"Capek tidak sayang? aku masih mau sekali lagi.."
"Kamu kuat sekali Mas.."
Si tampan itu tertawa menciumi pipi sang Istri, entah sejak kapan dia sangat mencintai istrinya ini.
"Sudah di minum Pilnya Sayang?"
"Harus Mas? Aku lelah minum Pil KB terus.."
"Menurutlah sayang semua demi kebaikan.."
Tidakkah Tama tau jika larangannya itu justru menyakiti hati Istrinya?
"Aku takut sayang, Aku takut kamu akan meninggalkan aku saat mengetaui kebenaran atas Suamimu ini."
Tama selalu di hantui rasa bersalah, ketakutan dia akan masa lalunya.
Sebenarnya apa Yang terjadi di masa lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMA MABUK ?
BAB 21
Tama terdiam, di liriknya Alisya yang rupanya terkejut.
“Mayat?”
“Mayat siapa Sel?”
Gadis di sebrak sana sontak terdiam, dia pun tidak tau jika Alisya mendengar percakapannya, Tama mengatupkan bibirnya bola matanya bergerak kesana dan kemari.
Dia harus mencari jawaban yang tepat sebelum istrinya itu semakin curiga.
“Buang saja Sein, Mayat tikus saja kau repot sih!”
Tama tersenyum menatap Istrinya. Dan patut di ajukan kedua jempol karena lelaki ini selalu mengahadapi apapun dengan sangat tenang. Sehingga membuat lawan bicaranya tak merasa curiga.
“Ah iya. Aku akan membuangnya, bangkai tikus menjijikan memang.” Selin tertawa, dan benars aja Alisya langsung percaya.
“Aku pikir apa Sel.”
Tama merapikan rambut istrinya, entahlah sampai kapan dia bisa menutupi apa yang selama ini dia sembunyikan.
Baik masalalunya maupun semua pekerjaan hitamnya.
Karena cepat atau lambat Istrinya ini pasti mengetauinya.
“Kamu ngantor Tam?”
“Mungkin aku akan datang telat, aku mau bermanja dulu dengan istriku.”
Tama menarik wajah Alisya, mencium istrinya itu dengan brutal sehingga suaranya terdengar oleh Selin.
“Dasar menjijikan.”
Tama tersenyum di sela ciumannya, memang menjaili asistennya itu merupakan hobi lelaki ini..
**
Siang harinya, Alisya sudah sampai di salah satu Resto, ada Jessika disana, Gadis berambut pendek itu begitu antusias dengan Sahabatnya.
“Aku pikir kamu tidak datang AL.” Alisya mencium pipi Jessika.
“Dateng dong, aku sudah di beri isin mas Tama, kenapa aku harus tidak datang?”
Jessika tersenyum dia sudah sangat lama sekali tidak menghabiskan waktu dengan Alisya.
“Loh kamu tidak kerja Jess?”
“Aku ambil cuti Al, aku mengosongkan waktuku Khusus hari ini untuk pergi dengamu.”
“Ah manis sekali.”
Mereka berbincang, mengenang kembali kisah manis mereka saat tinggal di panti dulu. Tak lama pandangan Jessika teralihkan saat seseorang datang menghampiri meja mereka.
“Haii Kak.”
“Wuahh aku terlambat ya?”
Alisya mendelik bahkan si cantik itu sulit untuk mengedipkan matanya.
“Kak Dion?”
“Haii cantik.”
Lelaki bernama Dion itu mengacak-acak rambut Alisya, dia gemas dengan Gadisnya ini.
“Kak, kenapa badannya jadi kekar begini sih?”
“Kenapa? Keren bukan?”
Alisya tertawa, dia tidak menyangka pria kecil cupu yang dulu selalu bersamanya kini sudah menjelma menjadi pria tampan nan Gagah, bahkan Alisya tidak mempercayainya.
“Kak Dion ini kepala Kepolisian Al, mana mungkin badannya kurus seperti dulu.”
Alisya mengangguk, ketiganya berbincang, tertawa bahkan saling melempar candaan. Kegiatan mereka tak lepas dari pandangan Argo, diam-diam dia mengambil gambar nona mudanya dan langsung mengirim pada Sang Tuan.
“Ibu sama temannya, Pak?”
“Itu ada laki-laki?” jawab Tama pada pesan whatsappnya.
“Iya pak, sepertinya teman Ibu Alisya.”
Tama tak membalas lagi, dia lebih baik bertanya langsung pada Istrinya nanti.
“Sya, sebenarnya sudah lama banget Kakak mau ketemu sama kamu, tapi entahlah kita seperti hilang kontak ya.”
“Cie,, kakak kangen sama aku ya?”
Dion mencubit gemas pipi Alisya, sehingga wanita itu bereaksi.
“Sakit tau.”
“Hihi, maaf.”
Dion memperhatikan gadis kumelnya dulu kini sudah terlihat sangat cantik, sepertinya Alisya hidup dengan baik dengan Suaminya.
“Sya, aku ingin mengembalikan ini.”
Dion memberikan kotak berwarna merah dan ketika di buka ternyata isinya adalah Kalung.
“Kak?”
“Maaf ya, aku baru mengembalikannya ke kamu.”
Alisya begitu terharu, akhirnya dia menemukan barang yang sudah sejak lama dia cari. Entah jatuh atau tertinggal di panti, ternyata kalung miliknya itu ada pada Dion.
“Aku cari-cari Kak.”
“Yasudah di pakai ya. Sudah aku perbaiki juga kan.”
Alisya mengangkat satu jempolnya, kini barang satu-satunya yang dia miliki sejak kecil ketemu juga.
Setidaknya dengan kalung ini Alisya bisa menemukan orang tuanya.
“Minggu depan aku ulang tahun, apa kalian bisa datang? Niatnya aku ingin mengadakan party kecil-kecilan.”
Dion menatap Alisya dan Jessika bergantian gadis itupun saling melempar pandangan.
“Aku sih bisa kak, tapi ngga tau AL bagaimana?”
Sulit untuk Alisya pergi sendiri, kalaupun ajak Tama pergi belum tentu juga suaminya itu Free. Alhasil Alisya tak bisa memberikan jawaban.
“Aku izin suamiku dulu ya kak. Semoga aku bisa datang.”
Dion mengangguk, dia kembali berbincang dengan dua wanita di depannya. Sampai waktu sudah menunjukan pukul lima sore mereka baru menyelesaikan pertemuan mereka.
“Aku sudah simpan nomer Kakak, nanti aku hubungi ya.”
“Siap Caca..”
Alisya mengode Argo untuk segera pulang, sepanjang perjalanan Alisya terus tersenyum memegangi kalungnya, Argo yang melihat itu merasa cemas.
“Duh! Masalah dah ini mah kayanya, si ibu di kasih apaan lagi itu sama lelaki tadi.”
Argo sudah merasa cemas, semoga kejadian hari ini tidak menyeret dia akan omelan sang Bos.
“Terimakasih Argo.”
“Sama-sama bu.”
Alisya memasuki rumah mewahnya, saat pintu besar itu terbuka, Alisya terkejut saat mendapati sang Suami tercinta sudah tiba di rumah.
“Mas?”
Alisya tersenyum menghampiri Tama, si cantik itu bergelayut manja.
“Kok Mas sudah pulang?”
Tama merapikan rambut Istrinya, pandangannya langsung menuju pada Kalung yang di kenakan sang Istri.
“Mandi dulu sayang, kamu dari luar kan.”
Alisya mengangguk memasuki kamar dan langsung membersihkan diri, sedangkan pandangan Tama tak lepas menatap Alisya sampai istrinya itu hilang di balik pintu.
“Siapa lelaki yang berani sekali dekat dengan Istriku?”
Tama meremas jemarinya, tubuhnya sudah terasa panas rasanya dia sudah ingin mengamuk saja.
Berjalan memasuki kamar Tama menunggu Istrinya di ranjang. Seraya menunggu lelaki tampan ini berusaha menenangkan dirinya, dia tidak mau terlihat marah. Apalagi sampai bersikap kasar.
Maklumlah jiwa Mafia Mr Naka masih melekat pada tubuh Tama.
Ting.
Ponsel tama menyala, dan ternyata Pedang awannya menghubungi.
Tama mengangkat sambungan itu.
“Kenapa Sein?
Gadis berambut ikal itu terdengar menghembuskan nafasnya.
“Alisya sudah pulang Tam?”
“Sudah!”
“Sedang apa dia?”
“Mandi!”
“Kamu baik-baik saja kan?”
“Mybe!”
Selin membuang nafas kesar, begini jika seorang Tama sudah marah, sangat sulit di kendalikan.
“Jangan bersikap kasar pada Istrimu.”
“Aku tau!”
Setelah mengatakan itu Tama mematikan sambungan teleponnya, dia sudah tau jika Selinnya itu akan memarahinya.
Pasalnya sejak Argo mengirimi dia pesan, Tama sudah seperti cacing kepanasan di kantor. Siapapun kena omelannya dan itu membuat Selin cemas.
“Mas?”
Tama tersenyum, sangat tipis bahkan nyaris tak terlihat.
“Kenapa menatapku begitu Mas?”
Alisya duduk di samping Tama, kedua matanya menatap jeli ekspresi Tama yang pertama kalinya dia lihat.
Tama terlihat sangat sangar.
“Mas? Kamu baik-baik saja kan?”
Tama membuang nafasnya, dia harus bisa menormalkan dirinya, menahan amarah yang mungkin akan meledak kapan saja.
“Sudah mandinya?”
Alisya mendekat dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan suaminya ini.
“Mas? Kok nafasmu bau alkohol?”
Tama tak bereaksi tatapanya masih datar pada Istrinya.
“Kamu mabuk ya?”
Alisya memundurkan tubuhnya dan Tama segera menahannya.
“Hanya segelas. Kepalaku sakit sekali.”
Jelas Tama sedang berbohong, bukan kepalanya yang sakit melainkan hatinya, sakit panas dan ingin sekali meledak.
“Tidak bisanya kamu minum, ada apa Mas?”
“Siapa lelaki yang kamu temui tadi?”
Deg!
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya