Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak di SMA
Cahaya biru dari medali di tangan Lauren meledak, menabrak pekatnya kabut hitam yang dibawa Adiwangsa malam itu. Seluruh rumah bergetar, fondasinya merintih di bawah tekanan dua kekuatan yang saling melumat. Malam itu berakhir dengan keheningan yang memekakkan telinga; Adiwangsa mundur ke dalam bayang-bayang, menyadari bahwa wadah yang ia incar bukan lagi sekadar kotak kayu kosong, melainkan sebuah benteng yang telah menumbuhkan taring.
Tiga tahun telah berlalu sejak malam yang mengubah hidupnya itu.
Lauren berdiri di depan cermin, merapikan kerah seragam putih abu-abunya. Ia kini berusia tujuh belas tahun. Rambut hitamnya dibiarkan terurai, membingkai wajah yang kini memiliki garis rahang lebih tegas dan tatapan mata yang dalam. Di balik kain seragamnya, medali kuno itu masih tergantung, bersentuhan langsung dengan kulit dadanya. Benda itu kini tidak lagi terasa berat; ia telah menjadi bagian dari denyut jantungnya.
"Kamu sudah siap?" suara Herza terdengar dari arah jendela.
Lauren menoleh. Herza masih di sana, setia mendampinginya. Retakan hitam di wajah arwah remaja itu sudah hampir hilang sepenuhnya, meski pendar birunya kini memiliki semburat warna perak yang asing. Herza tampak lebih dewasa, atau mungkin Lauren yang kini mulai bisa memahami kedalaman beban yang dipikul mentornya.
"Siap atau tidak, hari ini dimulai, kan?" jawab Lauren pelan. Ia meraih tas punggungnya dan melangkah keluar kamar.
Kondisi rumahnya sudah kembali normal, setidaknya secara fisik. Bram dan Maria tetap tidak tahu detail pertempuran tiga tahun lalu yang hampir meruntuhkan rumah mereka. Bagi mereka, Lauren hanyalah gadis remaja yang kini lebih tenang dan jarang mengalami histeris. Mereka tidak tahu bahwa setiap pagi, Lauren harus membersihkan sisa-sisa energi negatif yang mencoba menyusup melalui celah pintu.
"Lauren, sarapannya jangan lupa!" teriak Maria dari dapur.
"Iya, Ma!"
Lauren menyambar selembar roti dan mencium pipi ibunya. Ia melihat aura Maria; kuning hangat dengan sedikit guratan keabu-abuan tanda kelelahan. Lauren mengalirkan sedikit energi melalui sentuhannya, mencoba menghapus rasa pegal di bahu ibunya. Ia tersenyum saat melihat warna abu-abu itu memudar. Ini adalah cara kecilnya menjaga mereka tanpa mereka sadari.
Perjalanan menuju SMA Garuda terasa berbeda bagi Lauren. Indra keenamnya kini jauh lebih tajam, hampir seperti radar yang terus memindai radius sepuluh meter di sekelilingnya. Ia tidak lagi melihat arwah sebagai ancaman yang mengejutkan. Ia melihat mereka sebagai residu, sebagai bagian dari tekstur dunia yang harus ia navigasikan.
Di gerbang sekolah, kerumunan siswa baru berdesakan. Lauren menarik napas panjang, memasang ekspresi wajah paling netral yang ia miliki. Menjadi normal adalah tugas tersulitnya.
"Terlalu banyak emosi di sini," bisik Herza yang melayang rendah di samping Lauren, tidak terlihat oleh mata-mata yang sibuk mencari nama di papan pengumuman.
"Kegembiraan, kecemasan, rasa pamer. Ini adalah prasmanan bagi para parasit."
Lauren mengangguk samar. Ia berjalan menembus kerumunan. Benar saja, di antara bahu-bahu siswa yang tertawa, ia melihat beberapa Ghoulish Parasite kecil merayap, mencoba mencari celah pada mereka yang merasa tidak percaya diri. Lauren hanya perlu memberikan satu tatapan tajam, membiarkan sedikit energi birunya berkedip di pupil matanya. Makhluk-makhluk itu seketika menciut dan lari menjauh.
"Bagus. Kamu sudah mulai ahli menakuti mereka tanpa perlu mengeluarkan suara," puji Herza.
Lauren terus berjalan menuju aula untuk mengikuti upacara pembukaan. Langkahnya terhenti saat ia melewati lorong laboratorium kimia. Sebuah denyutan dingin yang sangat akrab menghantam medali di dadanya. Lauren membeku. Ia memejamkan mata sejenak, memfokuskan pandangannya pada aliran energi di udara.
Di sana, di sudut koridor yang remang, ia melihat sesosok bayangan yang berbeda. Itu bukan arwah tersesat. Itu bukan larva energi. Sosok itu berdiri tegak, mengenakan pakaian hitam yang rapi, dengan wajah yang tertutup kabut tipis. Salah satu prajurit Sang Arsitek.
Mereka sudah menanam mata-mata di sini pikir Lauren. Jantungnya berdegup kencang, namun ia tidak membiarkan wajahnya menunjukkan ketakutan.
"Lauren, jangan dilihat langsung," peringatan Herza terdengar tajam.
"Dia sedang menguji apakah kamu bisa mendeteksinya. Tetaplah berjalan. Jadilah remaja biasa."
Lauren memaksa kakinya melangkah. Ia melewati sosok itu seolah ia hanya melewati tiang bangunan. Begitu ia berada di dekat sosok tersebut, hawa es menusuk kulitnya, mencoba mencari celah masuk. Lauren mengunci batinnya rapat-rapat. Ia membayangkan sebuah dinding baja biru yang mengelilingi jiwanya.
Setelah melewati koridor itu, Lauren mengembuskan napas panjang. Keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Mereka tidak akan membiarkanku tenang, ya?" bisik Lauren saat ia sudah berada di dalam aula yang ramai.
"Kamu adalah mahkota bagi rencana mereka, Lauren. SMA ini bukan sekadar sekolah bagimu, ini adalah medan perang baru," sahut Herza.
Upacara dimulai. Pidato kepala sekolah terdengar membosankan, namun Lauren menggunakannya untuk memetakan seluruh aula. Ia memejamkan mata, membiarkan energinya merambat melalui lantai ubin. Satu per satu, ia mendeteksi keberadaan entitas-entitas lain yang bersembunyi di langit-langit, di balik panggung, dan di antara kursi-kursi guru.
Total ada tujuh entitas pengintai. Semuanya level menengah. Lauren mengepalkan tangannya di bawah meja. Ini bukan lagi sekadar gangguan acak; ini adalah pengepungan sistematis.
"Kenapa mereka tidak menyerang sekarang?" tanya Lauren dalam hati.
"Karena mereka menunggu kuncinya lengkap," jawab Herza.
"Kamu hanyalah salah satu sisi dari gerbang itu. Sang Arsitek membutuhkan sisi yang lain untuk benar-benar bisa menyeberang."
Lauren teringat kata-kata Adiwangsa tiga tahun lalu tentang ritual yang belum selesai. Selama tiga tahun ini, ia mengira ia sudah berhasil menunda segalanya. Namun sekarang ia sadar, mereka hanya sedang membiarkan buahnya matang sebelum dipetik.
Upacara berakhir, dan para siswa mulai berhamburan menuju kelas masing-masing. Lauren berdiri, mencoba mencari udara segar di balkon lantai dua. Ia menatap ke lapangan tengah sekolah yang dipenuhi siswa yang sedang beristirahat.
Tiba-tiba, Lauren merasakan sengatan luar biasa pada medalinya. Rasa panasnya begitu hebat hingga ia refleks memegangi dadanya. Pandangannya mendadak menjadi sangat tajam, seolah-olah dunia nya berubah menjadi spektrum warna energi yang menyilaukan.
Di tengah keramaian lapangan, di antara ratusan siswa yang berseragam sama, Lauren melihat sebuah titik fokus yang gelap.
Ada seorang siswa laki-laki yang sedang berjalan sendirian di pinggir lapangan. Siswa itu tampak biasa saja dari kejauhan, namun di mata Lauren, pemuda itu membawa beban kegelapan yang sangat besar di punggungnya. Sebuah aura hitam kemerahan yang berputar-putar, persis seperti aura yang dimiliki Adiwangsa, namun lebih mentah dan belum terasah.
"Herza... lihat itu," bisik Lauren.
Herza muncul di samping Lauren, dan kali ini, arwah mentornya itu benar-benar gemetar.
"Tidak mungkin..."
"Siapa dia?"
"Dia bukan hantu, Lauren. Dia manusia. Tapi dia membawa garis keturunan yang sama dengan mereka yang ingin menghancurkanmu," Herza menatap pemuda itu dengan ngeri.
"Dia adalah bagian lain dari gerbang itu. Jaring-jaring takdirmu baru saja menariknya ke sini."
Pemuda itu tiba-tiba berhenti berjalan. Seolah merasakan tatapan Lauren, ia mendongak.
Dari lantai dua, Lauren menatap lurus ke bawah. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Lauren melihat wajah pemuda itu; tenang, misterius, dengan mata yang tampak menyembunyikan badai. Di belakang punggung pemuda itu, Lauren melihat bayangan hitam besar yang menyerupai Adiwangsa sedang menyeringai ke arahnya.
Bayangan itu mengangkat tangan, melakukan gerakan menggorok leher ke arah Lauren sebelum akhirnya menghilang dalam kerumunan.
Pemuda itu terus menatap Lauren selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia tersenyum tipis—dan kembali berjalan masuk ke dalam gedung sekolah.
Lauren mencengkeram pagar balkon hingga tangannya memutih. Keringat dingin mengucur deras di punggungnya. Perasaan yang ia rasakan tiga tahun lalu saat pintu kamarnya hancur kini kembali dengan intensitas yang sepuluh kali lipat lebih besar.
"Perang ini belum usai, Herza," bisik Lauren, suaranya bergetar antara amarah dan teror.
"Ini baru saja dimulai lagi."
Di kejauhan, langit yang tadinya cerah mendadak tertutup awan hitam yang bergerak cepat, seolah-olah kegelapan sedang bersiap untuk menelan sekolah itu bulat-bulat.