Seorang pemuda berusia 25 tahun, harus turun gunung setelah kepergian sang guru. Dia adalah adi saputra.. sosok oemuda yang memiliki masa lalu yang kelam, di tinggalkan oleh kedua orang tuanya ketika dirinya masih berusia lima tahun.
20 tahun yang lalu terjadi pembantaian oleh sekelompok orang tak di kenal yang menewaskan kedua orang tuanya berikut seluruh keluarga dari mendiang sang ibu menjadi korban.
Untung saja, adi yang saat itu masih berusia lima tahun di selamatkan okeh sosok misterius merawatnya dengan baik dari kecil hingga ia berusia 25 tahun. sosok misterius itu adalah guru sekaligus kakek bagi Adi saputra mengajarkan banyak hal termasuk keahliah medis dan menjadi kultivator dari jaman kuno.
lalu apa tujuan adi saputra turun gunung?
Jelasnya sebelum gurunya meninggal dunia, dia berpesan padanya untuk mencari jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarif Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 yosen dan orang-orang bayaran
Brak!
Suara pintu kayu yang dihantam kapak kecil terdengar memekakkan telinga. Pintu rumah rayan langsung hancur, kayunya terbelah dan serpihannya bertebaran.
Di ambang pintu yang rusak itu berdiri sekitar dua puluh satu orang. Mereka mengenakan seragam yang sama, berwarna coklat dengan lambang kapak terbordir di bagian punggung. Salah satu dari mereka adalah Tuan Muda Yosen, yang sebelumnya bertemu dengan rayan dan Maudy di warung makan.
"Apa kamu yakin ini adalah rumahnya?" tanya seorang pria berambut gondrong yang tampak seperti pemimpin mereka. Wajahnya keras, tatapannya dingin dan menuntut.
"Benar, Tuan Gun. Kami berdua telah menyelidiki di mana pemuda dan gadis itu tinggal, dan inilah tempat mereka," jawab salah satu bawahan Yosen, yang wajahnya masih sedikit menunjukkan bekas pukulan rayan dua hari lalu.
"Gunda," potong Yosen, terdengar tidak sabar. "Tidak perlu membuang waktu lagi. Aku hanya ingin gadis di dalam. Dan kamu, beri pemuda itu pelajaran. Setelahnya aku akan membayarmu sesuai kesepakatan."
Namun, sebuah suara yang dingin dan tegas membuat Yosen dan rombongan menoleh.
"Siapa yang berani sekali membuat keributan di siang bolong seperti ini?"
Tepat ketika pria gondrong, Gunda, hendak memerintahkan bawahannya untuk menerobos masuk, kedua pengawal Nona Hani—Luhut dan Darma—muncul dengan raut wajah dingin dan mengancam.
Mereka berdua awalnya hanya mengamati dari seberang jalan saat gerombolan orang itu tiba. Tetapi ketika salah satu dari mereka langsung menghantamkan kapak kecilnya pada pintu rumah tersebut, rasa teritorial dan kebutuhan untuk menjaga kehormatan Nona Muda mereka membuat Luhut dan Darma bergegas menghampiri.
"Siapa kalian?" tanya Yosen, alisnya bertaut. Entah mengapa, ia merasa kedua pria yang tampak berusia 30-an itu bukanlah orang biasa. Berbeda dengan Yosen, Gunda langsung mengetahui bahwa kedua pria berjas itu adalah ahli bela diri setingkat dengannya, bahkan mungkin lebih.
"Seharusnya kami berdua yang bertanya padamu, anak muda. Siapa kalian dan kenapa datang langsung merusak pintu rumah orang?" ucap Luhut, suaranya rendah namun penuh otoritas. Hal ini membuat Yosen langsung mengerutkan keningnya.
"Hais... kalian berdua pergilah, jangan mencampuri urusanku," usir Yosen dengan nada acuh.
Mendengar itu, Darma dan Luhut langsung saling memandang. Senyum sinis terukir tipis di bibir mereka. Bahkan bocah ingusan ini berani mengusir mereka.
"Bocah," balas Darma, tatapannya menghina. "Aku beri kamu waktu satu menit untuk menjelaskan kenapa kalian datang dan langsung menghancurkan pintu rumah orang?" Darma ingin tahu alasannya terlebih dahulu, karena bagaimana pun seorang ahli bela diri seperti mereka punya aturan main.
"Tidak tahu diri!" Wajah Yosen memerah karena marah. "Sepertinya kalian berdua datang memang ingin mencampuri urusanku. Aku tidak tahu siapa kalian dan dari mana kalian berasal. Tetapi, siapapun yang mencampuri urusanku, dia akan menanggung konsekuensinya!"
Yosen mengucapkan itu dengan penuh kepercayaan diri. Dengan adanya Gunda bersamanya, Yosen merasa tidak akan ada yang bisa menghalangi tujuannya. Yosen tidak tahu bahwa kedua pria itu adalah ahli bela diri yang tingkat kekuatannya jauh lebih tinggi daripada Gunda.
Luhut dan Darma kembali saling pandang. Mulut pemuda ini adalah yang paling sombong yang pernah mereka dengar. Entah tuan muda dari keluarga mana, padahal mereka berdua mengenali hampir semua tuan muda dari keluarga kalangan atas maupun menengah di kota ini.
"Bocah, keberanian apa yang membuatmu bisa berkata seperti itu pada kami?" ujar Luhut, nada suaranya naik satu oktaf. "Bahkan tuan muda dari Keluarga Kusuma maupun Priyadi tidak akan berani berbicara seperti itu pada kami." Meskipun status mereka sebagai pengawal dari Nona Muda Keluarga Purnawan, mereka memiliki status lain yang berasal dari sebuah perguruan bela diri peringkat ketiga terkuat dari lima perguruan di negara ini.
Yosen cukup terkejut mendengarnya. Ia jelas mengetahui nama-nama keluarga terkuat di kota ini. Namun, yang membuat Yosen terdiam adalah keraguan: apakah kedua pria berjas hitam ini memiliki kedudukan tinggi? Namun, Yosen tidak terlalu mempercayai ucapan kedua pria itu, karena dirinya sendiri juga bisa saja berkata seperti itu pada orang lain yang tidak mengenalnya.
"Huhh... beraninya kalian membual di depanku? Gunda, beri mereka berdua pelajaran!" perintah Yosen pada Gunda.
Meskipun kedua pria itu memiliki kedudukan tinggi, menurut Yosen, status Gunda sendiri tidak bisa diremehkan. Gunda adalah orang kepercayaan dari organisasi bawah tanah, yang mana Gunda sendiri dipercaya untuk menjaga kawasan metro ini.
Gunda segera memberi isyarat pada para bawahannya untuk memukuli kedua pria paruh baya itu. Namun, sebelum para bawahan itu bergerak, suara rayan terdengar dari dalam rumah, suaranya dingin menusuk hingga ke tulang.
"Aku ingin tahu siapa yang sudah bosan hidup normal dengan anggota tubuhnya yang utuh."
Rayan melangkah keluar melalui pintu yang hancur, tatapannya beku menatap segerombolan orang itu. Pandangannya langsung tertuju pada Yosen dan kedua pengikutnya yang pernah ia pukuli dua hari lalu.
"Ternyata kalian?" lanjut rayan, pandangannya terkunci pada Tuan Muda Yosen.
Kedua pengikut Yosen langsung bergidik ngeri. Masih tergambar jelas di ingatan mereka tentang bagaimana pemuda itu mengalahkan mereka dengan mudah.
"Bagus, akhirnya kamu keluar juga, bocah!" seru Yosen, senyum licik terukir di wajahnya. "Aku pikir kamu tidak akan keluar sampai aku merobohkan rumah bobrokmu itu."
Terlihat jelas niat tersembunyi Yosen pada pemuda itu. Sejak kedua bawahannya kembali dengan wajah bengkak, untuk pertama kalinya Yosen merasa direndahkan. Apalagi gara-gara pemuda ini, ia tidak mendapatkan gadis cantik yang ia inginkan.
"Siapa kalian?"
Seru Hani, yang baru saja ikut keluar bersama Maudy. Mereka berdua terkejut melihat pintu sudah hancur dan ada segerombolan orang bersenjata kapak kecil di depan sana.
"Cantik sekali..."
Lirih Yosen, matanya berbinar penuh nafsu saat melihat kedua gadis itu keluar. Yosen langsung terpaku saat melihat wanita yang menggunakan gaun berwarna putih (Hani) di samping Maudy. Di mata Yosen, meskipun gadis yang ia jumpai di warung makan (Maudy) cukup cantik, gadis bergaun putih itu jauh lebih memikat dan cantik.
"Aku tidak menyangka, ternyata kamu menyembunyikan dua gadis cantik sekaligus. Sepertinya hari ini aku akan menghabiskan malam yang panjang," ucap Yosen pada rayan, lalu kembali menoleh pada Hani dan Maudy.
"Bajingan! Hentikan mata mesummu itu!"
Hani yang sudah terbiasa mendapat tatapan mesum dari para pemuda, entah mengapa ia merasa amarah murni ketika kedua orang asing itu menatapnya dengan pandangan menjijikkan.
"Oh... wanita bermulut tajam rupanya. Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Kebetulan tuan muda ini belum pernah menikmati wanita bermulut tajam," balas Yosen, senyumnya semakin melebar.
Yosen tidak menyadari bahwa Luhut dan Darma yang berdiri di dekatnya sudah tak kuasa menahan kemarahan mereka.
Wus!
Plak!
Tiba-tiba saja Luhut bergerak dengan kecepatan kilat dan menampar wajah Yosen. Tamparan itu keras, membuat Yosen seketika merasa wajahnya membengkak dan tubuhnya terhuyung beberapa meter.
"Berani sekali kamu berbicara menjijikkan seperti itu pada Nona Muda!" ucap Luhut. Kini ia sudah berdiri di posisi Yosen sebelumnya, matanya memancarkan kemarahan yang tertahan.
"K-kau! Kau berani menamparku?!" Sembari memegang pipinya yang langsung membengkak, Yosen menatap pria itu dengan kemarahan yang membara.
"Hanya menampar pemuda menjijikkan sepertimu, memangnya kenapa?" ujar Luhut, suaranya rendah mengancam. "Aku bahkan akan langsung membunuhmu jika Nona Muda memintanya!"
"Bajingan!" Raung marah Yosen. "Gunda, cepat bunuh pria itu! Aku ingin dia mati dengan mengenaskan!"
ditunggu kelanjutannya thor💪
ditunggu kelanjutannya thor
SEKIAN DAN TERIMA KASIH
Disini juga di sebut nama MCnya Rayan tapi di sinopsis di sebut Adi agak membingungkan thor apakah ada kesalahan di penamaan karakternya?
Itu saja kritik yang mau aku sampaikan kepadamu thor, Terima kasih