NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Asap rokok Rangga masih mengepul di udara, bercampur dengan bau mesiu dari ledakan pintu yang baru saja ia hancurkan. Di lantai yang dingin, Rendi merintih menahan sakit, namun di balik rintihan itu, sebuah kilatan licik muncul di matanya.

Rangga, yang merasa telah memenangkan permainan, berdiri tegak dengan keangkuhan seorang raja. Ia tidak menyadari bahwa di balik bayang-bayang lemari besar di sudut ruangan, moncong senjata api telah membidik jantungnya.

​DOR!

​Suara tembakan itu memecah kesunyian dengan sangat memekakkan telinga. Tubuh Rangga tersentak hebat. Peluru itu menghantam bahu kirinya, meleset sedikit dari jantung karena refleks Rangga yang luar biasa cepat. Darah segar langsung merembes, membasahi jas mahalnya, mengubah warna kain abu-abu itu menjadi merah pekat.

​Rangga terhuyung, namun ia tidak jatuh. Ia memegangi bahunya, napasnya memburu, namun ekspresi wajahnya tetap dingin seolah rasa sakit hanyalah sebuah gangguan kecil.

​Rendi, yang tadi tersungkur lemas, tiba-tiba tertawa. Ia menggunakan tangannya untuk menyeret tubuhnya menjauh, kembali ke kursi rodanya yang tadi terguling.

"Terimalah ajalmu, Rangga! Sebentar lagi kamu akan membusuk di sini! Kamu pikir aku sebodoh itu? Aku sudah menyiapkan penembak jitu untuk menyambut kedatanganmu!"

​Rangga hanya tersenyum tipis. Senyum yang membuat bulu kuduk Rendi merinding. Meskipun darah terus mengalir dari bahunya, Rangga menatap Rendi dengan tatapan merendahkan.

"Hanya itu? Satu peluru untuk seorang Rangga Dirgantara?"

​Rendi berteriak geram, wajahnya merah padam. "Tidak semudah itu, Rangga Dirgantara! Kamu tidak akan pernah bisa melumpuhkan aku sepenuhnya! Kamu adalah monster, dan monster harus mati di tempat yang gelap seperti ini!"

​Rendi meraih sebuah pemantik api khusus dari saku kursinya dan sebuah remote kendali. Dengan tawa yang meledak-ledak, ia menekan tombol tersebut.

​BOOM!

​Ledakan kecil terjadi di sudut-sudut ruangan. Rendi ternyata telah memasang jerigen-jerigen bensin yang tersembunyi di dinding apartemennya. Api dengan cepat menjalar, melahap gorden, karpet, dan tumpukan kertas dokumen. Suhu di dalam ruangan meningkat drastis dalam hitungan detik.

​"Matilah kamu, Rangga! Bakarlah bersama dosa-dosamu!" seru Rendi.

Dengan sisa tenaganya dan bantuan seorang pengawal rahasia yang muncul dari pintu belakang, Rendi berhasil keluar dari apartemen itu melalui jalur evakuasi khusus. Ia meninggalkan apartemennya dalam kondisi terbakar hebat, yakin bahwa Rangga yang terluka parah tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari lantai 25 tersebut.

​Rangga berdiri sendirian di tengah api yang mulai mengepungnya. Asap hitam yang pekat mulai memenuhi paru-parunya. Ia terbatuk, darah di bahunya terasa semakin panas, namun otaknya bekerja dengan kecepatan cahaya. Ia melihat ke arah pintu utama yang sudah tertutup api, lalu menoleh ke arah jendela besar yang menghadap langsung ke langit malam Jakarta.

​Ia tahu, jika ia tetap di sini, ia akan menjadi abu. Dan jika ia mati, Alya akan menjadi milik Rendi. Pikiran itu memberinya kekuatan yang tidak masuk akal.

​"Aku belum selesai denganmu, Rendi," geram Rangga.

​Rangga melepas jasnya yang berat dan membalut luka di bahunya dengan kain kemejanya untuk menahan pendarahan. Ia berlari kencang ke arah jendela kaca besar itu. Tanpa ragu sedikit pun, ia menghantamkan tubuhnya ke kaca tempered tersebut.

​PRANGGG!

​Kaca itu hancur berkeping-keping. Rangga meluncur jatuh dari ketinggian lantai 25. Namun, Rangga bukan orang bodoh. Ia telah memperhatikan bahwa di lantai 23, tepat di bawah unit Rendi, terdapat balkon luas dengan kolam renang infinity yang menjorok keluar.

​Dengan perhitungan yang sangat presisi dan nyali yang gila, Rangga mengarahkan tubuhnya jatuh ke arah kolam renang tersebut.

​BYURRR!

​Air kolam renang itu meredam hantaman tubuhnya. Rangga tenggelam ke dasar kolam sejenak, darahnya mewarnai air biru itu menjadi kemerahan. Ia muncul kembali ke permukaan, terengah-engah, dengan mata yang menatap ke atas—melihat apartemen Rendi yang kini meledak dan hangus dilalap api.

...****************...

​Sementara itu, di Mansion Dirgantara, Alya tidak bisa tinggal diam. Ia tahu jika ia tidak keluar sekarang, ia tidak akan pernah punya kesempatan lagi. Ia menggunakan penjepit kertas yang ia temukan di laci riasnya untuk mencoba membobol kunci pintu kamar yang tua namun kokoh itu.

​Setelah berjam-jam mencoba dengan tangan yang gemetar dan keringat dingin, akhirnya terdengar suara yang sangat ia nantikan.

​KLIK.

​Pintu terbuka. Alya tidak membuang waktu. Ia berlari menyusuri koridor, menghindari para penjaga dengan menyelinap melalui dapur dan jalur pelayan. Ia berhasil mencapai garasi belakang. Di sana, ia menemukan sebuah mobil lama yang kuncinya selalu tergantung di dinding garasi.

​Alya memacu mobil itu keluar dari mansion, menghancurkan palang pintu belakang yang tidak dijaga ketat. Pikirannya hanya satu: ia harus menemukan Rendi. Ia berpikir Rendi adalah satu-satunya orang yang bisa menolongnya.

​Alya menuju apartemen Rendi, mengikuti alamat yang ia ingat dari pembicaraan telepon tadi malam. Namun, saat ia tiba di sana, matanya terbelalak.

​Gedung apartemen itu dikelilingi oleh mobil pemadam kebakaran. Lantai atas gedung itu tampak seperti neraka yang menyala di langit malam.

"Tidak... Rendi! Mas Rangga!" teriak Alya histeris.

Ia turun dari mobil dan mencoba merangsek masuk, namun ditahan oleh petugas.

​"Jangan masuk, Mbak! Lantai atas sudah habis terbakar!" teriak petugas itu.

​Alya jatuh terduduk di aspal, menangis tersedu-sedu. Ia merasa dunianya benar-benar telah kiamat. Ia telah kehilangan segalanya.

​Di tengah kerumunan orang yang menonton kebakaran itu, seorang pria dengan jaket hoodie hitam dan topi yang menutupi wajahnya berjalan mendekati Alya. Pria itu memegang bahu Alya dengan lembut.

​"Alya..."

​Alya mendongak. Di balik tudung hoodie itu, ia melihat wajah yang pucat namun penuh dengan kepuasan. Itu Rendi. Ia duduk atas kursi roda, dibantu oleh pengawalnya.

​"Rendi! Kamu selamat!" Alya memeluk Rendi dengan tangis lega yang naif.

​"Aku selamat, Alya. Tapi Rangga... Rangga tidak seberuntung itu. Dia masih ada di dalam saat apartemen itu meledak. Dia sudah pergi, Alya. Dia sudah membayar semua kejahatannya," ucap Rendi dengan suara yang sangat meyakinkan.

​Alya terdiam. Hatinya hancur berkeping-keping. Meskipun Rangga adalah monster, namun sebagian dari dirinya tetap merasa kehilangan separuh jiwanya. "Dia... benar-benar mati?"

​"Iya. Sekarang kamu bebas, Alya. Ikutlah denganku. Kita akan memulai hidup baru di luar negeri, di tempat di mana bayang-bayang Dirgantara tidak bisa menyentuhmu lagi," ucap Rendi sambil memegang tangan Alya.

​Alya hampir saja mengangguk dan masuk ke dalam mobil Rendi, sampai sebuah suara bariton yang sangat ia kenal terdengar dari balik kerumunan, membelah kebisingan sirine pemadam kebakaran.

​"Jangan pernah sentuh istriku dengan tangan kotormu, Rendi."

​Rendi dan Alya menoleh serentak. Di sana, berdiri Rangga. Bajunya compang-camping, kemeja putihnya sudah merah sepenuhnya oleh darah, dan wajahnya dipenuhi luka goresan kaca. Namun, ia berdiri tegak. Matanya menyala dengan api yang lebih panas dari kebakaran di atas sana. Di tangannya, ia memegang sebuah pistol yang ia rampas dari pengawal Rendi di balkon tadi.

​"Rangga?!" Rendi berteriak kaget, wajahnya memucat seperti mayat. "Bagaimana mungkin?! Kamu seharusnya sudah mati!"

​Rangga berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat kerumunan orang menyingkir karena ketakutan melihat penampilannya yang seperti iblis bangkit dari kubur.

"Aku sudah bilang padamu, Rendi. Ajal tidak akan berani menjemputku sebelum aku melihatmu membusuk di tanganku sendiri."

​Rangga mengarahkan pistolnya tepat ke dahi Rendi.

​"Mas Rangga! Jangan!" teriak Alya, mencoba menengahi.

​Rangga menatap Alya dengan pandangan yang penuh luka dan amarah.

"Dia mencoba membunuhku, Alya! Dia yang merencanakan semua ini! Dia yang meneleponmu untuk menjadikanku gila dan membawamu pergi!"

​"Aku tahu, Mas! Tapi jika kamu menembaknya di sini, di depan semua orang, kamu akan benar-benar kehilangan semuanya! Kamu akan masuk penjara dan aku akan sendirian!" Alya memeluk kaki Rangga, menangis memohon.

​Rangga gemetar. Nafsu membunuhnya sudah di puncak. Namun, melihat Alya yang bersimpuh di bawah kakinya, sebagian kecil dari kemanusiaannya kembali muncul. Ia menatap Rendi yang kini terkencing-kencing di kursi rodanya karena ketakutan.

​"Kau tidak layak mati semudah ini, Rendi," bisik Rangga. Ia tidak menembak Rendi. Ia justru menghantamkan gagang pistolnya ke wajah Rendi hingga pria itu pingsan seketika.

​Rangga membuang pistolnya ke jalan, lalu ia sendiri jatuh berlutut karena kehilangan banyak darah. Alya segera menangkap tubuh suaminya yang besar itu.

​"Bawa aku pulang, Alya..." bisik Rangga sebelum kesadarannya menghilang. "Bawa aku pulang... dan jangan pernah tinggalkan aku lagi."

...****************...

Beberapa minggu kemudian, Mansion Dirgantara kembali tenang. Rangga selamat setelah menjalani operasi besar di bahunya. Rendi dijebloskan ke penjara dengan pengamanan maksimum atas tuduhan percobaan pembunuhan, pembakaran berencana, dan korupsi perusahaan.

​Rangga duduk di balkon kamarnya, memperhatikan Alya yang sedang menyiram bunga di taman bawah. Ia masih posesif, ia masih mengawasi setiap gerak-gerik Alya lewat kamera, namun ada sesuatu yang berubah. Ia mulai belajar untuk mendengarkan Alya lagi.

Bersambung...

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!