NovelToon NovelToon
Demi Anakku, Aku Akan Merebut Cinta Suamiku

Demi Anakku, Aku Akan Merebut Cinta Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Romansa Fantasi
Popularitas:23.9k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,

Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia

mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

Berita itu datang seperti petir di siang bolong, menghancurkan ketenangan pagi di pesantren. Nadine jatuh terduduk di lantai kamar tamu saat menerima kabar bahwa ayahnya telah meninggal dunia .

Ayahnya, sosok lelaki tegar yang selama ini menjadi alasan Nadine berjuang, telah berpulang ke rahmatullah akibat serangan jantung mendadak setelah syok melihat ruko anak menantunya berantakan semalam.

"Bapak... Mas, Bapak..." tangis Nadine pecah, suaranya menyayat hati.

Aditya langsung memeluk istrinya, menahan tubuh Nadine yang lemas. Wajahnya tegang, ada rasa bersalah yang menghujam jantungnya. Ia tahu, serangan jantung itu pasti ada kaitannya dengan keributan yang diciptakan anak buah ayahnya semalam.

Tanpa banyak bicara, Gus Azmi menyerahkan kunci mobil SUV miliknya kepada Aditya.

"Gunakan mobil ini, Adit. Hati-hati di jalan. Para santri akan mengawal kalian dari jarak jauh dengan motor untuk memastikan keamanan. Jangan berhenti di tempat sepi," pesan Gus Azmi dengan nada berat.

Aditya mengangguk cepat. Ia memapah Nadine yang terus terisak menuju mobil. Perut besar Nadine membuatnya sulit bergerak, ditambah guncangan emosi yang hebat, wajahnya tampak sangat pucat.

"Sabar, Sayang... istighfar. Kita ke sana sekarang," bisik Aditya sambil memasangkan sabuk pengaman untuk Nadine dengan tangan gemetar.

Di dalam mobil, suasana begitu menyesakkan. Nadine memeluk bantal kecil, bibirnya tak henti melantunkan ayat-ayat suci dengan suara parau, mencoba mencari kekuatan di tengah badai kesedihan.

"Mas... Bapak belum sempat lihat cucunya," bisik Nadine lirih, air matanya membasahi cadar tipis yang ia kenakan. "Bapak janji mau mengadzani bayi kita nanti..."

Aditya mencengkeram kemudi dengan erat, matanya merah menahan tangis. "Maafkan aku, Nadine. Ini semua salah keluargaku. Kalau saja aku tidak membawa kalian ke dalam masalah ini..."

Nadine menggeleng lemah, ia meraih tangan kiri Aditya yang berada di tuas transmisi. "Jangan salahkan dirimu, Mas. Ini takdir Allah. Ajal tidak pernah salah alamat. Mas harus kuat untuk Nadine dan bayi kita."

Sentuhan tangan Nadine yang dingin memberikan kekuatan bagi Aditya. Ia menginjak pedal gas lebih dalam, memacu mobil menembus jalanan kabupaten menuju Rumah Sakit Umum tempat jenazah sang ayah disemayamkan.

Begitu sampai di selasar ruang jenazah, mereka melihat Ibu Nadine terduduk lemas di bangku panjang, ditemani oleh beberapa tetangga. Begitu melihat Nadine, sang ibu langsung memeluk anaknya.

"Nadine... Bapakmu, Nak... Bapakmu sudah tidak ada," ratap sang Ibu.

Aditya berdiri mematung di samping mereka. Ia melihat tubuh mertuanya yang terbujur kaku di bawah kain jarik. Pria yang dulu menyambutnya sebagai menantu dengan tangan terbuka meski Aditya hanya mengaku sebagai tukang bengkel, kini telah tiada.

Aditya berlutut di samping ranjang jenazah. Ia mencium tangan pria tua itu untuk terakhir kalinya. "Pa... maafkan Adit. Adit janji akan menjaga Nadine dan Ibu dengan nyawa Adit sendiri," batinnya bersumpah.

Di tengah suasana duka yang mendalam, Aditya sempat melihat sesosok pria berpakaian serba hitam berdiri di ujung lorong rumah sakit, memperhatikannya dengan tatapan dingin sambil berbicara melalui handy talky.

Aditya sadar, ayahnya tidak memberikan waktu bagi mereka untuk berduka. Rumah sakit ini sudah terkepung.

"Nadine, Ibu... kita harus segera membawa Bapak pulang ke desa untuk dimakamkan. Kita tidak bisa lama-lama di sini," ucap Aditya dengan nada waspada.

Namun, saat mereka hendak mengurus administrasi jenazah, tiba-tiba beberapa pria berjas rapi muncul dari arah pintu masuk, dipimpin oleh seorang pria tua yang sangat dikenal Aditya.

Pria itu berjalan dengan langkah angkuh, tongkatnya mengetuk lantai rumah sakit dengan irama yang mengintimidasi. Ia tidak datang untuk melayat, melainkan untuk menjemput paksa putranya di saat titik terlemahnya.

"Drama yang menyedihkan, Aditya," suara Tuan Pratama terdengar dingin di koridor rumah sakit. "Sekarang, ikut Papa pulang, atau wanita hamil itu akan kehilangan lebih dari sekadar ayahnya hari ini.".

Para santri yang sedari tadi mengikuti Aditya dan Nadine segera menghalangi Tuan Pratama... sempat terjadi perselisihan namun ditenangkan oleh keamanan rumah sakit karena tidak boleh ada keributan... saat pihak Tuan Pratama dan para santri berdebat, Aditya meraih tangan Nadine untuk pergi meninggalkan rumah sakit... sedangkan ibunya pergi bersama tetangganya untuk langsung mengantar suaminya ke pemakaman.

___

Dengan hati-hati, Aditya menggandeng tangan sang istri dengan lembut untuk memasuk ke dalam mobil, rencananya mereka akan kembali lagi ke pesantren terlebih dahulu untuk mengecoh anak buah Papanya.

Mobil SUV milik Gus Azmi melaju membelah kegelapan jalanan kabupaten. Di dalamnya, suasana begitu tegang. Aditya mencengkeram kemudi dengan buku-buku jari yang memutih, matanya terus melirik kaca spion. Ia tahu, mobil-mobil hitam di belakang mereka bukan sekadar membuntuti, mereka sedang berburu.

Di sampingnya, Nadine memeluk perutnya yang membuncit. Wajahnya pucat pasi, bukan hanya karena ketakutan, tapi karena duka kehilangan ayahnya yang baru saja ia terima beberapa jam lalu.

"Mas... mereka semakin dekat," bisik Nadine, suaranya bergetar hebat. "Kenapa mereka setega ini? Bapak baru saja meninggal, Mas..."

Aditya meraih tangan Nadine, menggenggamnya erat dengan satu tangan sementara tangan lainnya mengendalikan setir yang mulai bergetar karena kecepatan tinggi. "Sabar, Sayang. Istighfar. Gus Azmi dan para santri ada di belakang kita, mereka tidak akan membiarkan kita sendirian."

Aditya menatap tajam ke depan. "Nadine, dengarkan aku. Jika terjadi sesuatu... jika kita terpisah... kamu harus berjanji untuk tetap hidup. Demi anak kita."

Nadine menggeleng kuat-kuat, air matanya tumpah membasahi cadarnya. "Jangan bicara begitu, Mas! Kita kembali ke pesantren, selalu menghadiri pemakaman bapak. Kita tidak akan terpisah!"

"Aku mencintaimu, Nadine. Lebih dari nyawaku sendiri," ucap Aditya dengan nada yang sangat dalam, seolah itu adalah kalimat perpisahan yang ia siapkan sejak lama.

Tiba-tiba, sebuah mobil hitam besar melesat dari jalur kanan dan mencoba memotong jalan mereka. Aditya membanting setir ke kiri, menghindari tabrakan. Namun, dari arah belakang, mobil lain menghantam bemper SUV mereka dengan keras.

DUARRR!

"Allahu Akbar!" teriak Nadine spontan. Tubuhnya terguncang hebat.

"Nadine, merunduk! Lindungi perutmu!" perintah Aditya tegas. Ia mencoba menambah kecepatan, namun mobil lawan terus memepet mereka ke arah pinggir jalan yang berbatasan langsung dengan jurang landai.

Cahaya lampu sorot dari mobil pengejar menyilaukan spion, membuat pandangan Aditya sempat terganggu. Di depannya, sebuah truk besar muncul dari arah berlawanan.

"Mas, awassss!" jerit Nadine.

Aditya berusaha menghindar, namun mobil hitam di sampingnya sengaja menabrakkan diri ke pintu pengemudi dengan kekuatan penuh. Mobil SUV Gus Azmi kehilangan kendali. Ban mobil berdecit memilukan, asap mengepul dari gesekan aspal.

"Mas Adit... Allohuakbar....!!!" Nadine berteriak sambil memeluk perutnya sekuat tenaga, meringkuk menjadi bola kecil untuk melindungi nyawa di rahimnya.

"Nadine, pegang tanganku!" Aditya melepaskan setir, mencoba meraih tubuh istrinya untuk melindungi Nadine dengan tubuhnya sendiri.

Namun terlambat. Mobil itu menghantam pembatas jalan, terguling beberapa kali di udara. Suara besi yang remuk dan kaca yang pecah memenuhi malam. Pintu di sisi Nadine terlempar terbuka akibat hantaman gulingan ketiga.

Bruk...

Bruk...

Bruk....

Dalam satu putaran yang sangat dahsyat, tubuh Nadine terlempar keluar dari kabin, melayang di udara sebelum akhirnya menghantam semak-semak di kedalaman jurang yang gelap.

Aditya masih berada di dalam mobil yang kini berhenti dalam posisi terbalik, terjepit di antara mesin yang mulai terbakar dan kemudi yang menghantam dadanya. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, ia sempat melihat ke arah pintu yang terbuka, ke arah di mana istrinya baru saja terpental.

"Na... dine..."

Lalu, sunyi. Hanya suara tetesan bensin dan desis mesin yang panas, sementara sirine mobil anak buah Tuan Pratama mulai mendekat untuk mengambil paksa sang pangeran yang sudah tak berdaya.

1
@Mita🥰
Noah mau di bikin kan adik🤭🤭
Rosna Marleni
syukur Alhamdulillah akhirnya mereka kembali bersatu , semoga mereka mampu menyingkirkan parasit dari kehidupan mereka...dan Noah menjadi anak yang paling bahagia...
Sri Supriatin
alhamdullilah n sukses utk selanjutjya ms Adit n Nadine 😍😍😍
Indriani Kartini
Alhamdulillah, mulailah berjuang bersama2
nunik rahyuni
syukurlah..mudah mudahn g ada lg yg mengganggu...buat ortu mu tak bisa bekutik adit klo tidak mereka akan betingkah lg memisahkan kalian
Sukarti Wijaya
alhamdulillah sdh menyatu🤭👍
Meiny Gunawan
lanjuuttt....💪
@Mita🥰
wah Ardan ketemu noah
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 syukur in kamu Aurel 🤣🤣🤣
Rosna Marleni
kapan lah para lampir itu tobatnya ya....gak sabaran nunggu mereka bertobat dan menjadi orang baik....kasihan Nadin penderitaannya masih belum berakhir...semangat Nadin semoga perjuanganmu tidak sia sia...
Dewi kunti
Adelia dan Ardan sedang mendatangi pesta kerabatnya,sedangkan Adelia berpura-pura menjadi gadis polos,ini benar gak nulis nya,trus belum ada pergerakan mungkin ya bukan pergelangan 🤭
🥰🥰m4r1n4.sg🙏🏻🙏🏻🙏🏻: 🙏🙏🙏🥰, terimakasih koreksinya
total 1 replies
Rosna Marleni
kenapa gak jujur aja Adit supaya Nadin bahagia....
Sukarti Wijaya
masih diulur2 ya thor, bikin penisirin😄
🥰🥰m4r1n4.sg🙏🏻🙏🏻🙏🏻
terimakasih untuk hari ini 🥰🥰🥰
Sri Supriatin
tks upnya yg buanyaak 👍💪💪💪
Sri Supriatin
Thor bikin readers penasaran dulu 🤭🤭😍😍
@Mita🥰
la kirain langsung jujur sama Nadine adit
Sri Supriatin
sy ikut seneng thor perjalanan bertahun...tahun slmt berpieran Amnesia Adit semoga membuahkan hasil...bertemu abang Asep membangun desa bersama 🙏🙏🙏
nunik rahyuni
sedikit sandiwara dlu..hancurkn ego kelg mu...mereka hidup diatas derita ank istrimu..ingat kekejaman mereka..pindh kn smua aset kerja keras mu buat mereka miskin biar bisa merasakn bagaimn jd org miskin biar g terus memandang rendah org
Rosna Marleni
syukur Alhamdulillah akhirnya ingatan Aditya kembali lagi....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!