NovelToon NovelToon
Dinikahi Duda Mandul!!

Dinikahi Duda Mandul!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Duda / Cinta setelah menikah
Popularitas:410.7k
Nilai: 4.6
Nama Author: Hanela cantik

Kirana menatap kedua anaknya dengan sedih. Arka, yang baru berusia delapan tahun, dan Tiara, yang berusia lima tahun. Setelah kematian suaminya, Arya, tiga tahun yang lalu, Kirana memilih untuk tidak menikah lagi. Ia bertekad, apa pun yang terjadi, ia akan menjadi pelindung tunggal bagi dua harta yang ditinggalkan suaminya.

Meskipun hidup mereka pas-pasan, di mana Kirana bekerja sebagai karyawan di sebuah toko sembako dengan gaji yang hanya cukup untuk menyambung makan harian, ia berusaha menutupi kepahitan hidupnya dengan senyum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Malam itu, rumah kontrakan Kirana terasa lebih sunyi dari biasanya.

Setelah menidurkan Arka dan Tiara, Kirana duduk sendiri di ruang tengah. Lampu kecil di sudut ruangan menyala redup, cukup menerangi wajahnya yang sejak tadi termenung. Pikirannya kembali pada pertemuan sore tadi.

Kirana menghembuskan napas panjang. Hatinya lelah. Bukan karena pekerjaan, tapi karena pergulatan di dalam dirinya sendiri. Ia bangkit, merapikan piring bekas makan malam, lalu duduk kembali. Tetap saja pikirannya tak bisa diam.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.

“Assalamualaikum, Ra.”

Suara itu membuat Kirana sedikit tersentak. Ia bangkit dan membuka pintu.

“Waalaikumsalam… eh, Mbak Rita,” sapa Kirana terkejut.

Rita tersenyum sambil mengangkat wadah plastik di tangannya. "mbak tadi pulang sebentar ke rumah mertua mbak, dititipin ini buat kalian juga."

“Ya Allah, mbak… repot-repot,” ucap Kirana sambil menerima wadah itu.

“Ah, ngapain repot. Kamu juga sering bagi-bagi ke mbak,” balas Rita ringan. “Boleh mbak masuk?”

Kirana mengangguk dan mempersilakan. Mereka duduk berdampingan di ruang tengah. Rita melirik Kirana sekilas, lalu menatapnya lebih saksama.

“Kok wajahmu kayak orang lagi mikir berat, Ra?” tanya Rita pelan. “Ada apa?”

Kirana terdiam. Tangannya memainkan ujung hijabnya. Ia ragu. Selama ini ia selalu menahan cerita itu sendirian. Tak ingin merepotkan, tak ingin terlihat lemah.

Namun malam itu… dadanya terasa terlalu sesak.

“Ada seseorang, Mbak,” ucap Kirana akhirnya, suaranya pelan.

Alis Rita langsung terangkat. “Seseorang?”

Kirana mengangguk. “Namanya Yuda. Dia… sering ketemu aku akhir-akhir ini. Baik sama anak-anak. Tadi sore dia bilang… dia mau lebih dekat sama aku.”

"kalo mbak ingat, yang ngantar arka sama Tiara waktu hilang itu"

Rita terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Terus?”

“Aku bingung, Mbak,” Kirana menunduk. “Aku takut. Takut kejadian yang dulu keulang lagi. Takut dia cuma bisa nerima aku, tapi bukan Arka sama Tiara.”

Suaranya bergetar. “Aku capek harus kuat terus, Mbak. Tapi aku juga takut kalau berharap.”

"Aku juga belum bisa melupakan mas Arya sepenuhnya mbak"

Rita menghela napas panjang, lalu meraih tangan Kirana dan menggenggamnya erat.

“Ra… dengar ya,” ucapnya lembut namun tegas. “Takut itu wajar. Kamu sudah terlalu banyak kehilangan. Tapi jangan sampai rasa takut itu bikin kamu menutup semua pintu kebahagiaan.”

Kirana mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca.

“Kalau dia datang baik-baik, ngomong baik-baik, dan nggak maksa kamu, itu sudah nilai plus, Ra,” lanjut Rita. “Laki-laki yang niatnya nggak main-main itu kelihatan dari caranya sabar.”

“Tapi anak-anakku…” Kirana tercekat.

“Justru itu,” potong Rita pelan. “Kamu jangan cari yang cuma cinta kamu. Cari yang mau nerima hidup kamu. Termasuk Arka dan Tiara. Dan itu… butuh waktu. Kamu nggak salah kalau minta waktu.”

Rita tersenyum hangat. “Ingat, Ra. Kamu bukan perempuan gagal. Kamu perempuan kuat yang layak bahagia. Kalau memang belum siap, bilang jujur. Kalau mau coba pelan-pelan, juga nggak dosa.”

"Kamu masih muda Ra, kamu berhak memulai kehidupan kamu yang baru. Aku yakin Arya juga pasti bahagia kalo kamu bahagia."

“Terima kasih, Mbak…” suaranya lirih.

Rita mengusap punggung Kirana. “Apa pun keputusanmu, mbak dukung. Yang penting kamu nggak bohong sama hatimu sendiri.”

Setelah Rita pamit pulang, Kirana kembali duduk sendiri. Namun kali ini, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Ia menatap pintu kamar anak-anaknya, lalu memejamkan mata.

.......

Keesokan sorenya, setelah pulang kerja, Kirana tidak langsung menuju rumah. Masih tidak terlalu sore untuk kesana.

Langkahnya mengarah ke satu tempat yang selalu membuat dadanya terasa sesak sekaligus tenang makam almarhum suaminya.

Langit sore itu mendung tipis. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah. Kirana berdiri di depan pusara sederhana bertuliskan nama Arya. Nama yang kini lebih sering ia ucapkan dalam doa daripada dengan suara.

Ia berjongkok, lalu mulai menyapu dedaunan kering yang gugur di atas makam. Gerakannya hati-hati, seolah takut mengusik ketenangan. Daun-daun itu dikumpulkannya ke satu sisi, lalu ia merapikan bunga lama yang sudah layu.

“Mas…” suaranya lirih.

“Aku pulang kerja duluan hari ini… terus ke sini.”

Kirana duduk bersila di samping makam itu. Tangannya mengusap nisan yang terasa dingin, matanya menatap kosong beberapa saat sebelum akhirnya berkaca-kaca.

“Arka sekarang sudah besar, Mas,” ucapnya pelan.

“Kalau ngomong suka sok dewasa, padahal masih bocah. Tapi dia baik… dia kuat.” Senyum kecil terbit di bibirnya.

“Tiara juga… makin cerewet. Kemarin dia sakit parah sampai dirawat. Aku takut banget, Mas. Takut kehilangan lagi.”

Air mata jatuh perlahan ke pipinya. Kirana menyekanya, lalu menarik napas dalam.

“Tapi Alhamdulillah… Tiara sudah membaik sekarang. Kamu pasti jagain kami, ya.”

Ia terdiam sejenak, lalu kembali menabur bunga di atas pusara.

“Aku capek, Mas,” ucapnya jujur. “Kerja, ngurus anak-anak sendiri… kadang aku ngerasa kuat, tapi kadang rasanya pengen nyerah.”

Ia menghela napas panjang. “Tapi aku selalu inget kamu. Kata kamu dulu… Tuhan nggak pernah tidur.”

Angin berembus pelan, membuat ujung hijabnya bergerak.

Kirana menunduk, suaranya makin lirih.

“Mas… ada satu hal lagi.”

Tangannya menggenggam kain hijabnya erat.

“Ada lelaki yang ingin dekat sama aku. Dia baik… perhatian sama aku, juga sama Arka dan Tiara.”

Ia tersenyum tipis, pahit. “Aku bingung. Takut. Takut salah lagi. Takut anak-anak terluka.”

Matanya menatap nisan itu lama, seolah menunggu jawaban.

Matanya menatap nisan itu lama, seolah menunggu jawaban.

“Kalau aku mencoba membuka hati… kamu marah nggak, Mas?”

Suaranya bergetar. “Bukan karena aku lupa. Kamu tetap di sini… selalu.”

Air mata jatuh semakin deras.

“Aku cuma pengen hidup kami nggak seberat ini. Aku pengen anak-anak tumbuh dengan bahagia. Aku pengen belajar tersenyum lagi… kalau memang Tuhan izinkan.”

Ia menangkupkan kedua tangan, menunduk lama.

“Doain aku ya, Mas. Biar aku nggak salah langkah. Biar kalau aku melangkah, itu karena yakin… bukan cuma karena sepi.”

Adzan Magrib terdengar dari kejauhan. Kirana berdiri, mengusap nisan itu sekali lagi.

“Terima kasih sudah jaga kami selama ini,” bisiknya.

“Aku pulang dulu… besok aku ke sini lagi.”

Dengan langkah perlahan, Kirana meninggalkan makam itu. Dadanya masih terasa berat, namun kini ada sedikit kelegaan seolah sebagian beban di hatinya telah ia titipkan di sana.

1
dewi rofiqoh
Berbesar hatilah, agar anak dapat menapaki masa depan untuk meraih cita-cita dengan penuh semangat yang diiringi doa restu kedua orang tuanya
Dian
lanjut
Samsiah Yuliana
lanjut lagi ceritanya Thor 🙏🙏🙏
dewi rofiqoh
Wah arka kakak terbaik...
Samsiah Yuliana
lanjut Thor,,,
lagi mewek malah ketunda episode nya 😁🥰🥰🥰🙏
Sri Supriatin
bangga tentunya...selamat Arka🙏🙏🙏
Kaylaa
boleh...ditunggu crita anak2nya Kirana dan Yuda....khususnya si arka....penasaran sama cewek yg diumpetin 🤣🤭
dewi rofiqoh
Selamat arka
Kembarr Kembaarr
yaa emang pd dasarnya sprt itu laura. maka nya jd perempuan jngn terlalu murah. cantik kalau hanya polesan untuk jual diri untuk apa giliran gak di poles rupa kayak badak siapa yg mau. udah bejat ahlaq nya lg
Nabila Nabil
kalo arka sama lilis masih sedarah antara ayahnya arka sama ibu nya lilis... kecuali kalo lilis sama Keenan nah itu udah beda darah dan diperbolehkan tapi kalo arka lilis kayaknya gak boleh deh... gak tau kalo cuma di novel boleh..... 🤣🤣🤣🤣🤣 kan cerita fiktif tapi gak untuk ditiru.....
Nabila Nabil
jangan sama lilis donk... kan masih Arya ibu nya lilis masih sedarah... kalo di kampungku gak boleh..... kecuali kalo udah di canggah mah gpp... kalo se buyut aja masih gak boleh kok
dewi rofiqoh
Jangan sama sepupu sendiri dong arka
dewi rofiqoh
Lanjuut
Kembarr Kembaarr
berarti si ibu ini yergolong manusia yg merasa diri nya mampu berdiri sendiri tanpa orang lain. dn tidak membutuhkn orang lain pula.. wah hebat skl tp apakah dia mampu. nyatanya anaknya aja nyampek kelaparan
dewi rofiqoh
Akhirnya Kirana sadar, cepat sehat ya ra
Nifatul Masruro Hikari Masaru
cepat sembuh ya
Nifatul Masruro Hikari Masaru
semoga kirana selamat
Sri Supriatin
🙏🙏🙏💪💪
Yusna Wati
Alhamdulillah kirana membaik
dewi rofiqoh
Semoga Kirana baik-baik saja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!