Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.
Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.
Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.
Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.
novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12. Ingin mendengar suaranya
Happy Reading
Sepulang sekolah, Wulan menemani Aily sampai ke gerbang depan. Dia ingin memastikan sahabatnya tidak diganggu oleh anak-anak sok berkuasa tersebut.
Wulan terus menggandeng Aily agar tetap berada di sampingnya. Ternyata, meninggalkan Aily sebentar saja, masalah besar langsung terjadi dan itu sama sekali tidak boleh terulang lagi.
"Aku tunggu kamu sampai naik bus ya." Ucap Wulan khawatir.
"Gak usah, aku bisa sendiri kok."
"Gak, aku gak mau ninggalin kamu lagi. Maaf." Rengek Wulan yang terus merasa bersalah karena telah meninggalkan Aily sampai membuat mawar merah untuk ayahnya rusak.
"Mereka semua pasti udah pulang kok." Balas Aily sembari tersenyum manis.
"Beneran ya?"
Aily mengangguk, sekaligus tanda bahwa ia mempersilahkan sahabatnya untuk segera bertemu dengan ayahnya.
"Pokoknya kalo ada apa-apa, langsung telepon aku!"
Mereka saling melambaikan tangan dan tak lama setelah itu, Wulan pergi meninggalkan Aily di halte bus.
Beberapa menit telah berlalu, tak di sangka seseorang dengan motor besar berwarna merah berhenti di depan halte, tentunya tepat di depan cewek yang sedang menunggu bus selanjutnya.
Dengan mantap, ia membuka helmnya. Tapi Aily tidak menatapnya sama sekali. Dia yakin seratus persen bahwa itu adalah Alderza. Dia menatap ke sembarang arah, sementara Alderza masih diam di atas motor.
"Aily." Panggil Alderza memecah keheningan, tetapi tentu saja Aily tidak menjawabnya.
"Motor gue kosong. Jok belakang... gak ada yang ngisi."
Aldersa terus saja mengoceh meskipun dia tahu kalau Aily tidak akan menanggapinya. Lagipula, lelucon apa yang sedang dia lakukan? Mengatakan kepada Aily kalau jok belakang motornya sedang kosong? Ada-ada saja.
Oke, kali ini Alderza akan langsung to the point, dia tidak mau basa-basi lagi.
"Gue anterin pulang ya."
Berhasil. Perkataan Alderza barusan mampu membuat Aily mengerutkan keningnya. Walaupun hanya itu reaksinya, setidaknya wajahnya itu tidak datar seperti beberapa detik yang lalu.
Wajah itu memperlihatkan kalau Aily mendengarkannya. Tapi sayangnya, Kata-kata itu tidak mampu membuat Aily membuka mulut.
"Lo mau terus pura-pura gak denger gue?"
Bus sekolah datang. Tanpa menatao Alderza sedikitpun yang tengah menunggu jawabannya, Aily langsung melangkahkan kakinya tanpa ragu untuk pergi meninggalkannya. Dan dia sangat yakin bahwa keputusannya untuk bungkam adalah keputusan yang tepat.
Aily menatap pilu jalanan yang ramai. Ada orang-orang yang berlalu lalang bersama teman-temannya dengan tawa kencang. Ada juga yang berjalan sambil bergenggaman tangan bersama kekasihnya. Dan masih banyak lagi hal yang bisa ia lihat dari jendela bus.
Saat ini, dia ingin menangis kembali di depan makam ayahnya, seperti yang biasa ia lakukan setiap harinya.
Bunga mawar yang dia siapka untuk sang ayah sudah hancur dan itu membuat hatinya teriris. Rasanya sakit, ketika tak ada seorang pun yang mengizinkannya untuk bahagia.
Setelah itu, Aily sampai di kompleks pemakaman keluarganya. Dia sudah tidak takut lagi dengan suasana pemakaman yang mencekam. Baginya, kehidupan kelamnya jauh lebih menyeramkan dibandingkan dengan makam-makam tersebut.
Ada yang aneh. Makam ayahnya begitu bersih dan harum. Juga ada bunga mawar merah yang bertebaran di sana. Bunga mawar itu sampai memenuhi makam ayahnya, dan yang paling mengagetkan adalah adanya sebuket mawar merah yang sangat indah.
Aily mengambilnya dengan perlahan. Begitu dia menemukan kertas di atas buket bunga tersebut, Aily tidak bisa membendung air mata bahagianya. Dia membaca tulisan di secarik kertas tersebut.
Bunga dari Aily, untuk ayah tercinta.
"Papa, akhirnya Aily bisa bawain Papa bunga yang cantik."
Entah siapa yang berbaik hati memberikan bunga cantik ini. Siapapun itu, tidak ada yang ingin dia katakan selain terima kasih. Aily memeluk bunga itu terus-menerus untuk mengungkapkan kebahagiaannya.
***
Setelah pulang dari pemakaman, Aily berjalan kaki untuk memberi makan kucing yang ia obati tiga hari yang lalu. Biasanya di sore hari, saat Aily membuka kotak makannya, kucing tersebut akan langsung menghampirinya.
Aily duduk diatas batu. Sesuatu membuatnya membelalakkan matanya. Kucing tersebut tengah memakan ayam goreng yang begitu besar dari kotak yang sudah disediakan.
"Meong?" Panggil Aily sembari mengusap-usap kucing tersebut.
"Meong." Balas kucing tersebut seakan mengerti panggilan Aily.
Dia terlihat lapar sekali, sampai memakan ayam tersebut dengan sangat lahap. Akhirnya Aily hanya bisa menyimpan makanan yang ia bawa. Mungkin jika ayam tersebut sudah habis, kucing itu akan memakan makanan yang ia bawa.
Syukurlah ada yang memberinya makanan enak. Biasanya Aily hanya membawa potongan kecil ikan dari sisa makanannya dan itu tidak akan membuatnya kenyang. Tentu saja kucing itu tidak akan kelaparan lagi sekarang.
"Aku pulang dulu ya."
"Meong."
Dia memilih berjalan kaki. Kakinya mulai membaik, bengkaknya sudah tidak terlalu terlihat karena Aily rajin mengompresnya. Dia tersenyum ceria sembari mempersiapkan makanan yang akan ia bawakan untuk bu Rama dan anak-anak jalanan lainnya.
Saat ia ingin menanyakan hal tersebut, Aiky melihat bu Rama dan anak-anak jalanan lainnya sedang makan ayam goreng dan lauk-pauk mahal lainnya. Makanan yang belum pernah Aily kasih sebelumnya.
"Kakak, sini." Panggil mereka yang menyadari kedatangan Aily.
"Ini ada titipan buat kakak."
"Dari siapa?"
"Dari temen kakak. Kita dikasih makanan enak. Hore!"
"Padahal kakak baru aja mau nanya kalian mau makan apa."
"Ini aja udah lebih dari cukup kok."
Aily tersenyum, lalu membuka kotak tersebut. Ayam goreng tersebut sama dengan ayam yang diberikan kepada kucing tadi.
Dari warna, bentuk, dan ukuran sama persis. Hanya saja yang ini ditambah nasi dan lauk-pauk lainnya.
Aily duduk disamping bu Rama yang tengah tersenyum kepadanya.
"Bu, ini dari siapa?" Tanya Aily bingung.
"Dari cowok ganteng yang waktu itu dateng ke sini."
"Ke sini?" Tanya Aily semakin ragu.
Tidak mungkin Alderza kan? Hanya Alderza teman Aily yang pernah melihatnya makan bersama anak-anak jalanan, tetapi itu sama sekali tidak mungkin.
Bu Rama mengangguk lalu menjawab. "Iya, dia pakai motor merah besar, sama kayak waktu itu. Siapa namanya ya? Al... Alde- ah, ibu lupa."
"A-Alderza?" Tanya Aily tidak percaya dengan mulut yang terbuka lebar.
"Nah, itu."
Aily langsung mencari-cari keberadaan Alderza di setiap tempat, tapi tidak menemukan keberadaannya.
Apa yang terjadi dengannya? Apa benar ini pemberian Alderza? Tidak, jangan terlalu berharap Aily. Tidak mungkin Alderza yang sangat membencinya, secara tiba-tiba berbuat baik kepadanya. Namun, sangat tidak mungkin jika bu Rama berbohong.
Setelah tahu bahwa dia tidak akan menemukan Alderza, Aily akhirnya duduk bersama mereka dan memakan ayam goreng tersebut. Hati kecilnya masih tidak percaya bahwa Aldersa lah yang sudah memberikan ini kepadanya.
"Alderza, makasih." Ucap Aily dalam hati sembari tersenyum kecil.
***
Aily melewati malam-malam seperti biasanya, menulis diary di bawah sinar rembulan, lalu tidur tepat pukul sembilan malam.
Begitulah, tidak ada yang spesial baginya. Hari-harinya terus berjalan monoton.... sampai keesokan harinya.
Dengan hati-hati, Aily turun dari bus pertama di depan sekolah. Mentari saat itu masih belum menampakkan dirinya sepenuhnya, dia masih nyaman bersembunyi di balik awan gelap.
Begitupun dengan siswa dan siswi yang ada di sini, mereka masih bersembunyi di balik selimut atau bahkan sedang menunggu bus kedua berangkat.
Seseorang di depan kelas tengah menunggu kehadirannya. Bukan Alderza, melainkan Bima, ketua OSIS yang pernah dihajar habis-habisan oleh Alderza karena sudah membelanya. Aily tersenyum tipis dan Bima membalasnya.
"Aily, bisa tolongin gak?"
"Ajarin tugas?" Tanya Aily langsung mengerti.
"Iya, banyak yang gak gue ngerti soalnya."
"Boleh, ayo."
Aily memintanya untuk masuk ke dalam kelas, tetapi Bima menolaknya. Jika di dalam kelas, dia yakin Alderza akan menghajarnya lagi seperti waktu itu.
"Di kantin mau?" Ajak Bima.
Aily sempat ragu untuk menjawab, tetapi tak lama kemudian dia menyetujui ajakan Bima.
Mereka duduk di kantin, lalu dengan segera membuka buku matematika, pelajaran yang paling dibenci anak IPS. Bima tetap ingin memahaminya agar nilainya tidak turun dari tahun kemarin, apalagi ujian semakin dekat.
"Nah, bagian ini yang gue gak ngerti."
Aily mengangguk, lalu menjelaskannya secara perlahan agar Bima dapat mengerti. Otak Aily sangat encer di kalangan siswi. Hanya dengan melihat soal, dia langsung mengerti bagaimana cara menghitungnya tanpa melihat contoh atau bahkan rumus.
Mereka belajar terlalu lama sampai lupa waktu. Bima terus bertanya kepada Aily, sampai ada seseorang yang menggebrak meja dengan sangat kencang.
"Oh, jadi gini kelakuan lo kalau gak ada kami?" Tanya Sinta penuh amarah.
"Jangan sok cantik deh lo. Pake lip balm segala, pasti si Wulan yang kasih."
"Kami lagu belajar. Ngapain bahas lip balm?" Tanya Bima heran.
Ada saja yang salah dengan Aiky menurut mereka, sampai membuatnya menjadi bahan bullying.
"Lo juga pakai lipstik kan, warna pink?" Tanya Bima dan itu membuat amarah Sinta semakin memuncak.
"Kesenengan lo huh? Ada yang belain!"
Sinta menghampiri Aily dan mencengkram pipinya kuat-kuat. Kebencian sangat terpancar di matanya, seolah Aily adalah kutu yang harus dimusnahkan.
Riska langsung merespon dan mengeluarkan lipstik dari tasnya, lalu memberikannya kepada Sinta.
"Makanya jadi cewek jangan keganjenan. Apalagi sampe liat-liat cowok kayak gitu." Balas Riska sembari berputar, lalu memegangi kedua tangan Aily dengan kuat, sementara Sinta tersenyum puas.
"Kami cuma belajar, gak lebih!" Ucap Aily berusaha membela dirinya.
Sinta tentunya tidak mau kalah. Dia ingin Aily menderita dan tidak boleh berdekatan dengan siapapun. Seberapa panjang pun pembelaan yang Aily lontarkan, tidak akan mempan untuknya.
Hukuman tetaplah hukuman. Dan itu harus dijalankan tanpa alasan apapun.
"Kita liat hukuman apa yang pantes buat cewek yang ngelanggar peraturan kayak lo." Ucap Sinta dengan senyuman liciknya.
Thank you guys yang udah baca. Kalau ada kesalahan kata, typo atau semacamnya, tolong dikoreksi ya. Love you guys.