NovelToon NovelToon
Alana : Wounds And True Love

Alana : Wounds And True Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa Fantasi / Perjodohan
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hee_Sty47

Area 21 +
Rasa kecewa tak bisa terbendung lagi bagi kedua orang tua Alana kala mengetahui dirinya tengah hamil di luar nikah.
"Katakan sama papi, siapa laki laki itu. Kalau kamu tidak ingin memberitahu. Papi akan cari tahu sendiri. Dan kamu tentu tahu bagaimana dengan mudahnya papi mencari. Papi hanya ingin kamu jujur saat ini." Tekan papi Wibowo menatap putrinya yang menangis tersendu sendu. Alana meragu.
~~~~~~~
Alana tak menyangka karena rasa cinta yang begitu sangat dalam membawa nya kejurang yang salah.
Dia harus mengandung tanpa seorang suami di sisinya. Alana memutuskan pergi meninggalkan tanah air tanpa memberitahu anak yang di kandung nya pada ayah biologis.
Alana juga berusaha untuk membuang rasa cinta nya, pada pria yang merupakan cinta pertamanya itu. Pada sepuluh tahun kemudian, Alana memutuskan untuk kembali ke tanah air dengan status yang berbeda.
Bukan single mom.
Tapi sebagai seorang istri dan memiliki seorang putra.
Alana menikah dengan pilihan orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hee_Sty47, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 12

***

Ala

"Terima kasih pak Bian, atas waktu nya." Ucap seseorang membuatmu Bian yang menatap ke arah alis sontak kembali menatap lawan bicara nya.

"Sama sama pak. Semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar. " Pria tengah baya itu mengangguk dengan seulas senyum nya.

Keduanya berpisah, Bian lantas memilih untuk naik ke lantai atas di mana ia melihat Alana tadi, usai meminta asisten dan sekretaris nya untuk ke mobil lebih dulu.

Sebenarnya Caca sudah memberitahu nya beberapa hari yang lalu jika Alana sudah ada di Jakarta. Sang istri juga mengatakan jika Alana sudah memiliki seorang anak.

Bian memang sudah mengetahui jika Alana sudah menikah, dari sang mamah. Pernikahan yang terkesan tertutup, bahkan mengatakan menikah di luar negeri. Keluarga nya tak begitu mau mencampuri urusan keluarga masing masing, untuk itu tak pernah berkomentar banyak.

Saat mengetahui hal itu, yang ada di pikiran Bian semua terjadi karena sang om . Di mana Wibowo langsung menikahkan Alana agar tidak terjebak dengan nya lagi. Dan upaya itu semua bahkan sampai membuat Alana pergi ke negara lain. Dan tak ada memberitahu di belahan negera mana Alana tinggal. Semua memang terkesan tertutup.

Baru saja Bian menginjakkan kaki nya sampai tengah tangga ponselnya berdering. Bian langsung merogoh saku nya dan mengulas senyum kala sang istri menghubungi nya.

Tanpa pikir panjang Bian langsung menerima. "Ya sayang. " Jawab Bian seperti biasa. Terkesan bucin dan itu lah yang memang ia rasakan.

Mas di mana? Masih bertemu dengan seseorang?  Cecar di seberang sana.

"Baru selesai, kenapa heum?"

Pusing mas, tolong belikan aku obat ya. Stok di rumah habis. 

"Ok sayang , mas akan pulang. "

Sekarang mas.. Rengek Caca di seberang sana.

"Iya sayang ku, sabar ya. "

Heumm, hati hati pak suami. Senyum Bian merekah, merasa gemes sendiri.

"Iya sayang. "

Panggilan berakhir, Bian lantas memutar badannya untuk menuruni anak tangga. Melupakan tujuan awalnya lantaran Caca nomer satu di hidup nya.

Wanita yang bertahta tinggi di hatinya, yang ia dapatkan dengan menunggu dengan cukup lama. Namun tak sia sia karena Caca jatuh ke dalam dekapannya saat ini.

Sementara Alana dan Kevin sudah bertemu dengan Lauren dan Miska. Meja makan sudah di penuh dengan makanan, Kevin dan Alana tinggal langsung bergabung dan menikmati makanan yang sudah di pesankan.

"Kapan nih lo undang kita kerumah baru lo."

"Malam minggu aja ya, gue ntar malam mau pergi sama mas Ray. "

"Aman, kita tunggu kabar lo aja." sahut Miska yang di balas anggukan kepala oleh Alana.

"Gimana sekolahnya Kevin, senang nggak. " Tanya Lauren

"Lumayan tan, sudah dapat teman. " Jawab Kevin usai menelan sisa makanan nya di mulut. Lauren tersenyum sambil tangannya mengusap kepala Kevin singkat.

Ketiga wanita dewasa itu kembali berbincang, bincang, melepas rindu mereka. Sementara Kevin memilih menikmati makanannya saja.

***

Alana dan Kevin tiba di kediaman orang tuanya. Mobil sang papi sudah terparkir di sana. Termasuk mobil yang biasa di pakai oleh Rayan

Usai dari cafe tadi Alana dan Kevin pulang lebih dulu untuk membersihkan tubuh masing masing. Lalu keduanya merasa bosan, dan Kevin mengajak Alana kerumah sang oma.

Dan di sini lah mereka.

Alana dan Kevin langsung masuk ke dalam rumah.

"Opa, daddy. " Papi Wibowo, Rayan dan beberapa orang lain nya langsung menoleh ke sumber suara.

Sesama rekan Rayan yang memang sudah mengetahui jika Rayan menikah dengan putri pak Wibowo itu tidak kaget. Namun mereka langsung tertegun, kala melihat kecantikan putri sang atasan. Mereka selama ini hanya melihat Alana dari foto saja.

Ternyata kecantikan nya berkali lipat dari foto yang mereka lihat.

Ehem

Deheman Rayan merupakan peringatan pada rekan kerjanya, cukup di pahami oleh Dio, Bobi, Ajril dan Tomi.

"Cucu opa. " Kevin langsung mendekat menyapa daddy dan opanya secara berganti.

Alana lantas mendekat ke arah Rayan untuk menyapa suaminya.

Rekan Rayan langsung melirik interaksi keduanya yang terlihat canggung.

Papi Wibowo memperkenalkan tim kerjanya pada Alana. Ada satu wanita di sana merupakan sekretaris papi nya.

Alana dan Kevin pamit untuk masuk ingin menemui mami Marina, karena juga tak enak berada di sana lantaran mereka membahas pekerjaan.

"Mi buat apa?" Tanya Alana bergabung. Mami nya itu seperti biasa sibuk berkutat di dapur jika tidak memiliki kegiatan.

"Kau datang. Buat salad buah. " Jawab sang mami.

 Alana mengangguk dan ikut bergabung membantu mami nya. Melihat itu Kevin pun ikut membantu mommy dan sang oma.

Beberapa saat kemudian mereka selesai membuatnya. Dan meminta bibi mengantarkan sebagaian ke depan untuk papi dan yang lainnya.

Sementara mereka memilih melipir ke ruang keluarga sambil menikmati salad buah di sana.

Lama mereka berada di sana sampai satu jam kemudian papi Wibowo dan Rayan melangkah menghampiri mereka.

Rayan uduk tepat di samping Alana. Sementara papi Wibowo duduk bersama mami Marina dan Kevin, sang cucu.

"Kevin nanti malam di rumah opa aja ya, ada om Bobi dan om Ajril yang nemenin. Opa, oma, daddy dan mommy kamu akan hadiri undangan. " Beritahu papi Wibowo yang langsung di setujui Kevin tanpa pikir panjang.

Sebab dia tak suka keramaian.

"Emang acara apa pi?. " Tanya Alana

"Acara ulang tahun perusahaan. " Alana melupakan hal itu. Ia baru ingat tanggal hari ini bertepatan hari berdiri nya perusahaan sang papi.

"Bagaimana di kampus?"

"Aman pi, sejauh ini aku nyaman. " Papi Wibowo mengangguk. Lantas dia menanyakan hal yang sama pada Kevin.

Alana dan Rayan pamit untuk pulang bersiap siap. Sementara Kevin seperti kata papi Wibowo dia akan tinggal di rumah sang papi.

"Acara nya jam berapa mas?" Tanya Alana usai masuk ke dalam mobil sang suami.

Mobil wanita itu tinggal di sana.

"Jam 8 malam. "

"Masih ada tiga jam mas." Ucap Alana sembari menatap layar ponselnya memperlihatkan waktu saat ini.

"Hm.. Mau cari sesuatu dulu. " Tawar Rayan sebelum sampai rumah mereka.

"Aku tuh pengen makan martabak dekat kampus aku dulu mas. Nggak tahu masih ada apa nggak. Sama mie ayam gerobak nya mas. " Kata Alana .

Rayan mengangguk mengerti. Pria itu lantas menuju lokasi yang Alana inginkan.

"Mas tahu kampus aku dulu? " Tanya Alana sebab Rayan tak menanyakan alamat atau kampus nya.

"Tahu." Alana mengangguk saja cukup tahu dari mana Rayan bisa mengetahui hal itu.

Tiga puluh menit mobil yang di bawa Rayan sampai di tempat tujuan. Pria itu lantas turun dari mobil.

Dengan cepat ia mengintari mobil sebelum Alana keluar terus lebih dulu.

Benar saja pintu sudah wanita itu buka, namun Alana masih duduk di tempat. Tangan Rayan langsung terulur , Alana langsung menyambut dengan rasa gugup yang kembali menyerang.

Rayan menutup pintu mobil. Dan melangkah ke arah gerobak mie ayam tanpa melepas tangan Alana

Wanita itu melirik singkat pada tautan tangannya.

"Yang itu kan ? " Tunjuk Rayan, membuat Alana mendongak dan mengangguk.

Rayan langsung memesan mie ayam untuk nya bersama Alana. Sementara Alana mencari tempat yang kosong.

"Saya pesan martabak dulu ya, jadi kita kelar makan nggak perlu antri lagi. " Kata Rayan dengan tangannya berada di pundak kiri sang istri . Wanita itu langsung menoleh kesamping sedikit mendongak untuk menatap suaminya.

"Ok mas. " Sahut Alana mengulas senyum.

Tangan Rayan mengusap sekilas pucuk kepala Alana lantas pergi dari sana. Tangan Alana spontan menyentuh dada nya. Wajahnya pun ikut memanas.

Rayan datang bersamaan mie ayam yang sedang di sediakan.

"Makasih mang. " Kata Alana pada penjualnya.

"Nggih, silahkan di santap mba." Alana kembali mengangguk.

Alana mulai meracik mie ayam nya, dari saos , kecap jeruk dan juga sambal.

"Jangan banyak sambel nya nanti sakit perut." Komen Rayan memperingati.

"Iya mas. " Nurut Alana. Ia mengaduk aduk isi mie ayam di dalam mangkuk itu. Alana hendak menyuapkan mie ayam namun urung lantaran melihat mangkuk mie ayam Rayan yang tanpa persaosan. Pucat sekali.

"Mas kamu nggak suka pake persaosan? " Tanya nya tak percaya. Rayan menggeleng sekilas.

"Kalau saya yang racik selalu nggak pas. " Jawab nya terdengar seperti beralasan.

"Bisa gitu? " Tanya Alana merasa sedikit aneh.

"Bisa."

"Mau coba punya aku mas. Coba dulu, kalau pas aku racikan. " Gatal sekali Alana melihat mie ayam Rayan yang polos tanpa warna tambahan di mangkuk suaminya itu.

"Boleh." Alana menyodorkan mangkuk mie ayam nya. Rayan mulai menyuapkan ke dalam mulut nya. Alana memperhatikan ekspresi suaminya itu.

"Enak." Alana tersenyum

"Enak kan." Rayan mengangguk.

"Mungkin karena kamu yang racik. " Sahutnya kembali menyuap mie ayam ke dalam mulutnya.

Alana berdehem. " Kalau gitu milik mas aku racik ya." Rayan kembali menganggu karena di dalam mulutnya penuh.

"Kamu makan punya saya saja, belum kesentuh. "

"Ok." Seru Alana.

Keduanya begitu menikmati mie ayam sambil berbincang mengenai kegiatan mereka.

Rayan membayar mie ayam mereka. Usai itu membawa Alana ke gerobak penjual martabak.

Tidak mengantri, karena mereka tinggal mengambil saja.

***

Bian termenung di balkon rumah nya sambil menikmati secangkir kopi.

Alana tiba tiba mengganggu pikirannya saat ini. Banyak hal yang ia ingin tahu dari sepupunya yang selama sepuluh tahun berada di luar negeri.

Peringatan dari papi Wibowo terakhir kali membuatnya selalu urung menemui Alana. Karena tak ingin ada permasalahan di keluarga mereka.

Jika di katakan malu , tentu saja Bian sangat malu pada om dan tantenya itu

"Mas." Bian menoleh ke samping, di mana Caca mendekat. Istri yang sangat di cintai nya itu menjatuhkan bok0ng nya di kursi samping nya yang terhalang meja di tengah.

"Malam ini jadi pergi mas."

"Iya sayang. Marcel sudah sampai?"

"Sudah mas, ada di kamar. "

Marcel adalah putra sambung dari Bian. Anak kandung Caca bersama mantan suaminya. Bian mengangguk sebagai respon sang istri.

***

Alana dan Rayan masuk ke dalam kamar mereka. "Mas aku duluan mandi ya, gerah banget." Kata Alana menoleh pada Rayan yang sedang membuka kancing baju kemejanya. Rayan mengangguk kepala.

Alana lantas masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Rayan yang memilih duduk di sofa.

Pria itu menjatuhkan tubuh nya di badan sofa, dengan kepala terbaring di sana. Rayan menutup sebagian wajahnya dengan lengannya.

Beberapa saat kemudian.

Alana keluar menggunakan bathrobe. Kali ini bathrobe panjang sampai batas lutut.

"Mas." Rayan tak menyahut. Alana memilih mendekat. Sampai di belakang sofa yang di tempati oleh Rayan karena posisi memunggungi nya.

Alana menyentuh pundak Rayan membuat pria yang terlelap itu langsung membuka kedua matanya.

"Mas maaf aku membangunkan mu." Sesal Alana tak enak. Pasti Rayan kelelahan. Hanya saja waktu terus berjalan, mereka harus pergi.

"Sudah." Alana mengangguk. Rayan lantas bangun dari duduknya. Dan mulai melangkah, sementara Alana memilih ke arah meja rias untuk berdandan.

Grep!

Tubuh Alana tersentak dengan menghentikan langkah nya. ia sangat terkejut dengan aksi Rayan yang tiba tiba memeluknya dari belakang. Bahkan pria itu sudah membenamkan wajah di ceruk leher belakang dengan kedua tangan yang sudah memembelit di pinggang. Hembusan nafas hangat pria itu menyapu permukaan kulit nya.

Perasaan Alana gundah.

"Hanya sebentar. " Kata nya lirih membuat Alana menahan nafas. Karena rasa gugup yang begitu menyerang.

"Bernafas Alana." Bisik Rayan, barulah Alana menghembuskan nafas dengan perlahan.

Wanita itu membiarkan Rayan memeluk nya. Entah apa yang terjadi pada pria itu.

Hening.

Rayan perlahan melepas pelukannya. Sesuai perkataannya, hanya sebentar. Pria itu mengusap pundak Alana singkat, dan langsung pergi dari sana tanpa sepatah kata pun.

Alana menoleh menatap punggung suaminya yang berlahan hilang balik pintu yang perlahan tertutup. Kedua tangannya menyentuh dada nya yang berirama tak menentu.

***

Alana menghembuskan nafas kesal lantaran kesusahan untuk menarik resleting nya. Suara pintu terbuka membuat Alana menatap Rayan yang sudah siap dengan setelan jas nya.

"Kenapa kok lama?"

"Susah." Keluh Alana. Rayan yang melihat hanya bisa membatin. Pria itu lantas mendekat pada tubuh Alana.

"Kenapa nggak minta tolong dari tadi Alana." Kata Rayan tak habis pikir . Alana mengigit bibirnya singkat. Tak bisa merespon apa pun perkataan Rayan. Dia sangat sungkan untuk meminta tolong.

Rayan menatap punggung mulus putih itu dengan perasaan gemuruh. Tangannya bergerak menyentuh ujung resleting, dan mulai menaikan untuk menutupi punggung mulus yang terekspos.

Alana menahan nafas kala jemari Rayan tak sengaja menyentuh kulit punggung nya. Kedua tangannya mengepal, melampiaskan suasana saat ini.

"Sudah." Kata Rayan dengan suara berat, sambil menatap Alana dari pantulan cermin kaca ."Sangat cantik." Sambung nya menatap penampilan Alana saat ini.

Blush

Wajah Alana memerah. Wanita itu cepat cepat menetralisir kan perasaannya yang salting.

"Mas juga tampan. " Puji Alana tak berani menatap sang suami.

Rayan tersenyum menanggapi. Pria itu masih berada di belakang tubuh Alana. Membuat Alana sungguh tak bisa berkutik.

Rayan mengeluarkan sesuatu di dalam saku nya. Sedikit mencondongkan tubuhnya pada Alana.

Kembali Alana di buat terkejut dengan aksi Rayan.

Tubuh pria itu menempel di belakang nya.

Sebuah kalung liontin berlian sedang melingkar di lehernya. Rayan masih menyambung pengait kalung tersebut.

"Mas." Alana menyentuh kalung liontin itu sambil menunduk. Terlihat mewah dengan dress hitam tanpa lengan yang di pakai nya saat ini.

"Suka? " Tanya Rayan kini menatap wajah Alana dari pantulan cermin.

Alana mendongak dan mengangguk. "Suka .Ini buat aku mas? "

"Ya."

"Makasih mas. " Kata Alana dengan tersenyum tulus membuat Rayan ikut tersenyum.

"Sudah siap, kita harus pergi sekarang. "

"Sudah mas. " Rayan menyodorkan tangannya, Alana yang mengerti langsung menyambut.

Genggaman tangan yang begitu hangat. Tanpa sadar Alana mulai merasa nyaman berada di dekat Rayan.

.

1
tia
kasihan nasib u rayan 😁
Ameliaputri Putri
pepet terus ray pasti tdk lama lg aluna akan jtuh d pelukanmu krn dia udah cinta kamu
tia
lanjut thor ,,,jgan sampe ada pelakor
Ameliaputri Putri
makin seru lanjut thor
Ameliaputri Putri
komunikasi suami istri itu penting, begitulah jadinya kalau miscom, alana salah knp g terus terang aja selalu kalau ada apa² d pendam d hati g mau ngungkapin
RnStar
Salah paham lagi pasti nih. Yang satu lemot, yang satu cepat menyimpulkan
Dwi Retno
lanjuutt thorrr
RnStar
gas Alana.
RnStar
Sweet, lanjut dong Thor 🙏
RnStar
bouwlehh🤣
RnStar
ulat bulu mulai nongol nih huh
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
RnStar
Alana kalau nggk mau sama Rayan, biar sama aku aja 🤣
RnStar
Bagus, seru
RnStar
lanjut Thor double 🙏
RnStar
Sepertinya Alana mulai ada perasaan.
RnStar
seneng deh, Rayan mode sat set
RnStar
Ketebak kan, ktmu ma Bian. Move on Alana, ada Rayan yang sudah cinta sama kamu
RnStar
Curiga nanti ktmu ma Bian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!