NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Pencuri Kecil

Debu jalanan desa pinggiran Kerajaan Astagina beterbangan saat langkah-langkah kecil itu memacu kecepatan di atas tanah kering.

Napasnya tersengal, dadanya terasa panas seperti terbakar, namun tangan mungilnya mendekap erat sesuatu di balik baju lusuhnya yang penuh tambalan.

Itu adalah sebutir ubi bakar yang satu-satunya menjadi harapan baginya untuk menyambung hidup hari ini.

"Maling! Tangkap bocah keparat itu!" teriakan parau membelah keheningan siang yang terik.

Wira Wisanggeni, bocah berusia tujuh tahun dengan rambut acak-adakan, menoleh sekilas. Matanya yang bulat memancarkan ketakutan yang mendalam.

Di belakangnya, tiga orang pria dewasa dengan wajah garang dan membawa kayu pemukul mengejarnya dengan penuh amarah.

"Jangan lari kau, anak haram!" seru salah satu warga yang memiliki kumis melintang.

Wira mencoba mempercepat larinya, melewati celah sempit di antara rumah-rumah bambu.

Namun, malang tak dapat ditolak. Kakinya yang tak beralas menghantam batu tajam, membuatnya tersungkur keras ke tanah. Ubi bakar yang ia dekap terlepas, menggelinding di atas debu.

Sebelum ia sempat bangkit, sebuah tangan kasar menjambak rambutnya dengan kuat.

"Akh! Sakit... tolong lepaskan..." rintih Wira. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, bukan karena sakit di kakinya, tapi karena ubi satu-satunya kini telah kotor dan tak layak makan.

"Berani-beraninya kau mencuri di kedai milikku, bocah sialan!" Pria berkumis itu menyeret Wira ke tengah alun-alun desa.

Warga pun mulai berkerumun, beberapa memandang kasihan, namun lebih banyak yang memandang jijik.

Di desa itu, Wira dikenal sebagai anak yatim piatu yang pembawa sial. Orang tuanya tewas di tangan prajurit istana beberapa tahun lalu karena tuduhan palsu, meninggalkan Wira sebatang kara di dunia yang kejam ini.

"Pukuli saja! Biar dia tahu rasa!" seru warga lainnya.

Satu tendangan mendarat di perut Wira, membuatnya terbatuk darah. Ia meringkuk, mencoba melindungi kepalanya dengan kedua tangan.

Di tengah rasa sakit yang mendera, Wira hanya bisa bergumam lirih dalam hati, memanggil nama ayah dan ibunya.

'Ayah... Ibu... apakah aku akan menyusul kalian sekarang?'

Kayu pemukul diangkat tinggi-tinggi oleh pria berkumis itu. Ia berniat memberikan pelajaran yang tak akan terlupakan, atau mungkin, mengakhiri hidup bocah malang itu sekalian.

"Berhenti."

Suara itu tidak keras, namun memiliki wibawa yang sanggup menggetarkan udara di sekitar alun-alun.

Seketika, gerakan tangan pria itu membeku di udara. Hawa dingin yang menenangkan namun menekan tiba-tiba menyelimuti tempat tersebut.

Warga menoleh serentak. Di ujung jalan, berdiri seorang wanita. Ia mengenakan jubah putih sederhana yang menutupi seluruh tubuhnya, namun aura yang terpancar darinya sangatlah asing.

Wajahnya tertutup cadar tipis, hanya menyisakan sepasang mata yang bening bagaikan telaga di puncak gunung.

"Siapa kau? Jangan ikut campur urusan desa kami!" gertak pria berkumis itu, meski suaranya sedikit gemetar.

Wanita itu melangkah maju. Setiap langkahnya tidak menimbulkan suara, seolah-olah ia berjalan di atas udara.

"Hanya karena sebutir ubi, kalian rela mengotori tangan dengan darah seorang anak yang kelaparan?"

"Dia pencuri! Dia harus dihukum!"

Wanita misterius itu sampai di depan Wira yang terkulai lemas. Ia mengulurkan tangannya yang putih bersih.

Ajaibnya, pria berkumis yang tadi memegang kayu pemukul tiba-tiba terlempar mundur beberapa langkah tanpa disentuh sama sekali, seolah ada dinding transparan yang mendorongnya.

"Pergilah. Bocah ini sekarang berada dalam perlindunganku," ucap wanita itu tenang.

Warga yang melihat kekuatan aneh tersebut langsung ciut nyalinya. Mereka berbisik-bisik ketakutan, mengira wanita itu adalah penyihir atau siluman yang menyamar.

Tanpa menunggu komando, kerumunan itu bubar dengan sendirinya, meninggalkan Wira dan wanita misterius itu di tengah jalan.

Wanita itu berjongkok, menatap Wira dengan lembut. "Siapa namamu, Nak?"

"Wira... Wira Wisanggeni, Bibi" jawabnya dengan suara parau.

"Nama yang gagah untuk bocah yang malang. Maukah kau ikut denganku? Aku akan memberimu tempat yang jauh dari kebencian manusia, namun penuh dengan tantangan yang sebenarnya." tanya kembali wanita cantik misterius itu.

Wira menatap mata wanita itu dan menurutnya dia tidak melihat niat jahat.

Yang ia rasakan hanyalah kehangatan yang sudah lama hilang sejak kematian orang tuanya, tanpa ragu, Wira mengangguk lemah.

Wanita itu tersenyum di balik cadarnya. Ia menggendong Wira dan dalam sekejap mata, keduanya menghilang dari desa tersebut, meninggalkan debu yang perlahan mengendap.

Wanita itu membawa Wira menuju ke arah utara, menembus kabut tebal yang menjadi pembatas bagi dunia manusia dengan sebuah wilayah yang melegenda yaitu,

Hutan Terlarang.

Bagi penduduk Kerajaan Astagina, Hutan Terlarang adalah tempat kematian. Tak ada satu pun pemburu atau pendekar sakti yang pernah kembali hidup-hidup setelah memasuki hutan itu.

Konon, di sana hidup ribuan siluman buas yang haus darah dan memiliki kesaktian di luar nalar.

Namun, saat wanita itu masuk, pepohonan raksasa yang tampak menyeramkan seolah menunduk hormat. Suara geraman siluman yang tadinya terdengar bersahut-sahutan di kejauhan mendadak hening.

"Kita akan tinggal di sini, Wira," ucap wanita itu saat mereka sampai di sebuah gubuk kecil yang asri di dekat sebuah air terjun tersembunyi.

Wira tertegun dan melihat seekor harimau raksasa dengan dua taring panjang seukuran pedang mendekat.

Bukannya takut, Wira justru merasakan dorongan yang aneh.

Harimau itu mengendus tangan Wira, lalu mendengkur pelan seperti kucing rumahan.

"Dia menyukaimu. Kau memiliki jiwa yang murni, Wira. Langit tidak salah memilihmu," ujar wanita itu sembari melepas jubah luarnya.

Kini, di hadapan Wira, wanita itu tampak begitu anggun. Kecantikannya seolah tidak lekang oleh waktu, namun ada gurat kesedihan yang tersembunyi di matanya yang dalam.

Wanita ini sesungguhnya adalah sosok yang pernah menggetarkan alam semesta, seorang Dewi Agung yang terbuang ke bumi ratusan tahun lalu akibat luka parah dalam perang besar di Alam Dewa.

Selama ratusan tahun ia bersembunyi di bumi, memulihkan diri sambil mengamati perkembangan manusia yang penuh dengan keserakahan. Dan hari ini, ia memutuskan untuk mengambil seorang murid.

"Wira, mulai hari ini, lupakan penderitaanmu di desa itu. Di hutan ini, kau akan belajar cara menjadi kuat. Bukan untuk menindas, tapi untuk mengembalikan keseimbangan," ucapnya serius.

"Namaku adalah Dewi Shinta Aruna. Dan hari ini, aku secara resmi mengangkatmu sebagai murid tunggalku." lanjutnya.

Wira langsung bersujud di kaki sang Dewi. Di dalam hatinya, api dendam terhadap prajurit kerajaan yang membunuh orang tuanya masih menyala, namun kini ia tahu, ia memiliki jalan untuk mewujudkan keadilan tersebut.

"Terima kasih, Bibi Guru. Wira akan belajar dengan sungguh-sungguh."

Dari situ, dimulailah kehidupan baru Wira Wisanggeni di Hutan Terlarang.

Selama lima tahun ke depan, ia tidak hanya belajar seni bela diri kanuragan yang hilang dari peradaban manusia, tetapi juga belajar bahasa alam.

Ia bermain dengan siluman serigala, berdiskusi dengan siluman kera, dan berlatih fisik di bawah guyuran air terjun yang mengandung energi murni bumi.

Wira tumbuh menjadi pemuda yang ceria. Sifatnya yang sering melontarkan candaan konyol kepada para siluman sering membuat Dewi Shinta menggelengkan kepala, namun saat latihan dimulai, tatapan mata Wira berubah menjadi tajam sebiru kilat.

Suatu hari, saat Wira genap berusia sepuluh tahun, sebuah peristiwa terjadi yang akan mengubah pandangannya tentang dunia luar untuk selamanya.

Di pinggiran Hutan Terlarang, ia melihat sekelompok prajurit kerajaan yang tersesat saat berburu. Mereka sedang mengepung seorang gadis desa muda yang malang.

Napas Wira memburu. Ingatannya kembali pada kejadian tujuh tahun lalu. Tanpa menunggu perintah Gurunya, Wira melompat dari dahan pohon, siap untuk menunjukkan hasil latihannya.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!