SEASON 1 ; BAB ; 41 TAMAT
SINOPSIS SEASON 2
Tujuh tahun telah berlalu sejak perayaan ulang tahun ke-5 Yayasan Aulia & Hidayat. Kedamaian dan kesuksesan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Putri dan Rizky. PT Adinata Berkah Lestari kini menjadi raksasa bisnis yang dihormati secara global, dan yayasan mereka telah menumbuhkan ribuan anak menjadi generasi yang tangguh. Rara kini berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan tinggi di bidang kedokteran, sementara Arka (11 tahun) dan Bara (9 tahun) tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan penuh kasih.
Namun, kedamaian yang rapuh itu mulai retak ketika serangkaian insiden misterius terjadi. Mulai dari sabotase kecil di operasi perusahaan, ancaman anonim terhadap yayasan, hingga hilangnya beberapa dokumen penting hukum. Putri, dengan naluri hukum dan kehati-hatiannya, mulai menyadari bahwa ada kekuatan yang tidak terlihat sedang bergerak di balik layar—kekuatan yang tidak ingin melihat keluarga Adinata terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hairil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: JARINGAN KEBOHONGAN YANG SEMAKIN RUMIT
Hening yang mencekam menyelimuti ruang tamu yang gelap itu. Putri bisa merasakan tatapan Rizky menusuk dirinya, meski dalam keremangan cahaya dia tidak bisa melihat ekspresi suaminya dengan jelas. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Dia memegang map tebal pemberian Pak Darmawan erat-erat di belakang punggungnya, berusaha menyembunyikannya sebaik mungkin.
"Rizky..." suara Putri bergetar sedikit, tapi dia segera memaksakan dirinya untuk tenang. Dia harus berpikir cepat. "Kamu... kamu belum tidur? Aku pikir kamu sudah tidur sejak tadi."
Rizky tidak langsung menjawab. Dia perlahan berdiri dari sofa, lalu berjalan mendekat ke arah Putri. Langkah kakinya terdengar pelan namun tegas di lantai keramik yang dingin. Saat dia masuk ke dalam sorotan cahaya lampu dari teras, Putri bisa melihat wajahnya yang tampak lelah namun matanya tajam, penuh dengan tanda tanya dan kekhawatiran.
"Aku menunggumu, Putri," jawab Rizky pelan, suaranya rendah namun terdengar jelas. "Aku bangun jam sebelas malam dan melihat tempat tidur masih kosong. Aku cemas. Situasi sedang tidak baik-baik saja, dan kamu pergi tanpa pamit lagi. Kamu tahu kan betapa khawatirnya aku?"
Putri menelan ludah. Dia harus membuat alibi yang sempurna. Dia tidak bisa mengatakan dia bertemu dengan Pak Darmawan. Itu akan menghancurkan segalanya. Matanya berputar cepat, mencari ide. Latar belakangnya sebagai mahasiswa hukum semester akhir yang putus kuliah membantunya berpikir logis dan cepat dalam situasi kritis.
"Aku minta maaf, Rizky," kata Putri akhirnya, dengan nada suara yang lembut namun penuh penyesalan. Dia melangkah maju sedikit, masih menyembunyikan map itu. "Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Hanya saja... malam ini aku tidak bisa tidur. Pikiranku kacau. Aku teringat orang tuaku, dan aku teringat Rara yang kondisinya belum stabil."
Rizky berhenti di hadapannya, menatapnya lekat-lekat. "Lalu? Kenapa kamu harus pergi keluar larut malam begini? Dan apa yang kamu bawa itu?" Dia menunjuk ke arah tangan Putri yang tersembunyi di belakang punggung.
Putri tahu dia tidak bisa menghindar lagi. Dengan gerakan perlahan, dia mengeluarkan map itu dari belakang punggungnya dan menunjukkannya pada Rizky. "Aku... aku pergi ke perpustakaan kota tua, Rizky."
Rizky mengerutkan kening, tampak bingung. "Perpustakaan kota tua? Jam segini? Bukankah perpustakaan sudah tutup sejak sore?"
"Iya, memang sudah tutup," jawab Putri cepat, memainkan perannya dengan baik. "Tapi aku kenal dengan penjaganya, Pak Soleh. Dia pernah bekerja sebagai staf di perusahaan ayahku dulu. Saat orang tuaku meninggal, dia pernah membantu kami sedikit. Aku menghubunginya tadi sore dan meminta izin untuk masuk ke ruang arsip lama secara diam-diam. Aku tahu itu melanggar aturan, tapi aku sangat butuh."
"Untuk apa?" tanya Rizky masih curiga, matanya menatap map itu.
"Aku mencari dokumen-dokumen lama, catatan-catatan bisnis ayahku yang mungkin tersimpan di sana," jawab Putri jujur pada sebagiannya, namun memutar alasannya. "Sejak aku menikah denganmu dan masuk ke keluarga ini, aku sering mendengar nama ayahku disebutkan dalam konteks bisnis kayu. Aku ingin tahu lebih banyak tentang warisan orang tuaku, Rizky. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya mereka kerjakan, apa yang mereka tinggalkan untukku dan Rara. Aku merasa... aku merasa sebagai anak perempuan yang tidak tahu apa-apa tentang orang tuanya sendiri."
Air mata Putri mulai mengalir, kali ini bukan sekadar akting, tapi perasaan tulus yang bercampur dengan rasa bersalah yang mendalam. "Aku tahu ini konyol, dan aku tahu aku seharusnya memintamu menemani atau memberitahumu dulu. Tapi aku malu, Rizky. Aku malu karena terus-menerus terjebak dalam masa lalu. Aku tidak ingin kamu berpikir aku tidak menghargai masa depanku bersamamu. Tapi aku harus melakukan ini. Aku harus menemukan jawabannya."
Rizky menatap wajah Putri yang basah oleh air mata. Dia bisa melihat kepedihan yang tulus di sana. Kecurigaannya perlahan luntur, digantikan oleh rasa iba dan khawatir. Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Putri, menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.
"Putri... Sayangku..." bisik Rizky lembut. "Kenapa kamu tidak memberitahuku? Aku akan mengerti. Aku akan membantumu mencari informasi itu. Kamu tidak perlu melakukan ini sendirian, apalagi di jam yang berbahaya begini."
"Aku takut," isak Putri, menyandarkan kepalanya di dada Rizky, merasakan detak jantung suaminya yang kuat. "Aku takut kamu akan menganggapku berlebihan, atau takut kamu akan menghalangiku karena khawatir. Dan aku benar-benar minta maaf karena membuatmu cemas seperti ini."
Rizky memeluk Putri erat-erat, seolah ingin melindunginya dari segala bahaya di dunia ini. "Aku tidak akan pernah menghalangimu untuk mencari kebenaran tentang orang tuamu, Putri. Aku tahu betapa berartinya mereka bagimu. Tapi janjilah padaku, lain kali kamu akan memberitahuku. Jangan pergi sendirian lagi, terutama di malam hari. Dunia di luar sana berbahaya, dan aku tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi padamu."
Putri mengangguk di dada Rizky, air matanya semakin deras. "Aku janji, Rizky. Maafkan aku."
"Sudah, jangan menangis lagi," kata Rizky lembut, lalu melepaskan pelukannya dan menatap mata Putri. "Jadi, map ini berisi dokumen-dokumen yang kamu temukan?"
Putri mengangguk cepat. "Iya. Pak Soleh mengizinkanku mengambil beberapa arsip lama yang sudah tidak terpakai. Mungkin tidak ada yang penting, tapi aku ingin membacanya pelan-pelan."
Rizky tersenyum tipis, senyum yang penuh pengertian. "Baiklah. Kalau begitu, ayo naik ke kamar. Sudah sangat larut. Kamu butuh istirahat. Besok kita bisa bicarakan lagi jika kamu mau."
Putri menghela napas lega dalam hati. Dia berhasil meyakinkan Rizky. Lagi. Tapi rasa bersalah itu semakin menumpuk di dadanya. Dia baru saja membohongi pria yang mencintainya begitu tulus untuk kedua kalinya dalam waktu yang berdekatan. Dan map yang dia pegang ini bukan berisi arsip bisnis orang tuanya, melainkan bukti kejahatan ayah Rizky sendiri, yang dia dapatkan dari musuh bebuyutan keluarga mereka.
"Ya, ayo naik," jawab Putri pelan, mengikuti langkah Rizky menuju tangga.
Sepanjang malam itu, Putri sulit memejamkan mata. Dia berbaring di samping Rizky yang sudah tidur pulas, memegang map itu di bawah bantalnya. Dia ingin sekali segera membuka map itu dan melihat isinya, tapi dia tidak berani menyalakan lampu atau membuka laptop di kamar, takut Rizky terbangun dan melihatnya.
Keesokan harinya, suasana pagi di rumah Adinata terasa lebih tenang, namun pikiran Putri tetap kacau. Setelah sarapan, Rizky pergi ke kantor polisi untuk urusan yang belum selesai, dan Pak Hidayat juga keluar rumah untuk rapat. Rara sedang bermain di taman belakang dengan pengasuhnya. Putri tahu ini adalah kesempatannya.
Dia segera menghubungi Nina lewat telepon, meminta sahabatnya itu untuk datang ke kamarnya dengan alasan membantu merapikan pakaian. Beberapa saat kemudian, Nina mengetuk pintu kamarnya dan masuk dengan wajah cemas.
"Gimana, Putri? Kemarin kamu pulang larut. Apa yang terjadi? Apakah kamu bertemu dengan Pak Darmawan?" tanya Nina cepat.
Putri mengangguk, lalu mengunci pintu kamar dengan rapat. Dia mengeluarkan map tebal dari lemari pakaiannya—tempat dia menyembunyikannya semalam—dan meletakkannya di atas meja belajar.
"Aku bertemu dengannya, Nina," jawab Putri pelan, suaranya masih bergetar mengingat pertemuan semalam. "Dan dia tahu segalanya. Dia tahu soal orang tuaku, dia tahu soal rencanaku, dan dia tahu aku bertemu dengan Bang Rio."
Nina ternganga. "Ya ampun, Putri! Itu berbahaya sekali! Apa yang dia lakukan? Apakah dia menyakitimu?"
"Tidak, dia tidak menyakitiku. Justru dia menawarkan kerja sama," jawab Putri, lalu membuka map itu. Di dalamnya, tumpukan kertas tebal terlihat jelas. Ada catatan keuangan, salinan dokumen transaksi, dan beberapa kaset rekaman serta flashdisk kecil lainnya. "Dia ingin aku membantunya menjatuhkan Pak Hidayat. Dan sebagai gantinya, dia memberiku ini. Bukti-bukti kejahatan Pak Hidayat yang dia kumpulkan selama bertahun-tahun. Dia juga berjanji memberiku informasi detail tentang kematian orang tuaku."
Nina mendekat dan melihat isi map itu dengan mata terbelalak. "Ini... ini luar biasa, Putri. Dengan bukti sebanyak ini, kita bisa memenangkan kasus ini dengan mudah. Tapi... apakah kamu yakin aman bekerja sama dengan dia? Dia orang yang licik."
"Aku tahu itu berisiko, Nina. Tapi ini satu-satunya cara," kata Putri, mengambil salah satu dokumen dan membacanya sekilas. "Dia juga mengancamku. Jika aku tidak mau, dia akan memberitahu Pak Hidayat dan Rizky segalanya. Aku tidak punya pilihan."
Putri terdiam sejenak, lalu menatap Nina dengan tatapan serius. "Dan kemarin, saat aku pulang, Rizky sudah menungguku di ruang tamu. Dia curiga, Nina. Aku harus berbohong lagi padanya. Aku bilang aku pergi ke perpustakaan kota tua untuk mencari arsip orang tuaku. Dan dia percaya."
Nina menghela napas panjang, duduk di tepi ranjang. "Kamu pintar membuat alibi, Putri. Tapi semakin sering kamu berbohong, semakin besar lubang yang harus kamu tutup nanti. Bagaimana jika Rizky mengetahuinya? Dia akan sangat hancur."
"Aku tahu, Nina. Aku tahu," Putri memegang kepalanya yang terasa pening. "Tapi apa yang bisa aku lakukan? Jika aku memberitahunya sekarang, dia akan bingung harus memihak siapa. Dia mencintaiku, tapi itu ayahnya. Dan Bang Rio juga sudah memperingatkanku soal ini. Aku tidak bisa mengambil risiko merusak hubungan kita sebelum aku punya bukti yang cukup dan rencana yang matang."
Putri kembali menatap dokumen-dokumen di hadapannya. "Sekarang, kita harus memeriksa semua ini. Kita harus memilah mana yang sah secara hukum, mana yang bisa digunakan sebagai bukti kuat. Sebagai mantan mahasiswa hukum, aku tahu mana yang bernilai dan mana yang tidak. Kita harus membuat salinan dari semua ini dan menyimpannya di tempat yang sangat aman. Kita tidak bisa menyimpannya di sini terlalu lama."
"Baiklah," Nina mengangguk tegas. "Aku akan bantu kamu. Aku punya laptop cadangan yang tidak terhubung ke jaringan rumah dan tidak diawasi. Kita bisa memindai dokumen-dokumen ini dan menyalin rekaman-rekaman ini ke dalamnya. Lalu kita akan menyembunyikan perangkat itu di tempat yang tidak akan pernah dicari siapa pun."
Mereka berdua mulai bekerja dengan cepat dan hati-hati. Putri memilah dokumen-dokumen itu, sementara Nina menyiapkan peralatannya. Saat Putri membuka salah satu halaman dari catatan keuangan, matanya terbelalak. Tangannya gemetar saat membaca nama-nama yang tertera di sana.
"Nina... lihat ini," bisik Putri, suaranya bergetar. "Ini bukan hanya catatan keuangan bisnis kayu ilegal. Ini juga catatan pembayaran kepada beberapa pejabat tinggi polisi dan hakim. Dan ada nama satu orang yang sering muncul sebagai penerima dana terbesar... Pak Jaksa Agung pembantu yang saat ini menangani kasus pelabuhan kemarin."
Nina mendekat dan melihatnya. "Wah, ini berarti Pak Hidayat sudah menyuap jaksa yang menangani kasusnya sendiri? Itu berarti kasus di pelabuhan itu kemungkinan besar akan dihentikan atau diputus tidak bersalah meskipun ada bukti."
"Benar," kata Putri tegas, matanya menyala dengan tekad yang baru. "Tapi dengan bukti ini, kita bisa membalikkan keadaan. Kita bisa melaporkan korupsi ini ke komisi pemberantasan korupsi atau ke atasan mereka yang lebih tinggi dan bisa dipercaya. Ini membuktikan bahwa sistem hukum di kota ini sudah banyak yang busuk karena ulah Pak Hidayat."
Putri terus memeriksa dokumen-dokumen itu, dan semakin dia membaca, semakin dia ngeri dengan seberapa luas jaringan kejahatan Pak Hidayat. Namun, di tengah tumpukan kertas itu, dia menemukan sesuatu yang membuat darahnya membeku.
Sebuah amplop kecil berwarna cokelat tua, tertulis tanggalnya bertahun-tahun yang lalu, tepat sekitar waktu kematian orang tuanya. Dengan tangan gemetar, Putri membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat sebuah surat perjanjian yang sudah diwarnai usang, dan sebuah foto hitam putih.
Surat itu adalah perjanjian kerjasama antara Pak Hidayat dan seorang kontraktor bernama Pak Suryo. Isinya menyebutkan tentang pembangunan "proyek khusus" di vila pinggiran kota milik orang tua Putri, dengan biaya yang sangat besar. Namun, catatan kecil di pinggir surat itu, tulisan tangan Pak Darmawan, tertulis: "Pembayaran untuk 'pembersihan' aset Aulia. Hidayat ingin semua jejaki hilang."
Dan foto itu... foto itu menunjukkan orang tuanya sedang berbicara dengan Pak Hidayat dan Pak Darmawan di teras vila mereka, beberapa hari sebelum kecelakaan itu terjadi. Di belakang mereka, terlihat sosok pria lain yang wajahnya tidak terlalu jelas, tapi postur tubuhnya terasa familiar bagi Putri.
"Siapa pria ini?" gumam Putri pelan, menatap foto itu lekat-lekat.
"Tunggu..." Nina menyipitkan matanya. "Wajahnya agak samar, tapi... bukankah itu mirip dengan Pak Soleh, penjaga perpustakaan yang kamu sebut tadi? Pria yang katanya pernah bekerja di perusahaan ayahmu?"
Putri terkejut. Dia menatap foto itu lagi. Benar! Pria di belakang itu memang sangat mirip dengan Pak Soleh yang dia temui beberapa kali saat kecil. Tapi kenapa Pak Soleh ada di foto itu bersama Pak Hidayat dan Pak Darmawan? Dan kenapa Putri tidak pernah melihat foto ini sebelumnya?
"Jadi... Pak Soleh bukan hanya mantan pegawai ayahku yang baik hati?" bisik Putri, perasaannya campur aduk antara kaget dan curiga. "Apakah dia juga terlibat? Atau apakah dia saksi mata yang melihat pertemuan itu?"
"Kita harus berhati-hati, Putri," kata Nina waspada. "Kamu bilang kamu menghubunginya kemarin. Bagaimana jika dia memang bekerja untuk Pak Hidayat atau Pak Darmawan? Alibimu kemarin bisa saja terbongkar jika dia melapor pada mereka."
Putri mengangguk setuju. "Kamu benar. Kita tidak bisa mempercayai siapa pun sekarang. Kecuali kamu, Nina. Dan mungkin Bang Rio."
Putri menyimpan foto dan surat itu dengan hati-hati. Ini adalah bukti baru yang sangat krusial. Ini menghubungkan Pak Hidayat secara langsung dengan rencana "pembersihan" terhadap orang tuanya.
"Kita harus menyelesaikan penyalinan semua bukti ini secepatnya," kata Putri tegas. "Dan setelah ini, aku harus mencari tahu siapa sebenarnya Pak Soleh itu. Dan aku juga harus memikirkan cara menghadapi Pak Darmawan. Dia pasti akan segera menghubungiku lagi untuk menuntut informasi. Aku tidak bisa memberinya apa-apa sembarangan, tapi aku juga tidak bisa membuatnya curiga bahwa aku sedang memainkan permainan ganda ini."
Nina mengangguk, jemarinya terus bergerak cepat di atas keyboard laptop cadangannya, memindai halaman demi halaman dokumen dengan presisi. "Aku mengerti. Kita harus berhati-hati di setiap langkah. Satu kesalahan kecil, dan semuanya bisa hancur. Termasuk hubunganmu dengan Rizky."
Putri terdiam, mendengar nama Rizky disebut. Bayangan wajah suaminya tadi malam, penuh kekhawatiran dan kepercayaan, kembali menghantuinya. "Aku tahu, Nina. Setiap kali aku berbohong padanya, rasanya seperti ada pisau yang menusuk dadaku. Dia begitu baik, begitu tulus. Dan dia bahkan tidak tahu bahwa istrinya sedang bersekongkol dengan musuh keluarganya untuk menjatuhkan ayahnya sendiri."
"Tapi kamu melakukan ini untuk kebenaran, Putri," kata Nina lembut, berhenti sejenak dari pekerjaannya untuk menatap sahabatnya. "Kamu melakukan ini untuk orang tuamu. Dan suatu hari nanti, jika dia benar-benar mencintaimu, dia akan mengerti. Mungkin... mungkin dia bahkan akan membantumu, seperti yang rencananya akan terjadi nanti."
Putri tersenyum tipis, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Aku berharap begitu. Tapi aku takut, Nina. Aku takut saat kebenaran terungkap, dia akan membenciku. Dia akan melihatku sebagai monster yang memanfaatkan cintanya untuk balas dendam."
"Kamu bukan monster, Putri. Kamu adalah anak yang ingin membalaskan keadilan untuk orang tuanya," tegas Nina. "Sekarang, ayo kita selesaikan ini. Sudah hampir siang, dan kita tidak tahu kapan Rizky atau Pak Hidayat akan pulang."
Mereka kembali bekerja dalam diam, hanya terdengar suara klik mouse dan dengungan lembut dari mesin pemindai. Butuh waktu hampir dua jam untuk menyelesaikan penyalinan semua dokumen dan mengonversi rekaman-rekaman kaset ke dalam format digital. Setelah semuanya selesai, Nina mengeluarkan hard disk eksternal kecil yang terenkripsi dan menyalin semua data ke dalamnya, serta membuat satu salinan lagi di flashdisk terpisah sebagai cadangan.
"Ini," kata Nina, menyerahkan hard disk dan flashdisk itu kepada Putri. "Simpan ini di tempat yang sangat aman. Jangan pernah membawanya keluar kecuali benar-benar perlu. Dan jangan pernah menghubungkannya ke perangkat yang terhubung ke internet."
Putri menerimanya dengan tangan gemetar, lalu menyembunyikannya di dalam kotak hiasan kecil di dalam lemari pakaiannya, di balik tumpukan baju-baju tebal yang jarang dipakai. "Terima kasih, Nina. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu."
Nina tersenyum dan memeluk Putri sebentar. "Kita sahabat, kan? Kita akan melewati ini bersama-sama. Sekarang, aku harus pergi sebelum ada yang curiga. Ingat, hati-hati."
Setelah Nina pergi, Putri duduk kembali di kursi meja belajarnya, menatap map asli yang berisi bukti-bukti itu. Dia tidak bisa menyimpannya di sini terlalu lama. Terlalu berisiko. Dia harus memikirkan tempat persembunyian yang lebih baik, atau mungkin mengembalikannya ke Pak Darmawan dengan alasan tertentu nanti. Namun, untuk saat ini, dia harus menyimpannya dengan rapat.
Siang itu berlalu dengan cepat. Putri mencoba bersikap normal, bermain dengan Rara dan menyiapkan makan siang. Namun, pikirannya terus melayang pada foto dan surat perjanjian yang dia temukan. Siapa sebenarnya Pak Soleh? Apakah dia benar-benar terlibat, atau dia hanya saksi yang takut? Putri memutuskan dia harus menemui Pak Soleh lagi, tapi kali ini dengan persiapan yang matang. Dia tidak akan lagi melihatnya sebagai orang tua yang baik hati, melainkan sebagai seseorang yang mungkin menyimpan rahasia besar.
Menjelang sore, suara mobil memasuki halaman rumah terdengar. Putri segera menegakkan punggungnya. Rizky pulang.
Putri menyembunyikan map itu dengan cepat di dalam lemari, lalu berjalan keluar kamar dengan senyum yang dipaksakan. Dia bertemu Rizky di lantai bawah, baru saja masuk dari pintu utama. Wajah Rizky tampak lebih lelah dari pagi tadi, dan ada garis tegang di antara alisnya.
"Kamu pulang, Rizky?" sapa Putri lembut, mendekatinya dan membantu melepas jasnya. "Bagaimana tadi di kantor polisi? Apakah semuanya berjalan lancar?"
Rizky menghela napas panjang dan mengusap wajahnya kasar. Dia menatap Putri, dan untuk sesaat, Putri merasa jantungnya berhenti berdetak, takut suaminya melihat sesuatu yang mencurigakan di matanya. Namun, tatapan Rizky hanya penuh kelelahan dan kekhawatiran.
"Tidak, Putri. Tidak berjalan lancar," jawab Rizky pelan, lalu berjalan menuju sofa dan duduk. "Jaksa yang menangani kasus pelabuhan itu... dia tiba-tiba mengumumkan bahwa bukti yang ditemukan tidak cukup kuat untuk menuntut Ayah. Dia bilang ada kesalahan prosedur dalam penyitaan barang bukti. Kasus ini kemungkinan besar akan dihentikan."
Putri merasa darahnya membeku. Dia tahu alasannya. Dia baru saja melihat bukti pembayaran suap kepada jaksa itu di dokumen pemberian Pak Darmawan. Jadi itu benar. Pak Hidayat sudah mengatur segalanya.
"Itu... itu tidak adil, Rizky," kata Putri, berusaha terdengar kaget dan kecewa, meski di dalam hati dia sudah tahu. "Bagaimana bisa begitu tiba-tiba? Bukankah buktinya cukup jelas?"
"Sepertinya ada kekuatan yang lebih besar yang bermain di sini," gumam Rizky, suaranya penuh frustrasi. Dia menoleh ke arah Putri dan menggenggam tangan istrinya erat-erat. "Aku takut, Putri. Aku takut Ayah benar-benar terlibat dalam hal-hal yang tidak bisa aku pahami lagi. Aku mencoba mencari tahu, tapi setiap kali aku melangkah, seolah ada tembok tinggi yang menghalangiku. Dan sekarang... aku merasa sistem ini melindunginya."
Putri menatap mata Rizky yang penuh keraguan dan kesedihan. Di momen itu, dia hampir saja ingin menceritakan semuanya. Hampir saja ingin mengatakan bahwa dia punya bukti, bahwa dia tahu semuanya, bahwa mereka bisa melawan bersama. Tapi ingatan akan ancaman Pak Darmawan, dan ketakutan akan kehilangan Rizky sebelum waktunya tiba, menahannya.
"Kamu tidak sendirian, Rizky," kata Putri lembut, membalas genggaman tangan suaminya. "Aku di sini. Kita akan hadapi ini bersama-sama. Kebenaran pasti akan terungkap suatu hari nanti."
Rizky menatapnya dalam-dalam, seolah mencari kekuatan di mata Putri. "Aku harap kamu benar, Sayang. Aku sangat berharap kamu benar."
Dia menarik Putri ke dalam pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. Putri memejamkan matanya, merasakan kehangatan tubuh Rizky, namun hatinya terasa berat dan dingin. Dia sedang memeluk pria yang dicintainya, tapi di lemari kamarnya tersimpan bukti yang akan menghancurkan ayahnya, dan di luar sana, musuh-musuh mereka sedang mengatur strategi baru.
Malam itu, saat Rizky sudah tidur lelap karena kelelahan, Putri terbangun lagi. Dia duduk di tepi ranjang, menatap wajah suaminya dalam remangan cahaya bulan yang masuk dari jendela. Dia mengambil ponselnya, dan dengan hati-hati, dia mengetik sebuah pesan singkat ke nomor yang tidak dikenal—nomor yang digunakan Pak Darmawan untuk menghubunginya.
[Besok sore, di taman kota tua. Ada yang ingin aku bicarakan. - P]
Putri mengirim pesan itu, lalu segera menghapusnya dari kotak keluar dan riwayat percakapan. Dia tahu dia harus bertemu dengan Pak Darmawan lagi. Dia harus memberinya informasi, tapi dia juga harus menanyakan tentang Pak Soleh dan detail kematian orang tuanya. Permainan ini baru saja memasuki babak yang lebih berbahaya, dan Putri tahu dia tidak bisa mundur lagi.
Dia menyimpan ponselnya, lalu berbaring kembali di samping Rizky, memeluk suaminya dari belakang. "Maafkan aku, Rizky," bisiknya pelan di dalam hati. "Tolong, tetaplah di sisiku saat semuanya terungkap nanti."
[PERTANYAAN UNTUK PEMBACA]: Putri baru saja mengetahui bahwa kasus pelabuhan yang melibatkan Pak Hidayat akan dihentikan karena suap, dan dia menyadari betapa kuatnya jaringan kejahatan ayah mertuanya. Dia juga baru saja mengirim pesan untuk bertemu kembali dengan Pak Darmawan, sambil menyembunyikan semua rahasia ini dari Rizky yang sedang putus asa mencari kebenaran. Jika kamu jadi Putri, apakah kamu akan terus menyembunyikan semuanya, atau ada tanda-tanda yang akan kamu berikan secara halus kepada Rizky agar dia mulai menyelidiki ayahnya sendiri?