Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.
Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.
Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.
Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Setelah peninjauan lapangan yang melelahkan, Harva harus segera menuju bandara untuk pertemuan mendadak, meninggalkanku dan Arlan di area parkir proyek untuk kembali dengan mobil kantor yang dikemudikan sopir departemen kami.
Hening. Hanya suara AC mobil yang menderu pelan. Sopir di depan tampak fokus pada jalanan Tangerang-Jakarta yang mulai padat. Aku duduk di pojok kiri belakang, menempelkan kening ke kaca jendela yang dingin, sementara Arlan duduk di pojok kanan. Jarak di antara kami hanya satu meter, namun rasanya seperti terpisah samudera.
Mobil melintasi sebuah area hijau yang dipenuhi pohon-pohon rindang. Tiba-tiba, aroma tanah basah setelah gerimis kecil menyeruak masuk melalui ventilasi.
"Dulu... di Jogja, kita sering kehujanan di bawah pohon seperti itu," suara Arlan memecah kesunyian. Suaranya serak, seolah kata-katanya tertahan di tenggorokan selama berjam-jam.
Aku tidak menyahut. Aku memejamkan mata, namun sialnya, memori itu justru berputar otomatis.
Jogja, Empat Tahun Lalu.
"Lari, Ran! Nanti gudegnya keburu dingin!" Arlan tertawa lebar, menarik tanganku menembus hujan deras di Jalan Kaliurang.
Kami berteduh di bawah emperan toko yang tutup. Aku menggigil, namun Arlan segera melepas jaket almamaternya yang setengah basah dan menyampirkannya ke bahuku. Ia menggosok-gosok telapak tanganku agar hangat.
"Maaf ya, motor bututku mogok lagi. Kamu jadi kehujanan," gumamnya penuh sesal.
Aku tertawa sambil menyandarkan kepala di bahunya. "Nggak apa-apa, Lan. Asal sama kamu, kehujanan pun aku bahagia."
Saat itu, Arlan menatapku dengan binar paling tulus yang pernah kulihat. "Aku janji, Ran. Suatu saat nanti, aku bakal beliin kamu mobil yang nyaman. Biar kamu nggak perlu kehujanan lagi kalau pergi sama aku."
Masa Kini.
Aku membuka mata. Kini, aku duduk di dalam mobil mewah yang nyaman, persis seperti janjinya dulu. Namun, pria di sampingku bukan lagi Arlan yang memberikan jaketnya untukku. Pria ini adalah orang yang memberikan pengkhianatan paling perih di saat aku sedang menyiapkannya makanan favorit.
"Ingat nggak, Ran? Waktu aku sakit tipes semester tiga, kamu yang nungguin aku di RS Sardjito setiap malam sambil ngerjain tugas kuliah?" Arlan menoleh, matanya merah menatapku. "Kamu bilang, kamu nggak akan pernah ninggalin aku seburuk apa pun keadaannya."
Aku menoleh perlahan, menatapnya dengan tatapan paling datar yang bisa kukumpulkan. "Aku menepati janjiku, Arlan. Aku tidak pernah meninggalkanmu. Kamulah yang mengusirku dengan mendatangkan wanita lain ke tempat tidurmu."
Arlan tersentak seolah dipukul. "Siska... dia itu cuma kesalahan, Ran. Aku khilaf karena waktu itu kita lagi LDR sebentar pas kamu magang di Jakarta. Aku merasa sepi, dan dia—"
"Khilaf?" aku tertawa sinis, tawa yang terdengar menyakitkan bahkan di telingaku sendiri. "Khilaf itu satu kali, Arlan. Tapi menyembunyikannya berbulan-bulan sampai teman sekelasku melihat kalian di kafe, itu namanya pilihan. Kamu memilih dia setiap hari, sampai akhirnya aku melihatnya sendiri."
"Aku menyesal, Ran. Sumpah. Tiga tahun ini aku nggak pernah tenang. Makanya aku minta pindah ke Jakarta, aku mau cari kamu—"
"Berhenti, Arlan," potongku tajam. "Jangan kotori kenangan masa kuliah kita yang sempat indah dengan mulutmu yang sekarang penuh kebohongan. Masa itu sudah mati. Rania yang ceria itu sudah kamu bunuh di kost Jogja hari itu."
Arlan mencoba meraih tanganku, namun aku segera menariknya menjauh.
"Jangan sentuh aku. Rasa mual ini... belum hilang, Arlan. Setiap kali kamu bicara soal masa lalu, rasanya aku ingin muntah mengingat betapa bodohnya aku dulu mempercayaimu."
Mobil berhenti di depan lobi kantor. Aku langsung keluar tanpa menunggu sopir membukakan pintu. Aku meninggalkan Arlan yang tertunduk di dalam mobil, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Saat aku berjalan menuju lift, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Siska—kali ini masuk ke ponselku. Entah dari mana dia mendapatkan nomorku.
[Siska]:
Jauhi Arlan, Rania. Dia mungkin kerja di kantormu, tapi dia masih milikku. Ada sesuatu yang dia sembunyikan darimu soal malam itu di Jogja. Mau tahu?
Langkahku terhenti. Rahasiah apa lagi?