NovelToon NovelToon
Milik Sang Kapten

Milik Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Menyembunyikan Identitas / Romansa
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
​Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
​"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 9 Topeng yang Terenggut

Siang itu, awan mendung menggelayut rendah di atas SMA Garuda Kencana, seolah tahu badai akan segera pecah. Karline berdiri di halte depan sekolah sambil menempelkan ponsel ke telinganya.

​"Iya, Pak Dirman. Tidak apa-apa. Ban pecah bukan kemauan Bapak," ucap Karline lembut, berusaha meredam kekecewaan. "Saya naik ojek saja. Bapak fokus urus mobilnya, ya."

​Karline menutup telepon dan baru saja hendak memesan ojek melalui aplikasi, saat sebuah tangan kekar menyambar ponselnya dengan kasar.

​"Mau lari ke mana lagi, hah?"

​Itu suara Raka. Di belakangnya, Rio dan Dean sudah berdiri dengan wajah yang tidak bisa dikatakan bersahabat. Tanpa sempat Karline melawan, kedua lengannya sudah dicengkeram kuat oleh Raka dan Rio. Mereka menyeret Karline menjauh dari halte, menuju area belakang sekolah sebuah gudang tua yang jarang dilewati siswa karena tertutup rimbunnya pohon kamboja.

​"Lepaskan!" bentak Karline. Ia mencoba meronta, namun tenaga dua atlet voli itu jauh lebih kuat dibandingkan Arlan.

​"Diam lo! Gara-gara lo,Gue dapet SP 1!" Rio mendesis di telinga Karline.

​Mereka melempar Karline ke dinding tembok yang dingin. Karline berdiri dengan gemetar, menahan amarah yang bergemuruh di dadanya. Di depannya, Dean berdiri dengan gaya santai yang mematikan. Ia mengenakan jaket motor kulitnya yang hitam, terlihat sangat tampan dan maskulin, namun di mata Karline, ia tak lebih dari sekadar penjahat.

​"Gue bilang jangan pernah ngeremehin gue, kan?" Dean mendekat, senyum sinisnya menghiasi wajah tampannya yang dingin.

​"Buka jaketnya," perintah Dean pada kedua temannya.

​"Jangan berani-berani!" teriak Karline, namun Raka dan Rio sudah menarik paksa jaket tebal yang selama ini menjadi tamengnya. Karline memberontak hebat, menendang ke segala arah, tapi mereka tetap berhasil melucuti jaket itu hingga menyisakan seragam putihnya yang pas di tubuh.

​"Sekarang, mari kita lihat apa yang selama ini lo tutupin rapat-rapat," gumam Dean.

​Tangan Dean bergerak cepat. Ia mencengkeram topi Karline dan membuangnya ke tanah, lalu beralih ke masker hitamnya. Karline menggelengkan wajahnya ke kanan dan ke kiri dengan liar, berusaha mempertahankan satu-satunya privasi yang ia miliki. Namun, Dean terlalu kuat. Dengan satu sentakan, masker itu terlepas.

​Seketika, suasana menjadi sunyi senyap. Raka dan Rio yang tadinya penuh amarah mendadak membeku. Dean, yang tadinya menatap penuh kebencian, kehilangan kata-kata.

​Di balik masker itu, tersimpan wajah yang begitu cantik hingga terasa tidak nyata. Kulitnya seputih susu dengan rona pink alami di pipi karena kemarahan. Bibirnya yang kecil dan ranum kini bergetar, dan di pipi kanannya, tampak lesung pipi kecil yang muncul saat ia menggertakkan gigi. Bulu matanya yang lentik kini basah oleh sedikit air mata yang ia tahan.

​Dean terpesona sesaat. Keindahan itu hampir melunturkan dendamnya. Namun, egonya yang terluka kembali mengambil alih. Ia ingin menghancurkan mental gadis ini.

​"Cantik juga ya," bisik Dean, tangannya terangkat mengelus pipi Karline yang halus. Karline membuang muka, merasa jijik dengan sentuhan itu. "Tapi gue penasaran..."

​Dean mendekatkan bibirnya ke telinga Karline, memberikan intimidasi yang merendahkan. "Udah berapa kali tubuh lo di acc sama om-om itu? Nggak mungkin siswi kayak lo punya tubuh sesintal ini kalau belum pernah 'dipakai'."

​Dunia seolah berhenti bagi Karline. Kalimat itu bukan sekadar ejekan, itu adalah belati yang menikam jantungnya. Amarahnya mencapai puncak.

​Cuih!

​Karline meludahi wajah tampan Dean tepat di depan matanya.

​"Bajingan!" teriak Karline.

​Dalam keterkejutan Dean, Karline memanfaatkan celah. Ia menyentak lengannya dari genggaman Raka dan Rio yang mulai melonggar karena terkejut. Plakkk! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dean. Tak berhenti di situ, Karline melayangkan pukulan cepat ke arah hidung Rio hingga cowok itu terhuyung, dan dengan satu tendangan akurat, ia menghantam "aset berharga" Raka yang langsung tumbang bergulingan di tanah.

​Dean yang tersadar dari keterkejutannya ingin membalas, namun ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti. Karline tidak lagi melawan dengan kata-kata. Gadis itu menyambar jaketnya yang kotor di tanah, lalu berjalan pergi dengan langkah tertatih. Bahunya naik turun karena isak tangis yang coba ia sembunyikan di balik tangannya yang menutupi wajah.

​Karline menangis. Ia, yang begitu tangguh menghadapi OSIS dan fitnah, akhirnya hancur karena penghinaan verbal yang sangat kotor dari Dean.

​Dean berdiri mematung di tempatnya. Bekas ludah di wajahnya dan panas di pipinya tidak sebanding dengan rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya. Melihat Karline yang rapuh seperti itu, rasa bersalah yang asing mulai merayap masuk ke hatinya.

​"De... kejar nggak?" tanya Rio sambil memegangi hidungnya yang berdarah.

​Dean hanya diam, matanya terpaku pada punggung Karline yang semakin jauh dan hilang di belokan koridor. Ia tidak pernah bermaksud menghina sejauh itu, tapi egonya telah membutakannya.

​"Nggak usah," jawab Dean pendek, suaranya kini terdengar parau.

​Raka masih mengerang di tanah, Rio sibuk mengusap darah, tapi Dean hanya berdiri di sana, memikirkan betapa indahnya wajah yang baru saja ia hancurkan dengan kata-katanya. Ia sadar, mulai hari ini, segalanya tidak akan pernah sama lagi.

1
Anonymous
jgn gantung dong thor 😭
jajangmyeon
Suka banget sama ceritanya! Alurnya menarik dan karakternya juga bikin penasaran. Pokoknya recommended, yang lain wajib baca! 😆✨
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentarmu yang sangat positif 💞
total 1 replies
Anonymous
loh kok beda thor?
Anonymous: oke thorr, semangat selalu 💪😎
total 2 replies
jajangmyeon
wihhhhh seru nii
brawijaya Viloid
yey cerita baru 😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!