NovelToon NovelToon
COLD MAFIA, WILD FLAME

COLD MAFIA, WILD FLAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.

Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.

Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:

Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.

Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Hanggar tetap sunyi, namun bukan sunyi yang kosong.

Sunyi yang menunggu kebenaran diucapkan.

Lyra berdiri di hadapan Damian, jarak di antara mereka hanya satu langkah. Ia tidak memaksa. Tidak menuntut. Tapi tatapannya cukup untuk mengatakan bahwa ia tidak akan mundur dari jawaban.

Damian memalingkan pandangan dari proyeksi simbol di udara.

Untuk pertama kalinya, bukan ancaman dari luar yang memenuhi ruangan.

Melainkan sesuatu dari dalam dirinya sendiri.

Elena mematikan tampilan holografis, memberi ruang pada keputusan yang hanya bisa diambil oleh satu orang.

Kael tetap diam, namun posisinya sedikit berubah—seolah menjaga Damian bukan dari musuh, tapi dari masa lalu yang sedang bangkit.

Lucian menutup perangkatnya perlahan. Bahkan ia tidak melontarkan komentar.

Aidan berdiri di bayangan, mengamati tanpa berkedip.

Akhirnya, Damian berbicara.

“Ada masa ketika namaku bukan Damian Alveros.”

Kalimat itu jatuh berat.

Raina menutup mulutnya pelan. Sierra menegang. Zaya hanya memperhatikan dengan fokus yang semakin tajam.

Lyra tidak bereaksi berlebihan.

Ia hanya mendengar.

“Identitas itu dihapus,” lanjut Damian. “Bukan untuk melindungiku… tapi untuk menghapus jejak operasi yang gagal.”

Orion bersandar pada meja, suaranya rendah, “Operasi apa?”

Damian menatap lurus ke depan, seolah melihat sesuatu yang tidak ada di ruangan itu.

“Operasi pengambilalihan jaringan bayangan internasional. Misi yang seharusnya mengakhiri konflik lama.”

Draven menghela napas pelan. “Tapi gagal.”

Damian mengangguk sekali.

“Semua yang terlibat dinyatakan mati.”

Lyra merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.

“Termasuk kau.”

“Ya.”

Keheningan menebal.

Elena melangkah maju setengah langkah. “Ada satu nama yang muncul kembali bersama simbol itu.”

Damian menutup mata sesaat.

Seolah ia sudah tahu.

“Siapa?” tanya Kael.

Elena menjawab tanpa ragu.

“Orang yang memimpin operasi bersama Damian sebelum identitasnya dihapus.”

Lucian berbisik pelan, “Partner.”

Aidan menambahkan datar, “Dan kemungkinan pengkhianat.”

Damian membuka mata.

Tatapannya kembali dingin.

Namun sekarang dingin itu memiliki arah.

“Namanya… Veyron.”

Nama itu menggema di ruang hanggar seperti gema masa lalu yang menolak mati.

Lyra menatap Damian, mencoba membaca sesuatu di balik ekspresinya.

“Kau mengira dia mati?” tanyanya pelan.

“Semua bukti menunjukkan itu,” jawab Damian.

Zaya berbicara tenang, “Jika seseorang sengaja menghapus identitasnya, berarti ia tidak ingin ditemukan.”

Draven menambahkan, “Atau menunggu waktu yang tepat untuk muncul.”

Orion tersenyum tipis. “Dan sekarang waktunya tiba.”

Sierra menggenggam tangan Lyra lebih erat. “Apa artinya untuk kita?”

Damian menatap semua orang di ruangan itu satu per satu.

Lalu berkata dengan ketenangan yang tidak memberi ruang pada ilusi:

“Artinya perang yang lama tidak pernah benar-benar selesai.”

Lucian menghela napas. “Aku benci konflik lama yang bangkit lagi. Mereka selalu dramatis.”

Kael mengabaikan komentar itu. “Apa tujuan Veyron sekarang?”

Elena mengaktifkan kembali tampilan peta, namun kali ini lebih sederhana.

“Tanda pergerakan mereka tidak acak. Mereka mengikuti pola lama operasi yang pernah kalian rancang bersama.”

Aidan menyilangkan tangan. “Dia menggunakan ingatan Damian sebagai peta.”

Lyra merasakan kalimat itu seperti pisau.

Musuh tidak hanya mengetahui mereka.

Musuh mengenal Damian.

Damian berjalan perlahan menuju meja taktis. Jari-jarinya menyentuh permukaan logam dingin.

“Maka kita ubah petanya,” ucapnya.

Orion tertarik. “Kita menyerang lebih dulu?”

“Tidak,” jawab Damian. “Kita membuatnya percaya ia memimpin permainan.”

Lucian tersenyum lebar. “Aku suka bagian ini.”

Elena mengangguk. “Jika kita bisa memancing pergerakan langsung, kita akan tahu posisi pusat operasi mereka.”

Draven menambahkan, “Risikonya tinggi.”

Aidan berkata singkat, “Semua pilihan beresiko tinggi.”

Lyra akhirnya berbicara lagi.

“Dan peranku di semua ini?”

Semua mata beralih padanya.

Damian menatapnya lebih lama dari yang lain.

“Kau adalah variabel yang tidak ia perhitungkan.”

Lyra mengangkat alis. “Jadi aku umpan?”

“Tidak,” jawab Damian tenang. “Kau alasan strategi mereka gagal.”

Hening jatuh.

Kalimat itu bukan pujian.

Itu pengakuan.

Sierra berbisik pelan, “Lyra…”

Lyra tidak mengalihkan pandangan dari Damian.

“Kalau begitu,” katanya pelan namun tegas, “aku tidak akan berdiri di belakang.”

Damian tidak membantah.

Ia hanya berkata, “Mulai malam ini, kau belajar bertahan dalam dunia ini.”

Aidan melangkah maju sedikit. “Aku yang melatih.”

Lucian bertepuk tangan sekali. “Ah, metode tanpa senyum.”

Kael menambahkan tenang, “Latihan dimulai setelah evaluasi perimeter.”

Elena menutup proyeksi terakhir. “Waktu kita terbatas.”

Di atas hanggar, suara logam bergeser pelan—mekanisme pertahanan aktif sepenuhnya.

Lyra berdiri di tengah lingkaran orang-orang yang kini bukan lagi sekadar orang asing.

Ia melihat mereka bukan sebagai dunia Damian.

Tapi sebagai lingkaran yang kini juga melingkupinya.

Damian berjalan melewatinya, lalu berhenti sesaat di sampingnya.

Tanpa menoleh, ia berkata rendah,

“Begitu kau masuk lebih dalam… tidak ada jalan kembali.”

Lyra menatap lurus ke depan.

“Aku tidak pernah mencari jalan kembali.”

Damian melanjutkan langkahnya.

Dan untuk pertama kalinya, arah mereka bukan sekadar melarikan diri.

Mereka bergerak menuju seseorang yang telah lama dianggap mati.

Menuju kebenaran yang sengaja dikubur.

Menuju perang yang akhirnya memilih untuk bangkit kembali.

---

Lampu hanggar meredup setingkat, beralih ke mode siaga malam. Bayangan memanjang di lantai beton, menciptakan ruang-ruang gelap yang seolah menyimpan rahasia sendiri.

Aidan sudah menunggu di area latihan sederhana di sisi barat hanggar. Tidak ada peralatan rumit—hanya ruang kosong, beberapa matras tipis, dan garis pembatas di lantai.

Lyra berdiri di hadapannya, melepas jaketnya tanpa banyak bicara.

Aidan menatapnya beberapa detik, seolah menilai sesuatu yang tak terlihat.

“Dunia ini tidak memberi kesempatan kedua,” katanya datar.

Lyra menyilangkan tangan. “Aku tidak meminta.”

Aidan mengangguk tipis. “Bagus. Kita mulai dari hal paling dasar—bertahan saat kau tidak siap.”

Ia melangkah maju tanpa peringatan.

Lyra nyaris tak sempat bereaksi ketika Aidan meraih pergelangan tangannya dan memutar tubuhnya ke samping. Gerakannya cepat, presisi, tanpa tenaga berlebihan—namun cukup membuat keseimbangan Lyra goyah.

Refleks Lyra bekerja. Ia menahan jatuh, memutar tubuh, dan melepaskan diri dengan gerakan kasar namun efektif.

Aidan mundur satu langkah.

“Instingmu hidup,” ucapnya. “Tapi masih liar.”

Lyra mengatur napasnya. “Aku tidak dilatih untuk rapi.”

“Di sini,” jawab Aidan, “kerapian menyelamatkan nyawa.”

Di pinggir area latihan, Sierra, Raina, dan Zaya menonton dalam diam. Lucian duduk santai di atas peti logam, namun matanya memperhatikan setiap gerakan dengan minat nyata.

Kael berdiri tidak jauh dari Damian, yang mengamati tanpa interupsi.

Orion bersandar di pilar baja, tersenyum tipis setiap kali Lyra berhasil mempertahankan posisinya lebih lama dari yang diperkirakan.

Latihan berlanjut.

Dorongan. Tarikan. Upaya melepaskan diri.

Setiap gerakan Aidan seperti teka-teki tanpa emosi. Setiap respons Lyra semakin terarah, meski napasnya mulai berat.

Beberapa menit kemudian, Aidan menghentikan langkahnya.

“Cukup.”

Lyra menunduk sebentar, menahan detak jantung yang berpacu. Keringat menempel di pelipisnya, namun matanya tetap tajam.

Damian mendekat perlahan.

“Bagaimana?” tanyanya singkat.

Aidan menjawab tanpa melihatnya, “Ia tidak takut jatuh. Itu kelebihan… sekaligus risiko.”

Lyra menyeka keringat di pelipisnya. “Aku tidak suka diam.”

Damian menatapnya sejenak, lalu berkata pelan, “Diam bukan berarti lemah.”

Lyra menatap balik. “Dan bergerak bukan berarti ceroboh.”

Sudut bibir Damian nyaris bergerak.

Di ruang kontrol, Elena tiba-tiba muncul di ambang pintu. “Ada aktivitas sinyal di perimeter luar pelabuhan.”

Semua perhatian langsung beralih.

Draven memeriksa panel keamanan. “Bukan penetrasi. Observasi jarak jauh.”

Lucian berdiri dari duduknya. “Mereka memeriksa apakah kita benar-benar menetap di sini.”

Orion menghela napas pelan. “Atau memastikan umpan bergerak.”

Damian menatap layar yang menampilkan titik samar di radius luar.

“Mereka menginginkan respons,” ucapnya.

Kael bertanya singkat, “Kita beri?”

Damian menggeleng pelan. “Belum. Kita biarkan mereka percaya kita masih menata ulang.”

Lyra mendekat ke meja taktis. “Kau ingin membuat mereka tidak sabar.”

Damian menoleh. “Orang yang terlalu yakin akan membuat kesalahan.”

Hening singkat.

Zaya berbicara pelan dari belakang, “Dan orang yang menunggu terlalu lama… mengungkap niatnya.”

Damian mengangguk sekali. “Tepat.”

Ia menatap seluruh timnya.

“Mulai malam ini, kita bukan hanya bertahan.”

Tatapannya berhenti pada simbol di layar.

“Kita mengajak masa lalu keluar dari bayangannya.”

Lyra berdiri di sampingnya, napasnya sudah kembali stabil.

Tanpa banyak kata, ia memahami arah langkah berikutnya.

Bukan lagi reaksi.

Melainkan undangan menuju konfrontasi yang tak terhindarkan.

Di luar hanggar, angin laut berhembus pelan, membawa suara ombak jauh di kegelapan.

Dan di dalam, lingkaran kepercayaan itu semakin mengeras—bukan oleh janji, melainkan oleh pilihan untuk tetap berdiri bersama di garis yang tidak bisa dihapus lagi.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!