NovelToon NovelToon
JANJI CINTA SELAMANYA

JANJI CINTA SELAMANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Teen Angst / Romansa / Slice of Life / Konflik etika
Popularitas:690
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.

Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.

Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.

Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: RAHASIA DI BALIK PAGAR KAYU

BAB 3: RAHASIA DI BALIK PAGAR KAYU

Pagi di Kota Simla biasanya terasa menyejukkan, namun bagi Vanya, udara pagi itu terasa mencekik. Sejak kejadian tabrakan di pasar dan insiden di depan rumahnya kemarin, bayangan Arlan tidak mau pergi dari benaknya. Pria itu adalah anomali—sesuatu yang salah namun terasa begitu nyata di tengah kepalsuan hidup yang dijalani Vanya selama ini.

Vanya berdiri di balkon kamarnya, memandangi taman bunga mawar yang ditata sangat simetris oleh tukang kebun ayahnya. Semuanya di rumah ini harus sempurna. Namun, di matanya, kesempurnaan itu kini tampak seperti penjara.

"Vanya, apa yang kau lamunkan?" suara lembut Santi, ibunya, mengejutkannya.

"Ibu... apakah salah jika seseorang ingin mempertahankan harga dirinya, meskipun dia tidak punya harta?" tanya Vanya tiba-tiba.

Santi menghentikan kegiatannya merapikan taplak meja. Matanya memancarkan ketakutan yang dalam. "Di rumah ini, Vanya, harga diri adalah apa yang dikatakan ayahmu. Jangan mencari masalah. Ayahmu sedang sangat marah karena pemuda penjual susu itu."

Vanya terdiam. Ketakutan ibunya justru menjadi bahan bakar bagi rasa penasarannya. Ia ingin tahu, apa yang membuat Arlan begitu berani? Dari mana asalnya kekuatan yang sanggup menatap mata Hendra Kashyap tanpa gemetar sedikit pun?

Dengan alasan ingin membeli buku referensi untuk kuliahnya, Vanya berhasil menyelinap keluar rumah tanpa pengawalan ketat Gani, kakaknya. Ia menyetop sebuah angkutan umum, sesuatu yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya, dan meminta sopir mengantarkannya ke daerah pinggiran Simla—tempat yang menurut selentingan orang adalah area peternakan susu milik Sujati.

Perjalanan itu membawa Vanya ke sisi Simla yang belum pernah ia jamah. Jalanan aspal berganti menjadi tanah merah yang diapit oleh pepohonan rindang. Udara di sini tidak berbau parfum mewah, melainkan aroma rumput basah dan tanah yang jujur.

Vanya turun di depan sebuah pagar kayu yang catnya sudah memudar namun tampak kokoh. Di balik pagar itu, terdapat sebuah rumah mungil yang dikelilingi halaman luas. Sapi-sapi yang bersih tampak merumput dengan tenang.

Vanya bersembunyi di balik pohon beringin besar, matanya mengamati suasana rumah itu. Tiba-tiba, sosok yang dicarinya muncul.

Arlan keluar dari arah kandang. Kali ini, ia tidak mengenakan pakaian pengantar susunya. Ia bertelanjang dada, memperlihatkan tubuh yang kencang dan berkeringat karena kerja keras. Di bahunya, ia memikul tumpukan jerami yang sangat besar.

Namun, yang membuat Vanya terpaku bukan hanya fisiknya, melainkan bagaimana Arlan memperlakukan makhluk di sekitarnya. Ia melihat Arlan berhenti di depan seekor anak sapi, mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang, dan membisikkan sesuatu yang membuat Arlan sendiri tertawa lepas. Senyum itu... itu adalah senyum paling tulus yang pernah Vanya lihat di seluruh kota Simla.

"Arlan! Kemarilah, Nak. Makan siangmu sudah siap!" teriak Sujati dari teras.

Arlan segera berlari kecil menuju ibunya. Ia tidak langsung makan, melainkan mengambil tangan ibunya dan menciumnya dengan takzim. Vanya merasakan sesak di dadanya. Di rumahnya, Hendra menuntut rasa hormat sebagai sebuah kewajiban, tapi di sini, Arlan memberikan rasa hormat sebagai bentuk cinta.

Saat Arlan hendak kembali ke kandang, seekor anjing penjaga kecil mulai menggonggong ke arah pohon tempat Vanya bersembunyi.

"Ada apa, Raja?" Arlan menoleh, matanya menyipit waspada. "Siapa di sana?"

Vanya panik. Ia mencoba berbalik untuk lari, namun sepatunya yang berhak tinggi membuatnya goyah di atas tanah yang tidak rata. Ia tersandung akar pohon dan memekik kecil.

"Akh!"

Vanya sudah siap merasakan dinginnya tanah, namun sebuah lengan yang kokoh dan hangat menangkap pinggangnya. Tubuhnya ditarik dengan satu sentakan kuat hingga menempel pada dada bidang yang bidang.

Vanya membuka mata. Wajah Arlan tepat berada di depan matanya. Begitu dekat hingga ia bisa merasakan napas Arlan yang sedikit memburu. Aroma keringat, matahari, dan sabun herbal menyerbu indra penciumannya. Untuk pertama kalinya, Vanya merasa jantungnya berdetak bukan karena takut pada ayahnya, tapi karena sesuatu yang lain.

Arlan menyadari siapa yang ada di pelukannya. Ia perlahan melepaskan pegangannya, namun tidak menjauh. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang provokatif.

"Nona Vanya?" Arlan melipat tangan di depan dada. "Apakah Simla begitu kecil sampai putri seorang bangsawan bisa tersesat di kandang sapi?"

Vanya merapikan pakaiannya dengan tangan gemetar. "A-aku tidak tersesat. Aku hanya... aku ingin memastikan bahwa kau tidak merencanakan hal buruk setelah penghinaan ayahku kemarin."

Arlan tertawa, suara tawa yang dalam dan merdu. "Memastikan? Atau kau merindukan suara motorku yang berisik? Lihatlah dirimu, Nona. Gaun mahalmu sudah terkena duri, dan sepatumu tidak cocok untuk tanah ini. Kau seperti burung merak yang mencoba masuk ke liang kelinci."

"Kau benar-benar tidak punya sopan santun!" seru Vanya, meski wajahnya memerah padam.

"Arlan, siapa tamu kita?" Sujati mendekat dengan wajah penuh keramahan.

Arlan menoleh, wajahnya melembut seketika. "Ibu, ini putri dari Tuan Hendra. Gadis yang kemarin hampir aku tabrak di pasar."

Sujati tersenyum manis, mengabaikan status sosial mereka. "Oh, Nak Vanya? Mari masuk, Nak. Jangan berdiri di luar, Simla sedang terik hari ini. Mari minum teh susu buatan Ibu."

Vanya tidak bisa menolak kehangatan mata Sujati. Ia mengikuti mereka masuk ke dalam rumah yang sangat sederhana. Di dalamnya tidak ada lampu kristal atau karpet Persia, namun rasanya begitu hangat. Semuanya terbuat dari kayu dan kain tenun tangan.

Arlan duduk di seberang Vanya, memperhatikannya dengan tatapan intens saat Vanya menyesap teh susu yang disuguhkan.

"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Vanya risih.

"Aku hanya heran," jawab Arlan tenang. "Kau punya segalanya di rumahmu. Tapi di sini, kau terlihat seperti orang yang baru pertama kali bernapas dengan lega. Katakan padaku, Vanya... apakah di balik tembok mewah itu, kau benar-benar bahagia?"

Pertanyaan itu menghantam Vanya tepat di ulu hati. Ia meletakkan cangkirnya, matanya berkaca-kaca. "Kebahagiaan bukan sesuatu yang bisa dipilih oleh orang sepertiku, Arlan."

"Kebahagiaan itu diperjuangkan, bukan diberikan," balas Arlan tegas. Ia memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Vanya. "Ayahmu berpikir dia bisa membeli dunia. Tapi dia tidak bisa membeli kenyataan bahwa putrinya sendiri datang ke tempat 'rendah' ini hanya untuk mencari jawaban yang tidak bisa ia temukan di rumahnya."

Vanya terdiam seribu bahasa. Untuk pertama kalinya, seseorang berhasil membaca jiwanya dengan begitu akurat. Di rumah mungil di pinggiran Simla ini, Vanya merasa lebih dikenal oleh seorang asing daripada oleh keluarganya sendiri.

Saat matahari mulai turun, Arlan mengantar Vanya sampai ke jalan besar untuk mencari taksi. Mereka berjalan bersisian dalam diam, namun ada ketegangan yang manis di antara mereka.

"Arlan," panggil Vanya saat sebuah taksi mendekat.

"Ya?"

"Terima kasih untuk tehnya... dan terima kasih karena telah menangkapku tadi."

Arlan mengangguk tipis, matanya menatap taksi itu lalu kembali ke Vanya. "Berhati-hatilah, Vanya. Simla adalah kota yang indah, tapi bayangan ayahmu ada di mana-mana. Jangan biarkan dia tahu kau di sini, atau dia akan menghancurkan satu-satunya tempat di mana aku bisa memerah susu dengan tenang."

Vanya masuk ke dalam taksi dengan perasaan campur aduk. Saat mobil itu melaju, ia menatap dari kaca belakang. Arlan masih berdiri di sana, sosok yang tegak dan tak tergoyahkan, seperti gunung yang menjaga kota Simla.

1
falea sezi
mending bawa pergi jauh deh arlan
falea sezi
ksian bgt arlan knp semua novel mu isinya sedih teros kapan bahagia nya q baca semua nya tp isinya menderita trs jd g mood baca pdhl mau ksih hadiah jd males
falea sezi
menyimakkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!