sedang dalam masa pengawasan tidak diperbolehkan mengikuti aktivitas luar akademi yang bersifat kompetitif. Tugasmu hari ini bukan berburu, melainkan membersihkan ruang artefak bawah tanah dan menyalin naskah sihir kuno sebagai bentuk penebusan.”

Lucien terdiam, rahangnya mengeras. “Tapi Master, saya bisa melakukannya. Saya sudah membuktikan—”

“Kau tidak membuktikan apa pun selain ketidakpatuhan!” Silas memotong dari kejauhan, menatap Lucien dengan senyum sinis yang tipis. “Sesuai aturan dewan, karena kau tidak berpartisipasi dalam perburuan wajib ini, poin peringkatmu akan dipotong sepuluh persen. Kau akan merosot di papan peringkat asrama, Lucien Vlad. Itulah harga dari ‘rasa penasaran’ yang kau banggakan kemarin.”

Para siswa lain mulai berlarian keluar gerbang menuju Hutan Abyss dengan semangat membara, meninggalkan Lucien sendirian di aula yang luas dan dingin. Bagi Lucien, ini bukan sekadar kehilangan poin; ini adalah penghinaan terhadap kemampuannya. Di saat Vivienne dan Daefiel mungkin sedang bersantai di Arcanova yang lebih fleksibel, ia justru terjerat dalam kedisiplinan Crimson Crest yang mencekik.

Lucien menatap daun hijau di bahunya dengan benci. Daun itu tidak hanya memenjara fisiknya, tetapi juga mulai menghancurkan masa depannya di akademi.

Suasana di aula utama semakin mencekam. Silas masih menatap Lucien dengan pandangan merendahkan, sementara para siswa lain sudah mulai menghilang di balik gerbang akademi. Tekanan udara di ruangan itu terasa berat, seolah Silas sengaja membiarkan aura intimidasi miliknya menekan bahu Lucien yang sudah terbebani oleh simbol kutukan dan segel dewan.

“Kau hanyalah sampah yang sedang dibersihkan, Vlad. Jangan harap bisa terbang bersama yang lain,” desis Silas lagi, suaranya penuh dengan nada penindasan yang tidak semestinya keluar dari mulut seorang pendidik.

“Cukup, Silas.”

Suara itu tenang, namun memiliki wibawa yang sanggup menghentikan detak jantung sesaat. Master Alaric muncul dari balik pilar besar, jubah putih keabu-abuannya menyapu lantai dengan anggun. Ia berjalan mendekat, matanya yang bijak menatap Silas dengan sorot kekecewaan yang mendalam.

“Master Alaric,” ucap Silas sembari sedikit membungkuk, meski rahangnya tampak mengeras.

“Silas, tugas kita di Crimson Crest adalah menegakkan disiplin untuk membentuk karakter, bukan melakukan penindasan sistematis untuk menghancurkan mental siswa,” ujar Master Alaric dengan nada dingin. “Cara kau menyampaikan peraturan simbol daun hijau tadi tidak terdengar seperti instruksi, melainkan seperti intimidasi. Aku tidak membangun akademi ini agar para instruktur bisa memuaskan ego mereka di depan siswa yang sedang dalam masa penebusan.”

Silas terdiam. Matanya berkilat marah, namun ia tidak berani membantah sosok paling tinggi di akademi tersebut.

Master Alaric kemudian beralih menatap Lucien. Ia melihat kepalan tangan Lucien yang bergetar karena menahan amarah dan frustrasi.

“Lucien Vlad,” panggil Master Alaric dengan nada yang lebih lembut. “Jangan biarkan konflik ini mengaburkan fokusmu. Perburuan Burung Obsidian memang bukan bagianmu hari ini, tetapi ada pertempuran lain yang harus kau menangkan di dalam dirimu sendiri.”

Master Alaric mengeluarkan sebuah kunci perak kecil dan memberikannya kepada Lucien.

“Pergilah ke bagian terdalam perpustakaan. Aku sudah menyiapkan delapan buku sihir pedang kuno yang sesuai dengan aliran energimu. Baca dan pahami isinya. Anggap ini sebagai bentuk penebusanmu. Setiap pemahaman yang kau dapatkan dari buku-buku itu akan membantu memudarkan cahaya Simbol Daun Hijau di bahumu secara perlahan. Ini adalah caramu untuk kembali ke peringkat atas tanpa harus mengotori tanganmu dengan darah monster hari ini.”

Lucien menerima kunci itu, merasakan beratnya tanggung jawab yang diberikan. Ia melirik Silas yang masih berdiri kaku, lalu membungkuk hormat kepada sang tetua.

“Terima kasih, Master Alaric. Saya akan melaksanakannya,” jawab Lucien dengan suara yang jauh lebih tenang.

“Pergilah. Perpustakaan adalah tempat di mana pikiran yang kacau menemukan ketajamannya,” ucap Master Alaric, mengalihkan perhatian Lucien dari Silas sepenuhnya agar konflik tidak semakin meruncing.

Lucien melangkah pergi meninggalkan aula, menuju keheningan perpustakaan yang megah. Di belakangnya, ia bisa merasakan tatapan tajam Silas yang masih menusuk punggungnya. Namun dengan perlindungan dari Master Alaric, ia tahu bahwa satu-satunya cara untuk membalas semuanya adalah dengan menjadi lebih kuat melalui delapan buku yang kini menunggunya.

1
gempi
h
Sean Sensei
/Shame/ Vivienne baru saja kena 'mental' dua kali: pertama karena tanda misterius di tulang selangkangannya, kedua karena disindir soal nilai ujian sama Daefiel. Suka banget sama dinamika karakternya, Daefiel kelihatan tipe cowok yang menyebalkan tapi bikin nagih. Semangat nulisnya!
REY ASMODEUS
aku suka 💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!