NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Harga Sebuah Keajaiban

Melihat wanita cantik yang kini berdiri bagai boneka di hadapan suaminya sendiri, hati ini terasa sakit. Aku tidak ingin peristiwa dengan Eveline terulang. Aku tidak ingin seorang suami harus melihat istri yang dicintainya menjadi hamba bagi orang lain.

"Liana," ucapku, memastikan suaraku terdengar jelas dan tegas. "Perintahku untukmu adalah ini: turutilah semua perintah suamimu, Paman Alaric, apapun itu. Gunakan semua ikatan dan kenangan indah yang kalian punya untuk mempelajari kembali arti menjadi manusia, untuk merasakan emosi, dan untuk mencintainya seperti dulu."

Seketika, tatapan Liana yang kosong itu berubah. Matanya perlahan berpindah dari wajahku ke Alaric yang berdiri dengan wajah penuh duka. Ada kerlip yang samar di matanya, seperti sistemnya sedang memproses perintah barunya.

Tapi Alaric menggeleng, air mata menetes di pipinya yang keriput. "Tidak, Nak," bisiknya, suaranya parau. "Ini... ini bukan Liana-ku. Dia hanyalah replika yang sempurna. Aku tidak ingin hidup dengan boneka yang menyerupai istriku. Aku tidak ingin dia 'belajar' mencintaiku. Aku ingin dia benar-benar mencintaiku, dengan jiwanya sendiri."

Dia menatapku, matanya penuh keyakinan yang teguh meski dibalut kesedihan. "Kembalikan dia. Tempatkan dia kembali di tempat peristirahatannya."

"Apakah Anda yakin?" tanyaku sekali lagi, mencoba memastikan. "Saya bisa memerintahkannya untuk—"

Dengan mantap dan lugas dia memotongku, "Aku yakin. Lebih baik aku mengenangnya sebagai wanita yang kucintai dengan jiwa seutuhnya, daripada memeluk boneka yang hanya menyandang wajahnya."

Mendengar ketegasan hatinya, aku pun mengangguk. Aku menempatkan tangan di atas dada Liana yang hangat, merasakan kehidupan semu yang mengalir di tubuhnya. Aku menarik napas, dan dengan niat yang jelas, aku membayangkan energi kehidupan yang kuberikan padanya kembali padaku, dan tubuhnya kembali ke keadaan aslinya.

Liana tersentak, lalu menoleh ke arah Alaric. Di detik-detik terakhir sebelum kesadarannya menghilang, ada kilatan emosi asli di matanya—bukan ketaatan, tapi sebuah pengakuan yang dalam dan murni.

"Alaric, kekasihku... aku akan selalu mencintaimu, sepanjang hidupku, meski maut memisahkan kita," bisiknya, suaranya lembut namun penuh keyakinan, seperti gema dari masa lalu yang terjawab.

Kemudian, cahaya di matanya padam. Tubuhnya yang masih utuh tak lagi bergerak, berdiri kaku bagai patung yang sempurna. Aku dengan hati-hati membaringkannya kembali di dalam sarkofagus, persis seperti posisi semula.

Aku bisa merasakannya. Hukum alam yang sempat kusalahi kini mulai bekerja. Perlahan-lahan, tapi pasti, tubuh itu akan terurai kembali, dimakan waktu, kembali menjadi debu seperti seharusnya. Proses yang seharusnya memakan beberapa bula, kini mungkin akan berlangsung lebih cepat, memperbaiki kekacauan yang telah aku buat.

Alaric berdiri di sana, lama, hanya memandangi wajah tenang sang istri. Dia tidak menangis lagi. Di wajahnya, terpancar kedamaian yang dalam. Dia telah memilih kenangan yang jujur daripada ilusi yang menyiksa.

Dia menoleh padaku, dan untuk pertama kalinya, tidak ada ketakutan atau kekaguman berlebihan di matanya. Hanya rasa terima kasih yang sedih. "Terima kasih, Rian. Kau telah memberiku kesempatan untuk berpamitan... dengan cara yang benar."

Aku hanya bisa mengangguk, memahami bahwa kekuatanku bukan untuk dimain-mainkan, apalagi dianggap sebagai anugerah. Di dunia ini, di mana pun itu, ada harga yang harus dibayar untuk setiap keajaiban. Dan seringkali, harganya adalah kebahagiaan itu sendiri.

Kini suasana di ruang bawah tanah pemakaman masih terasa berat. Aroma debu kuno dan kesedihan yang baru saja terjadi seolah melekat di udara. Aku menatap sarkofagus Liana yang kini kembali tertutup, merasakan betapa berbahayanya kekuatanku jika sampai jatuh ke tangan yang salah.

Paman Alaric memecah kesunyian, suaranya rendah namun penuh urgensi. "Kalian tidak bisa tinggal lebih lama di sini. Jika kabar tentang 'Pembangkit Sempurna' ini sampai ke telinga Kekaisaran, atau bahkan kadipaten tetangga..." Dia tidak perlu menyelesaikan kalimatnya. Aku sudah paham. Aku akan jadi buruan, baik untuk dimanfaatkan maupun untuk dimusnahkan.

"Dengarkan," lanjutnya, matanya beralih ke Eveline yang berdiam patuh di sampingku. "Semua orang di kadipaten ini percaya bahwa Eveline sudah meninggal. Kehadirannya di sini, apalagi dalam kondisi... begini, akan memicu pertanyaan yang tidak bisa kami jawab."

Dia berjalan menuju sebuah peti kayu kecil di sudut ruangan, mengeluarkan dua helai cadar tebal berwarna abu-abu tua, sederhana, dan tidak mencolok. "Pakai ini. Tutupi wajahnya. Minimalisir kemungkinan ada yang mengenalinya."

Aku menerima cadar itu. Nasihatnya masuk akal. Melihat reaksi warga desa Oakhaven dan para penjaga istana, wajah Eveline terlalu dikenal dan akan menarik perhatian yang tidak diinginkan.

"Aku setuju," kataku sambil membantu Eveline mengenakan cadarnya. "Kami akan pergi."

Alaric mengangguk, lega melihatku tidak membantah. Dari saku jubahnya, dia mengeluarkan sebuah kantong kulit kecil yang berisi sekumpulan koin emas dan perak, serta selembar kartu kecil yang terbuat dari logam tipis bertatahkan emblem keluarga van der Linden—sebuah pohon linden yang disilami pedang.

"Ambil ini untuk bekal di jalan," ujarnya menyodorkan kantong itu. "Dan simpan kartu ini baik-baik. Tunjukan pada orang-orang yang masih setia pada keluarga van der Linden di kadipaten-kadipaten lain. Itu bisa memberimu akses atau bantuan terbatas. Tapi ingat," pesannya dengan serius, "gunakanlah dengan bijak. Kartu itu juga bisa menarik perhatian yang salah."

Aku menyimpan kantong uang dan kartu logam itu di saku dalam jaketku dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, aku merasa diterima dan dibantu. Di sisi lain, ini semakin menegaskan bahwa aku kini terjebak dalam permainan politik dan kekuasaan dunia ini.

"Terima kasih, Paman," ucapku, sungguh-sungguh. "Atas segalanya." Aku tahu keputusannya untuk membiarkan kami pergi bukanlah hal yang mudah.

Alaric hanya mengangguk, tatapannya kompleks. "Berhati-hatilah, Anak Muda. Kekuatan yang kau miliki... itu adalah pedang yang bisa melukai dirimu sendiri. Cari tempat yang aman. Cari tahu kebenaran tentang dirimu. Dan lindungi ponakanku itu."

Dia memandang Eveline yang sekarang wajahnya tersembunyi di balik cadar, dan untuk sesaat, ada cahaya kepiluan di matanya.

Dengan ditemani Orlon melalui jalur rahasia yang gelap dan sempit, kami berhasil keluar dari istana tanpa terdeteksi. Kami muncul di ujung kota Veridia, jauh dari keramaian gerbang utama.

Matahari sore mulai terbenam, menerangi jalanan kumuh yang akan kami lalui sekali lagi. Aku menatap Eveline di sampingku, sosoknya yang misterius kini terselubung kain. Aku, Rian Saputra dari Jakarta, kini menjadi buruan dengan seorang putri mayat hidup sebagai teman sekaligus beban. Perjalanan panjang dan berbahaya tampaknya belum akan berakhir. Kami harus terus bergerak, mencari tempat yang aman, dan yang paling penting, mencari jawaban atas segala misteri yang menyelimuti diriku dan dunia baruku ini.

Saatk keluar dari istana melalui lorong rahasia terasa seperti meninggalkan satu sangkar untuk memasuki sangkar yang lebih luas—dan lebih berbahaya. Udara sore yang mulai dingin menyergap kulit begitu kami muncul di sebuah gang sempit di pinggiran Veridia. Suara riuh rendah kota serta bau khas lumpur dan kotoran manusia langsung menyambut, sebuah kontras tajam dari kesunyian dan wangi dupa di pemakaman bawah tanah.

Aku menarik napas dalam, merasakan beban kantong koin dan kartu logam di saku jaketku. Barang-barang itu terasa berat, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara makna. Mereka adalah pengakuan sekaligus peringatan dari Paman Alaric: kami diterima, tapi tidak diinginkan; dibantu, tapi harus pergi.

Eveline berdiri di sampingku, patuh dan diam. Cadar abu-abu yang menutupi wajahnya menyembunyikan ekspresi kosongnya, membuatnya terlihat seperti seorang peziarah atau pertapa yang menyendiri. Itu adalah penyamaran yang cukup baik.

"Kita tidak bisa tinggal di kota ini," bisikku, lebih kepada diriku sendiri. Mata kami secara insting menelusuri peta yang masih kusimpan. "Veridia adalah pusat perhatian. Kita harus pergi ke kota lain, tempat di mana wajahmu tidak dikenal."

Eveline mengangguk pelan di balik cadarnya. "Ke mana kita akan pergi?"

Aku menatap peta. Kadipaten Lindenroth cukup luas. Ibu kota Veridia berada di tengah. Di sebelah timur terdapat Pelabuhan Meridian, tempat perdagangan ramai. Itu berarti banyak orang asing, banyak lalu lintas—tempat yang baik untuk menyamar. Tapi juga berarti banyak mata-mata dan pengawasan ketat dari pihak berwenang.

"Ke timur," putuskku. "Menuju Pelabuhan Meridian. Di sana, mungkin kita bisa menemukan kapal atau informasi tentang dunia ini, atau bahkan... mungkin saja ada petunjuk bagaimana aku bisa kembali." Ucapan terakhir itu terasa mustahil, tapi tetap harus kucoba.

Perjalanan meninggalkan Veridia harus dilakukan dengan hati-hati. Kami menghindari gerbang utama, memilih untuk menyusuri jalur pedagang di sisi timur kota. Aku membeli dua kuda yang sudah cukup tua dan tidak mencolok dengan sebagian koin pemberian Alaric. Tidak mewah, tapi cukup untuk menghemat tenaga kami.

Bergegas tapi tidak terburu-buru. Itu prinsipku. Kami berkuda menyusuri jalan tanah, meninggalkan kemegahan istana di atas bukit dan kesibukan Veridia di belakang. Pikiranku menerawang. Kekuatanku yang tidak disengaja ini... "Pembangkit Sempurna". Aku bukan orang pilihan. Tidak ada takdir mulia di sini. Hanya sebuah kecelakaan dimensi yang disertai celetukan bodoh. Tapi konsekuensinya nyata. Aku telah mengacaukan batas antara hidup dan mati, dan sekarang aku harus menanggung risikonya.

Eveline, di sampingku, adalah pengingat hidup—atau setengah hidup—dari kesalahanku. Dia juga adalah satu-satunya penopangku di dunia yang asing dan kejam ini. Ikatan kami aneh, tidak alami, tapi di tengah ketidakpastian ini, kehadirannya yang patuh memberiku sedikit pegangan.

Hari mulai gelap saat kami mencapai sebuah persimpangan jalan. Sebuah penginapan sederhana berdiri di tepi jalan, lampu minyaknya berkedip-kedip memanggil para pelancong.

"Kita beristirahat di sini untuk malam ini," kataku pada Eveline. "Ingat, jangan bicara dengan siapa pun. Biarkan aku yang menangani semuanya."

Dia mengangguk, tangannya meraih ujung cadarnya, memastikan wajahnya tetap tersembunyi.

Dunia mungkin sedang tidak mencariku secara resmi, tapi instingku berkata lain. Bahaya bisa datang dari mana saja: dari kekaisaran yang ingin menangkap "Pembangkit Terlarang", dari kadipaten tetangga yang ingin memanfaatkanku, atau bahkan dari para bandit yang mengincar koin di kantongku.

Malam ini, di penginapan tepi jalan ini, kami bukan lagi sekadar pengelana yang tersesat. Kami adalah dua pelarian yang menyembunyikan rahasia besar—sebuah rahasia yang bisa mengubah dunia, atau menghancurkannya. Dan langkah kami selanjutnya harus lebih hati-hati dari sebelumnya.

Kini perjalanan kami menuju Pelabuhan Meridian diliputi oleh keheningan yang penuh pertanyaan. Setiap hentakan kaki kuda seolah mengingatkanku pada sebuah teka-teki besar: mengapa aku yang terlempar ke sini? Dan dari mana kekuatan anomali ini berasal?

Pikiranku tak henti berputar, mencoba menganalisis situasi ini dengan logika orang Jakarta yang terbiasa dengan teori konspirasi dan cerita fiksi.

Pertama: Apakah ini "isekai" acak?

Aku teringat komik dan novel yang pernah kubaca. Biasanya, orang terlempar ke dunia lain karena kecelakaan, dipanggil pahlawan, atau reinkarnasi. Tapi dalam kasusku, tidak ada dewa yang menawarkan pilihan, tidak ada truk ajaib. Aku hanya tidur dan terbangun di rumah kayu tua itu. Itu terlalu... sederhana. Dan sepi. Seperti ada yang sengaja menempatkanku di sana, di tempat yang tepat untuk bertemu dengan tengkorak Eveline.

Kedua: Apakah ada orang lain?

Aku mencoba mengingat-ingat. Apakah ada orang Indonesia lain yang hilang secara misterius? Tidak ada berita yang kuingat. Tapi, bisa saja ini terjadi padaku saja. Atau, mungkin orang lain sudah lebih dulu datang dan gagal? Pikiranku melayang pada kemungkinan bahwa aku bukan yang pertama. Mungkin ada korban-korban sebelumnya yang tidak diketahui.

Ketiga: Apakah ini simulasi?

Ini pikiran yang paling mengerikan. Bagaimana jika ini bukan dunia nyata? Bagaimana jika ini semacam virtual reality tingkat lanjut, atau eksperimen pikiran? Tapi segala rasa sakit, dingin, lapar, dan bau di sekitarku terasa terlalu nyata. Kematian para bandit, air mata Paman Alaric—itu semua terasa terlalu hidup untuk sekadar program komputer. Realitasnya kasar, kotor, dan tidak terpolakan seperti dalam game.

Keempat: Kekuatan "Dei Suscitator Immaculatus".

Ini yang paling membuatku pusing. Penyihir Orlon dan Paman Alaric menyebutku "Pembangkit Sempurna". Kekuatan yang melanggar hukum alam, tanpa ritual, tanpa pengorbanan. Itu berarti kekuatanku berbeda dari sihir pada umumnya di dunia ini.

Apakah kekuatan ini melekat sejak lahir, dan baru aktif karena aku pindah dimensi?

Atau... apakah dunia inilah yang memberiku kekuatan itu? Seperti suatu mekanisme pertahanan diri dari dunia ini terhadap kehadiranku sebagai "benda asing"?

Aku tidak merasakan aura sihir apapun dalam diriku. Itu yang membuat Penyihir Orlon ketakutan. Kekuatanku datang begitu saja, seperti menyalakan saklar, bukan seperti mempelajari sebuah ilmu.

"Eveline," ucapku, memecah kesunyian di antara kami. "Sebelum aku datang, di rumah kayu itu... apakah ada keanehan lain? Suara? Cahaya? Apapun yang tidak wajar?"

Eveline, yang berkuda di sampingku dengan postur sempurna, menoleh. Cadarnya berayun pelan.

"Tidak ada," jawabnya datar. "Hanya sepi. Dan gelap. Lalu... kau datang. Dan kau mengucapkan kata-katamu. Dan aku... bangkit."

Jawabannya tidak memberiku petunjuk. Seolah-olah aku benar-benar muncul begitu saja.

Tujuanku ke Pelabuhan Meridian kini memiliki agenda baru. Selain menyamar dan mencari kapal, aku harus mencari informasi. Mungkin di perpustakaan guild pedagang, atau dari mulut para pelaut yang telah berlayar ke mana-mana. Aku perlu tahu:

Sejarah Kekaisaran Aethelgard: Apakah ada catatan tentang orang asing dari dunia lain sebelumnya?Legenda "Pembangkit Sempurna": Apakah ini pernah terjadi dalam mitos atau sejarah mereka?Sihir Anomali: Apakah ada jenis sihir lain yang bekerja di luar hukum sihir normal?Aku menyadari satu hal: untuk menemukan jalan pulang, aku harus lebih dulu memahami duniamu yang baru ini. Dan untuk memahami dunia ini, aku harus memahami diriku sendiri di dalamnya—sebuah paradoks yang membuat kepalaku pusing.

"Kita akan mencari jawaban di Meridian, Eveline," gumamku, lebih kepada diriku sendiri. "Entah bagaimana caranya."

Dia mengangguk patuh. "Aku akan mengikutimu, Tuanku."

Gelar "Tuanku" itu masih terasa aneh di telingaku. Tapi di tengah segala ketidakpastian ini, satu hal yang pasti: aku dan Eveline terikat nasib. Pencarianku untuk pulang mungkin juga adalah pencarian untuk membebaskannya dari ikatan yang kuciptakan. Dan itu adalah tanggung jawab yang harus kutanggung, mau tidak mau.

Hari-hari berikutnya dihabiskan dengan perjalanan yang melelahkan. Kami menyusuri jalan setapak yang semakin ramai oleh pedati pedagang dan para pengelana lainnya. Pemandangan perlahan berubah dari hutan dan ladang menjadi pemukiman-pemukiman kecil yang semakin sering dijumpai. Udara mulai terasa berbeda—lebih lembap, dan ada aroma asin samar yang terbawa angin.

Aku berusaha menjaga profil rendah. Kami tidur di penginapan sederhana, makan makanan seadanya, dan menghindari interaksi yang tidak perlu. Eveline dengan cadarnya menarik beberapa pandangan sekilas, tapi tidak lebih dari itu. Dia memainkan perannya dengan baik, berdiam diri dan mengikutiku dari belakang seperti seorang pelayan atau pengawal setia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!