Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Yang Datang
Senin pagi Raka bersiap siap untuk pergi ke kanto mengenakan kemeja putih yang disetrika Maya kemarin— tangan yang terlalu hati-hati, mata memperhatikan, membuat Raka merasa bersalah tanpa tahu kenapa. Celana hitam yang pas, sepatu yang disemir meski ia tidak ingat kapan terakhir kali melakukannya.
Dari luar, ia terlihat seperti Raka yang dulu sebelum Kinan pergi, masih punya tujuan, punya arah dan punya alasan untuk bangun pagi berpakaian rapi.
Tapi di dalam—di dalam ia hancur. Di dalam ia hanya berjalan karena kakinya bergerak, tersenyum karena otot wajahnya terlatih, hidup karena belum menemukan cara untuk tidak hidup.
\=\=\=
"Raka," suara Bu Lina, rekan kerja dari divisi keuangan, wanita berusia empat puluh tahun dengan tiga anak menyapanya. "Selamat datang kembali. Kami... kami semua turut berduka cita."
Kata-kata yang benar sopan seperti bacaan kartu ucapan yang dibeli massal di toko buku. Raka mengangguk, mencoba tersenyum, mencoba menjadi orang yang bisa menerima belasungkawa dengan anggun.
"Makasih, Bu," suaranya terdengar asing, terlalu pelan tidak seperti dirinya.
Lift berbuka. Raka keluar lebih cepat dari yang lain, berjalan ke mejanya di sudut dekat jendela—meja yang kini terlihat asing, tempat yang dulu ia kunjungi dalam kehidupan sebelumnya.
Meja itu berantakan, tumpukan dokumen, mug kopi yang belum dicuci, foto pernikahan yang kini ia letakkan menghadap ke bawah. Berantakan karena ditinggal terlalu lama, debu yang mengumpul, karena hidup berjalan tanpa pemiliknya.
Raka duduk di kursi yang sama, bau yang sama, pemandangan yang sama—jendela yang menghadap ke taman kota, ke tempat Kinan dulu berjualan bunga.
Ia menatap layar komputer menyala. Email yang menumpuk—ratusan, mungkin ribuan, yang tidak ia baca selama cuti berduka. Tugas yang tertunda, proyek yang terbengkalai, janji-janji yang tidak bisa dipenuhi.
Tapi ia tidak bisa fokus membaca satu kalimat pun tanpa melihat wajah Kinan di antara huruf-huruf. Tidak bisa mengetik satu kata pun tanpa merasa sia-sia.
"Raka."
Ia menoleh. Pak Dedi, atasan langsungnya, berdiri di samping meja dengan ekspresi yang terlalu hati-hati. Pria berusia lima puluhan dengan rambut tipis dan perut buncit, yang dulu selalu tegas dengan deadline, kini berbicara dengan suara terlalu lembut.
"Bisa ke ruanganku sebentar?"
Bukan pertanyaan. Tapi juga bukan perintah. Sesuatu di tengah, sesuatu yang membuat Raka ingin menolak, ingin berkata "Gue nggak sanggup," tapi kakinya sudah berdiri, sudah mengikuti, sudah berjalan ke ruangan di ujung koridor.
\=\=\=
Ruang Pak Dedi. Kecil, berantakan, bau rokok kretek menyelinap dari jendela yang selalu terbuka. Di dinding, foto keluarga—istri, dua anak, cucu yang baru lahir tahun lalu. Foto yang dulu Raka lihat dengan iri, dengan harapan, rencana untuk memiliki yang serupa.
Kini foto itu terasa seperti tamparan pengingat bahwa rencana tidak berarti apa-apa. Bahwa kebahagiaan bisa hilang kapan saja Ia duduk di sini, di ruang atasan, dengan istri sudah menjadi tanah dan orang lain masih punya keluarga lengkap.
"Duduk, Raka" Pak Dedi menunjuk kursi. Ia sendiri duduk di balik meja, menatapnya dengan mata merah— terlalu banyak beban, dari hidup yang juga tidak mudah.
Raka duduk punggungnya tegak, tangan di pangkuan, menunggu. Apa? Ia tidak tahu. Teguran? Pemecatan? Belasungkawa yang berlebihan? Semua terasa sama tidak pentingnya.
"Saya nggak akan banyak bicara," Pak Dedi mulai pelan hampir tidak terdengar di tengah dengung AC. "Saya cuma mau bilang... kamu nggak perlu kuat sekarang. Nggak perlu pura-pura. Nggak perlu menjadi Raka yang dulu."
Raka menatapnya tidak mengerti, atau tidak mau mengerti. Apa maksudnya? Ia harus kerja. Harus produktif. Harus menjadi bagian dari mesin perusahaan terus berputar. Itu yang selalu ia lakukan dan diharapkan.
"Saya melihat kamu dari jauh," lanjut Pak Dedi, tangannya menggenggam bola stres yang selalu ada di meja—bergerak, terus bergerak, seolah mencoba mengalihkan kegelisahan. "Kamu datang, duduk, kamu sudah kayak robot, Ra. Kayak orang yang cuma nunggu waktu buat pulang. Dan saya ngerti, ngerti banget. Tapi..."
Ia berhenti. Mencari kata-kata yang tepat, atau mungkin mencari keberanian untuk mengatakannya.
"Tapi ini nggak bisa terus-terusan. Kamu nggak bisa kerja kayak gini. Bukan karena saya tegas, bukan karena perusahaan butuh produktivitas. Tapi karena... karena kamu akan hancur, Ra, kamu akan benar-benar hancur."
Raka tidak menjawab. Apa yang bisa dijawab? Bahwa ia sudah hancur? Bahwa hancur adalah keadaan defaultnya sekarang, bukan sesuatu yang bisa dihindari atau diperbaiki?
"Gue punya anak perempuan," Pak Dedi bicara lagi, suaranya lebih pribadi, lebih rapuh. "Umurnya dua puluh tiga. Kuliah di Bandung. Dulu... dulu dia pernah depresi. Hampir bunuh diri. Saya tidak tahu terlalu sibuk kerja, terlalu sibuk jadi 'Pak Dedi yang sukses,' sampai saya nggak liat dia hancur."
Raka melihat pria yang selama ini ia kenal sebagai atasan tegas, menuntut, dan tidak pernah puas ternyata ia juga punya luka, rahasia, dan malam-malam di mana ia bertanya apa gunanya segalanya.
"Dia selamat," lanjut Pak Dedi pelan "Karena ada temennya yang membantu karena kepedulian meski dia nggak minta."
Raka hening mendengar kata katanya
"Kamu kenal dengan Maya, temennya Kinan itu, kan? Dia datang ke kantor kemarin mengatakan kalau kamu butuh waktu, butuh orang untuk menjaga. Biar nggak... nggak melakukan sesuatu yang tidak bisa dibalik."
Raka terdiam sesaat lalu, dadanya berdegup oleh perasaan menyakitkan, membuatnya ingin menangis dan marah sekaligus. Maya. Lagi. Selalu. Di mana-mana. Menjaga, melindungi, mengungkapkan kepedulian membuat nya bersalah.
"Saya nggak akan bunuh diri, Pak," kata Raka, suaranya lebih kasar dari yang ia inginkan. "Saya masih punya tanggung jawab. Saya masih..."
"Saya tahu," Pak Dedi mengangguk cepat. "Saya tahu kamu kuat. Tapi kuat itu beda sama... sama hidup.Kamu bisa kuat, tapi tetap mati di dalam. Dan saya nggak mau lihat itu. Kinan juga nggak mau."
Nama itu. Kinan. Diucapkan dengan begitu mudah, begitu santai, oleh orang yang tidak mengenalnya secara pribadi, sesuatu naik ke tenggorokan—kemarahan, kesedihan, keinginan untuk berteriak bahwa tidak ada yang berhak mengucapkan, tidak ada yang tahu apa yang Kinan mau.
Tapi ia menahan. Karena Pak Dedi benar. Karena Maya benar. Karena semua orang benar, kecuali dirinya yang terlalu hancur untuk melihat kebenaran apa pun.
"Saya kasih kamu proyek baru," Pak Dedi berdiri, mengambil map dari laci meja. "Kecil. Nggak banyak deadline. Bisa dikerjain dari rumah, kalau perlu. Tapi... tapi kamu harus mulai dari sini, Ra. Satu langkah. Nggak perlu lari, nggak perlu sprint. Jalan aja. Pelan-pelan."
Raka menerima map. Tangan bergetar, tapi ia menerima merasakan beratnya makna, harapan yang tidak ia minta, tidak sanggup ia penuhi.
"Makasih, Pak," katanya pelan, hampir tidak terdengar.
Pak Dedi menepuk bahunya. Sekali, cepat, dengan cara yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya—tidak pernah menyentuh, tidak pernah terlalu pribadi, tidak pernah melampaui batas atasan-bawahan.
" Saya nggak minta kamu menjadi Raka yang dulu, Ra. Saya cuma minta kamu jadi Raka yang masih mau hidup. Itu aja. Untuk sekarang, itu cukup."
\=\=\=
Raka kembali ke meja. Dengan map di tangan, dengan tugas yang tidak ia baca, dengan beban baru yang ditambahkan ke beban sudah terlalu berat.
Ia duduk menatap layar lalu kearah jendela. Menatap taman kota yang kini ramai dengan orang-orang yang tidak ia kenal—ibu-ibu dengan anak, pekerja kantoran makan siang dini, penjual bunga yang bukan Kinan.
Dan Laras muncul pukul sepuluh membuatnya semakin bingung, berjalan ke arahnya dengan senyuman terlalu ramah untuk seseorang yang baru saja kehilangan istri. Rambutnya diikat elegan, pakaiannya rapi, wangi parfum mahal menyelinap sebelum ia sampai.
"Raka," Ia berdiri di samping meja, tidak menunggu diundang. "Gue dengar lo kerja hari ini. Gue... gue mau ngajak lo makan siang. Bicara. Catch up."
Catch up. Seolah mereka hanya teman lama yang kehilangan kontak seakan tidak ada kematian, duka, tidak ada Laras yang pernah memilih orang lain dan kini kembali dengan niat yang tidak jelas.
"Gue sibuk, Ras" katanya datar. Bukan penolakan, bukan penerimaan—hanya fakta, hanya keadaan, hanya apa adanya.
Laras tertawa. Ringan, tidak terpengaruh, seolah mendengar lelucon. "Sibuk? Lo baru balik dari cuti berduka, Ra. Lo nggak bisa langsung sibuk. Lo butuh... lo butuh temen. Butuh orang yang ngerti. Dan gue... gue ngerti. Gue pernah kehilangan juga. Ayah gue, inget? Gue tahu rasanya."
Kehilangan ayah. Dibandingkan dengan kehilangan Kinan. Raka merasakan sesuatu naik—kemarahan yang tidak ia sanggup kendalikan, kesedihan berubah menjadi amarah, keinginan untuk berteriak bahwa tidak ada yang bisa membandingkan, tidak ada yang tahu, tidak ada yang berhak mengklaim pengertian.
Tapi ia menahan karena di kantor, ada orang-orang yang melihat. Karena Laras, meski salah, meski tidak mengerti, hanya mencoba—dengan caranya yang salah, dengan niat yang mungkin tidak murni, tapi hanya mencoba.
"Mungkin lain kali," kata Raka, suaranya sedikit lebih lembut. "Gue... gue belum siap. Untuk apa pun."
Ia mengangguk tpidak kecewa, atau berpura-pura tidak kecewa lalu mengambil kartu nama dari tas, meletakkannya di meja Raka dengan cara yang terlalu intim—jari-jari yang sengaja bersentuhan, mata yang sengaja bertemu terlalu lama.
" Ini kartu nama gue kalau lo butuh apa pun. Apa pun."
Ia pergi. Dengan langkah terlalu yakin, dengan punggung tegak, aroma parfum tertinggal.
Raka menatap kartu nama di mejanya. Putih, bersih, dengan nama "Laras Wijaya" dan nomor telepon mudah diingat. Ia membaliknya. Menatap bagian kosong, seolah di sana ada jawaban tidak tertulis.
Lalu ia membuangnya ke tempat sampah di bawah meja, tanpa ragu, tanpa penyesalan. Bukan karena Laras jahat. Bukan karena ia membenci Laras. Tapi karena tidak ada ruang. Tidak ada ruang untuk apa pun selain duka. Tidak ada ruang untuk siapa pun selain kenangan Kinan.
Sore tiba. Raka pulang lebih awal dari biasanya—izin dari Pak Dedi yang tidak perlu diminta, diberikan sebelum ia minta.
Maya sudah menunggu. Lagi. Selalu. Dengan sayur dan daging dan pandangan sayu
"Gimana kantor?" .
Raka menatap perempuan kecil dengan wajah bulat dan mata coklat selalu bengkak, tubuh yang terlalu ramping dan tangan yang terlalu sibuk. Melihat seseorang yang juga hancur, tapi terus berdiri.
"Gue nggak tahu, May," jawabnya, jujur untuk pertama kalinya. "Gue... gue kayak robot. Jalan, duduk, dengar, tapi nggak ngerasa. Gue nggak tahu cara jadi manusia lagi. Di kantor, di rumah, di mana pun. Gue nggak tahu."
Maya mendekat perlahan, tidak memaksa, hanya hadir. Tangannya—kecil, kurus, dengan bekas goresan di jempol—menyentuh lengannya hangat, nyata, bukan bayangan.
"Pelan-pelan, Ra," bisiknya, sama seperti yang selalu ia katakan. "Satu hari. Satu langkah. Kita cari cara bareng."
Kita. Kata yang terlalu besar untuk ukuran mereka. Kata yang mengandung janji yang mungkin tidak bisa dipenuhi. Tapi Raka mengangguk. Karena tidak ada pilihan lain. Karena terlalu lelah untuk menolak. Karena, meski tidak mengerti, ia butuh "kita" ini.
Ia duduk di teras, tanaman yang masih mencoba hidup, dengan Maya yang juga mencoba, dengan malam yang turun perlahan dan membawa janji fajar yang tidak ia percaya tapi tetap datang.
mampir 🤭