NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Duel Sihir Pertama

Luka yang Terbuka di Taman Mawar

Angin musim gugur yang tajam menyapu pelataran taman istana, membawa aroma mawar yang seharusnya harum, namun di indra penciuman Elara, semuanya terdistorsi oleh bau karat dan sisa-sisa sihir hitam yang membusuk. Ia berdiri dengan tenang di dekat air mancur marmer yang memancarkan air jernih, mengabaikan rasa perih yang mulai merayap dari ujung saraf di lengannya—sebuah harga yang harus ia bayar karena baru saja menyerap molekul racun saraf Solanum Nigra saat sarapan tadi. Di hadapannya, Elena berdiri dengan napas yang memburu, wajah cantiknya yang biasanya terpoles sempurna kini tampak retak oleh kemarahan yang tidak terkendali.

"Kau pikir kau siapa, hah?" desis Elena, suaranya melengking tajam, memecah kesunyian taman yang biasanya tenang. "Kau hanya tawanan perang, seonggok sampah dari reruntuhan Asteria yang seharusnya sudah membusuk di penjara bawah tanah bersama tikus-tikus itu!"

Elara menatap Elena dengan tatapan yang sangat dingin, membiarkan energi Void-nya bergetar pelan di balik permukaan kulitnya yang pucat. "Posisi di atas panggung tidak menentukan siapa yang memegang kendali, Selir. Terkadang, orang yang paling rendah adalah yang paling dekat dengan akar untuk mencabutmu. Dan aku melihat akarmu sudah mulai layu sejak teh itu menyentuh bibirmu."

"Tutup mulutmu!" Elena mengangkat tangannya ke udara. Pendaran cahaya logam yang tajam dan dingin mulai menyelimuti jemarinya, ciri khas sihir ksatria tingkat dua yang selama ini ia banggakan. "Kau merusak sirkuit energiku di meja makan tadi. Kau menggunakan trik kotor untuk membuatku terlihat lemah di depan Valerius!"

"Aku tidak menggunakan trik apa pun, Elena," Elara melangkah maju satu tindak, membiarkan sehelai kelopak mawar jatuh di bahunya. "Aku hanya mengembalikan apa yang kau berikan. Bukankah itu yang disebut dengan keadilan? Atau mungkin kau sudah terlalu lama terbiasa mencuri hingga kau lupa bagaimana rasanya menerima konsekuensi?"

"Beraninya kau bicara soal mencuri padaku!" Elena berteriak, dan seketika itu juga, tanah di sekitar Elara bergetar. Duri-duri logam yang tajam mencuat dari bawah rerumputan, melesat ke arah pergelangan kaki Elara.

Elara tidak menghindar dengan gerakan panik. Ia menutup matanya sejenak, mengaktifkan analisis struktur molekul Void-nya. Ia bisa merasakan kepadatan atom besi yang dikeraskan oleh mana milik Elena. Dengan satu sentakan kecil dari inti energinya, Elara menciptakan distorsi hampa di sekeliling kakinya. Saat duri-duri itu menyentuh zona hampa tersebut, suaranya bukan lagi dentingan logam, melainkan suara serpihan yang hancur menjadi debu.

"Hanya segini kemampuan ksatria tingkat dua yang kau sombongkan?" tanya Elara, suaranya tetap datar namun penuh intimidasi yang menusuk.

"Jangan sombong, Elara! Itu hanya pemanasan!" Elena merentangkan kedua tangannya, dan kali ini, puluhan bilah pedang kecil dari sihir logam muncul di udara, melayang di sekelilingnya seperti sayap pemangsa yang haus darah. "Aku akan mencabik-cabik wajah cantikmu itu sampai Valerius bahkan tidak bisa mengenali sisa-sisanya!"

"Lakukanlah," Elara menantang, suaranya berbisik namun bergema kuat di antara pilar-pilar taman. "Lakukan, dan saksikan bagaimana dunia yang kau bangun di atas kepalsuan ini runtuh dalam satu kedipan mata."

Analisis Hampa di Tengah Badai

Para penjaga istana yang mulai berdatangan karena merasakan lonjakan mana yang tidak stabil segera membentuk barikade di kejauhan. Mereka terpaku, ragu untuk ikut campur dalam perselisihan antara Selir Utama dan Penasihat baru kaisar yang misterius ini. Elara bisa merasakan kehadiran Valerius di kejauhan, mengamati dari balkon tinggi dengan tatapan kaisar yang paranoid namun terobsesi. Ini adalah momen yang ia tunggu—sebuah panggung untuk menunjukkan bahwa ia bukan lagi mangsa yang bisa dipermainkan.

"Matilah kau!" Elena mengayunkan tangannya ke depan. Puluhan bilah pedang logam itu melesat serentak, membelah udara dengan suara desingan yang memekakkan telinga.

Elara merasakan denyut hebat di punggungnya, tepat di titik luka bakar lamanya yang menjadi pusat sirkuit Void-nya. Rasa panas yang membakar itu menyebar cepat, memicu kilas balik singkat tentang menara yang terbakar sepuluh tahun lalu. Jangan sekarang, batinnya keras. Ia memaksakan fokusnya kembali, menyerap rasa sakit itu dan mengubahnya menjadi bahan bakar untuk penyerapan energi.

Logam... ikatan molekul atomik... frekuensi mana 440 hertz... serap.

Dalam satu gerakan yang sangat halus, hampir menyerupai tarian yang pernah ia lakukan sebagai Permaisuri Aurelia dulu, Elara merentangkan tangannya. Saat bilah-bilah pedang itu hampir menyentuh kulitnya, Elara tidak menciptakan perisai. Ia justru membuka pori-pori energinya lebar-lebar.

Clang! Clang! Clang!

Suara logam yang bertabrakan dengan energi Void terdengar seperti lonceng kematian. Alih-alih melukai Elara, pedang-pedang itu seolah tersedot ke dalam pusaran tak kasat mata di sekitar tubuhnya. Elara bisa merasakan beratnya logam itu masuk ke dalam sirkuit nadinya, sebuah beban fisik yang membuat tangannya yang mulai menghitam terasa semakin mati rasa dan dingin. Namun, ia tidak berhenti. Ia harus mencapai level sinkronisasi yang lebih tinggi.

"Bagaimana mungkin... kau menyerap sihir logamku?!" Elena terkesiap, langkahnya mundur dengan gemetar. "Itu tidak mungkin! Tidak ada sihir di Asteria yang bisa melakukan itu!"

"Kau terlalu sibuk belajar cara menyakiti orang, Elena, hingga kau lupa bahwa alam semesta ini memiliki cara untuk menelan kembali segala sesuatu yang berlebihan," Elara menghembuskan napas, uap ungu tipis keluar dari bibirnya yang pucat. "Sihirmu adalah logam, keras dan kaku. Sihirku adalah kehampaan. Dan kehampaan tidak bisa dihancurkan oleh benda padat."

"Kau monster!" Elena menjerit histeris. Ia mulai mengumpulkan seluruh mana yang tersisa, menciptakan bola logam raksasa yang dipenuhi dengan paku-paku tajam di atas kepalanya. Energi itu begitu besar hingga mawar-mawar di dekatnya langsung hancur menjadi serpihan.

"Monster?" Elara tersenyum pahit, sebuah senyuman yang penuh dengan subteks penderitaan bertahun-tahun. "Jika aku adalah monster, maka kaulah yang menciptakan lubang tempat aku merangkak keluar, Elena. Kau yang membakar rumahku, kau yang mencuri posisiku, dan sekarang kau yang akan memberiku kekuatan untuk menghancurkanmu."

"Diam! Diam! Diam!" Elena melempar bola logam raksasa itu dengan seluruh kekuatannya.

Elara berdiri tegak. Ia tidak akan menggunakan Third Option untuk sekadar bertahan kali ini. Ia akan menggunakannya untuk memberikan pelajaran. Ia membiarkan bola logam itu mendekat hingga jarak satu jengkal. Di detik terakhir, ia menyalurkan seluruh energi racun yang ia serap saat sarapan tadi—yang telah ia murnikan di dalam tubuhnya—ke dalam serangan balik.

Resonansi yang Menghancurkan

Saat bola logam itu meledak karena benturan dengan dinding hampa Elara, Elara tidak membiarkan serpihannya jatuh ke tanah. Ia menggunakan jarinya untuk mengarahkan serpihan itu kembali ke arah Elena, namun bukan sebagai senjata tajam. Ia mengubah struktur molekulnya menjadi debu intan yang sangat halus namun membawa resonansi energi korosif.

"Ini adalah hadiah kembalian untuk teh lavender yang kau sajikan tadi pagi," ucap Elara dengan nada yang sangat rendah dan dingin.

Debu-debu intan itu menyelimuti Elena, masuk ke dalam sistem pernapasannya dan menempel di kulitnya. Elena tidak terluka secara fisik dengan darah yang mengalir deras, namun ia mendadak berlutut, memegangi tenggorokannya yang terasa terbakar hebat. Ia terbatuk-batuk, namun yang keluar dari mulutnya hanyalah kabut ungu pucat.

"Apa... apa yang kau lakukan padaku...?" suara Elena parau, nyaris hilang.

"Aku hanya membiarkanmu merasakan keindahan yang selama ini kau paksakan pada orang lain," Elara mendekati Elena, berdiri tepat di hadapannya sambil menatap rendah ke arah selir yang kini tak berdaya itu. "Indah, bukan? Rasanya seperti menelan ribuan jarum kecil yang terbuat dari emas. Itulah rasanya ketika kau mencoba meracuni seseorang yang sudah terbiasa hidup dengan racun."

"Elena!" Suara bariton Valerius menggelegar dari arah koridor taman. Sang kaisar berlari mendekat, jubah hitamnya berkibar tertiup angin. Di belakangnya, puluhan pengawal pribadi dengan senjata lengkap langsung mengepung area duel tersebut.

Elara tahu ini adalah momen krusial. Ia harus memainkan perannya dengan sempurna. Ia membiarkan sirkuit energinya sedikit tidak stabil secara sengaja, membuat wajahnya tampak sangat pucat dan tubuhnya gemetar seolah-olah ia baru saja menggunakan seluruh kekuatannya untuk bertahan hidup dari serangan mematikan Elena.

"Yang Mulia..." bisik Elara, suaranya dibuat serapuh mungkin. Ia membiarkan tubuhnya lunglai perlahan saat Valerius sampai di dekatnya.

Valerius menangkap bahu Elara, matanya menatap tajam ke arah Elena yang masih terbatuk di tanah, lalu beralih ke Elara dengan tatapan yang dipenuhi oleh campuran kemarahan dan kekhawatiran yang aneh. "Apa yang terjadi di sini? Elena, apa yang kau lakukan pada Penasihatku?!"

"Dia... dia yang menyerangku, Yang Mulia!" Elena mencoba bicara dengan sisa tenaganya, matanya melotot ke arah Elara. "Dia menggunakan sihir terlarang! Lihatlah taman ini! Dia menghancurkan segalanya!"

"Saya hanya mencoba melindungi diri, Yang Mulia," Elara menyandarkan kepalanya di bahu Valerius secara singkat—sebuah kontak fisik yang ia tahu akan memicu obsesi pria itu. "Selir Utama tiba-tiba menyerang saya saat saya sedang melihat mawar-mawar Anda. Dia bilang... dia bilang saya tidak pantas berada di sini."

"Dia berbohong!" jerit Elena.

Valerius melihat ke arah serpihan logam di tanah yang masih membawa sisa-sisa mana milik Elena, lalu menatap Elara yang tampak "sekarat" di pelukannya. Logika kaisar yang paranoid segera bekerja. Baginya, serangan fisik Elena di depan publik adalah bentuk ketidakpatuhan terhadap perintahnya untuk menjaga Elara.

"Cukup, Elena!" bentak Valerius. "Aku melihat dengan mataku sendiri bagaimana kau menggunakan sihir logammu di area terlarang ini. Dan kau mencoba memfitnah seseorang yang bahkan tidak membawa senjata?!"

"Tapi dia bukan orang biasa, Valerius! Dia penyihir Void!" Elena berteriak dengan suara yang semakin serak.

"Bawa Selir Utama ke kamarnya dan kunci pintunya!" perintah Valerius kepada para penjaga tanpa memperdulikan pembelaan Elena. "Siapkan tabib untuk Elara. Dan umumkan kepada dewan... bahwa besok pagi, kita akan mengadakan sidang terbuka untuk membahas insiden ini."

Elara memejamkan matanya di pelukan Valerius, merasakan detak jantung kaisar itu yang tidak stabil. Di balik topeng kerapuhannya, ia tersenyum dingin. Umpannya telah dimakan. Elena baru saja menggali liang lahatnya sendiri, dan Elara hanya perlu memberikan dorongan terakhir di ruang sidang besok.

Sisa Abu di Ujung Saraf

Langkah kaki Valerius yang berat terasa bergetar di permukaan lantai marmer koridor yang menuju paviliun pribadi Elara. Kaisar itu menggendong tubuh Elara dengan dekapan yang terlalu erat, seolah-olah jika ia melonggarkan pegangannya, bayangan Aurelia yang ia lihat pada wajah Elara akan menguap menjadi asap. Elara, yang tetap memejamkan mata, bisa merasakan napas Valerius yang memburu di dekat telinganya—napas yang penuh dengan kecemasan irasional dan rasa bersalah yang belum tuntas.

"Panggil tabib kepala sekarang! Jika ada satu goresan permanen di kulitnya, aku akan memenggal kalian semua!" raung Valerius kepada para pelayan yang berlarian di sepanjang lorong.

Saat mereka tiba di dalam kamar, Valerius meletakkan Elara di atas tempat tidur sutra dengan kelembutan yang sangat kontras dengan kekejamannya di masa lalu. Begitu tangan kaisar itu terlepas dari tubuhnya, Elara merasakan serangan rasa sakit yang sesungguhnya menghantam. Tanpa perlindungan aura luar, efek samping dari penyerapan sihir logam Elena mulai menggerogoti sistem sarafnya.

Tangan kanan Elara, yang ia gunakan untuk membalikkan energi debu intan tadi, kini menghitam sepenuhnya hingga ke pergelangan tangan. Kulitnya terasa dingin seperti es, namun di bawah permukaan, ia merasa seolah ribuan jarum mikro sedang mencoba menembus keluar dari pembuluh darahnya. Ini adalah harga dari sinkronisasi Void Lv 1.0; tubuh manusia yang lemah seperti Elara belum mampu menjadi wadah sempurna untuk energi hampa yang begitu murni.

"Keluar. Semua keluar," perintah Valerius ketika tabib mulai mendekat.

"Tapi Yang Mulia, luka-lukanya perlu segera—"

"Aku bilang keluar!" Valerius tidak menoleh. Ia duduk di tepi tempat tidur, matanya yang kelam menatap tangan Elara yang menghitam dengan tatapan yang sulit diartikan.

Setelah pintu tertutup rapat, kesunyian yang mencekam menyelimuti ruangan. Elara membuka matanya perlahan, menatap langit-langit berukir malaikat yang kini tampak semakin sinis di matanya. Ia tidak menunjukkan rasa sakitnya. Ia membiarkan wajahnya tetap datar, seolah-olah kerusakan fisik di tangannya hanyalah debu yang bisa dibersihkan.

"Kau... kau menggunakan kekuatan yang tidak seharusnya kau miliki, Elara," bisik Valerius, jemarinya yang gemetar mencoba menyentuh ujung jari Elara yang hitam, namun ia ragu dan menariknya kembali. "Sihir macam apa yang bisa menelan logam? Bahkan penyihir agung kekaisaran pun tidak bisa melakukannya tanpa relik kuno."

"Dunia ini luas, Yang Mulia. Ada kekuatan yang bangkit dari rasa sakit yang melampaui kematian," Elara menjawab dengan suara serak, setiap kata terasa seperti menarik beban berat di tenggorokannya. "Elena mencoba membunuh saya karena dia takut. Ketakutan adalah pengakuan bahwa dia tidak lagi memiliki kendali atas Anda."

Valerius tertawa pendek, sebuah tawa yang terdengar pecah. "Dia memang bodoh. Dia pikir dengan melukaimu, dia bisa mengembalikan kedudukannya. Dia tidak tahu bahwa setiap kali dia menyerangmu, dia hanya membuatku semakin ingin mengurungmu di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun."

Elara merasakan dorongan untuk meludah, namun ia menahannya. Dilema martabatnya bergejolak; ia harus membiarkan pria ini terobsesi padanya agar ia tetap memiliki perlindungan absolut, namun setiap sentuhan dan tatapan Valerius terasa seperti api yang membakar jiwanya kembali.

"Besok adalah sidang terbuka," Valerius melanjutkan, suaranya kini kembali dingin dan berwibawa. "Elena akan dituduh melakukan percobaan pembunuhan terhadap pejabat tinggi kekaisaran. Aku ingin kau ada di sana. Aku ingin kau menunjukkan pada seluruh dewan menteri bahwa kaulah yang sekarang berdiri di sampingku."

"Saya akan ada di sana, Yang Mulia. Bukan hanya sebagai korban, tapi sebagai saksi atas kebusukan yang telah Anda pelihara di bawah jubah selir Anda," Elara menatap mata Valerius dengan tajam. "Jangan biarkan emosi masa lalu Anda pada Elena menghalangi keadilan yang harus ditegakkan."

Valerius berdiri, wajahnya kembali mengeras menjadi topeng kaisar yang kejam. "Masa lalu tidak memiliki tempat di istanaku yang baru, Elara. Elena sudah habis. Dia hanyalah sisa-sisa dari kesalahan yang ingin kulupakan."

Rahasia di Balik Tirai Malam

Begitu Valerius meninggalkan ruangan, Elara segera bangkit dengan susah payah. Keringat dingin mengucur di dahinya saat ia mencoba menggerakkan jari-jarinya yang mati rasa. Rina masuk dengan tergesa-gesa, membawa baskom berisi air hangat dan ramuan herbal yang telah mereka siapkan secara rahasia.

"Nyonya! Tangan Anda... ini lebih buruk dari sebelumnya," bisik Rina dengan air mata yang mulai menggenang.

"Diam dan bantu aku, Rina. Kita tidak punya waktu untuk menangis," Elara memasukkan tangannya yang menghitam ke dalam air hangat. Air itu seketika berubah menjadi keruh dan mengeluarkan uap ungu yang berbau belerang. "Penggunaan Void hari ini melampaui kapasitas sarafku. Aku butuh sisa garam khusus yang kita simpan. Kita harus menstabilkan sirkuit ini sebelum fajar menyingsing."

Rina dengan cekatan mengambil bungkusan kecil berisi garam dari saku rahasia jubahnya—bahan yang dicuri Elara dari dapur Asteria yang ternyata merupakan katalisator penawar energi Void. Saat garam itu ditaburkan di atas luka hitamnya, Elara menggigit bibirnya kuat-kuat hingga berdarah untuk menahan teriakan.

Resonansi... sinkronkan kembali... jangan biarkan kehampaan menelan dagingnya sendiri, batin Elara memerintah tubuhnya.

Perlahan, warna hitam di tangannya mulai memudar, meskipun tidak hilang sepenuhnya. Rasa sakitnya mereda menjadi denyutan tumpul yang konstan. Elara menatap tangannya dengan tatapan predator. Ia tahu bahwa setiap kali ia menang seperti ini, ia kehilangan sedikit demi sedikit kemanusiaannya. Jiwanya yang dulu lembut sebagai Aurelia kini terasa semakin keras dan dingin, seperti es yang tidak akan pernah mencair.

"Nyonya, apakah ini sepadan?" tanya Rina lirih sambil membalut tangan Elara dengan kain kasa halus. "Anda hampir mati tadi di taman. Jika kaisar tidak datang tepat waktu—"

"Kaisar datang tepat waktu karena aku memastikan dia merasakannya, Rina," Elara memotong pembicaraan dengan nada instruktif. "Aku tidak sedang berjudi dengan keberuntungan. Aku sedang mengatur panggung. Elena harus terlihat sebagai penjahat yang tak terkendali, dan aku harus terlihat sebagai aset yang tak tergantikan."

Elara berdiri dan berjalan menuju jendela, menatap ke arah menara penjara di kejauhan di mana Elena mungkin sedang meratap atau merencanakan fitnah baru. Ia meraba sakunya, memastikan pesan singkat dari Kaelen yang ia terima melalui sistem pengantar makanan rahasia masih ada di sana. Pesan itu hanya berisi satu kalimat: Pasukan telah bersiap di bayang-bayang.

"Besok adalah awal dari akhir bagi Elena," gumam Elara. "Dan Valerius akan menjadi orang yang menjatuhkan hukuman itu sendiri. Itu adalah keadilan yang paling manis, bukan?"

Persiapan Menuju Sidang Darah

Malam itu, Elara tidak tidur. Ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk meninjau kembali buku kas rahasia yang ia dapatkan melalui manipulasi informasi selama berada di perpustakaan terlarang. Di dalam buku itu, terdapat catatan aliran dana mencurigakan dari Elena kepada faksi militer lama yang dipimpin oleh Panglima Vane. Ini adalah amunisi utamanya untuk Sidang Darah besok.

Ia tidak hanya akan menghancurkan Elena karena racun atau penyerangan di taman. Ia akan menghancurkan Elena sebagai pengkhianat kekaisaran. Elara tahu, bagi pria paranoid seperti Valerius, pengkhianatan politik jauh lebih tidak termaafkan daripada kecemburuan wanita.

Saat cahaya fajar pertama mulai menyembur dari ufuk timur, berwarna merah pucat seperti darah yang tumpah di salju, Elara berdiri di depan cermin. Ia mengenakan gaun sutra hitam dengan aksen ungu tua—warna berkabung bagi lawan-lawannya. Tangannya yang masih terbalut kasa putih ia sembunyikan di balik lengan gaun yang lebar.

"Wajahmu terlihat sangat dingin hari ini, Nyonya," komentar Rina saat memberikan tongkat penyangga yang terbuat dari kayu hitam berukir elang.

"Ini bukan wajah dingin, Rina. Ini adalah wajah keadilan," Elara menatap pantulannya sekali lagi. Mata kelabunya kini tidak lagi menyimpan keraguan. "Hari ini, istana ini akan belajar bahwa seorang tawanan dari Asteria bisa menjadi hakim, jaksa, dan algojo dalam satu waktu."

Ia melangkah keluar dari paviliun, langkahnya meskipun tertatih, namun penuh dengan wibawa seorang ratu yang sedang menuju tahtanya. Di ujung lorong, para penjaga sudah menunggu untuk mengawalnya menuju Ruang Sidang Agung—tempat di mana nasib kekaisaran akan mulai bergeser dari tangan para pengkhianat menuju tangan sang Ratu yang bangkit dari abu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!