NovelToon NovelToon
Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: RENCANA DI BALIK KEGELAPAN

Fajar merambat perlahan di atas kanopi Hutan Barat, mengubah kabut putih menjadi emas cair. Burung-burung aneh dengan bulu berwarna-warni mulai berkicau, menciptakan simfoni pagi yang tidak pernah terdengar di dunia luar.

Aldric berdiri di ambang pondok Master Elian, menatap ke arah timur—arah istana, arah musuh, arah masa depan yang tidak pasti. Di tangannya, selembar perkamen tua dengan peta kasar yang digambar penyihir itu semalam.

"Kuil bawah tanah itu ada di bawah sayap timur istana," kata Master Elian. "Dulu digunakan oleh leluhurmu untuk ritual-ritual kuno. Pintu masuknya tersembunyi di balik patung naga di ruang tahta."

Ruang tahta. Tempat ayahnya dibunuh. Tempat Darius sekarang duduk.

"Kau sudah bangun sejak subuh."

Suara Elara di belakangnya. Aldric menoleh, melihat wanita itu berdiri dengan rambut merah tergerai, wajahnya masih mengantuk tapi matanya waspada.

"Tidak bisa tidur," jawabnya.

Elara mendekat, meraih tangannya. "Memikirkan tentang istana?"

"Memikirkan tentang bagaimana cara masuk tanpa terbunuh."

Dari dalam pondok, suara Master Elian memanggil. "Masuklah kalian berdua. Sarapan sudah siap, dan kita punya banyak hal untuk dibahas."

Di meja bundar yang sama, mereka duduk mengelilingi semangkuk bubur hangat dan roti gandum. Ren makan dengan lahap—anak itu selalu lapar akhir-akhir ini, mungkin karena pertumbuhannya atau karena sering digunakan sebagai saluran Varyn.

Master Elian menatap mereka satu per satu dengan mata hitamnya yang penuh bintang.

"Aku sudah memikirkan rencanamu semalaman," katanya. "Ada beberapa hal yang harus kau ketahui sebelum pergi."

Aldric menegakkan tubuh. "Katakan."

Pertama—Master Elian mengangkat jarinya yang keriput—kuil bawah tanah itu dijaga. Bukan oleh manusia, tapi oleh arwah-arwah leluhurmu. Mereka akan mengujimu, melihat apakah kau layak membawa Soulrender."

"Arwah leluhur?"

"Aldric Veynheart pertama—pendiri kerajaan—adalah pemburu iblis terhebat di zamannya. Ia yang membunuh iblis pertama dan menempa pedang dari tulangnya. Arwahnya masih setia menjaga pedang itu."

"Apa yang akan mereka tanyakan?"

Master Elian menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi biasanya, leluhur akan menguji keturunan mereka tentang nilai-nilai keluarga. Kehormatan, keberanian, pengorbanan."

Aldric diam. Ia tidak yakin apa yang tersisa dari nilai-nilai keluarga Veynheart dalam dirinya. Yang ia rasakan hanya dendam.

Kedua—jari kedua terangkat—Varyn. Kau harus membebaskannya sebelum menghadapi Kael. Tanpa dia, kau tidak akan bisa melawan iblis itu sendirian."

"Bagaimana caranya?"

"Varyn terperangkap di jurang oleh mantra pengikat yang diletakkan kakek buyutmu. Untuk membebaskannya, kau harus menghancurkan sumber mantranya—sebuah kristal hitam yang tersembunyi di dasar jurang."

Aldric mengingat saat pertama kali jatuh. Varyn bilang darah Veynheart yang mengurungnya. Mungkin kristal itu terhubung dengan darahnya.

"Dan aku harus kembali ke jurang?"

"Ya. Tapi kali ini, kau tidak akan jatuh—kau akan turun dengan sengaja." Master Elian tersenyum tipis. "Kau punya cukup pengalaman sekarang."

Ketiga—jari ketiga—pengorbanan. Aku masih tidak bisa memberitahumu apa itu. Tapi aku bisa memberitahumu kapan kau akan mengetahuinya."

"Kapan?"

"Saat kau memegang Soulrender. Pedang itu akan menunjukkan padamu apa yang harus kau korbankan."

Hening. Elara menggenggam tangan Aldric lebih erat.

Ren tiba-tiba berbicara, "Om, Varyn bilang jangan takut. Dia bilang Om kuat."

Semua mata tertuju pada anak itu. Matanya—untuk sesaat—bersinar merah, lalu kembali normal.

Master Elian mengamati Ren dengan intens. "Anak ini... semakin sering ia menjadi saluran, semakin dalam koneksinya dengan Varyn. Suatu hari, ia mungkin bisa memanggil iblis itu tanpa tidur."

Sera memeluk Ren cemas. "Apa itu berbahaya?"

"Tentu. Tapi juga berguna." Master Elian bangkit. "Sekarang, kalian harus pergi. Perjalanan ke istana panjang dan berbahaya. Aku akan memberi kalian beberapa bekal dan—"

Pintu pondok terbuka.

Ratu hutan berdiri di ambang pintu, wajahnya tegang—sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

"Kael mengirim pengintai," katanya tanpa basa-basi. "Mereka sudah masuk ke hutan. Mungkin hanya beberapa jam lagi sampai ke sini."

Master Elian menghela napas. "Cepat. Kalian harus pergi sekarang."

Mereka berpacu dengan waktu.

Ratu hutan memberi mereka jalan pintas—lorong bawah tanah yang hanya diketahui para penjaga hutan. Lorong itu gelap, lembab, dan penuh akar-akar pohon yang menjuntai seperti ular mati. Tapi setidaknya aman dari pengintai Kael.

Aldric memimpin di depan, belati terhunus. Elara di belakangnya, lalu Sera dengan Ren. Di belakang mereka, para penjaga hutan menutup pintu masuk lorong, menyamarkannya dengan ilusi.

"Berapa lama lorong ini?" bisik Elara.

"Beberapa jam. Ujungnya di luar hutan, dekat sungai." Aldric menjawab tanpa menoleh.

Mereka berjalan cepat, hampir berlari. Ren mulai merengek lelah, tapi Sera memaksanya terus bergerak.

Setelah sekitar dua jam, cahaya mulai terlihat di ujung. Lorong itu mendaki, dan akhirnya mereka keluar dari lubang yang tersembunyi di balik semak-semak.

Udara terbuka menyambut mereka—langit biru, padang rumput luas, dan di kejauhan, sungai berkelok.

Mereka bebas. Untuk sementara.

Saat beristirahat di tepi sungai, Aldric membuka peta Master Elian lagi. Perjalanan ke istana masih lama—mungkin seminggu dengan berjalan kaki. Tapi mereka tidak punya kuda, tidak punya perbekalan cukup, dan kelelahan.

"Aku bisa cari kuda," kata Aldric tiba-tiba.

Elara menatapnya. "Di mana?"

"Ada desa di selatan. Mungkin dua jam perjalanan." Ia menunjuk peta. "Kalian tunggu di sini. Aku pergi cari kuda dan makanan."

"Aku ikut."

"Tidak. Kau jaga mereka." Aldric menatap Elara tegas. "Aku lebih cepat sendirian."

Elara ingin membantah, tapi tahu itu benar. Ia hanya bisa mengangguk.

Aldric melesat pergi, meninggalkan mereka bertiga di tepi sungai.

Dua jam kemudian, ia kembali dengan tiga ekor kuda—kuda desa biasa, tapi cukup kuat. Juga sekarung makanan dan selimut tambahan.

"Ada masalah?" tanya Elara melihat ekspresinya yang tegang.

"Aku mendengar kabar." Aldric turun dari kuda. "Darius mengumumkan sayembara baru. Hadiah untuk kepalaku naik jadi lima puluh ribu koin emas."

Sera bersiul pelan. "Setengah kerajaan akan memburumu."

"Bukan hanya itu." Aldric duduk di samping mereka. "Dia juga mengerahkan seluruh pasukan kerajaan untuk menjaga istana. Semua jalan masuk dijaga ketat. Dan dia punya... pemburu iblis."

Elara mengerutkan dahi. "Pemburu iblis?"

"Mereka dulu pemburu monster. Sekarang disumpah setia pada Darius. Katanya, mereka dilatih khusus untuk membunuh makhluk sepertiku."

Ini kabar buruk. Aldric mungkin kuat, tapi melawan seluruh pasukan ditambah pemburu iblis? Itu bunuh diri.

Ren tiba-tiba berkata, "Varyn bilang... jangan khawatir. Dia kirim bantuan."

Mereka menatap anak itu. Matanya merah lagi.

"Aku tidak bisa kirim anjing lagi—terlalu lemah. Tapi aku bisa kirim yang lain." Suara Varyn dari mulut Ren. "Di dunia bawah, ada sekutu yang menunggumu. Kau harus turun ke jurang untuk mendapatkannya."

Aldric mengerutkan dahi. "Sekutu? Siapa?"

"Nanti kau tahu. Tapi cepat—Kael tidak akan menunggumu."

Mata Ren kembali normal. Anak itu menggeleng bingung.

"Aku ngantuk," rengeknya.

Sera segera menidurkannya di pangkuan.

Aldric menatap Elara. "Kita harus kembali ke jurang."

"Sekarang?"

"Semakin cepat, semakin baik." Ia melipat peta. "Tapi kita harus lewat istana dulu. Soulrender ada di sana. Dan aku tidak bisa turun ke jurang tanpa senjata itu."

Elara menghela napas. "Jadi, kita masuk ke istana yang dijaga ribuan prajurit dan pemburu iblis, ambil pedang dari kuil bawah tanah yang dijaga arwah leluhur, lalu turun ke jurang yang penuh monster, dapatkan sekutu, baru kembali ke atas untuk melawan Kael?"

Aldric tersenyum tipis. "Kedengarannya gila, ya?"

"Gila." Tapi Elara tersenyum balik. "Aku ikut."

Sera mengangkat tangan. "Aku juga. Tapi bagaimana caranya?"

Aldric sudah memikirkan itu selama perjalanan pulang.

"Ada jalan rahasia ke istana. Dulu digunakan para pelayan untuk keluar masuk tanpa diketahui. Mira yang ngasih tahu." Ia menunjuk peta. "Di sini, dekat sungai, ada pintu air tua. Lewat sana, kita bisa masuk ke sistem pembuangan istana, lalu naik ke ruang bawah tanah."

"Pembuangan?" Sera meringis.

"Lebih baik daripada mati."

Malam itu, mereka berkemah di tepi sungai. Api unggun kecil menyala, cukup untuk menghangatkan tapi tidak terlalu mencolok. Ren tidur di tenda darurat bersama Sera.

Aldric duduk di dekat api, memandangi peta untuk kesekian kalinya. Elara duduk di sampingnya.

"Kau tidak pernah berhenti berjuang," katanya lirih.

"Apa?"

"Sejak pertama kali aku bertemu denganmu di dunia bawah, sampai sekarang. Kau terus berjuang. Untuk keluargamu, untuk dendammu, untuk kami." Ia menatap Aldric. "Aku kagum padamu."

Aldric tidak tahu harus menjawab apa. Di dalam hatinya, ia tidak merasa hebat. Ia hanya melakukan apa yang harus dilakukan.

"Kadang aku lelah," akuinya. "Lelah berperang, lelah lari, lelah takut kehilangan kalian."

"Tapi kau tidak berhenti."

"Karena kalian." Ia menatap Elara. "Karena kau. Kau yang membuatku terus berjalan."

Elara tersenyum—senyum yang menghangatkan malam. Ia bersandar di bahu Aldric.

"Besok kita mulai petualangan baru," bisiknya. "Tapi malam ini, kita istirahat. Bersama."

Aldric mengangguk, memeluknya erat. Di atas mereka, bintang-bintang berkelap-kelip—saksi bisu dari perjalanan panjang yang masih harus mereka tempuh.

Di dalam tenda, Ren bermimpi tentang Varyn. Iblis tua itu tersenyum padanya.

"Jaga mereka, Nak. Aku akan segera bertemu kalian.

Pagi harinya, mereka memulai perjalanan menuju istana. Dengan peta di tangan dan tekad di hati, Aldric memimpin Elara, Sera, dan Ren melewati padang rumput, menyusuri sungai, mendekati sarang musuh.

Tiga hari kemudian, mereka tiba di pintu air tua—gelap, lembab, dan berbau lumpur. Di baliknya, sistem pembuangan istana yang akan membawa mereka ke ruang bawah tanah.

Tapi saat Aldric membuka pintu besi yang berkarat itu, ia mencium bau lain. Bau yang dikenalnya.

Darah.

Dan di dalam kegelapan, suara samar—seperti orang menangis.

Mereka tidak sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!