Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.
Selamat Bacaaaa 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Suasana di ruang tamu Oxford yang biasanya tenang kini terasa mencekam, seolah oksigen di dalamnya telah habis tersedot oleh ketegangan antara dua kutub yang berlawanan.
William Montgomery, pria yang mampu mengguncang bursa saham hanya dengan satu panggilan telepon, berdiri dengan tangan mengepal di samping tubuhnya. Matanya yang tajam menatap tajam ke arah Lucky, namun telinganya masih berdenging oleh teriakan putrinya.
"Jika Daddy ingin membawanya, Daddy harus melangkahi mayatku dulu!"
Kalimat itu bergema di kepala William, menghantam dinding-dinding egonya yang selama ini ia bangun setinggi langit. Ia menatap Freya—putri bungsunya yang dulu selalu patuh, yang dulu selalu ia banggakan karena kecerdasannya di Oxford. Kini, Freya berdiri di sana, bukan sebagai seorang Montgomery yang tunduk pada dinasti, melainkan sebagai seorang ibu yang siap menerkam siapa pun yang mengancam anaknya.
William mengalihkan pandangannya pada Alistair. Bocah itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Lucky, tangan kecilnya mencengkeram kemeja ayahnya dengan sangat erat. Isakan pelan Alistair terdengar seperti dentuman meriam bagi nurani William yang paling dalam.
"Daddy..." Fank mencoba menengahi, melangkah maju untuk memegang bahu ayahnya. "Cukup. Lihatlah mereka."
William terdiam. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia melihat melampaui angka, melampaui reputasi, dan melampaui aliansi bisnis. Ia melihat seorang pria—Lucky Caleb—yang tidak lagi memiliki apa-apa. Pria itu tidak memakai jam tangan mewah, tidak ada pengawal di belakangnya, bahkan status pernikahannya di Berlin sedang hancur lebur. Namun, pria itu memeluk Alistair dengan cara yang tidak pernah William lakukan pada anak-anaknya sendiri: dengan kerentanan dan keberanian yang murni.
William teringat saat Freya dikirim ke Inggris. Ia pikir ia melindungi nama baik keluarga. Ia pikir ia menyelamatkan masa depan Freya dari "penyanyi rendahan". Namun, yang ia lakukan justru memaksa putrinya melahirkan di persembunyian, membesarkan anak dalam kebohongan, dan mematikan binar di mata Freya selama lima tahun.
Perlahan, ketegangan di bahu William mereda. Kepalan tangannya melonggar. Rasa malu mulai merayap naik, membakar wajahnya yang biasanya angkuh. Ia merasa kecil di hadapan cinta yang begitu keras kepala.
"Dua puluh lima tahun aku membangun kerajaan ini," suara William keluar, rendah dan serak, jauh dari nada memerintah yang biasanya. "Aku mengajari kalian bahwa dunia ini adalah tentang kekuatan. Tapi pagi ini... aku menyadari bahwa aku adalah orang paling lemah di ruangan ini."
William menatap Freya, matanya berkaca-kaca—sebuah pemandangan yang bahkan Fank pun belum pernah melihatnya.
"Aku mengirimmu ke sini untuk belajar hukum, Freya. Tapi sepertinya, kau justru mempelajari sesuatu yang tidak pernah aku pahami sepanjang hidupku. Kesetiaan."
William menarik napas panjang, lalu beralih menatap Lucky. Lucky tidak menurunkan kewaspadaannya, namun ia melonggarkan pelukannya pada Alistair agar bocah itu bisa bernapas lebih lega.
"Kau membatalkan pernikahanmu di Berlin, Lucky?" tanya William.
"Saya membatalkan segalanya, Tuan," jawab Lucky tegas. "Saya kehilangan karier, saya kehilangan dukungan keluarga saya, dan saya mungkin akan menjadi musuh publik di Jerman. Tapi saya tidak akan kehilangan mereka lagi."
William mengangguk pelan, sebuah pengakuan yang sangat berat. "Fank benar. Aku sudah terlalu tua untuk menjadi tuhan bagi hidup kalian. Jika kau mampu membuang kemewahan Berlin demi berdiri di lantai kayu yang basah ini... maka kau memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh uang Montgomery."
William berbalik ke arah pengawalnya. "Keluar. Tunggu di mobil."
Para pria bersetelan hitam itu segera membungkuk dan pergi. Ruangan itu mendadak terasa lebih luas. William berjalan mendekati sofa, berhenti dalam jarak yang sopan. Ia menatap Alistair yang mulai berani mengintip dari balik bahu Lucky.
"Alistair..." ucap William lembut. "Kakek minta maaf karena sudah membuatmu takut."
Alistair menatap kakeknya dengan ragu, lalu melihat ke arah Lucky, seolah meminta izin. Lucky memberikan anggukan kecil yang meyakinkan. Alistair perlahan melepaskan cengkeramannya dan tersenyum malu-malu.
Siang harinya, Oxford menyambut matahari yang muncul dari balik awan. Di ruang makan rumah Freya yang hangat, suasana canggung perlahan mencair menjadi kehangatan yang tak terduga. William Montgomery duduk di kursi kayu, menyesap teh yang dibuatkan oleh Freya—teh biasa, bukan teh artisan mahal yang biasa ia minum di Los Angeles.
"Jadi, apa rencanamu sekarang, Lucky?" tanya William. Kali ini, tidak ada nada penghinaan. Hanya rasa ingin tahu dari seorang pria yang mulai menerima kenyataan.
Lucky menatap Freya, lalu menatap Alistair yang sedang asyik memakan biskuit di sampingnya. "Saya sudah memutuskan untuk berhenti dari dunia hiburan, Tuan. Saya akan fokus mengembangkan bisnis otomotif yang saya rintis. Berlin mungkin sedang kacau karena pembatalan pernikahan saya, tapi saya akan menyelesaikannya secara hukum. Saya ingin menetap di sini... atau di mana pun Freya berada."
"Berlin akan menuntutmu, Lucky. Keluarga Allen bukan orang sembarangan," Fank memperingatkan.
"Biarkan mereka menuntut," jawab Lucky tenang. "Aku sudah memberikan seluruh aset pribadiku di Berlin kepada keluarga Allen sebagai bentuk kompensasi atas rasa malu yang mereka tanggung. Aku keluar dengan tangan kosong, Hans akan membantuku mengurus sisa-sisanya."
Freya menggenggam tangan Lucky di bawah meja. "Kau tidak tangan kosong, Luck. Kau punya kami."
William Montgomery berdehem, menarik perhatian semua orang. "Aku akan mengirim tim pengacara pribadiku ke Berlin besok pagi. Bukan untuk melawanmu, tapi untuk memastikan proses perceraian dan pembatalanmu selesai tanpa mencoreng nama baik Alistair. Biar dunia tahu bahwa kau kembali ke Inggris karena alasan yang jauh lebih terhormat daripada sekadar melarikan diri."
Lucky tertegun. "Tuan Montgomery, Anda tidak perlu melakukan itu."
"Anggap saja ini investasi," ucap William dengan senyum tipis yang langka. "Investasi untuk masa depan cucuku agar dia tidak perlu malu memiliki ayah seorang 'penyanyi pelarian'. Dan Lucky... panggil aku William. Jangan Tuan lagi."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah lima tahun yang penuh dengan kebencian dan rahasia, keluarga itu berkumpul di ruang tengah. Tidak ada lagi masker, tidak ada lagi pengawal, dan tidak ada lagi dinding pemisah.
Lucky duduk di karpet, bermain mobil-mobilan dengan Alistair. Ia melihat cara Alistair menggerakkan mainannya, persis seperti cara Lucky dulu saat masih kecil. Di atas sofa, Freya bersandar di bahu ayahnya, William, yang akhirnya mau menurunkan egonya untuk memeluk putrinya kembali.
"Mommy, Lucky sangat hebat bermain mobil!" Alistair berseru dengan riang.
Freya tersenyum, matanya bertemu dengan mata Lucky. "Ya, sayang. Dia sangat hebat."
Lucky menatap Freya dengan penuh pemujaan. Perjalanan bolak-balik Berlin-Inggris yang melelahkan, bogem mentah dari ayahnya, dan kehilangan status mewahnya terasa sangat sepadan. Ia telah menukar panggung dunia dengan satu penonton kecil di depannya dan satu wanita luar biasa di sampingnya.
Ia akhirnya diterima. Bukan sebagai bintang yang dipuja jutaan orang, tapi sebagai seorang ayah dan seorang pendamping. Di bawah naungan langit Oxford yang damai, Lucky Caleb akhirnya menemukan lagu paling indah yang pernah ia ciptakan: melodi kehidupan yang nyata bersama Freya dan Alistair.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
smngt Thor ceritanya bgus bgt