Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Jantung
Udara malam di Surabaya berbau obat dan disinfektan. Lampu neon di ruang IGD memantulkan cahaya dingin di lantai putih yang nyaris mengilap. Di balik tirai hijau, Bu Sasmi terbaring lemah, selang oksigen menutupi hidungnya dan monitor jantung berdetak pelan, ritmenya tak beraturan. Dokter yang sama dengan pagi tadi kini sibuk memeriksa grafik denyut, wajahnya tegang namun tenang pertanda situasi tak baik-baik saja.
Di luar ruangan, suara langkah terburu-buru dan bisikan cemas memenuhi lorong. Sultan berdiri di depan pintu, kedua tangannya terkepal, rahangnya mengeras. Tatapannya menusuk ke arah adiknya.
“Ini semua gara-gara kamu.” suaranya tajam seperti belati. “Kalau sampai terjadi sesuatu pada Ibu, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Aluna.”
Aluna berdiri kaku. Wajahnya masih menyisakan luka memar yang belum sembuh, matanya sembab karena tangis yang tak pernah benar-benar berhenti. Ia menunduk, mencoba mengatur napas tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Sebelum ia sempat menjawab, Friska yang berdiri di sisi lain mencoba menenangkan.
“Sudahlah Sultan. ” katanya lembut. “Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menyalahkan siapa pun. Kita lebih baik berdoa untuk kesehatan Ibu.”
Namun kata-katanya justru memancing bara.
“Diam kamu!” bentak Sultan tajam. “Kamu bukan siapa-siapa di sini. Wanita murahan. Pendosa."
Friska menegang tapi tidak mundur. Ia menatap balik dengan mata berair, menahan amarah yang hampir meledak.
Aluna mengangkat wajahnya, sorot matanya dingin. “Cukup, Kak. Apa Kakak pikir, Kakak lebih baik dari kami?” suaranya bergetar namun tegas. “Kita semua pendosa, hanya saja jalurnya berbeda. Jadi jangan sok menghakimi.”
Urat di leher Sultan menegang. Ia melangkah maju, emosi menguasai akal. Tangan kasarnya menarik jilbab Aluna hingga nyaris terlepas.
“Kurang ajar kamu.”
“Ahh, lepasin, Kak! Sakit." seru Aluna, berusaha menahan agar jilbabnya tidak benar-benar terlepas.
Sebelum keadaan makin kacau, Friska melangkah maju dan menarik tangan Sultan. “Sultan, lepasin Aluna! Ini rumah sakit."
Namun Sultan mendorongnya. “Diam kamu! Kalian semua penyebab Ibu masuk rumah sakit.”
Keributan itu menarik perhatian para pengunjung. Beberapa keluarga pasien berusaha menengahi.
“Pak, tolong ini rumah sakit.” ujar seorang bapak tua.
“Jadi laki-laki kenapa kasar sekali?” tambah yang lain dengan nada tak setuju.
Satpam segera datang, memisahkan mereka. Sultan akhirnya melepas cengkeramannya, napasnya memburu. Aluna terhuyung, memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.
“Lun, kamu nggak apa-apa?” tanya Friska, merapikan jilbab sahabatnya dengan lembut.
Aluna menggeleng, air mata jatuh tanpa bisa ia tahan.
Belum sempat mereka tenang, langkah cepat terdengar dari ujung lorong. Annisa datang dengan wajah garang. Tanpa banyak kata, PLAAAKKK!! tamparan keras mendarat di pipi Friska.
“Mb…Mbak Nisa. ” seru Aluna kaget.
Sultan menoleh pada istrinya. Annisa berdiri tegak, dagunya terangkat. “Apa? Kamu mau membela perempuan yang sudah menghancurkan kamu?” katanya dingin, matanya menatap tajam pada Aluna. “Dimana otak kamu, Aluna? Kamu itu wanita berpendidikan, tapi kerja di tempat seperti itu? Gara-gara kamu, Ibu sampai di rumah sakit. Memalukan."
“Cukup, Mbak.” Aluna membalas dengan nada getir. “Nggak usah sok peduli.”
“Aluna.” bentak Sultan. “Kamu benar-benar ingin ditampar lagi, ya?”
Suasana makin panas, tapi sebelum tangan kembali terangkat, tirai ruang IGD terbuka. Dokter keluar dengan wajah serius. Semua terdiam. Aluna segera mendekat, matanya memohon.
“Dok… gimana Ibu saya? Dia baik-baik aja, kan?”
Dokter menghela napas panjang. “Bukankah tadi saya sudah bilang kondisi Bu Sasmi harus dijaga? Beliau tidak boleh stres berlebihan. Sekarang Bu Sasmi kritis. Beliau mengalami serangan jantung. Karena punya riwayat rheumatoid arthritis akut, terjadi penyumbatan pada pembuluh darah koroner. Aliran darah ke otot jantung terhenti, sehingga pompa jantungnya menurun drastis. Syukurlah beliau cepat dibawa ke sini. Kalau tidak…” ia menatap mereka bergantian, “beliau bisa saja tidak tertolong.”
Seketika tubuh Aluna limbung. Friska sigap memeluknya sebelum jatuh. Sultan pun memegangi dinding, wajahnya mendadak pucat.
“Ibu… hiks… apa saya bisa lihat Ibu, Dok?” tanya Aluna terbata.
“Untuk sementara jangan dulu. Kami masih memantau perkembangannya. Jika tidak ada perubahan, kami akan melakukan operasi jantung.”
“Operasi?” suara Sultan nyaris tak keluar.
Dokter mengangguk. “Ya. Ini untuk menyelamatkan nyawa beliau. Karena jantung sudah tidak bisa memompa darah dengan baik, kami harus segera menanganinya. Untuk lebih jelasnya, mari ikut ke ruangan saya.”
Mereka bertiga, Sultan, Aluna dan Annisa mengikuti dokter meninggalkan Friska di lorong. Friska hanya bisa menatap punggung sahabatnya yang tampak rapuh.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka keluar dari ruangan dokter. Wajah mereka muram. Aluna menunduk, matanya kosong. Friska segera menghampiri.
“Bagaimana, Lun? Apa Ibu harus dioperasi?” tanyanya cemas.
Aluna menarik napas panjang. “Iya, Fris. Dan biayanya… sangat mahal. Aku nggak tahu harus cari dari mana.”
Sultan hanya duduk di kursi panjang, menunduk dalam frustasi. Annisa berdiri di sampingnya, tangannya terlipat di dada.
“Rumah sakit ini nggak salah, ya?” omelnya. “Kenapa operasi saja mahal sekali?”
“Memang berapa, Lun?” tanya Friska.
Belum sempat Aluna menjawab, Annisa menyambar, “Nggak usah tanya-tanya. Kamu juga nggak akan bantu.”
Friska mendengus pelan, berusaha menahan diri. Tapi Aluna menatapnya sedih. “Tiga ratus delapan puluh lima juta, Fris.” katanya lemah.
“APA?” Friska hampir berteriak. Beberapa orang menoleh.
Annisa hanya mencibir. “Kampungan.”
“Yang bener, Lun? Mahal sekali." ucap Friska tak percaya.
Aluna mengangguk, suaranya pecah. “Iya… dan Ibu harus segera dioperasi. Kalau tidak, nyawanya dalam bahaya. Aku harus gimana, Fris…” Ia menutup wajahnya dan menangis dalam pelukan sahabatnya.
Annisa menatap dingin. “Ini semua gara-gara kamu, Aluna. Kalau saja kamu nggak bergaul sama perempuan murahan ini, kamu juga nggak bakal bikin Ibu sampai sekarat.”
“Jaga ucapanmu, Mbak.” Aluna menatap balik dengan amarah.
Sultan bangkit. “Yang dikatakan Nisa memang benar. Ini semua gara-gara kamu. Ibu jadi seperti ini. Kamu pembawa sial, Aluna.”
Kata-kata itu menancap dalam. Aluna merasa seolah napasnya tersangkut di dada. Ia tak lagi mampu menangis.
“Dan sekarang.” lanjut Sultan, suaranya menegang, “kita mau ambil dari mana uang sebanyak itu, hah?”
Aluna terdiam. Pikirannya berputar cepat, mencari celah di antara keputusasaan. “Aku ada tabungan lima belas juta, Kak. Kakak ada berapa? Sisanya nanti kita pinjam.” katanya pelan.
Sultan menatap kosong. “Aku nggak punya tabungan sama sekali.”
Friska hanya bisa menggeleng pelan.
Aluna lalu menatap Annisa, suaranya penuh harap. “Mbak, aku pinjam perhiasan Mbak dulu, ya? Nanti aku ganti.”
“Tidak.” potong Annisa cepat. “Perhiasan aku nggak akan aku korbankan. Kamu aja yang minjem. Aku nggak mau tahu.”
“Tapi Mbak, Ibu harus segera dioperasi…” Aluna hampir berlutut.
Sultan menengahi, suaranya mulai melemah. “Nisa, Mas pinjam dulu, ya. Nanti Aluna pasti ganti.”
“Tidak, Mas.” Annisa menepis tangan suaminya. “Aluna yang bikin Ibu sakit, kenapa aku yang harus berkorban? Tidak akan."
Hening mendadak menyelimuti lorong. Hanya bunyi mesin oksigen dari balik tirai IGD yang terdengar samar.
Friska akhirnya bersuara. “Lun, aku ada tabungan empat puluh juta. Kamu bisa pakai dulu untuk Ibu.”
Aluna menatap sahabatnya itu dengan mata merah. “Bener, Fris?”
Friska mengangguk mantap. “Iya, ambil aja. Jangan pikirin aku.”
Air mata Aluna kembali mengalir, kali ini karena rasa syukur dan sedih yang bercampur. “Terima kasih, Fris… makasih banyak…”
Tapi ia tahu, masih banyak kekurangannya. Ia menatap Annisa sekali lagi, berharap secercah iba. Namun perempuan itu hanya mengalihkan pandangan, seolah Aluna tak ada di sana.
Di luar, malam Surabaya semakin larut. Angin dingin menembus jendela rumah sakit, membawa aroma hujan pertama. Aluna menatap ke arah ruang IGD di balik tirai itu, ibunya berjuang antara hidup dan mati.
Ia menautkan kedua tangannya, berbisik lirih, “Ya Allah… jangan ambil Ibu dulu… biar aku saja yang Kau hukum….”
Dan di antara kesunyian itu, tangis kecilnya menjadi doa yang paling jujur di malam yang panjang itu.