NovelToon NovelToon
Rahim Yang Terbelenggu DENDAM

Rahim Yang Terbelenggu DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Bad Boy
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nufierose

“Capek tidak, Sayang? Aku masih mau sekali lagi.”
“Kamu kuat sekali, Mas,” jawab istrinya sambil tersenyum lelah.
Tama tertawa pelan dan mencium pipi wanita itu dengan penuh kasih. Namun beberapa detik kemudian ia bertanya pelan,
“Sudah diminum pilnya?”
Senyum sang istri perlahan memudar.
“Harus terus, Mas? Aku lelah minum pil KB…”
Tama terdiam sejenak sebelum mengelus rambutnya lembut.
“Turuti saja, Sayang. Ini demi kebaikan kita.”
Istrinya tidak pernah benar-benar mengerti mengapa Tama selalu menolak memiliki anak.
Malam kembali hening saat Tama memeluknya dari belakang. bayangan masa lalu itu kembali datang.
Sebuah rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
“Aku takut kamu meninggalkanku jika tahu siapa aku sebenarnya,” bisiknya dalam hati.
Karena jauh di masa lalu, Tama pernah melakukan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Dan jika kebenaran itu terungkap…
yang hancur bukan hanya rahasianya.
Tetapi juga pernikahan yang selama ini ia jaga mati-matian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANIN?

BAB 27

Suasana di kamar 404 berubah menjadi sebuah pergulatan antara cinta dan racun kimia yang mengalir di darah Tama.

Kalimat ‘Sayang’ dari Alisya adalah pemicu yang meruntuhkan sisa-sisa pertahanan Tama. Dalam kondisi setengah sadar, Tama menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya dengan kekuatan yang tidak terkendali.

"Mas, jangan kasar ya..." bisik Alisya dengan suara bergetar.

Tangannya secara naluriah turun mengusap perutnya yang masih rata. Di sana, ada kehidupan kecil yang baru berusia beberapa minggu.

sebuah rahasia yang tidak di ketahui suaminya, entahlah karena sampai saat ini Alisya masih takut memberitahu Tama soal kabar kehamilannya.

Tama tidak menyahut. Matanya gelap, tertutup oleh kabut nafsu yang dipicu paksa oleh obat perangsang dosis tinggi dari Kevin.

Ia mulai mengeksplorasi tubuh Alisya dengan intensitas yang menakutkan. Dekapannya terlalu erat, dan setiap gerakannya mencerminkan amarah serta gairah yang tak terkendali.

Alisya mencengkeram sisi ranjang hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit mulai menjalar di perut bawahnya setiap kali Tama bergerak terlalu kasar.

Ia ingin berteriak, ingin meminta Tama berhenti sejenak, namun ia tahu jika ia menolak sekarang, Tama mungkin akan keluar kamar dalam kondisi kacau dan jatuh ke tangan orang-orang Kevin yang masih mengintai.

"Demi kamu, Mas. Semoga kamu baik-baik saja nak,"batin Alisya sambil menggigit bibir bawahnya menahan rintihan.

Ia membiarkan Tama menikmatinya, mencoba mengimbangi gerakan kasar suaminya dengan usapan lembut di punggung Tama, berusaha menyalurkan ketenangan agar pengaruh obat itu mereda.

Namun, rasa sakitdi perutnya semakin menjadi, membuat air matanya luruh tanpa suara.

Beberapa jam berlalu hingga efek obat itu perlahan meluruh karena kelelahan fisik yang luar biasa.

Tama jatuh tertidur dalam posisi masih mendekap Alisya dengan protektif.

Saat fajar menyingsing, Alisya perlahan melepaskan diri. Ia meringis saat merasakan kram hebat di perutnya. Dengan langkah gontai dan wajah pucat, ia menuju kamar mandi. Di sana, ketakutan terbesarnya menjadi nyata, ada bercak darah.

Ia terduduk di lantai kamar mandi yang dingin, membekap mulutnya agar tangisnya tidak membangunkan Tama.

Ia harus kuat.

“Ya Tuhan ini sakit sekali.”

Alisya mengusap perut ratanya.

“Baik-baiklah di dalam sana Nak.”

Ia tidak boleh membiarkan Tama tahu sekarang, atau suaminya itu akan hancur oleh rasa bersalah sebelum sempat membalaskan dendam mereka pada Kevin.

Pukul 06.00 pagi,

Tama terbangun. Kepalanya terasa berat, namun ingatannya tentang semalam perlahan Kembali, meski samar.

Ia melihat Alisya sudah berpakaian rapi, duduk di kursi dekat jendela dengan wajah yang sangat pucat.

"Sya... kamu nggak apa-apa?" tanya Tama parau, menghampiri istrinya.

Alisya memaksakan senyum, meski setiap napasnya terasa berat.

"Aku cuma kurang tidur, Mas. Kamu... kamu sudah merasa lebih baik?"

Tama memeluk Alisya, tidak menyadari bahwa istrinya sedang menahan sakit yang luar biasa.

Tama segera bergegas dan membersihkan diri, dia tau apa yang harus dia bereskan pagi ini.

"Maafkan aku kalau semalam aku menyakitimu. Aku akan membereskannya sekarang. Tunggu aku di sini bersama Argo."

“Kamu mau kemana mas?” tahan Alisya, sesungguhnya dia ingin memberitahu jika dirinya sedang tidak baik-baik saja, tapi sepertinya ada hal penting lain yang membuat Tama harus pergi.

“Aku pergi sebentar sayang, orang yang menjebakku, aku harus menangkapnya.”

Tama mengecup kepala istrinya, Alisya hanya memejamkan mata.

Begitu Tama melangkah keluar kamar dan bergabung dengan Gery, Selin, serta Gani yang sudah bersiap dengan senjata dan rencana maut, aura Tama berubah total. Kesedihan melihat wajah pucat Alisya berubah menjadi haus darah yang dingin.

"Gani, bawa mobilnya. Kita ke Zug sekarang," perintah Tama dingin.

"Selin, aku tidak mau Kevin mati cepat. Aku ingin dia merasakan setiap inci kehancuran yang dia coba tanamkan di keluargaku."

Mereka berangkat menuju vila Kevin. Tama tidak tahu bahwa saat ia pergi berburu, Alisya sedang berjuang sendirian mempertahankan nyawa anak mereka di dalam kamar hotel itu.

Situasi berubah menjadi perlombaan melawan waktu di dua tempat yang berbeda. Ketegangan fisik di vila Zug dan perjuangan hidup mati di kamar hotel Zurich.

Setelah pintu tertutup dan Tama pergi, kekuatan Alisya runtuh. Ia merosot di samping tempat tidur, mencengkeram perutnya yang terasa seperti diremas hebat.

Keringat dingin mengucur deras.

"Jangan sekarang, tolong bertahanlah Nak" bisiknya parau, namun rasa sakit itu tidak tertahankan.

Argo yang berjaga di luar, mendengar suara benda jatuh. Dengan insting pelindungnya, ia mengetuk pintu dengan keras.

"Bu Alisya? Ibubaik-baik saja?"

Tidak ada jawaban, hanya rintihan kecil yang menyayat hati. Argo mendobrak pintu dan mematung melihat Alisya tergeletak lemas dengan wajah sepucat kertas.

Matanya tertuju pada bercak darah di lantai. Argo, pria yang biasanya tak bergeming di depan musuh, seketika panik.

"Astaga, Ibu!"

Argo menyambar tubuh Alisya, biarlah dia di omel bosnya, saat ini kondisinya sedang tidak baik dan mengharuskan Argo mengambil langkah cepat membawa Nona mudanya ke rumah sakit.

Argo membungkus Nonanya dengan mantel tebal, dan berlari menuju lift. Ia segera memberi pesan pada Gani.

"Gan! Bu Alisya pendarahan! Aku membawanya ke rumah sakit terdekat. Jangan beri tahu pak Tama dulu,Pak Tamabisa hilang kendali dan membunuh Kevin di tempat!"

Di saat yang sama, Tama, Gery, Gani, dan Selin telah sampai di sebuah vila mewah dengan pemandangan danau Zug.

Selin bergerak lebih dulu, melumpuhkan penjaga luar dengan gerakan yang efisien dan sunyi.

Gerymeretas sistem keamanan, membuka pintu utama dengan satu perintah dari laptopnya. Tama melangkah masuk layaknya malaikat maut.

Di dalam ruang tengah yang luas, Kevin Alvaro sedang duduk santai sambil menyesap champagne, menanti kabar kehancuran rumah tangga kakaknya.

BRAKK!

Pintu terbanting terbuka. Kevin terlonjak, namun sebelum ia sempat meraih ponselnya, sebuah tendangan dari Tama menghantam dadanya hingga ia terjungkal dari kursi mewahnya.

"Tam.. Tama? Bagaimana bisa?" suara Kevin bergetar ketakutan.

Tama tidak bicara. Ia menjambak rambut adik tirinya dan menyeretnya ke tengah ruangan. Setiap pukulan yang dilayangkan Tama adalah bentuk kemarahan atas setiap tetes air mata Alisya semalam.

"Kamu ingin menghancurkan keluargaku, Kevin?" geram Tama, suaranya rendah namun mematikan.

"Kamu menggunakan obat itu untuk merendahkan harga diriku?"

Selin berdiri di sudut ruangan, memantau keadaan dengan dingin.

 Ganimemegang jam tangannya, menghitung waktu.

Tiba-tiba, ponsel Gani bergetar. Sebuah pesan dari Argo masuk.

'Bu Alisya kritis. Segera bawa Pak Tama ke rumah sakit setelah selesai.'

Ganimemandang Tama yang sedang menghajar Kevin dengan babi buta. Gery tahu, jika dia memberi tahu Tama sekarang, Kevin akan mati, dan Tama akan berakhir di penjara Swiss.

Gani menghampiri Gery dan menunjukan pesan dari Argo.

Kedua mata Gery mendelik.

"Tama, cukup!" Gery berteriak, mencoba menahan lengan Tama.

"Lepaskan aku, Ger! Bajingan ini harus mati!" teriak Tama penuh amarah.

"Alisya butuh kamu sekarang!" Gery akhirnya membentak.

"Dia di rumah sakit, Tama! Argo membawanya ke sana karena pendarahan! Pilih sekarang,nyawa adik tirimu yang sampah ini, atau istrimu?!"

Seketika, gerakan Tama berhenti.

Tinju yang sudah berlumuran darah itu gemetar. Kabut amarah di matanya pecah, digantikan oleh ketakutan yang luar biasa.

"Pendarahan? Apa maksudmu?"

“Temui Alisya maka kamu akan tau apa yang terjadi.”

Tama melepaskan Kevin yang sudah babak belur. Ia menoleh ke arah Gani.

"Gani, bereskan sisanya. Pastikan dia tidak pernah melihat matahari sebagai orang bebas lagi. Selin, panggil polisi Swiss. Berikan semua bukti penggelapan pajaknya."

Tama berlari menuju mobil. Pikirannya tidak lagi pada balas dendam.

Pikirannya hanya pada satu hal .

Alisya.

Sesampainya di rumah sakit Universitas Zurich, Tama berlari di sepanjang lorong putih yang dingin.

Di sana, Argo berdiri dengan baju yang terkena noda darah Alisya.

"Mana dia?" tanya Tama tersengal.

Argo hanya menunjuk ke ruang operasi.

"Dokter sedang berusaha, Pak. Bu Alisyakehilangan banyak darah."

Tama jatuh terduduk di kursi tunggu, menangkup wajah dengan tangannya yang masih berbekas darah Kevin. Ia merasa menjadi manusia paling bodoh sedunia.

Di saat istrinya mempertaruhkan nyawa dan calon anak mereka, ia justru sibuk memuaskan amarahnya.

Menunggu, Tama beranjak saat melihat Satu Dokter keluar dari sana.

“Dok, bagaimana istri saya?”

“Bu Alisya kritis, kami sedang berusaha mempertahankan janinnya.”

Deg!

“Janin?”

1
R⁸
mending tama alisya bicara dari hati ke hati dulu deh, tama harus jujur sama alisya, ttg semua nya.. n yakin, alisya ga bakal ninggalin tama, klo emang cinta mereka kuat fondasi nya
Yeni Suprianti Laba'a
terima kasih thor ceritanya bagus lanjut jgn lama2 up-nya
Yeni Suprianti Laba'a
lanjut thor
Nufie: siap kakak.. jangan lupa follow author yaaa😍
total 1 replies
Yeni Suprianti Laba'a
ceritanya bagus thor tp updatenya lama sekali
Amelia Kesya
jgn lama" update nya thor aku semakin cinta karyamu ni
Amelia Kesya
semakin menarik.🥰🥰
Amelia Kesya
aaaaah semakin suka dgn ceritanya,jgn lama"donk thor upnya🙏
Nufie: siap kakak.. jangan lupa follow authornya yaaa😍
total 1 replies
Amelia Kesya
lama kali updatenya thor,,,,,kenapa?bolak balik ditunggu" nggak muncul".
Rekana
ceritanya keren. banyak rahasia yang belum terungkap bikin penasaran..
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut

love banget pokonya 😗 😗
Rekana
jangan lama² up nya kak.. ceritanya bagus banget.. seru
Ipus
terimakasih Thor ceritanya bagus,menarik. lanjut,,,,
Amelia Kesya: oke KK tp kenapa update nya lama kali.
total 2 replies
Amelia Kesya
masih ngikutin alur
R⁸
banyak bgt al nya, bayu ngobrol dgn selin, panggil al, gani dgn selin al lagi.. tokoh baru nongol al lagi😓
Nufie: maaf kak.. nanti di revisi
total 1 replies
Rekana
aduh siapa lagi itu..
antagonis mulai keluar nih kayanya
Rekana
tempramental banget si tama yaa... keras di luar lembut di dalam 😍
Rekana
duh tam.. meleleh akyuuuu😍
Rekana
takut banget tiba² si selin jahat.
Rekana
jahat banget njirr🤣
Rekana
lanjut kak
Vina Tamaela
Alhamdulillah ternyata sein asisten yang setia dan tidak jahat syukurlah aku sempat kuatir takut tama ada hubungan sama asisten mengingat mereka beda gender 😭 alhamdulillah asisten tama wanita baik2 semoga berjodoh sama bayu dan ada apa sampai tama tidak mau istri hamil dulu tp klo sudah terjadi anak adalah anugerah jika tama benar-benar cinta istri dia akan berusaha menerima kehadiran darah dagingnya apapun terjadi tanpa bnyk pertimbangan dan alasan
Amelia Kesya: Alur ceritanya menarik,masih menyimak alur dan membaca semangat thor💪.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!