Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Strategi Terlarang
Di lantai paling atas, Hendra Wijaya sedang menikmati cerutu, menatap gemerlap lampu Jakarta dari balik kaca antipeluru. Ia tidak tampak terkejut saat sekretarisnya mengumumkan kedatangan Adelia.
"Duduklah, Adelia. Aku tahu kamu akan datang lebih cepat dari Arlan," ujar Hendra tanpa berbalik.
Adelia tidak duduk. Ia berdiri di tengah ruangan, meletakkan sebuah map hitam di meja kerja Hendra. "Saya tidak datang untuk bernegosiasi soal naskah, Tuan Hendra. Saya datang untuk menawarkan kesepakatan yang lebih menguntungkan bagi reputasi Anda."
Hendra berbalik, alisnya terangkat. "Oh? Kamu ingin mengajariku soal bisnis?"
"Saya tahu Anda tidak peduli pada film ini sebagai karya seni. Anda ingin film ini sebagai alat pemutihan nama keluarga Wijaya sebelum Anda melantai di bursa saham bulan depan, bukan?" Adelia menatap langsung ke mata pria itu. "Jika Arlan dipaksa mengubah naskahnya, dia akan sengaja merusaknya. Dia akan membuat film yang hambar, dan kritikus akan mencium bau sensor korporat. Itu justru akan merusak citra Lux-Apex."
Hendra menyesap cerutunya. "Lalu apa tawaranmu?"
"Biarkan Arlan menyelesaikan visinya. Sebagai gantinya, saya akan memberikan hak eksklusif bagi Lux-Apex untuk menjadi sponsor utama di pemutaran perdana global. Kita akan membuat narasi bahwa perusahaan Anda mendukung 'kebebasan berekspresi' dan 'kejujuran artistik'. Itu jauh lebih bernilai daripada sekadar mengubah karakter antagonis."
Hendra tertawa keras, suara tawanya bergema di ruangan yang sunyi itu. "Cerdas. Sangat cerdas. Tapi ada satu masalah, Adelia. Aku ingin Arlan bertekuk lutut. Aku ingin dia mengakui bahwa tanpa keluarga yang dia benci ini, dia bukan siapa-siapa."
"Dia tidak akan pernah melakukan itu," potong Adelia. "Tapi saya bisa memberikan sesuatu yang lain. Jika Anda melepaskan jaminan di Paris sekarang, saya akan menandatangani kontrak pribadi. Saya akan memastikan A&A Pictures tetap memberikan royalti tambahan sepuluh persen dari keuntungan global langsung ke rekening Anda, tanpa Arlan perlu tahu asalnya."
Hendra terdiam. Ia menatap Adelia dengan pandangan baru—pandangan antara kagum dan waspada. "Kamu bersedia menipu kekasihmu lagi demi menyelamatkan studionya?"
"Saya tidak menipunya. Saya menyelamatkannya dari dirinya sendiri," jawab Adelia, meski hatinya terasa seperti diremas.
Hendra berjalan mendekat, aroma cerutunya menyesakkan. "Baik. Aku suka keberanianmu. Tapi aku butuh jaminan lebih. Jika dalam enam bulan uang itu tidak masuk, aku akan mengambil alih seluruh hak cipta Detak Jakarta secara hukum. Dan kamu... kamu yang akan menjelaskan itu padanya."
"Setuju," ujar Adelia tanpa ragu, meski ia tahu ia baru saja menandatangani surat kematian hubungannya jika ini gagal.
Adelia keluar dari gedung itu dengan tangan gemetar. Ia telah melakukan strategi terlarang. Ia telah membuat kesepakatan di bawah meja dengan iblis demi malaikatnya.
Saat ia kembali ke studio, ia menemukan Arlan sedang duduk di ruang editing yang gelap, menatap layar monitor yang menampilkan adegan penutup film. Arlan tidak menoleh, tapi suaranya terdengar serak.
"Dari mana kamu, Adel?"
Adelia membeku di ambang pintu. "Aku... aku hanya mencari udara segar."
Arlan berbalik perlahan. Di bawah sinar biru monitor, wajahnya tampak hancur. "Udara segar di SCBD? Aku melihat GPS mobil studio, Adel. Kamu menemui dia, kan?"
Kesunyian yang mengikuti terasa lebih berat daripada badai di luar. Adelia menyadari bahwa di saat ia mencoba memenangkan peperangan melawan Hendra, ia mungkin baru saja kalah dalam perjuangan mempertahankan cinta Arlan.
Pecahnya Kepercayaan
Layar monitor di ruang editing berkedip-kedip, memantulkan cahaya biru pucat ke wajah Arlan yang tampak seperti mayat hidup. Keheningan di antara mereka bukan lagi keheningan yang nyaman seperti saat mereka membedah naskah hingga subuh, melainkan keheningan yang tajam, seperti pecahan kaca yang siap melukai siapa pun yang bergerak lebih dulu.
"Arlan, biarkan aku menjelaskan—"
"Menjelaskan apa lagi, Adel?" potong Arlan, suaranya pelan namun mengandung getaran amarah yang mengerikan. Ia melemparkan sebuah tablet ke atas meja editing. Di layarnya, terpampang notifikasi sistem pelacakan aset studio. "Aku tidak hanya melacak mobil. Aku melacak aktivitas login dokumen legal kita. Kamu baru saja menandatangani amandemen kontrak dengan Lux-Apex, bukan?"
Adelia terpaku. Ia lupa bahwa di tengah kemarahannya, Arlan tetaplah seorang teknis yang teliti. Ia tidak bisa menyembunyikan jejak digital di studio mereka sendiri.
"Aku melakukannya untuk kita, Arlan! Hendra akan membekukan rekening kita besok pagi jika aku tidak memberikan sesuatu padanya!" seru Adelia, melangkah mendekat, mencoba meraih tangan Arlan.
Arlan menepisnya dengan kasar, seolah sentuhan Adelia adalah api yang membakar kulitnya. "Sesuatu? Kamu menjual sepuluh persen royalti masa depan kita padanya! Kamu menjadikan karya jiwaku sebagai mesin cuci uang untuk pria yang menghancurkan hidup ibuku! Dan kamu melakukannya di belakangku... LAGI!"
"Itu satu-satunya cara agar dia melepaskan jaminan di Paris! Dengan begitu, dia tidak punya hak suara lagi untuk mengubah isi filmmu! Kamu bisa tetap membuat film yang jujur, Arlan! Kamu bebas!"
"Bebas?" Arlan tertawa meremehkan, tawa yang berakhir dengan isak tangis yang tertahan. "Kamu pikir aku merasa bebas setelah tahu pasanganku sendiri bersekongkol dengan musuhku? Kamu baru saja membuktikan apa yang Hendra katakan tadi pagi, Adel. Bahwa aku tidak bisa berdiri sendiri. Bahwa aku butuh 'pengasuh' yang licik untuk membersihkan jalanku."
Adelia menggelengkan kepala, air mata mengalir deras. "Bukan begitu, Arlan... aku hanya tidak mau melihatmu hancur."
"Tapi kamu yang menghancurkanku sekarang!" Arlan berdiri, menjatuhkan tumpukan naskah dari meja hingga berhamburan di lantai. "Aku lebih memilih studio ini disita, aku lebih memilih film ini tidak pernah tayang, daripada harus berhutang budi pada pria itu melalui tanganmu!"
Arlan berjalan menuju pintu, namun ia berhenti sejenak, menatap Adelia dengan tatapan yang sangat asing. Tidak ada lagi cinta di sana, hanya kekosongan yang dalam.
"Keluar, Adelia."
"Arlan, tolong..."
"Keluar dari studio ini. Sekarang," perintah Arlan dingin. "Aku akan menyelesaikan film ini sendirian. Aku akan membayar setiap sen yang kamu janjikan pada Hendra, tapi aku tidak mau melihat wajahmu lagi di set ini. Kita... kita sudah selesai."
Dunia Adelia seolah runtuh. Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada ancaman Hendra Wijaya manapun. Ia menatap Arlan, berharap menemukan sedikit saja keraguan di matanya, namun Arlan sudah berbalik, kembali menatap layar monitor yang menampilkan adegan terakhir yang mereka edit bersama—adegan tentang pengkhianatan dan kehilangan.
Adelia mengambil tasnya dengan tangan gemetar. Ia berjalan keluar dari studio A&A Pictures, tempat yang pernah ia sebut sebagai rumah, tempat di mana mimpinya dan mimpi Arlan menyatu. Di luar, hujan sudah mereda, meninggalkan aroma tanah yang basah dan kesunyian yang mencekam.
Di dalam studio, Arlan terduduk lemas di kursi sutradaranya. Ia menatap naskah yang berantakan di lantai. Ia memenangkan kemerdekaan kreatifnya dari Hendra Wijaya, namun ia kehilangan satu-satunya orang yang membuatnya ingin menciptakan karya sejak awal.
Malam itu, studio yang biasanya penuh dengan tawa dan diskusi cerdas, menjadi kuburan bagi sebuah kepercayaan yang telah pecah berkeping-keping. Arlan menekan tombol delete pada draf naskah terakhir yang mereka kerjakan bersama, memutuskan untuk menulis ulang akhir cerita filmnya—kali ini, sebuah akhir yang jauh lebih gelap dan tanpa harapan.