Haneen, mantan agen intelijen elit, dikhianati dan tewas di dunia modern. Namun, dia terbangun di tubuh gadis lemah yang namanya sama di dunia kultivasi, murid luar Sekte Pedang Langit dengan merdian rusak yang sering di-bully.
Beruntung, Haneen membawa Sistem Agen Bayangan yang memungkinkannya mengeluarkan senjata modern seperti pistol, drone intai, dan granat di dunia yang mengandalkan pedang dan jurus.
Awalnya hanya ingin bertahan hidup, Haneen justru mengungkap jaringan korupsi besar di dalam sekte. Para tetua yang terlihat suci ternyata saling melindungi sambil mencuri sumber daya. Bersama Yan Ling, murid luar yang juga jadi korban, Haneen mulai membongkar kejahatan satu persatu.
Namun setiap kebenaran yang terungkap, mereka semakin diburu. Dari tambang ilegal hingga ruang bawah tanah rahasia, Haneen dan Yan Ling harus terus berlari sambil mencari cara untuk bertahan.
Mampukah Haneen bertahan di dunia yang mengagungkan kekuatan spiritual sambil membongkar rahasia kelam para tetua?
Akankah teknologi modern dari sistemnya cukup untuk mengalahkan kultivator tingkat tinggi yang terus memburunya? Dan yang terpenting, bisakah dia dan Yan Ling saling percaya di tengah bahaya yang mengintai setiap langkah?
Penuh Aksi, strategi cerdas, dan intrik yang tak terduga.
Ikuti perjalanan Haneen membuktikan bahwa di dunia yang kejam ini, pinter dan siap bisa mengalahkan yang kuat.
Siapkah kamu mengikuti setiap langkah berbahaya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sands Ir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Saksi Kunci
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mereka kembali ke gua persembunyian saat fajar mulai menyingsing. Haneen segera mengeluarkan gulungan kulit hitam yang mereka ambil semalam. Dia membentangkannya di atas batu datar, memeriksa setiap detail transaksi yang tercatat di sana.
"Angkanya sangat besar," ucap Haneen sambil menunjuk deretan angka di gulungan. "Mereka mengirim ribuan batu spiritual tingkat menengah ke luar sekte setiap bulan. Tidak ada catatan pengeluaran resmi yang sebesar ini. Artinya, ini pencurian terstruktur."
Yan Ling duduk di sampingnya, mempelajari gulungan itu. "Tapi ini hanya kertas. Para tetua bisa saja mengatakan bahwa ini palsu buatan kita untuk menjatuhkan mereka. Kita butuh saksi yang bisa membuktikan bahwa transaksi ini benar-benar terjadi."
Haneen mengangguk. Itu masalahnya. Bukti fisik saja tidak cukup di dunia di mana kekuatan berbicara lebih keras daripada kebenaran. Mereka butuh orang yang terlibat langsung dalam pencatatan ini.
"Sistem, cari informasi tentang staf administrasi logistik," perintah Haneen dalam hati. Sistem memindai data yang pernah Haneen kumpulkan sebelumnya dari berbagai percakapan yang disadap.
[Ditemukan: Lin Mo. Jurulis catatan tingkat rendah. Memiliki akses ke ruang arsip. Memiliki motivasi: Keluarganya diancam oleh Tetua Korup.]
"Ada nama," ucap Haneen. "Lin Mo. Dia bekerja di bagian pencatatan logistik. Sistem mendeteksi bahwa dia memiliki alasan untuk membenci para tetua."
"Bagaimana kita menemukannya?" tanya Yan Ling. "Dia pasti diawasi jika dia bekerja di area sensitif."
"Kita tidak menemukannya di sekte. Kita tunggu dia keluar," jawab Haneen. "Setiap minggu sekali, staf administrasi diperbolehkan keluar ke pasar kota bawah untuk membeli kebutuhan pribadi. Besok adalah hari pasar."
"Kita akan menculiknya?" tanya Yan Ling ragu.
"Bukan menculik. Kita ajak bicara. Jika dia memang punya dendam, dia akan mau bekerja sama. Jika tidak, kita akan cari cara lain," jelas Haneen. Dia tidak ingin melibatkan orang yang tidak bersalah jika tidak perlu. Namun, situasi mereka mendesak.
Mereka menghabiskan siang hari itu untuk istirahat dan merencanakan operasi penangkapan Lin Mo. Haneen menyiapkan alat perekam suara dan alat pengunci mulut non-mematikan dari sistem. Mereka tidak boleh melukai target terlalu parah, karena mereka butuh dia dalam kondisi sadar untuk berbicara.
Sore harinya, Haneen dan Yan Ling bergerak menuju kota bawah yang terletak di kaki gunung tempat sekte berdiri. Kota ini ramai dengan pedagang, murid sekte yang sedang libur, dan warga biasa. Mereka memakai topeng sederhana untuk menyamarkan wajah.
Mereka menunggu di dekat gerbang pasar, tempat para staf administrasi biasanya keluar. Haneen memindai wajah setiap orang yang lewat, membandingkannya dengan data gambaran dari sistem.
Satu jam berlalu. Dua jam. Matahari mulai condong ke barat.
"Dia datang," bisik Haneen. Seorang pria muda berpakaian abu-abu sederhana berjalan keluar gerbang. Dia membawa tas kain kecil dan tampak sering menoleh ke belakang seolah-olah takut diikuti.
Haneen dan Yan Ling bergerak mengikuti dari jarak aman. Lin Mo berjalan menuju area sepi di pinggiran pasar, dekat gudang tua yang sudah tidak dipakai. Ini kesempatan bagus.
Saat Lin Mo masuk ke gang sempit di antara dua gudang, Haneen dan Yan Ling menutup jalan keluar dan masuk. Lin Mo terkejut saat melihat dua orang berpakaian hitam menghadangnya.
"Siapa kalian?" tanya Lin Mo gugup, tangannya mencengkeram tas kainnya erat-erat. "Aku tidak punya uang banyak."
"Kami tidak mau uangmu," ucap Haneen sambil melangkah maju. Suaranya tenang namun mengintimidasi. "Kami mau informasi tentang transaksi batu spiritual bulan lalu."
Wajah Lin Mo berubah pucat seketika. Dia mundur selangkah, punggungnya menabrak dinding gudang. "Aku... aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Aku hanya jurulis biasa."
"Jangan bohong," potong Yan Ling tajam. "Kami punya salinan catatanmu. Kami tahu kamu dipaksa memalsukan laporan."
Lin Mo terdiam. Kakinya gemetar. Rahasia terbesar dalam hidupnya terbongkar di depan dua orang asing. Dia melihat ke kiri dan ke kanan, mencari jalan lari, namun tidak ada jalan keluar.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Lin Mo akhirnya, suaranya bergetar. "Jika kalian ingin membunuhku, lakukan saja. Tapi ketahuilah bahwa jika aku mati, orang yang menyuruhku akan tahu."
"Kami tidak ingin membunuhmu," jawab Haneen. "Kami ingin keadilan. Nama-nama di daftar itu menghancurkan banyak orang, termasuk keluarga Yan Ling. Dan mereka juga memanfaatkan pekerjaanmu untuk menutupi kejahatan mereka."
Haneen mengeluarkan gulungan hitam itu sedikit, cukup untuk menunjukkan bahwa mereka memang memiliki bukti. "Bantu kami mengungkap mereka di Sidang Agung Sekte, dan kami akan memastikan kamu dan keluargamu aman. Jika tidak, kami akan menyerahkan catatan ini sendiri, dan nama kamu akan tetap tercatat sebagai kaki tangan mereka."
Lin Mo menelan ludah. Dia terjepit di antara dua pilihan berbahaya. Membantu penyusup berarti mengkhianati atasan yang bisa membunuhnya. Tidak membantu berarti hidupnya tetap dalam ancaman karena bukti sudah bocor.
"Aku... aku butuh jaminan," ucap Lin Mo pelan.
"Kamu punya jaminan," jawab Haneen. "Karena jika kami jatuh, kamu juga akan terseret. Kita ada di perahu yang sama sekarang."
Lin Mo menarik napas panjang. Dia menutup matanya sejenak, seolah-olah menerima nasibnya. "Baik. Aku akan membantu. Tapi kita harus cepat. Mereka akan memeriksa catatan besok pagi”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bersambung…...
Jangan lupa like, komen dan share😁