Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kata yang Menakutkan
Malam itu udara Yogyakarta terasa lebih sejuk dari biasanya.
Lampu-lampu jalan menyala pelan, memantul di aspal yang sedikit basah karena hujan sore tadi. Raka dan Lala duduk di bangku taman kecil dekat kampus lama mereka.
Tempat itu sebenarnya tidak terlalu istimewa.
Bangkunya sudah agak tua.
Cat hijaunya mulai pudar.
Tapi entah kenapa tempat ini selalu terasa nyaman bagi mereka.
Raka memegang segelas kopi plastik dari warung sebelah taman. Lala duduk di sampingnya sambil memainkan sedotan minumannya.
Sudah lima menit mereka duduk tanpa bicara.
Bukan karena canggung.
Tapi karena terlalu nyaman.
Lala akhirnya memecah keheningan.
“Raka.”
“Iya?”
“Kamu sadar gak…”
“Apa?”
“Hubungan kita aneh.”
Raka menoleh.
“Aneh gimana?”
Lala tersenyum kecil.
“Orang pacaran biasanya romantis.”
“Terus?”
“Kita malah sering debat.”
Raka tertawa pelan.
“Itu bukan debat.”
“Terus apa?”
“Diskusi dengan volume tinggi.”
Lala memukul lengannya pelan.
“Apaan sih.”
Raka ikut tertawa.
Angin malam bertiup pelan.
Lala menatap langit yang dipenuhi bintang samar.
Lalu tiba-tiba ia berkata sesuatu yang membuat Raka langsung tegang.
“Raka.”
“Iya?”
“Kamu pernah mikir masa depan?”
Raka langsung berhenti minum.
“Masa depan?”
“Iya.”
“Masa depan apa?”
Lala menoleh kepadanya.
“Masa depan kita.”
Kalimat itu membuat jantung Raka berdetak sedikit lebih cepat.
Bukan karena ia tidak pernah memikirkannya.
Justru karena ia terlalu sering memikirkannya.
Tapi Raka punya kebiasaan buruk.
Ia selalu menunda memikirkan hal-hal yang terasa terlalu serius.
Seperti biasa.
Ia mencoba bercanda.
“Masa depan kita… kayak film?”
Lala menatapnya datar.
“Serius.”
Raka menelan ludah.
“Oke.”
Lala menarik napas pelan.
“Kamu pernah kepikiran…”
Ia berhenti sebentar.
Raka sudah merasa bahaya.
“Kepikiran apa?”
Lala menatapnya langsung.
“Pernikahan.”
Raka langsung tersedak kopinya.
“BATUK! BATUK!”
Lala tertawa.
“Kenapa panik?”
Raka menggeleng cepat.
“Enggak panik.”
“Kamu merah.”
“Enggak merah.”
“Merah.”
Raka menghela napas panjang.
“Oke sedikit panik.”
Lala tersenyum.
“Aku cuma tanya.”
Raka memandang jalan di depan taman.
Mobil lewat pelan.
Suara motor sesekali terdengar.
Ia berpikir beberapa detik sebelum menjawab.
“Kalau jujur…”
“Iya?”
“Dulu kalau ada yang nanya begitu ke gue…”
“Jawabannya?”
Raka menatap Lala.
“Ya mungkin besok.”
Lala tertawa kecil.
“Masih sesuai judul hidup kamu.”
Raka ikut tersenyum.
“Tapi sekarang beda.”
Lala menatapnya penasaran.
“Bedanya?”
Raka menatap langit malam.
“Sekarang aku mulai mikirin hari itu.”
Lala terdiam.
Angin malam terasa sedikit lebih hangat.
“Serius?”
Raka mengangguk.
“Iya.”
Lala menggigit bibirnya pelan.
“Aku kira kamu takut.”
Raka tersenyum kecil.
“Aku masih takut.”
“Terus?”
“Tapi kali ini aku gak lari.”
Lala menatapnya cukup lama.
Lalu bertanya pelan.
“Kalau suatu hari…”
“Apa?”
“Misalnya ya…”
“Iya?”
“Kita menikah.”
Raka menatapnya.
“Terus?”
Lala tersenyum malu.
“Menurut kamu hidup kita bakal kayak apa?”
Raka berpikir.
Lalu menjawab dengan santai.
“Berisik.”
Lala tertawa.
“Kenapa?”
“Karena kamu suka ngomel.”
“HEI!”
Raka tertawa.
“Dan rumah kita pasti sering berantakan.”
“Kenapa?”
“Karena aku males beres-beres.”
Lala memukul lengannya lagi.
“Kamu parah.”
Raka tersenyum.
“Tapi…”
Lala menunggu.
“Aku rasa kita bakal bahagia.”
Lala terdiam beberapa detik.
“Kamu yakin?”
Raka menatapnya dengan ekspresi serius yang jarang terlihat.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena dari semua orang yang pernah aku temui…”
Ia berhenti sebentar.
“Kamu satu-satunya orang yang bikin aku berhenti bilang ‘ya mungkin besok’.”
Mata Lala mulai sedikit berkaca-kaca.
Ia menunduk.
“Raka.”
“Iya?”
“Kamu tau gak…”
“Apa?”
“Aku juga takut.”
Raka memegang tangannya pelan.
“Takut apa?”
“Takut suatu hari kamu kembali ke kebiasaan lama.”
“Kebiasaan apa?”
“Menunda semuanya.”
Raka menggenggam tangannya lebih erat.
“Aku mungkin masih orang yang sama.”
Lala menatapnya.
“Tapi?”
“Tapi sekarang aku punya alasan buat berubah.”
“Apa alasannya?”
Raka tersenyum hangat.
“Kamu.”
Lala tidak bisa menahan senyumnya.
Beberapa detik mereka hanya saling memandang.
Lalu Lala berkata pelan.
“Raka.”
“Iya?”
“Kalau suatu hari kamu mau melamar aku…”
Raka langsung tegang lagi.
“Hah?!”
Lala tertawa.
“Tenang! Aku cuma bilang kalau.”
Raka menghela napas lega.
“Jangan bikin jantung gue berhenti.”
Lala tersenyum nakal.
“Kalau suatu hari kamu mau melamar…”
“Iya?”
“Jangan bilang ‘ya mungkin besok’.”
Raka tertawa.
“Tenang.”
“Kenapa?”
“Kali ini…”
Ia menatapnya dengan yakin.
“Aku bakal bilang ‘hari ini’.”
Lala tersenyum hangat.
Dan malam itu…
Untuk pertama kalinya mereka tidak lagi hanya berbicara tentang hari ini.
Mereka mulai berbicara tentang masa depan.
Meski masih jauh.
Meski masih penuh kemungkinan.
Tapi setidaknya sekarang mereka berjalan ke arah yang sama.
Bersama.