NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh
Popularitas:98.2k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Azalea masih berdiri terpaku ketika pria itu melangkah mendekat. Setelan jas hitamnya rapi. Rambutnya tersisir ke belakang. Wajahnya lebih matang dari terakhir kali ia lihat, tetapi sorot matanya masih sama, dingin, dalam, dan sulit ditebak. Enzo, suami mendiang kakaknya, yang selama ini tinggal di Jerman, kini berada tepat di depan matanya.

“A-Aza… lea?” tanya Enzo terdengar ragu, seolah ia sendiri tak yakin dengan apa yang dilihatnya. Nama itu meluncur pelan dari bibirnya. Nama yang dulu sering ia dengar disebut Jasmine—kakak Azalea—dengan nada penuh sayang. Wajah wanita itu juga mirip dengan mendiang istrinya.

Azalea menelan ludah. Jantungnya berdetak tak karuan. “Mas Enzo ....” Suaranya hampir tak terdengar.

“Daddy, kenal cama Tante Lea?” Elora menggoyangkan ujung celana jas Enzo, memecah ketegangan di antara mereka.

Mata Azalea beralih kepada anak kecil itu.

Elora. Nama yang tadi ia dengar untuk pertama kalinya, tanpa tahu bahwa anak itu adalah darah daging keluarganya sendiri.

Azalea ingat jelas kabar kakaknya meninggal setelah melahirkan bayi perempuan. Sejak saat itu, hubungan mereka terputus.

“Dia … putri Kak Jasmine?” tanya Azalea dengan suara bergetar. Ia berjongkok perlahan, menatap wajah kecil yang begitu mirip kakaknya.

Mata itu. Lengkungan bibir itu. Seolah Jasmine kecil hidup kembali di hadapannya.

Enzo mengangguk tipis. “Dia adiknya mommy kamu, El.” Nada suara pria itu datar dan terkesan formal. Tak ada kehangatan yang dulu sempat Azalea lihat saat ia berdiri di pelaminan bersama Jasmine.

“Adiknya mommy?” Elora memiringkan kepala. “Bealti caudalanya mommy? Cama kayak aku dan Kak Elza?” ucap Elora yang belum bisa mengucapkan huruf "S dan R".

Azalea tertegun. “Kak Elza?” bisiknya. Erza, anak Jasmine yang pertama.

Azalea tak tahu harus merasa apa. Bahagia karena menemukan sisa keluarga yang masih hidup? Atau sedih karena jarak yang selama ini memisahkan mereka?

“Iya, El,” ujar Enzo pada putrinya. “Kamu bisa memanggilnya Tante.”

Mata Azalea membulat. Ia tak menyangka Enzo akan mengakui identitasnya begitu saja. Ia kira pria itu akan bersikap dingin, menjaga jarak seperti dulu.

“Kalau begitu, Tante Lea boleh main ke lumah?” Elora menengadah penuh harap.

Sejenak, Azalea ikut menatap Enzo. Ada doa kecil di matanya.

Namun, Enzo hanya berkata singkat, “Kapan-kapan. Sekarang sudah sore, waktunya pulang. Nanti Oma marah.” Nada itu tegas, tak memberi ruang.

“Elora, kita pulang.” Enzo menggandeng tangan Elora.

“Baik, Daddy.” Elora cemberut kecil, lalu melambaikan tangan. “Tante Lea, nanti kita main belcama lagi, ya!”

“Iya.” Azalea tersenyum, menahan getar di dadanya.

Ia ingin bertanya banyak hal. Tentang Jasmine. Tentang kematiannya waktu itu. Tentang mengapa selama ini tak ada kabar. Tentang mengapa mereka seolah dilupakan dan sejak kapan Enzo tinggal di Indonesia.

Namun, kaki Enzo sudah melangkah pergi. Mobil hitam mewah itu menjauh.

Azalea berdiri sendiri di tepi parkiran, memandangi lampu belakang mobil yang perlahan menghilang. “Semoga kita bisa bertemu lagi,” gumamnya pelan.

***

Keesokan paginya, Azalea bangun lebih awal. Matanya sembap, tetapi semangatnya tak boleh padam. Semalam ia menerima email panggilan wawancara. Baru kemarin ia mengirim lamaran secara daring ke beberapa perusahaan dan hari ini salah satunya memanggilnya. Perusahaan itu bernama KAISER GROUP.

Azalea mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam panjang. Jilbabnya ia setrika rapi. Ia ingin terlihat pantas, meski ia hanya melamar sebagai cleaning service. “Ya Allah, mudahkan aku saat interview nanti,” bisiknya sebelum berangkat.

Saat berdiri di depan gedung tinggi itu, Azalea tertegun. Ini tempat kemarin ia bertemu Elora dan Enzo. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi ia menepis pikiran itu. Fokusnya hanya satu, pekerjaan.

Saat melangkah ke area parkir, sebuah mobil melintas pelan di sampingnya. Azalea tanpa sengaja melirik. Dadanya seketika terasa sesak.

Pria di balik kemudi itu mirip mantan suaminya.

“Kok, mirip Mas Reza?” batin Azalea. Ia menggeleng pelan, merasa salah lihat.

Namun mobil itu berhenti tak jauh dari pintu masuk. Dan ketika Azalea melangkah melewatinya, waktu seakan berhenti.

Pria itu benar Reza. Lalu, di kursi sampingnya ada seorang wanita cantik berpakaian modis sedang tertawa manja. Sesaat kemudian, wanita itu meraih wajah Reza dan menciumnya singkat.

Azalea terdiam. Napasnya tercekat. “Mas Reza…?” gumamnya nyaris tanpa suara.

Reza terbelalak saat melihat wanita yang berdiri di depan mobil. “Azalea?!” ucapnya pelan, tak percaya.

“Siapa?” tanya Nadia, wanita yang duduk di samping Reza.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Reza cepat.

Empat bulan lalu, pria itu menjatuhkan talak kepadanya dengan alasan ia mandul. Selama empat bulan juga, ia menangis sendirian di rumah tua orang tuanya.

Dan kini Reza tampak sangat bahagia bersama seorang wanita lain.

“Mas kerja di sini?” tanya Azalea, mencoba menjaga suaranya tetap stabil.

“Kamu kenal sama Reza?” tanya Nadia tajam.

Reza hendak membuka mulut, tapi Azalea lebih dulu berkata, “Dia mantan suamiku.”

Nadia tersentak. Wajahnya berubah.

Reza mendesah kesal. “Itu cerita lama,” katanya dingin. “Kamu mau apa di sini?”

“Aku mau interview.”

Nadia dan Reza saling berpandangan. Ada senyum tipis yang tak bisa Azalea artikan sebagai apa pun selain ejekan.

“Ayo, kita masuk,” ujar Nadia manja sambil menggandeng tangan Reza.

Mereka berjalan lebih dulu, meninggalkan Azalea dengan perasaan campur aduk.

Di ruang wawancara, Azalea kembali bertemu Nadia. Wanita itu kini duduk di balik meja HRD. Wajahnya profesional. Senyumnya tipis.

Setelah sesi tanya jawab singkat, Nadia menutup map lamaran Azalea. “Maaf, kualifikasi Anda tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan.”

Azalea tercekat. “Tapi, saya melamar sebagai cleaning service, Bu.”

Nadia menyandarkan tubuhnya. “Kami tetap punya standar.”

Lalu dengan suara lebih rendah, hampir berbisik namun cukup menusuk, “Orang kampung dengan pendidikan rendah seperti kamu ingin kerja di perusahaan besar? Jangan mimpi, deh.”

Azalea menunduk. Dadanya terasa panas. Ia tahu ini bukan soal kualifikasi. Ini soal siapa dia dan siapa Reza sekarang. Namun ia tak membalas. Ia hanya berdiri, membungkuk sopan. “Terima kasih atas waktunya.”

Azalea keluar ruangan dengan langkah yang terasa berat. Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan. Ia tak mau menangis di tempat yang bahkan tak menginginkannya.

Saat hendak masuk lift, pintu terbuka. Dan ia melangkah masuk tanpa sadar. Beberapa orang memandangnya aneh. Lift itu sunyi, luas, dan hanya ada dua orang.

“Eh, Enzo?” Azalea tersentak ketika melihat pria itu berdiri di sudut lift bersama seorang pria berkacamata.

“Siapa kamu? Tidak sopan bicara seperti itu,” tegur Ramon, pria berkacamata itu.

Azalea tidak sadar. Ia baru saja masuk lift khusus petinggi perusahaan.

“Kamu sedang apa di sini?” tanya Enzo datar.

“Mau melamar kerja,” jawabnya pelan. “Tapi, gagal.”

Tatapan Enzo mengeras. Ia menatap Azalea dari atas hingga bawah. Jilbab putih sederhana. Sepatu yang sudah agak usang. Map lamaran yang ia genggam erat.

“Kenapa gagal?”

“Tidak sesuai kriteria,” jawab Azalea dengan senyum tipis yang menyakitkan.

Pintu lift terbuka di lantai satu. Azalea buru-buru keluar, merasa tak pantas berada di sana. Namun—

“Tunggu.” Suara Enzo terdengar tegas.

Langkah Azalea terhenti. Ia menoleh.

Pria itu berjalan mendekat, meninggalkan Ramon yang tampak kebingungan. “Tadi kamu bilang gagal mendapatkan pekerjaan?”

“Iya.”

“Kalau begitu,” Enzo menatapnya lurus, “apa kamu mau bekerja kepadaku?”

Azalea terdiam.

“Sebagai pengasuh anak-anakku,” lanjut Enzo.

Jantung Azalea seakan berhenti. Pengasuh? Untuk Elora… dan Erza? Artinya ia bisa dekat dengan darah daging kakaknya.

Namun, harga dirinya? Setelah baru saja diinjak-injak mantan suaminya, kini ia ditawari menjadi pengasuh di perusahaan besar tempat mantan suaminya bekerja?

Enzo masih menatapnya. “Jawabanmu?” tanyanya singkat.

Dan Azalea berdiri di antara dua pilihan. Menelan gengsi demi bertahan hidup. Atau pergi, kembali berjalan tanpa arah di kota yang tak pernah ramah padanya.

1
Kar Genjreng
ga ngertia. Mak teroma dengan ayah' nya
yang pilih nikah lagi dengan orang kampung,,,jadi kalau orang kmpung semua menjijikan ya,,,anakmu suka dengan orang kampung 😇😇
Esther
luka masa lalu Elsa membuat dia menganggap wanita kampung kelakuannya sama dgn gundik ayahnya.
Gak semua seperti dalam bayanganmu Elsa, 2 menantu mu itu wanita kampung yang baik dan berkelas.

Apakah Elsa akan terluka karena kecelakaan ?
Nar Sih
semoga dgn kejadian kecelakaan ini mami elsa sdr klau punya menatu dri kampung itu blm tentu ngk baik ,
Eonnie Nurul
gak semua orang kampung kayak gundik bapakmu Elsa,bisa jadi bapak mu dulu kenak pelet 🤪
Dian Rahmawati
sweet nya Enzo
~Ni Inda~
Terbuat dari apa hatimu nek
Tdk tersentuh oleh pemandangan yg begitu menyejukkan
Rumah yg damai tanpa teriakan & suara benda pecah
Rumah yg tenang dlm sentuhan sholat & Qur'an
Hatimu hitam legam...lebih keras daripada batu bara
Semoga segera mendapat hidayah
Berapa lama lah lagi kau hidup di dunia ini...sdh tua tp hati msh terkunci mati
Yasmin Natasya
lanjut thor 😁🙏😍🤗
~Ni Inda~
Note !
Ada kepuasan tersendiri jika kita bisa memberi
Fa Yun
😍😍
Oma Gavin
bikin saja elsa mati atau cacat permanen biar tau rasanya tidak sempurna dan yg mau ngurusin hanya azalea
Kar Genjreng: jangan dong mending Mak Elsa saja biar nyadar anak anak masa depan nya masih panjang
total 3 replies
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Yulay Yuli
Setelah kecelakaan Mami Elsa sadar, betapa baiknya Azalea
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Meninggoy si mami Elsa..
Diana Dwiari
udah lebaran aja sih thor....jadi pengen segera lebaran nih..m😂😂
🌸Santi Suki🌸: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Gadis misterius
Nenek lmpir minta diseleding tuh
Yulay Yuli
udh lebaran Duluan y
Nar Sih
semoga habis lebaran ini enzo dan lea bisa seperti psngn suami istri separti org lain agar erza juga elora cpt punya adik lgi
Dewie
👍
Sun Rise
bgus
Kar Genjreng
Gengsi mamak masih meninggi kapan tu kira kira akan runtuh menjadi manusia
yang tidak angkuh dan somse,,, mungkin ketika badan sudah tak sanggup untuk bergerak atau ya semacamnya ,,,bukan mendoakan yat buruk Yo memang sudah buruk selalu merasa paling kaya paling cantik SE Bonbin mungkin ya ,,,,ahhh bodo amat n,,,amat saja pinter Yo ga,,, terpenting Enzo sudah menjadi kepala rumah tangga yang baik dan mempunyai tempat bukan hanya singgah tapi untuk
pulang,,, kebahagiaan adalah berkumpul keluarga canda tawa dan saling melengkapi. Sehat selalu penulis dan Pembaca, Aamin 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!