NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Ibu susu
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”

Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.

Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.

Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu 22

Hujan turun perlahan di pagi yang sunyi, menggantungkan debu jalanan yang mengembun di rerumputan. Traktor dan truk pengangkut sawit berhenti beroperasi, memilih berbaris rapi di garasi, ketimbang mengambil resiko—bertarung dengan beceknya jalanan perbukitan. 

Dapur sederhana milik Bu Harmi terasa lebih panas dari hari biasanya. Sejak lepas subuh, Hasna berdiri anggun sembari mengaduk cuko pempek yang sedang di rebusnya, di sofa ruang tengah Bu Sar dan Dewi duduk bertopang kaki sambil memainkan ponsel mereka. 

Hujan yang cukup deras membuat mereka tidak bisa membawa Adam pulang dan memilih tinggal di rumah Rizal sambil menunggu reda. 

“Aaaahhhh.” Dewi mengulet, lalu beranjak dari duduknya. “Belum mateng, Yuk pempeknya?” tanyanya pada Hasna yang keluar membawa dua cangkir kopi. 

“Pempeknya sudah, tinggal nunggu cukonya agak dingin, makan pempek nggak mungkin, to panas-panas,” sahut Hasna lembut.  

Ia kemudian menyuguhkan kopi untuk Rizal yang duduk di meja makan sambil melihat laporan di laptopnya, sedang di seberang mereka duduk bersantai, Bu Harmi sibuk memasang payet baju kebaya pesanan pelanggannya.   

“Minum kopi dulu, Bang sambil nunggu pempeknya matang, ini ada masuba juga, aku bikin kemarin sama Dewi,” ucap Hasna, senyum manis terulas di wajahnya yang mengilat. 

Rizal berdehem kecil, menoleh sejenak seraya berucap pelan. “Terima kasih, Has.” 

“Kalo begini berasa kaya masih ada Ayuk Sukma, ya, Bang?” celetuk Dewi sambil menyomot kue masuba yang disuguhkan Hasna. 

Rizal mengangkat cangkir kopinya, menyesap pelan. Senyum tipis tersungging di ujung bibirnya. “Ayukmu memang masih selalu ada, Dew, cuma nggak terlihat aja.”  

“Tapi, ngeliat Yuk Hasna dari tadi sibuk di dapur, bener-bener kaya ngeliat Ayuk Sukma, lo. Caranya jalan, bikin kopi, nyicipin masakan, bajunya, jilbabnya, semua plek-ketiplek Ayuk Sukma,” sahut Dewi. 

“Hasna ‘kan memang suka tiru-tiru Sukma dari dulu, wajarlah mirip. Apalagi sekarang Sukma nggak ada, kesempatan buat dia niru, biar Rizal mau ngelirik,” timpal Bu Sar, matanya melirik tajam ke arah Hasna yang sudah kembali sibuk di dapur. 

“Sudah, Dew, kamu jangan ngemil aja, lihat sana si Nadya udah selesai belum mandiin Adamnya, lama betul dari tadi nggak keluar-keluar, jangan-jangan cucuku di kasih tetek dia yang basi, lagi.” lanjutnya lalu turut duduk di meja makan bersama Rizal. 

Belum sempat Dewi beranjak dari duduknya, Nadya sudah lebih dulu keluar sambil menggendong Adam yang sudah wangi. Tatapan gadis itu langsung tertuju pada Hasna yang sibuk membawa pempek dan cukonya. 

“Hasna, Adam sudah berapa hari nggak PUP?” tanya Nadya dengan wajah datar. 

“Ehm …,” Hasna berpikir sejenak. “Kayanya dua harian, memangnya ke—” 

“Bohong!” sergah Nadya. “Berapa hari saya tanya.” 

Mendengar sergahan Nadya, Rizal menegakkan punggungnya, tatapannya berpindah ke arah Hasna dan Nadya, begitupun Bu Harmi yang langsung beranjak dari ruang jahitnya. 

“Anahhh, Nadya, ngapa pula kamu pagi-pagi tanya perkara PUP, mau kamu makan? Merusak selera orang mau sarapan saja,” hardik Bu Sar. 

Nadya bergeming, tatapannya tetap tajam ke arah Hasna. “Berapa hari?!” 

Hasna tertunduk sesaat, sebelum kembali mengangkat dagunya. Pupil matanya blingsatan ke sekitar. “Dua harian deh, Kak. Tapi, nggak ada diare kok, Adam juga nggak ada ruam sama muntah.” 

Nadya menghela napas lelah, matanya terpejam beberapa detik. “Aihhh, bisa pecah betul palak saya ngadepin anomali ini. Masalah pencernaan bayi itu bukan cuma diare, Hasna. Ada yang namanya sembelit dan itu tidak terdeteksi kalo kita tidak teliti!”   

Hasna tersentak seketika, hingga cuko yang sedang dia tuangkan menyiprat ke sisi mangkuk. Bibir gadis berhijab itu bergumam, namun suaranya tertahan di tenggorokan. 

“Berapa hari? Dari kalian kasih Adam minum susu?” tebak Nadya. 

Bu Sar yang merasa terintimidasi dengan pertanyaan Nadya menyahut dengan suara lantang. 

“Ngapa pula lah kamu ngurusin PUP, kalo Adam memang kebelet PUP apa nggak sudah PUP!”  

Nadya memutar bola matanya malas, hembusan napas berat keluar dari bibirnya. “Ya Alloh peningnya.” Ia lalu meninggikan suaranya. “Otak kalian di mana, Bengak! Orang dewasa nggak PUP dua hari aja di perut begah, apalagi bayi!"

Mendengar Nadya semakin emosi Rizal beranjak dari duduknya, lalu menghampiri Nadya sambil mengusap perut Adam yang terlihat lebih buncit dari biasanya. 

“Nad,” seru laki-laki itu, raut wajahnya bingung, namun berusaha menenangkan Nadya. “Apa ini bahaya buat Adam?” imbuhnya. 

Nadya menoleh ke arah Rizal, tatapannya menusuk. Sejak ciuman mendadak Rizal dua hari lalu, Nadya memang mendiamkannya, meski bapak satu anak itu terus meminta maaf padanya. 

Ia kemudian melangkah pelan sambil menjawab dengan suara ketus. “Nggak bahaya, paling kalau telat penanganan usus Adam pecah.” 

Seketika, semua yang ada di ruangan itu tersentak, mata mereka saling menatap dengan raut tak percaya. 

Rizal yang sempat termangu, dengan cepat menyusul Nadya masuk ke dalam kamar, lalu Bu Harmi dan Bu Sar yang mengekor di belakang. 

“Nad, kamu nggak lagi bercanda ‘kan?” serbu Rizal begitu sampai kamar Nadya. 

“Abang pikir kaya gini bisa di becandain, lihat perut Adam. Itu buncit bukan karena kekenyangan, tapi nyimpen PUP, napas dia juga mulai keliatan sesak, aneh aja itu anak masih bisa tahan dan nggak rewel,” jelas Nadya dengan sedikit dongkol. 

“Terus kita harus gimana, Nad?” tanya Bu Harmi dengan mata berkaca-kaca sambil mengusap perut Adam yang tertidur di kasur. 

“Suruh Bang Rizal tanya Hasna, ‘kan dia yang lebih pinter, atau itu neneknya punya solusi, mungkin?” sindir Nadya saat melihat kehadiran Hasna dan Bu Sar. 

“Nadya.” Rizal menyahut dengan nada putus asa.  

Nadya tak menjawab, malah sibuk membereskan perlengkapan Adam dan beberapa barang penting miliknya. Rizal yang semakin bingung dengan sikap Nadya, mendekati gadis itu, lalu menarik lengannya pelan. 

“Kita harus gimana, Nad? Tolong?” lirih Rizal. 

“Ke RS lah, mau gimana lagi. Abang pikir saya dari tadi ngapain kalo bukan siap-siap ke RS.” sungut Nadya. 

“Ya kamu di—” 

“Nggak usah banyak omong, ayo berangkat,” sergah Nadya, ia lalu mengangkat Adam ke gendongannya. “Bawa koper sama tas saya,” lanjutnya tanpa memperdulikan tatapan pias Hasna. 

“Mamah ikut, Zal. Mamah nggak percaya sama pembantu mu itu. Jangan-jangan ini cuma cara dia buat ngerayu kamu karena tau Adam sudah mulai nggak mau netek sama dia.” Ucap Bu Sar, matanya menatap penuh selidik ke arah Nadya yang lewat di depannya. 

Nadya menoleh seketika, tangannya mengepal di sisi tubuh, tatapannya penuh murka. “Mun nikeu mak percayo cucu nikeu nyak urus, jak suruh anak nikeu bangun ngurus banyinyo!” (Kalau kamu tidak percaya cucu kamu saya urus, suruh anak kamu bangun urus bayinya)

.

.

.

“Nadya.” 

Bersambung. 

1
Ita Nuryani
gak pernah dobel up tor
Anna: Lagi ngerjain 2 judul, Kak, jadi hemat bab biar bisa up setiap hari. 🙏
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
nenek lampir sewot lihat nad nad dikasi ATM.
Anna: kita bikin makin jantungan. 😄
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
akankah setelah ini trio kwek kwek yg selalu berisik tahu siapa sebenarnya nadia?
Anna: siap, terima kasih sarannya, Kak. 🫶
total 4 replies
SooYuu
ih dikitnya upnya kak, berasa ngedip dah bersambung aja😩
Anna: istigfar.
total 1 replies
SooYuu
suruh isep ppnya😭 eh lah keceplosan😩😩
Anna: Hehh, otewe kata Bang Rizal. 😗
total 1 replies
SooYuu
dih🤣🤣
Anna: ape luu. Kata Dewi🫢
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
kok up nya cuma sedikit. up yg banyak dong kak...kukasi secangkir kopi deh
Anna: inginnya begitu, tapi apalah daya otak tak sampai ... 😖
total 1 replies
Linceu thea
nah zal hayoo ... tanya hasna sana 😂😂😂
Anna: Rizal menggaruk tengkuk yang tak gatal.
total 1 replies
gendhis jawi
hbs ini adam sakit gr2 sufor
Anna: kita bikin panik Bang Rizal.
total 1 replies
Dae_Hwa💎
Jangan sampai mulut ibu, saya bekap pakai kaos partai.
Anna: Yang ada bantengnya, biar sekalian nyruduk.
total 1 replies
SooYuu
kirain glundung dari kasur 🤣
Anna: glundung??? trauma eyy 🫢
total 2 replies
Linceu thea
tenang nad masih ada mas rijal 😂😂😂
Dae_Hwa💎
Selamat untuk karya barunya, Kak Anna 🥰
Semangat 🔥
Anna: Awwww 🫶
total 1 replies
SooYuu
udahlah Has iklhas saja, kali ini pun kau takkan menang. instingku mengatakan demikian🤣
SooYuu
wah, memang abang rizal ini macam buaya2 pada umumnya
SooYuu
iyuh R&H 😭😭
Anna: pake benang emas.catet.
total 1 replies
Linceu thea
ya bersambung ga jadi deh ikut nimpuk pala ma sur nih 😄😄😄
Linceu thea: 😂😂 biar amunisi ny kuat lanjut thor
total 2 replies
Rehan Atar
widih nunggu lagi ..... gasss kenceng nulisnya thor dah nyandu penasaran sama preman2 yg ngejar nadya 😄
Anna: Preman sedang war THR🌴
total 1 replies
nayla tsaqif
Ujian cinta kita katanya,, cinta kamj aja kali naa hasna,, 🤭
Anna: Jatuh cinta memang manis .... apalagi .... 🌴
total 1 replies
Yessi Kalila
pengin coba pindang baung.... kaya apa rasanya y
Anna: nikmat betull, Kak. Apalagi kepalanya behhhh ... mertua betamu juga nggak bakal saya bukain pintu. 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!