Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Keesokan harinya di lobby hotel, suasana masih terasa dingin sisa hujan semalam.
Saat Linggar sedang menunggu Rangga mengurus proses check-out, sebuah tangan kasar tiba-tiba mencengkeram lengannya dan menariknya ke sudut pilar besar.
"Linggar, tunggu!"
Linggar menoleh dan mendapati Riko berdiri di depannya dengan wajah kusut, jauh dari kesan angkuh yang ia tunjukkan semalam di ballroom.
"Lepaskan, Riko! Apa lagi yang kamu mau?" desis Linggar tajam.
"Linggar, aku minta maaf soal semalam. Aku sadar jika aku salah. Aku menyesal telah memutuskanmu. Aku ingin kita kembali seperti dulu. Aku berjanji tidak akan menghinamu lagi."
Linggar menatap Riko dengan tatapan dingin yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Rasa sakit hati yang bertahun-tahun ia pendam kini menguap, digantikan oleh rasa muak.
"Maaf, Riko. Aku sudah tidak bisa lagi. Hatiku bukan tempat sampah yang bisa kamu buang lalu kamu ambil lagi saat kamu merasa kesepian," ucap Linggar tegas sambil menyentakkan tangannya hingga terlepas.
"Tolong, jangan ganggu aku lagi. Kita sudah selesai sejak kata-kata hinaan itu keluar dari mulutmu."
Linggar berbalik pergi, meninggalkan Riko yang mematung, tepat saat Rangga datang dengan kunci mobil di tangannya.
Rangga sempat melirik tajam ke arah Riko, seolah memberi peringatan terakhir, sebelum menuntun Linggar menuju mobil.
Perjalanan pulang ke Jakarta terasa jauh lebih berat daripada keberangkatan mereka.
Di dalam kabin mobil yang mewah itu, keheningan menyelimuti.
Rangga fokus menatap jalan tol di depannya, namun pikirannya jelas tidak di sana.
Sesekali, Linggar melihat tangan kiri Rangga terlepas dari kemudi hanya untuk menghapus air mata yang jatuh di pipinya secara diam-diam.
Hati Linggar remuk melihat pemandangan itu. Pria tangguh yang biasanya tak tergoyahkan oleh tekanan bisnis bernilai miliaran, kini hancur hanya karena pesan singkat darinya—dari sosok Nadya.
"Rangga, kamu tidak apa-apa?" tanya Linggar sangat pelan, hampir berupa bisikan.
Rangga menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya yang serak.
"Aku hanya sedang berpikir, Linggar. Bagaimana bisa seseorang memberikan harapan begitu tinggi, lalu menjatuhkannya ke dasar jurang dalam satu malam?"
Rangga kembali mengusap sudut matanya dengan punggung tangan.
"Besok lusa adalah penentuannya. Jika dia benar-benar meninggalkanku. Kurasa aku benar-benar akan pergi dari Jakarta. Aku tidak sanggup menghirup udara yang sama dengan kenangan tentangnya."
Linggar memalingkan wajah ke jendela, air matanya sendiri mulai jatuh tanpa suara.
Ia merasa seperti monster yang telah menghancurkan pria yang ia cintai demi sebuah rahasia yang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya.
"Maafkan aku, Rangga. Maafkan aku," batin Linggar pilu.
Sementara itu mobil terus melaju membelah aspal menuju Jakarta, kota di mana kebenaran pahit itu menunggu untuk terungkap.
Sesampainya di halaman rumah, Rangga menghentikan mobilnya.
Wajahnya masih terlihat mendung, sisa kesedihan di perjalanan tadi belum sepenuhnya hilang.
"Istirahatlah, Linggar. Kaki kamu masih butuh pemulihan. Jangan pikirkan pekerjaan dulu," ucap Rangga datar tanpa menatap mata Linggar.
"Terima kasih, Rangga," sahut Linggar pelan.
Ia turun dari mobil dan menatap punggung mobil Rangga yang perlahan menjauh, membawa luka yang ia ciptakan sendiri.
Begitu pintu rumah terbuka, Linggar langsung menghambur ke arah Nadya yang sedang duduk di ruang tamu.
Ia memeluk adiknya itu dengan sangat erat, seolah-olah seluruh kekuatannya telah habis.
Tangis Linggar pecah, ia menangis sesenggukan di bahu Nadya.
"Mbak? Mbak ada apa? Kenapa sampai seperti ini?" tanya Nadya panik sambil mengusap punggung kakaknya.
Nadya belum pernah ia melihat Linggar sehancur ini.
Di sela isakannya, Linggar menceritakan semuanya.
Tentang perasaannya pada Rangga, tentang bagaimana Rangga sangat mencintai sosok 'Nadya' di ponsel, hingga ancaman Rangga yang ingin meninggalkan Jakarta karena patah hati.
"Ya Allah, Mbak..." Nadya berdesah pelan, matanya berkaca-kaca mendengar penderitaan kakaknya.
"Seharusnya dari awal Mbak jujur saja. Kebohongan ini cuma bikin Mbak dan Mas Rangga makin sakit."
Nadya memegang kedua bahu Linggar, menatapnya dalam-dalam.
"Mbak Linggar harus bicara sama Mas Rangga. Ceritain semuanya. Mas Rangga orang baik, Mbak."
Linggar hanya bisa mengangguk lemah. Ia bangkit, masuk ke kamarnya, lalu keluar membawa sebuah buku harian usang yang selama ini menjadi tempatnya menuangkan segala rahasia. Ia menyerahkan buku itu kepada adiknya.
"Pegang ini, Nad. Kalau terjadi sesuatu denganku besok, kamu tahu apa yang harus dilakukan," bisik Linggar.
Setelah itu, Linggar kembali masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Di meja kerjanya, dengan tangan gemetar, ia mulai mengetik sebuah surat di laptopnya.
Ia mengetik surat pengunduran dirinya. Ia merasa sudah tidak pantas lagi berdiri di samping Rangga setelah semua pengkhianatan ini. Namun, rasa bersalah melihat Rangga menangis di mobil tadi terus menghantuinya.
Ia tidak bisa menunggu sampai lusa dan tidak ingin Rangga menderita lebih lama lagi.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, Linggar mengambil ponsel rahasianya, dan dengan napas yang memburu, ia mengirimkan pesan singkat.
[Kita bertemu malam ini saja, Ngga. Di Cafe House, jam delapan malam. Aku akan datang.]
Setelah pesan itu terkirim, Linggar terduduk lemas di lantai.
Malam ini, entah ia akan mendapatkan cintanya atau justru kehilangan semuanya untuk selamanya.
Rangga yang baru saja sampai di apartemennya langsung membaca pesan itu dengan jantung yang berdegup liar.
Harapan yang sempat mati kini menyala kembali. Tanpa membuang waktu, ia langsung menyambar kunci mobilnya dan memacu kendaraan menuju Cafe House.
Rangga mempercepat laju mobilnya menuju ke kafe house.
Ia tiba lebih awal, duduk di pojok ruangan dengan tatapan gelisah ke arah pintu masuk.
Di sisi lain, Linggar menatap pantulan dirinya di kaca taksi.
Matanya sembab, namun ada ketetapan hati yang bulat.
Ia harus mengakhiri sandiwara ini, apa pun risikonya.
Begitu melangkah masuk ke kafe, ia langsung melihat sosok Rangga.
Pria itu tampak sangat rapi namun gurat kecemasan di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
Saat Linggar berjalan mendekat, Rangga mendongak. Matanya membulat sempurna.
"Linggar? Kamu di sini?" Rangga berdiri dengan bingung.
"Mau beli apa? Kenapa kamu tidak di rumah istirahat? Kaki kamu sudah tidak apa-apa?"
Linggar tidak menjawab. Dengan gerakan perlahan, ia duduk di hadapan Rangga.
Meja di antara mereka terasa seperti jurang yang sangat dalam.
Linggar mengeluarkan sebuah amplop putih dari tasnya dan meletakkannya di atas meja, mendorongnya ke arah Rangga.
"Rangga, ini surat pengunduran diriku," ucap Linggar dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Rangga langsung terkejut dan menatap amplop itu, lalu menatap Linggar kembali.
"Pengunduran diri? Kamu kenapa? Ada masalah di rumah? Apa ini soal ejekan Riko kemarin? Jangan dipedulikan, Linggar!"
Linggar menggelengkan kepalanya pelan. Air mata yang sejak tadi ditahannya mulai jatuh membasahi pipi.
"Aku minta maaf, Ngga. Aku benar-benar minta maaf."
Rangga semakin bingung saat mendengar perkataan dari Linggar.
"Minta maaf untuk apa?"
Linggar menarik napas panjang, lalu mengeluarkan ponsel rahasia dari tasnya.
Ia menyalakan layarnya dan menunjukkan riwayat percakapan mereka—percakapan antara Rangga dan 'Nadya'.
"Sebenarnya, Nadya adalah aku. Tidak ada wanita lain, Rangga. Hanya ada aku," bisik Linggar jujur.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Rangga. Ia menatap layar ponsel itu, lalu menatap wajah Linggar yang menangis sesenggukan.
Keheningan yang mencekam menyelimuti meja mereka.
Rangga meraih ponsel itu dengan tangan gemetar, membaca pesan-pesan manis yang selama ini menjadi kekuatannya.
"Kamu, Nadya?" Suara Rangga terdengar sangat rendah dan dingin.
"Tapi kenapa, Linggar? Kenapa?"
Rangga berdiri, napasnya memburu. Rasa kecewa dan dikhianati meluap di dadanya.
"Kenapa kamu membohongiku sejauh ini? Kamu membiarkan aku mencintai bayangan, sementara kamu ada di depanku setiap hari dan tertawa melihat kebodohanku? Tega kamu, Linggar?!"
Rangga memukul meja dengan pelan namun penuh penekanan.
"Aku memberikan hatiku pada sosok yang aku kira nyata, tapi ternyata itu hanya permainanmu? Kenapa kamu harus bersembunyi di balik identitas orang lain untuk mencintaiku?"
Linggar hanya bisa tertunduk, bahunya terguncang hebat karena tangis.
Ia tahu, kata-kata maaf tidak akan pernah cukup untuk mengobati luka di hati pria yang paling ia cintai tersebut.
"Karena aku takut, Ngga!" teriak Linggar di tengah isak tangisnya yang pecah.
Ia tidak peduli lagi dengan tatapan orang-orang di kafe.
"Aku takut kamu tidak akan pernah menoleh padaku kalau kamu tahu siapa aku yang sebenarnya."
Linggar menunduk, meremas jemarinya yang gemetar.
"Aku gemuk, tidak cantik dan setidaknya itulah yang dunia katakan padaku selama ini. Aku trauma, Rangga. Aku memakai foto adikku, Nadya, di aplikasi itu karena aku ingin tahu bagaimana rasanya dicintai tanpa dihina karena fisikku."
Ia mendongakkan kepalanya dengan mata yang sangat merah.
"Awalnya aku hanya ingin berteman, tapi aku malah jatuh cinta padamu. Dan saat aku tahu kamu adalah bosku, aku semakin ketakutan. Bagaimana mungkin pria sesempurna kamu bisa mencintai sekretaris yang sering dihina 'babi' oleh orang-orang?"
Rangga terdiam. Amarahnya yang tadi meluap seolah membeku mendengar pengakuan jujur yang begitu menyakitkan itu.
Ia menatap wajah wanita yang selama ini sangat cekatan membantunya di kantor.
Wanita yang suaranya merdu saat bernyanyi di mobil, dan wanita yang pergelangan kakinya ia kompres dengan penuh perasaan semalam.
"Jadi selama ini, kamu melihatku berjuang sendirian mencintai sosok di ponsel itu, sementara kamu tahu segalanya?" tanya Rangga dengan wajah yang penuh kekecewaan.
"Aku ingin jujur, tapi setiap kali aku melihatmu memuji foto Nadya, keberanianku hilang," rintih Linggar.
"Aku merasa aku tidak akan pernah bisa menandingi kecantikan adikku sendiri di matamu. Aku lebih baik mengundur diri, Rangga. Aku tidak sanggup melihat kekecewaan di matamu setiap hari."
Rangga menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
Ia mengambil surat pengunduran diri di atas meja, lalu tanpa diduga, ia merobeknya menjadi dua bagian.
"Rangga?" Linggar tertegun melihat potongan kertas itu jatuh ke lantai.
Rangga melangkah mendekat, ia berdiri tepat di samping kursi Linggar.
"Kamu pikir aku mencintai selembar foto? Kamu pikir aku bertahan hanya karena wajah cantik di layar ponsel?"
Rangga memegang dagu Linggar, memaksanya untuk menatap matanya.
"Aku jatuh cinta pada jiwamu, Linggar. Pada caramu menenangkanku saat aku stres, pada caramu memperhatikanku lewat pesan-pesan itu. Dan bodohnya aku, aku tidak sadar bahwa perhatian yang sama juga aku dapatkan darimu di kantor setiap hari."
"Tapi aku tidak seperti Nadya," bisik Linggar minder.
"Kamu benar," sahut Rangga tegas. "Kamu adalah Linggar. Dan Linggar yang ada di depanku sekarang jauh lebih nyata dan berharga daripada sekadar foto di aplikasi mana pun. Tapi aku tidak bisa berbohong kalau aku kecewa karena kamu tidak mempercayaiku dari awal."
Di dalam kafe yang remang-remang itu, suasana mendadak menjadi sangat dingin.
Rangga berdiri dengan raut wajah yang mengerikan.
Kekecewaan yang luar biasa telah menutup pintu hatinya rapat-rapat.
Segala pujian dan rasa cinta yang ia bangun selama ini terasa seperti sampah.
"Cukup, Linggar," ucap Rangga dengan suara yang bergetar karena amarah.
"Jangan muncul lagi di hadapanku! Aku benci kamu! Aku benci setiap detik kebohongan yang kamu ciptakan!"
Rangga membalikkan badan, melangkah lebar keluar dari kafe tanpa menoleh sedikit pun.
Ia masuk ke dalam mobilnya dan memacu mesin dengan emosi yang meledak-ledak.
Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari wanita yang telah mengkhianati kepercayaannya.
Linggar terisak, napasnya sesak hingga dadanya terasa sakit.
Dengan sisa kekuatan yang ada, ia mencoba mengejar Rangga.
"Rangga! Tunggu! Rangga, maafkan aku!" teriaknya sambil berlari keluar kafe menuju tepi jalan raya.,