Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Pemujaan
Mobil Rolls-Royce itu berhenti dengan halus di parkiran basement khusus apartemen. Sean bergerak cepat, seolah setiap detik yang terbuang adalah siksaan. Selama perjalanan dari klinik, tangannya tidak pernah lepas dari jemari Lyra, namun itu belum cukup untuk meredam api kerinduan yang membakar dadanya.
Begitu pintu apartemen tertutup dan terkunci dengan bunyi klik yang tegas, Sean langsung menyudutkan Lyra ke pintu jati yang kokoh.
"Sean... kau terburu-buru sekali," bisik Lyra, napasnya mulai tidak beraturan saat wajah Sean hanya berjarak satu inci dari miliknya. Ia bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh pria itu.
"Kau tidak tahu betapa menderitanya aku menahan diri di mobil tadi, Lyra," geram Sean, suaranya serak dan berat. Ia menelusurkan jemarinya ke rahang Lyra, memaksa gadis itu mendongak menatap matanya yang gelap karena gairah. "Melihatmu bersandar padaku, menghirup aromamu... aku hampir gila karena ingin memilikimu kembali. Ruang sempit di mobil itu adalah siksaan bagiku."
Lyra menelan ludah, tangannya meremas kemeja Sean. "Aku di sini, Sean. Aku tidak akan ke mana-mana."
"Memang tidak akan," balas Sean posesif. "Aku tidak akan membiarkanmu menjauh bahkan satu inci pun malam ini."
Sean tidak memberi kesempatan bagi Lyra untuk menjawab. Ia membungkam bibir istrinya dengan ciuman yang sangat dalam, penuh pemujaan, namun terasa begitu menuntut. Kali ini tidak ada amarah, hanya ada rasa lapar yang murni dari seorang pria yang nyaris kehilangan dunianya.
"Tunggu... Sean," rintih Lyra saat Sean beralih ke lehernya. "Biarkan aku... biarkan aku melihatmu."
Sean melepaskan kancing kemejanya dengan satu tangan sementara tangan lainnya tetap memeluk pinggang Lyra. "Lihat aku sepuasmu, Sayang. Karena aku tidak akan melepaskan pandanganku darimu sedikit pun."
Sean mengangkat tubuh Lyra, membuat gadis itu melingkarkan kakinya di pinggang kokoh suaminya. Ia membawa Lyra menuju kamar utama tanpa memutuskan tautan bibir mereka. Di atas ranjang dengan sprei hitam yang menjadi saksi bisu klaim pertamanya, Sean merebahkan Lyra dengan sangat lembut.
"Malam ini... aku tidak akan menghukummu," bisik Sean sambil menciumi helai demi helai rambut Lyra. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang meluluhkan. "Aku hanya ingin memujamu. Menghapus setiap tetes air mata yang kau keluarkan hari ini dengan sentuhanku. Bisakah kau merasakannya, Lyra? Betapa aku hampir hancur saat mengira kau akan pergi?"
Mata Lyra berkaca-kaca. "Maafkan aku... aku tidak bermaksud membuatmu takut."
"Jangan minta maaf," potong Sean lembut. "Cukup berikan dirimu padaku. Seluruhnya."
Tangan Sean yang biasanya kasar dan otoriter kini bergerak dengan kelembutan yang menyayat hati. Ia mencumbu setiap inci kulit Lyra seolah-olah istrinya itu adalah porselen yang bisa retak jika ia terlalu kuat menekan. Namun, stamina Sean yang luar biasa tetap membuat malam itu terasa sangat panjang dan intens. Gesekan kulit mereka menciptakan percikan listrik yang membuat Lyra melengkungkan tubuhnya, mencari lebih banyak kontak.
"Sean... ahh... aku mencintaimu," rintih Lyra di tengah gairah yang memuncak, jemarinya tertanam di rambut hitam Sean.
Sean membeku sejenak mendengar pernyataan itu. Jantungnya berdegup kencang menghantam rusuknya. Ia mengangkat tubuhnya dengan kedua lengan, menatap mata Lyra yang berkaca-kaca karena kenikmatan dan kejujuran yang murni.
"Katakan lagi, Lyra. Katakan kau mencintaiku. Aku butuh mendengarnya sampai telingaku tuli hanya oleh suaramu."
"Aku mencintaimu... sangat mencintaimu, Sean," isak Lyra pelan.
"Dan katakan kau milik siapa, Sayang? Siapa pria yang berhak atas setiap tarikan napasmu?" Sean berbisik tepat di telinga Lyra, suaranya mengandung otoritas sekaligus kerentanan.
"Aku... Aku milikmu... selamanya milikmu, Sean... tidak ada orang lain, hanya kau," jawab Lyra jujur, menyerahkan seluruh jiwanya pada pria di hadapannya.
"Ya, kau milikku. Sampai mati pun kau tetap milikku," sahut Sean sebelum kembali menyatukan bibir mereka.
Pemujaan itu berlanjut hingga subuh, menyatukan kembali kepingan hati mereka yang sempat retak karena rahasia masa lalu. Sean memastikan bahwa setiap desah napas Lyra hanya menyebut namanya, menghapus bayang-bayang ketakutan Lyra dengan cinta yang sangat posesif namun tulus. Di bawah temaram lampu kamar, mereka bukan lagi dua orang yang terjebak dalam kesalahpahaman, melainkan dua jiwa yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...