NovelToon NovelToon
Iman Yang Tak Terbeli

Iman Yang Tak Terbeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15: Teror di Balik Bayangan

Dengkuran halus mesin ventilator di ruang ICU menjadi irama yang menyiksa bagi Shafira. Setiap embusan napas buatan yang masuk ke paru-paru ayahnya adalah pengingat betapa rapuhnya kehidupan. Di luar jendela rumah sakit, Jakarta sedang bersiap untuk tidur, tapi bagi Shafira, istirahat adalah kemewahan yang tak lagi ia miliki.

"Kak, pulanglah sebentar. Mandi dan ganti baju. Ibu biar Arfan yang jaga," bisik adiknya, menyentuh pundak Shafira yang kaku.

Shafira menoleh. Wajah Arfan nampak jauh lebih dewasa hanya dalam waktu semalam.

"Bagaimana dengan Ibu?"

"Ibu sudah tenang setelah diberi obat tidur oleh suster. Pulanglah, Kak. Kakak bisa pingsan kalau begini terus."

Dengan berat hati, Shafira mengangguk. Ia butuh mengambil beberapa pakaian untuk ibunya dan mukena bersih. Ia melangkah keluar dari rumah sakit, tidak menyadari bahwa di seberang jalan, sebuah mobil hitam dengan kaca gelap telah menunggunya sejak tadi.

Sementara itu, di sebuah kantor keamanan pribadi di lantai dasar Mahesa Group, Dave Mahesa sedang melakukan sesuatu yang di luar kebiasaannya. Ia tidak sedang meninjau grafik saham. Ia duduk di depan layar monitor bersama seorang ahli forensik digital kepercayaannya, seorang pria bernama Rio.

"Semua rekaman CCTV di area parkir jam dua siang kemarin sudah hilang, Pak Dave. Benar-benar dihapus secara permanen," lapor Rio sambil menggelengkan kepala.

"Instruksi penghapusannya datang dari akun administrator pusat milik Bu Sarah."

Dave mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih.

"Ibuku pikir dia bisa menghapus jejak hanya dengan menekan tombol delete? Bagaimana dengan dashcam mobil Clara?"

"Mobil itu sudah dibawa ke bengkel resmi keluarga besar Clara, Pak. Mereka bilang sistem elektroniknya rusak karena benturan."

Dave tersenyum sinis. "Mereka lupa satu hal. Mobil sport itu punya sistem sinkronisasi otomatis ke cloud untuk data asuransi. Clara terlalu bodoh untuk menyadarinya."

"Saya sudah mencoba meretasnya, tapi butuh kunci akses dari ponsel pemiliknya," ujar Rio.

Dave berdiri, mengambil kunci mobilnya.

"Aku akan mendapatkan kunci itu. Terus pantau posisi Shafira. Aku punya firasat buruk tentang cara Mama bermain setelah tawarannya ditolak."

Shafira baru saja turun dari angkutan umum di dekat gang rumahnya. Jalanan menuju rumah petaknya sudah sepi, hanya diterangi beberapa lampu jalan yang berkedip. Saat ia melangkah masuk ke gang yang sempit, suara langkah sepatu berat terdengar di belakangnya.

Shafira mempercepat langkah. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba merogoh ponsel di tasnya, namun sebuah tangan besar tiba-tiba membekap mulutnya dan menyeretnya ke celah sempit di antara dua bangunan.

"Jangan berteriak kalau kau masih sayang nyawa ayahmu," desis sebuah suara parau di telinganya.

Shafira meronta, namun tenaga pria itu terlalu besar. Ada dua pria lagi yang muncul dari kegelapan, keduanya mengenakan jaket kulit hitam. Salah satunya mengeluarkan sebuah amplop cokelat amplop yang sama yang dibawa pengacara Bu Sarah tadi siang.

"Nona Shafira, bos kami tidak suka ditolak dua kali," ujar pria yang memegang amplop.

"Cek lima miliar itu sudah hangus. Sekarang, kau hanya punya dua pilihan: tanda tangani surat pernyataan ini secara gratis, atau kami akan memastikan tabung oksigen ayahmu 'tidak sengaja' terlepas malam ini."

Darah Shafira terasa membeku. Ancaman itu lebih menyakitkan daripada kekerasan fisik mana pun.

"Kalian... kalian iblis," gumam Shafira di balik bekapan tangan.

"Kami hanya orang yang dibayar untuk menyelesaikan masalah," pria itu mengeluarkan sebuah bolpoin. "Ayo, tanda tangan. Setelah itu, kau bebas. Kau bisa kembali ke rumah sakit dan berdoa sesukamu."

Tangan pria itu mengendurkan bekapan agar Shafira bisa menandatangani surat itu. Shafira menatap kertas di depannya. Di bawah lampu remang-remang, ia melihat nama ayahnya dicatut sebagai penyebab kecelakaan.

"Saya... tidak akan... pernah," ucap Shafira dengan suara bergetar namun penuh penekanan.

"Keras kepala sekali," pria itu mengangkat tangannya, bersiap untuk mendaratkan tamparan keras ke wajah Shafira.

"HENTIKAN!"

Sebuah lampu sorot mobil yang sangat terang tiba-tiba menyinari gang sempit itu, membutakan mata para preman tersebut. Sebuah mobil SUV mewah meraung, menabrak tumpukan tong sampah di dekat mereka untuk menghalangi jalan keluar.

Dave Mahesa keluar dari mobil dengan wajah yang memancarkan kemarahan murni. Ia tidak membawa pengawal. Ia hanya membawa dirinya sendiri dan sebuah tongkat pemukul baseball yang diambilnya dari bagasi.

"Lepaskan dia," ujar Dave dengan nada yang sangat tenang, namun mematikan.

"Tuan Muda Dave? Ini bukan urusan Anda. Kami diperintah oleh..."

"Aku tidak peduli siapa yang membayar kalian!" Dave melangkah maju, menghantamkan tongkatnya ke dinding beton dengan suara menggelegar.

"Jika kalian menyentuh satu ujung helai jilbabnya saja, aku pastikan kalian tidak akan pernah melihat matahari besok pagi. Keluar dari sini sebelum aku berubah pikiran untuk tidak melibatkan polisi!"

Melihat aura otoritas dan kegilaan di mata Dave, ketiga pria itu mundur. Mereka tahu siapa Dave Mahesa pria yang bisa menghancurkan hidup mereka hanya dengan satu panggilan telepon. Tanpa sepatah kata lagi, mereka lari menghilang ke dalam kegelapan gang.

Shafira luruh ke tanah, tubuhnya gemetar hebat. Dave segera menjatuhkan tongkatnya dan berlutut di depan Shafira. Ia ingin memegang bahu gadis itu, namun ia teringat Shafira selalu menjaga jarak. Ia hanya bisa memberikan sapu tangan mahalnya.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dave, suaranya kini penuh kecemasan yang tulus.

Shafira menatap Dave, air matanya akhirnya tumpah.

"Mereka... mereka mengancam akan mencabut oksigen Bapak, Pak Dave..."

Dave merasakan hatinya seperti diiris. Ia merasa sangat malu menjadi bagian dari keluarga yang mampu melakukan hal serendah itu. "Maafkan aku, Shafira. Aku tidak menyangka Mama akan bertindak sejauh ini."

Dave membantu Shafira berdiri dengan tetap menjaga jarak yang sopan. "Ikut aku. Kamu tidak bisa tinggal di rumah ini malam ini. Terlalu berbahaya."

"Tapi saya harus ke rumah sakit..."

"Kita ke rumah sakit. Tapi setelah itu, aku akan menempatkan mu di sebuah tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun, termasuk ibuku. Aku akan menyewa pengamanan dua puluh empat jam untukmu, ibumu, dan Arfan."

Shafira menatap rumah sederhananya yang kini terasa tidak aman lagi.

"Kenapa Bapak melakukan semua ini? Bapak bisa saja kehilangan segalanya jika melawan Ibu Sarah."

Dave menatap langit malam Jakarta yang tanpa bintang. "Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa punya tujuan yang lebih penting daripada sekadar angka di rekening bank. Aku ingin menjadi pria yang layak untuk berdiri di dekat orang sejujur kamu, Shafira."

Dave membukakan pintu mobil untuk Shafira. Saat mobil itu melaju kembali menuju rumah sakit, Dave diam-diam mengirim pesan singkat kepada Rio.

"Cari tahu siapa yang mengirim preman itu. Dan Rio... siapkan pengacara paling kejam di negara ini. Kita akan menyerang balik."

Badai baru saja dimulai. Dan kali ini, sang putra mahkota telah resmi menyatakan perang terhadap ratunya sendiri demi seorang gadis yang mengajarkannya arti sebuah harga diri.

1
Siti Naimah
gila si Dave..masak memanggil orang tua cuman sebut nama .moga aja segera bertobat tidak songong lagi
Novita Sari
saudara kembar bersatu....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
semangat thor, tambah seru..
.
Meghawati: menegangkan
total 1 replies
Novita Sari
Alhamdulillah thor update banyak terimakasih thor n semangat 💪💪💪
Meghawati: selalu semangat
total 1 replies
Novita Sari
dave ada saudara, lanjut thor....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
lanjut thor...
Meghawati: lanjuuut
total 1 replies
Novita Sari
astaghfirullah bu sarah udah mau mati gak sadar sadar..
Meghawati: hahaha belum dapat hidayah
total 1 replies
Novita Sari
jangan liat dari masa lalu safira 😭😭😭😭 Alhamdulillah update banyak terimakasih thor, semangat 💪💪💪💪
Meghawati: terimakasih supportnya
total 2 replies
Novita Sari
semangat dave safira
Meghawati: terimakasih
total 1 replies
Siti Naimah
keren Shafira 👍
Meghawati: matap
total 1 replies
Novita Sari
jangan jangan dave bukan anak kandung bu sarah
Meghawati: jahat banget
total 1 replies
Novita Sari
terus berjuang di jalan Allah Safira..
Meghawati: aamiin
total 1 replies
Novita Sari
tambah seru, ditunggu kebucinan dave sama safira thor
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
terus berkarya thor, cerita nya bagus..
Novita Sari
cerita bagus,..
Meghawati: makasih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!