Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XIV—MEMBUNGKUK
Esok hari berikutnya, pagi ini lagi-lagi sang surya tak mempelihatkan kegagahannya, hanya awan mendung putih abu terlihat diatas sana seakan sang surya mengalah untuk hari ini, bukan redup karena sosok lain akan tetapi redup oleh rasa ingin mengalah. Entah karena apa sang surya dua hari ini selalu mengalah, apa yang membuatnya berbuat demikian tak ada yang tahu.
Pagi itu seperti biasa Chandra dan Baskara berangkat bersama sebagai rutinitas saudara. Baskara yang ini hari ini bukan Baskara yang kemarin, Baskara yang masih bimbang namun sekarang ia setengah yakin untuk mengambil beasiswanya ke luar negeri. Ia berjalan dengan tenang dan senyuman hangat walau matahari diatas sana tak tersenyum pada dunia.
“Mas kenapa kog senyum senyum sendiri kaya orang gila saja” Ledek Chandra dengan sinis.
“Gausah banyak bacod deh mending, tapi kau suka senyumku ini kan?” Jawab Baskara sambil berjalan dan menunjukkan senyumnya kearah Chandra.
Chandra memukul pelan bahu Chandra dengan pelan “Malahan aku jijik, senyuman laki-laki kaya kamu ih mending di senyumin orang gila saja deh daripada disenyumin mas”
Baskara membalas dengan agak keras di banding pukulan dari Chandra “Jahat banget itu mulut, mau kurobek sekalian? Hahaha.”
Chandra meringis merasa ngilu sedikit pada bahu kirinya dan ia berkata dalam hati.
Anjing di balas agak keras
Di sela canda mereka berdua Baskara mengalihkan ke perbincangan lain.
“Chand nanti kamu pulang dulu ya, mas punya urusan yang perlu di urus, punya uang kan buat naik angkutan umum?.”
“Punya, tapi bukannya jadwal ekstra sudah kemarin sore ya, mas mau apa?” Tanya Chandra menyelidiki.
“Urusan mas kamu ga perlu tahulah biasa anak muda” Jawab santai dari Baskara
Chandra semakin penasaran dan ingin menyelidiki lebih jauh “Mau pacaran lagi ya?” Ujarnya.
“Gak lah, kan kemarin aku bilang kalau sudah putus” Sangkal Baskara
Chandra meledek dengan mengangkat kedua bahu dan kedua alisnya “Ya siapa tahu mas punya yang baru”
“Gak” Lanjut Baskara “Cariin cewe dong Chand”
Chandra melirik tajam kearahnya seakan ingin memangsa Baskara dengan jutek ia menjawab “Kau itu menghina aku atau bagaimana? Kenalan cewe saja gak punya di suruh cariin.”
“Ya jangan galak-galak begitu dong kan aku cuma meminta jika ga ada yaudah lah begitu doang sampe mau copotin mata segala ih” Balas Baskara tak kalah sinis
Langkah mereka sampai di lorong-lorong, di depan mereka berdua agak jauh terlihat gadis yang melambaikan tangan ke arah mereka berdua, gadis yang rambutnya terurai panjang dengan bando imut diatas kepalanya, gadis yang begitu elok untuk dunia, gadis yang layak untuk di sebut dengan panggilan bidadari.
Baskara merespon ke Chandra dengan sikutan kecil ke lempeng “Chand-Chand siapa itu yang melambai? Apa dia melambain ke kamu? di belakang kita ga ada orang loh, ga salah lagi kamu yang di lambai olehnya.”
Gadis tersebut menghampiri keduanya.
“Aduh…kak berhentilah menganiayaku sakit anjing” Umpatnya.
“Persetan dengan kata sakit, itu siapa Chand?” Ungkap Baskara tak peduli dengan rasa Chandra matanya hanya fokus tertuju gadis itu.
Gadis tersebut sampai di hadapan kedua saudara itu, dan melambai kecil dan menyapaa keduanya.
“Hai Chand?” Sapanya dengan senyuman
Chandra tak membalas sapa dari gadis tersebut ia hanya menganggukkan dagu, hal itu membuat Baskara kesal dan kembali menyikut lempeng Chandra bedanya yang ini lebih keras.
“Ahg….MAS”
Baskara membisik “Kau itu di sapa cewe secantik itu malah sok jual mahal…anjing”
“Diam kau dasar serngenge” Balas bisik Chandra dengan ejekan.
Chandra menuruti kata kakaknya dan menjawab “Eh…anu…eh…iyaa Lera halo juga.”
“Aduh…kau itu kaku banget Chand. Ya ampun sudah kaya kartun indo yang tak pernah dapat dukungan dari pemerintah saja” Bisik Baskara lagi.
“Diam Asu” Umpatnya Chandra lagi dan lagi
Baskara menepuk dahinya sendiri karena malu bahwa adiknya tak bisa menghadapi seorang gadis. Dalam hatinya ia menyesal karena tak pernah mengajari adiknya cara menghadapi wanita.
Haduh Chand bodohnya kamu dan bodohnya aku yang tak pernah mengajarimu cara menghadapi lawan jenis, jadi tambah lagi kegagalanku, sialan.
Alera tersenyum manis dengan pelan ia berkata “Ah lucunya dua saudara ini.”
Dua saudara tersebut mendengar dan keduanya saling memandang lalu menjauh satu sama lain sejarak 2 meter.
“Ah…maaf hehehe, bagaimana dengan kabarmu Chand sudah lama kita ga ngobrol? Pertama kali dan terakhir kali pas kita di UKS bareng itukan?” Ucap Alera.
Baskara melirik kearah Chandra, bola matanya hanya tertuju kearah Chandra seolah bola mata itu berbicara cepat jawab anjing jangan sok jual malah lo.
“Kamu salah yang benar terakhir kita bicara pas waktu besoknya dari UKS waktu di dalam kelas” Sangkal Chandra.
Alera memerah pipinya seakan dia merasakan malu yang luar biasa “Ah….eh…ah iya Chand lupa aku, yaudah deh Chand kapan-kapan kita lanjut bicara sudah mau bell nih aku duluan ya bye Chand” Karena malu ia mengalihkan bicara untuk pergi duluan dengan berlari sekencang-kencangnya.
Mereka berdua melongo dan yang pertama menanggapi ialah Chandra “Seperti biasa, sikapnya yang tiba-tiba aneh keluar” dengan senyum Chandra berkata demikian.
Baskara melangkah kearah Chandra dan menepuk punggungnya dengan keras lagi “Pacarmu? Kalau iya kakak setuju kog hahaha.”
Dengan gagap Chandra menjawab “Ya…Gak lah mas, mana mau gadis kaya gitu sama aku, makanya dia sering lari atau pergi tiba-tiba ya mungkin karena jijik kali lihat aku.”
“Gak begitu juga kali nyimpulinnya, ya mungkin saja dia salah tingkah karena kamu, bisa juga aja kan?.”
“Gak mungkin lah mas, dia itu adiknya sepupu Arka sekelasku dan adik junior di ekstramu”
“Ya gak menutup kemungkinan juga lah” Bantah Baskara lagi
“Diam lah mas, dasar matahari gila” Ejeknya penuh dengan rasa jengkel
Baskara tertawa dengan keras di sela tawanya ponselnya berbunyi notifikasi chat dan ia membukanya dan benar itu notifikasi dari Arka yang mengajaknya bertemu di ruang ekskul sepulang sekolah seperti kemarin namun bedanya Alera juga ikut.
Melihat isi pesan tersebut raut wajah Baskara menyeringai panas.
“Sudah ya dek, aku mau duluan lagian sudah deket ke kelasmu daaaaa” Ucap Baskara sambil berlari menuju kelasnya.
Chandra melambaikan kecil tangan kirinya dan melihat punggung Baskara yang semakin lama semakin jauh dan tak terlihat lagi dan ia tersenyum gembira atas rasa gembira kakaknya alami kemudian ia memasuki runagan kelasnya sendiri
Jam sekolah telah berlalu
Arka dan Alera menunggu Baskara didalam ruangan ekskul, mereka berdua menunggu Baskara selama 15 menit lebih. Setelah menunggu dengan sabar tak lama Baskara tiba dengan ngos-ngosan kedalam ruangan.
“Hah…hah…Maaf…aku terlambat” Ucap Baskara yang sedang membungkuk dan nafas tersenggal-senggal.
“Gak papa kog kak, tapi dari mana saja kamu dari pacarmu ya?” Tebak asal dari Arka
“Bacod lu si kaya bodoh” Umpat Baskara kembali
“Lah sempat-sempatnya mengumpat orang yang sedang menunggumu”
“Hahaha…maaf-maaf Ar” Ucap Baskara lalu melihat kearah Alera yang berdiri diam.
Alera tersenyum segan dan mengangguk pelan ke Baskara dan ia membalas dengan senyuman yang sama.
Melihat hal itu Arka bertanya “Loh kamu sudah kenal atau sudah tahu sama kak Baskara Ra?
Alera menggeleng “Cuma tadi ketemu sama kak Baskara bareng sama Chandra saja dan cuma tahu pas kakak ceritain tadi malam saja kog”
“Oh yaudah kalau begitu kakak kenalin, Ini kak Baskara, Baskara Suradipa, senior kakak di ekskul pencak silat, dia Juara 1 tingkat Nasional pencak silat kategori remaja kelas B, mungkin gausah aku sebutin semua prestasinya kepanjangan hahaha, tapi aku yakin semua anak yang sekolah disini pasti tahu”. Ucap Arka memperkenalkan Baskara ke Alera
Baskara menunduk sebagai tanda memperkenalkan diri kepada Alera dan alera membalasnya juga.
“Dan ini adik sepupuku kak, Namanya Alera, Alera Wening. Tolong jangan terlalu keras padanya ya kak dia anak yang cengeng.” Lanjut Arka berganti memperkenalkan Alera kepada Baskara
Alera mengangguk pelan ke arah Baskara dan Baskara membalasnya juga. Beberapa detik Alera sadar jika kakaknya memperkenalkannya dengan singkat tidak seperti saat memperkenalkan Baskara.
“Eh loh heh kenapa pendek sekali tadi pas ngenalin aku….” Protes Alera
“Halah ga penting juga” Celetuk Arka
Baskara tertawa dengan tingkah Alera yang lemot itu. Tawanya agak tinggi membuat Alera dan Arka tak sempat untuk berdebat.
Di selang tawa Baskara Arka menyela “Jadi bagaimana kelanjutannya kak? Alera juga setuju masuk kedalam rencanamu, jadi bagaimana kelanjutannya?”
Baskara menghentikan tawanya lalu memasang raut wajah serius “Jadi…” Baskara memasang postur membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan mereka berdua dan melanjutkan perkataannya dengan lantang.
“TOLONG JADILAH TEMAN ADIKKU.”