Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Mobil Adnan perlahan memasuki gerbang pesantren, namun pemandangan di depannya membuat jantungnya mencelos.
Halaman pondok yang biasanya tenang dan asri kini dipenuhi lautan manusia.
Sesampainya di pondok pesantren, Adnan melihat banyak sekali orang tua santri yang datang dengan wajah-wajah tegang, berkerumun di depan serambi masjid.
Di tengah kerumunan itu, Fauziah memprovokasi orang tuanya dan para wali santri lainnya.
Dengan suara yang lantang dan penuh tipu daya, ia menceritakan kembali kejadian di pasar dengan bumbu-bumbu yang menyudutkan.
"Apa kalian rela anak-anak kalian dididik oleh seseorang yang istrinya adalah sampah jalanan? Apa kalian ingin ilmu mereka tidak barokah karena bersentuhan dengan lingkungan yang kotor?" teriaknya, memicu api kemarahan.
Keadaan semakin memburuk ketika perwakilan warga desa datang ke pondok menuntut agar Kinan diusir karena dianggap membawa sial dan mencoreng citra desa santri.
Mereka membawa spanduk-spanduk penolakan, mengklaim bahwa kehadiran mantan wanita malam akan mengundang azab bagi desa mereka yang religius.
Kyai Mansyur mulai ragu dan tertekan oleh tekanan sosial.
Wajah tua itu tampak sangat lelah. Sebagai pimpinan pondok, ia berada di posisi terjepit antara rasa sayang pada menantunya dan kelangsungan ribuan santri yang mengancam akan pulang jika Kinan tetap di sana.
"Adnan!" panggil Kyai Mansyur dengan suara bergetar saat melihat putranya turun dari mobil.
Adnan melangkah maju, melewati barisan warga yang menatapnya dengan kebencian.
Di depan teras pondok, ia dikepung. Kyai Mansyur menatap putranya dengan mata berkaca-kaca.
"Pilih, Nak," ucap Kyai Mansyur pelan namun terdengar oleh semua orang.
"Menanggalkan gelar Ustadz-mu dan keluar dari pesantren ini, atau menceraikan Kinan demi kebaikan umat."
"Ceraikan pelacur itu, Ustadz!!" teriak salah satu orang tua santri dari barisan belakang.
"Kami tidak mau dipimpin oleh suami dari wanita hina!" sambung yang lain.
Adnan menarik napas panjang. Ia menggenggam kotak bekal yang disiapkan Kinan tadi pagi dengan sangat erat.
Bayangan Kinan yang sedang belajar mengaji, Kinan yang mencium tangannya, dan rasa sop yang mengingatkannya pada ibunya, melintas cepat di benaknya.
"Jika menjadi Ustadz artinya aku harus mendzalimi seorang wanita yang sedang bertaubat..." Adnan mengangkat kepalanya, menatap warga dengan tegas.
"Maka hari ini, aku lepaskan gelar itu. Aku lebih memilih menjadi hamba Allah yang biasa daripada menjadi pemimpin yang tidak memiliki rasa kasih sayang."
Mendengar jawaban itu, amarah massa meledak. Mereka merasa terhina karena seorang Ustadz lebih membela wanita jalanan daripada kehormatan pondok.
"Pengkhianat agama!" teriak seseorang.
Seketika, mereka melempari Adnan dengan batu. Batu-batu kecil hingga sebesar kepalan tangan melayang ke arahnya.
Adnan tidak menghindar. Ia berdiri tegak membiarkan tubuhnya dihujani lemparan.
Darah mulai mengalir dari pelipisnya, menetes ke baju koko tiga puluh lima ribuan yang ia kenakan. Baju itu kini kotor dan robek, namun Adnan tetap berdiri kokoh.
Mereka menyerang Adnan yang lebih memilih pelacur daripada gelar ustadz-nya.
Di tengah lemparan itu, Adnan hanya membisikkan doa, berharap Kinan di rumah tidak merasakan kepedihan yang sedang ia alami sekarang.
Sementara itu di tempat lain, Kinan baru saja belanja keperluan rumah dengan hati yang jauh lebih ringan.
Ia menelusuri lorong-lorong swalayan, memilih sprei dengan warna lembut, peralatan dapur yang mengkilap, hingga bahan-bahan makanan segar untuk makan malam mereka.
Namun, di antara semua kebutuhan pokok itu, ada satu barang yang ia dekap dengan penuh kasih sayang.
Ia juga membeli buku gambar dan pensil warna. Kinan ingin menuangkan segala kemelut dan harapan barunya dalam goresan warna, sebuah hobi masa kecil yang sempat terenggut oleh kerasnya jalanan.
"Sekarang waktunya pulang," ucap Kinan dengan senyum tipis.
Ia tidak menyangka belanjaannya akan sebanyak itu.
Kinan didampingi pihak mall yang dengan sigap membantunya mengangkut barang-barang ke dalam mobil box pengantaran, karena kartu emas yang diberikan Adnan seolah memberinya akses pada pelayanan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sesampainya di rumah, Kinan dengan riang mengatur barang-barang itu di ruang tamu.
Wangi sabun cuci dan pengharum ruangan baru menyelimuti atmosfer rumah mereka. Namun, saat ia baru saja hendak menutup pintu pagar, deru mesin mobil yang sangat ia kenal terdengar mendekat. Mobil itu masuk dengan kecepatan yang tidak biasa.
Sesampainya di rumah, saat ia membuka pintu, ia mendengar suara mobil suaminya.
Kinan berlari kecil menuju halaman dengan wajah berseri, hendak memamerkan buku gambarnya.
Namun, langkahnya langsung terhenti saat melihat Adnan keluar dengan wajah penuh luka.
Baju koko putih seharga tiga puluh lima ribu yang tadi pagi tampak sangat rapi, kini robek di bagian bahu dan kotor oleh noda tanah serta bercak darah.
Pelipisnya pecah, dan sudut bibirnya membiru akibat hantaman benda tumpul.
"Astaghfirullah, Mas!!" jerit Kinan histeris.
Ia menjatuhkan buku gambar di tangannya hingga pensil warna berserakan di aspal.
Kinan menghambur ke arah Adnan, menyangga tubuh suaminya yang tampak lemas.
Jemari Kinan yang gemetar menyentuh luka di wajah Adnan dengan penuh ketakutan.
Air matanya tumpah dalam sekejap, membasahi cadar dan pipinya.
"Ini pasti karena aku, kan? Mereka memukuli Mas karena aku, kan" isak Kinan pecah.
Ia melihat ke arah jok belakang mobil, di mana tas kitab Adnan tampak berantakan, dan ia tahu suaminya baru saja melewati neraka di pesantren tadi.
"Mas, kenapa Mas tidak menceraikan aku saja tadi? Kenapa Mas membiarkan mereka menyakitimu demi wanita kotor sepertiku?"
Adnan meringis menahan sakit, namun ia tetap memaksakan sebuah senyuman di tengah bibirnya yang pecah.
Ia meraih tangan Kinan yang gemetar, menggenggamnya erat seolah ingin menegaskan bahwa ia tidak menyesal sedikit pun.
"Jangan katakan itu lagi, Kinan..." bisik Adnan parau.
"Luka ini akan sembuh, tapi luka di hatimu jika aku melepasmu, itu yang tidak akan pernah Mas maafkan pada diri sendiri. Mas bukan lagi Ustadz mereka, Kinara. Mas sekarang hanyalah suamimu. Hanya suamimu."
Kinan tergugu, ia memeluk Adnan di depan pintu rumah mereka, meratapi pengorbanan lelaki suci itu yang rela kehilangan segalanya—gelar, kehormatan, dan cinta keluarganya—hanya demi melindunginya.
Lampu ruang tengah menyala temaram, menciptakan bayangan panjang di atas lantai granit yang dingin.
Kinan bergerak dengan jemari gemetar, membawa sebaskom air hangat dan kotak kotak obat.
Ia duduk bersimpuh di lantai, tepat di depan Adnan yang bersandar lemas di sofa ruang tamu.
Kinan mengobati luka Adnan di dalam rumah sambil mendengarkan cerita lengkap tentang pengusiran itu.
Setiap kali kapas basah menyentuh pelipis Adnan yang robek, Kinan memejamkan mata, seolah rasa perih itu berpindah ke jantungnya sendiri.
Isak tangisnya tak kunjung berhenti seiring Adnan menceritakan bagaimana santri-santrinya sendiri melemparkan batu, dan bagaimana Kyai Mansyur dipaksa memberi pilihan yang mustahil.
"Mas, jangan lepaskan gelar ustadz kamu hanya karena aku yang hanya wanita kotor ini..." ucap Kinan dengan suara lirih, nyaris tak terdengar di antara isaknya.
Ia menatap baju koko tiga puluh lima ribuan yang kini ternoda darah suaminya.
"Gelar itu adalah kehormatanmu, Mas. Itu adalah hidupmu, pengabdianmu pada Tuhan. Jangan hancurkan semuanya demi sampah seperti aku."
Kinan meletakkan kapasnya, lalu bersujud di depan kaki Adnan, memegangi lutut suaminya dengan erat.
"Kembalilah ke sana, Mas. Aku ikhlas. Aku akan pergi jauh, ke tempat di mana tidak ada yang mengenaliku. Jangan biarkan mereka menghina Mas karena keberadaanku. Aku tidak ingin menjadi penghalang antara Mas dan umat. Tolong, ceraikan aku dan kembalilah jadi Ustadz mereka."
Adnan terdiam sejenak. Ia membiarkan hening menyelimuti ruangan itu sebelum akhirnya ia mengulurkan tangan, mengangkat dagu Kinan agar mata mereka bertemu.
Meski sudut bibirnya pecah dan terasa sangat sakit untuk bicara, tatapan mata Adnan tetap tenang dan teduh.
"Kinan, dengarkan Mas," ucap Adnan dengan suara parau namun mantap.
"Gelar ustadz itu diberikan oleh manusia, tapi tanggung jawab sebagai suami diberikan langsung oleh Allah saat Mas mengucapkan akad. Apa gunanya Mas mengajar ribuan orang tentang kasih sayang, jika Mas sendiri membuang istrinya yang sedang mencari jalan pulang?"
Adnan menyeka air mata di pipi Kinan dengan ibu jarinya yang kasar.
"Mas tidak kehilangan apa-apa hari ini. Mas justru merasa menang. Mas menang melawan ego dan ketakutan Mas sendiri. Jika mereka tidak bisa menerima seorang wanita yang bertaubat, maka merekalah yang sebenarnya sedang tersesat, bukan kita."
Kinan menggelengkan kepala, hatinya masih dirundung rasa bersalah yang luar biasa.
"Tapi rumah ini, hidup mewah ini, semuanya dari pengabdianmu, Mas."
"Semuanya milik Allah, Kinara. Jika Allah ingin mengambilnya kembali lewat jalan ini, Mas ridho. Yang Mas takutkan bukan kehilangan gelar, tapi kehilangan kepercayaanmu pada rahmat-Nya jika Mas meninggalkanmu sekarang."
Adnan menarik Kinan ke dalam pelukannya, membiarkan istrinya menangis di dadanya yang masih terasa sakit akibat hantaman batu.
Di luar sana, dunia mungkin sedang mengutuk mereka, namun di dalam rumah itu, Adnan merasa telah menemukan surga yang sesungguhnya.
ustadz jg manusia bysa😁
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅