"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."
Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.
Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.
Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?
"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 - Tatapan Mawar
Aura menyibakkan selimut yang menutupi dirinya lalu hendak turun menyusul sosok perawat misterius itu, tapi tubuhnya ternyata masih lemas, kakinya yang hendak menyentuh lantai terasa seperti jeli, tidak memiliki tenaga.
Walaupun Aura sudah memakan nasi goreng ternyata tubuhnya masih belum memiliki tenaga.
"Itu pasti Kak Arfan," bisik Aura pada dirinya sendiri.
Aura memilih untuk memejamkan matanya agar tubuhnya bisa pulih, dan nanti masih ada ujian tambahan, ia harus fokus dengan ujian.
Di luar UKS sana, Mawar melihat sosok perawat yang pawakannya persis seperti Arfan.
"Kak Arfan?"
Mawar segera belari mengejar Arfan, walaupun Arfan memakai masker, pakaian perawat, tetapi Mawar sangat mengenalinya.
"KAK ARFAN!" teriak Mawar tentu membuat Arfan berhenti dan menengok ke belakang.
"Mawar? Ada apa?" tanya Arfan dengan lembut dan tenang.
"Kita perlu bicara Kak!" tegas Mawar. Mawar yang biasanya berbicara tenang dan lembut kini suaranya terlihat marah, entah apa yang membuat dirinya marah.
...****************...
Suara bel tanda istirahat berakhir tiba-tiba menyengat telinga, membuyarkan mimpi Aura yang berantakan. Ia mengerjap berkali-kali, mencoba mengumpulkan nyawa. Syukurlah, rasa pusing yang tadi menghantam kepalanya kini mulai mereda, meski masih menyisakan sedikit denyut halus.
Aura turun dari ranjang UKS perlahan-lahan, memastikan kakinya sudah cukup kuat menapak lantai. Di depan cermin kecil yang buram, ia merapikan jilbabnya yang acak-acakan. Ia menarik napas panjang, mencoba memoles wajahnya agar tidak terlihat terlalu pucat. Ia tidak ingin Zahra dan Mawar kembali panik dan memperlakukannya seperti orang sakit parah.
"Aku harus cepet kembali ke kelas," bisiknya pada diri sendiri. Dengan langkah yang dipaksakan tegak, ia menyusuri koridor menuju kelasnya yang berada di ujung lorong.
Napas Aura masih tersengal saat ia sampai di ambang pintu. Benar saja, Bu Ratna sudah berdiri tegap di depan kelas, jemarinya lincah memilah tumpukan kertas ujian. Tanpa menunggu ditegur, Aura segera menyelinap, duduk di bangkunya sebelum namanya sempat dipanggil.
"Lo beneran udah sembuh, Ra? Jangan maksa, nanti pingsan di tengah ujian malah repot," bisik Zahra, matanya menyipit penuh kekhawatiran.
Aura hanya melempar senyum tipis sambil menggeleng pelan. "Aku udah mendingan kok, Zah. Aman," jawabnya berusaha meyakinkan.
Sementara itu, Mawar yang duduk tak jauh darinya hanya terdiam. Ia memberikan senyum, namun matanya menyiratkan sesuatu yang lain.
Aura mengerutkan kening. Ada yang janggal dengan cara Mawar menatapnya, tatapan itu bukan sekadar tatapan peduli biasa. Mawar seolah-olah sedang meneriakkan sesuatu lewat matanya, sebuah peringatan atau mungkin permintaan maaf yang tertahan di ujung lidah.
"Kenapa, War?" tanya Aura akhirnya, tak tahan dengan keheningan yang aneh itu.
Mendengar suara Aura, Mawar seolah tersentak kecil. Namun, dalam sekejap, ia berhasil menarik kembali topeng ketenangannya. Ia tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan sambil merapikan letak bukunya di atas meja. Sikapnya kembali kalem, persis seperti Mawar yang biasanya.
"Gak papa kok. Aku cuma seneng kamu udah sehat, Ra," ucap Mawar lembut.
Suaranya terdengar sangat tulus, tapi Aura merasa ada nada yang sedikit bergetar di sana. Aura ingin bertanya lebih jauh, tapi suara Bu Ratna yang mengetukkan penggaris ke meja depan langsung membuyarkan niatnya.
"Perhatian semuanya, ujian dimulai dari sekarang. Tidak ada suara, fokus ke kertas masing-masing!" tegas Bu Ratna.
Aura terpaksa membalik kertas ujiannya. Ia mencoba fokus pada soal pertama, tapi hatinya justru sibuk menebak, apa yang sebenarnya Mawar sembunyikan? Batin Aura, tapi Aura yakin jika Mawar tidak mungkin berbuat aneh aneh.
...****************...
Di depan gerbang sekolah, Bima masih berdiri di samping motornya. Matanya yang tajam terus menyisir setiap sudut jalanan yang masih basah sisa hujan tadi. Ia mengabaikan beberapa siswi yang sesekali melirik ke arahnya. Pikirannya cuma satu, Di mana si pengecut Arfan itu?
"Mana cowok sok alim itu? Nggak mungkin dia nggak muncul," bisik Bima pelan, tangannya mengepal di atas stang motor, menahan amarah yang sedari tadi mendidih di dadanya.
Tak lama kemudian, sosok yang ia tunggu-tunggu muncul. Aura keluar dari lobi sekolah dengan wajah yang terlihat jauh lebih segar. Begitu melihat kakaknya, senyum Aura langsung mengembang manis. Ia melambaikan tangannya tinggi-tinggi ke arah Bima.
"Kak Bim!" seru Aura riang. Tanpa pikir panjang, ia mulai berlari kecil menyusuri trotoar menuju gerbang.
Jantung Bima mendadak berdegup kencang melihat Aura yang berlari. Ia sadar betul aspal di depan sekolah itu sangat licin setelah diguyur hujan deras. "Ra! Jangan lari! Licin!" teriak Bima, tapi suaranya kalah oleh deru kendaraan yang lewat.
Benar saja. Tepat di dekat halte, kaki Aura terpeleset. Tubuhnya limbung ke depan, hampir saja menghantam kerasnya aspal jalan raya.
"Aura, awas!!" teriak Bima histeris. Ia hampir melompat dari motornya untuk menangkap adiknya, tapi jarak mereka terlalu jauh.
Namun, sebelum tubuh Aura menyentuh tanah, sebuah tangan dengan sigap menyambar lengan dan pinggangnya. Aura terkesiap, jantungnya serasa mau copot. Ia merasa tubuhnya ditarik kuat hingga kembali berdiri tegak.
Aura mengerjap, mencoba menetralkan napasnya yang memburu. Saat ia mendongak, ia mendapati Rio sedang menatapnya dengan raut wajah yang sangat cemas.
"Hati-hati, Ra. Jalanannya masih licin banget," ucap Rio lembut, tangannya masih belum beranjak dari pinggang Aura.
Aura terdiam sejenak, menatap Rio dengan mata membelalak. Namun, kesadarannya segera kembali saat ia merasakan pegangan Rio yang terasa sedikit terlalu erat. Dengan gerakan cepat dan tegas, Aura mendorong bahu Rio agar menjauh. Ia melangkah mundur beberapa tindak, menjaga jarak dengan napas yang masih tersengal.
"Makasih, Yo. Hampir aja aku jatuh," ucap Aura canggung, matanya langsung mencari keberadaan Bima.
Bima sudah berada di sana, menyeberang jalan dengan langkah lebar yang mengerikan. Wajahnya merah padam, menatap Rio seolah ingin menghancurkan cowok itu di tempat.
"Ra! Sini kamu!" bentak Bima sambil menarik tangan Aura untuk berdiri di belakang punggungnya. Bima menatap Rio dengan tatapan mengancam. "Lain kali kalau mau bantu, nggak usah pake pegang-pegang adek gue!"
Rio hanya terdiam, ia mengangkat kedua tangannya sebagai tanda damai, tapi matanya tetap tenang menatap Bima. Aura yang melihat kakaknya mulai emosi langsung menarik jaket Bima.
"Udah, Kak! Rio cuma bantu tadi. Ayo berangkat, katanya mau ke rumah sakit!" ajak Aura panik, takut Bima malah bikin keributan di depan sekolah.
Bima mendengus kasar, ia memberikan tatapan terakhir yang sangat dingin pada Rio sebelum menuntun Aura menuju motor. Bima tidak sadar, di seberang jalan raya sana, di dalam sebuah mobil dengan kaca gelap, Arfan sedang memperhatikan mereka dengan tangan yang meremas kemudi sampai buku jarinya memutih.
Bersambung......
Wihh, ada yang cemburu nih lucu banget sihh. Jangan lupa like dan komen yaaa🫶🏻.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰