Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Singgasana yang Runtuh
Hujan badai di luar kediaman utama keluarga Wren seolah sedang mencoba mencuci dosa yang telah mengerak selama puluhan tahun. Petir menyambar, menyinari pilar-pilar marmer yang dingin, sementara Devan melangkah masuk dengan pakaian yang menempel basah di kulitnya. Setiap langkah sepatunya meninggalkan jejak air dan bercak merah darah Alaska yang mengering di atas karpet Persia.
Di ujung meja makan panjang yang legendaris, Kakek Wren duduk dengan tenang. Ia sedang memotong daging steak dengan presisi, seolah-olah bau mesiu dan kematian di rumah sakit tadi tidak pernah sampai ke telinganya.
"Kau berantakan sekali, Devan," suara Kakek Wren berat dan stabil. "Duduklah, aku bisa menuangkanmu anggur."
"Simpan sandiwaramu, Kek," Devan berdiri di ujung meja yang berlawanan. Tangannya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena amarah yang hampir meledak. "Aku sudah melihat semuanya. Folder Wren’s Silence. Nama Ibu. Nama Ayah Ara. Semuanya."
Kakek Wren meletakkan pisau dan garpunya dengan denting logam yang nyaring. Ia menyeka mulutnya dengan serbet sutra. "Folder itu seharusnya tidak pernah dibuka oleh tangan yang lembut seperti tanganmu, Devan. Kau itu dokter, tugasmu memperbaiki yang rusak, bukan menghancurkan fondasi keluargamu sendiri."
"Fondasi yang kau bangun dari mayat ibuku?!" raung Devan. Suaranya bergema di aula yang luas itu. "Kau menyuntikkan racun saraf itu ke pembuluh darahnya hanya untuk eksperimen? Ibuku, Kek! Anak menantumu sendiri!"
Kakek Wren berdiri perlahan, matanya yang tua namun tajam menatap Devan tanpa rasa bersalah. "Ibumu ingin melaporkan perusahaan ini ke otoritas karena masalah limbah kimia. Dia adalah ancaman bagi warisan yang akan kau terima. Aku melakukannya untukmu, Devan! Agar kau tetap bisa menjadi 'Tuan Muda Wren' yang terhormat!"
"Aku lebih suka menjadi gelandangan daripada menjadi cucumu!" Devan melemparkan kunci misterius itu ke atas meja makan. Kunci itu berdentang, berputar sebelum berhenti tepat di depan piring Kakek Wren. "Data aslinya sudah terkirim ke server cadangan milik Alaska. Jika dalam satu jam aku tidak memasukkan kode pembatalan, seluruh dunia akan tahu bahwa Wren Group adalah pabrik pembunuh."
Wajah Kakek Wren sedikit berubah. Ketengan merayap di garis-garis keriputnya. "Kau pikir Alaska Jasper bisa melindungimu? Dia hanyalah bocah yang sedang bermain rumah-rumahan dengan istrimu. Begitu data itu keluar, Ara juga akan hancur. Kau tahu kenapa? Karena ayahnya adalah eksekutor yang menyuntik ibumu. Jika aku jatuh, Arabella Reese akan ikut terseret sebagai putri dari seorang pembunuh."
Devan terdiam sejenak. Pukulan itu telak. "Itu sebabnya kau menjodohkan kami, kan? Untuk memastikan Ara terikat secara hukum denganku sehingga dia tidak bisa memberikan kesaksian melawan keluarga ini."
"Persis," Kakek Wren tersenyum miring. "Pernikahanmu adalah segel keamanan. Jika kau menghancurkanku, kau menghancurkan Ara. Apa kau sanggup melihat wanita yang baru saja kau cintai itu mendekam di penjara karena dosa ayahnya?"
"Dia tidak akan dipenjara," suara Devan kembali mendingin, ketenangan yang menakutkan menyelimuti wajahnya. "Karena Ayah Ara menyimpan bukti bahwa dia melakukannya di bawah todongan senjata orang-orangmu. Dan bukti itu... ada bersamaku sekarang."
Kakek Wren terbahak. Tawanya terdengar kering dan kejam. "Bukti? Di mana? Di tas kecilmu itu?"
Kakek Wren memberikan kode kecil dengan jemarinya. Dari balik pilar-pilar gelap, tiga pria bersenjata muncul, mengunci posisi Devan.
"Berikan datanya, Devan. Jangan paksa aku melakukan hal yang sama pada cucu tunggalku seperti yang kulakukan pada ibumu."
Devan menatap moncong senjata di depannya, lalu kembali menatap kakeknya. Ia teringat wajah Ara yang ketakutan, dan wajah Alaska yang pucat di rumah sakit.
"Kau selalu bilang cinta adalah kelemahan, Kek," ucap Devan sambil merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisi cairan pekat berwarna ungu. "Tapi malam ini, cinta memberiku keberanian untuk menjadi monster yang lebih besar darimu."
"Apa itu? Kau mau meracuni kami semua?"
"Ini adalah reagen yang jika bercampur dengan oksigen dalam volume besar, akan memicu alarm kebakaran dan mengunci seluruh protokol keamanan gedung ini secara otomatis. Pintu baja akan turun, sinyal seluler akan mati. Kita akan terjebak di sini, hanya kau dan aku, sampai polisi yang dibawa Alaska mendobrak pintu depan."
"Kau tidak akan berani," desis Kakek Wren.
"Coba aku," Devan mengangkat botol itu tinggi-tinggi. Matanya berkilat penuh tekad. "Lima tahun aku hidup dalam kedinginan karena kau. Lima tahun aku mengabaikan satu-satunya cahaya dalam hidupku karena kau. Malam ini, Wren Group mati, atau aku yang mati."
"Tembak dia!" perintah Kakek Wren dengan histeris.
DOR!
Satu tembakan dilepaskan, namun Devan lebih cepat menjatuhkan diri sambil membanting botol kimia itu ke lantai marmer.
BUM!
Asap tebal berwarna ungu memenuhi ruangan dalam sekejap. Alarm gedung menjerit memekakkan telinga. Lampu merah darurat berputar-putar, dan suara dentuman pintu baja yang turun otomatis terdengar di seluruh penjuru rumah.
Di tengah kekacauan itu, Devan merangkak di lantai, menghindari peluru yang ditembakkan secara membabi buta. Ia tahu, di luar sana, sirine polisi sudah terdengar mendekat. Alaska benar-benar menepati janjinya.
"ARABELLA!" Devan berteriak di tengah asap, bukan karena Ara ada di sana, tapi karena nama itu adalah kekuatannya. "INI UNTUKMU!"
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/