NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan, Selamanya

Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Ambang Kehilangan

Siang itu, cuaca di luar gedung kantor terasa sangat terik. Luna baru saja menyelesaikan peninjauan di lokasi proyek hotel. Ia berjalan menuju area parkir luar yang agak sepi, berniat mencari taksi karena tidak ingin merepotkan sopir kantor—sebuah bentuk kemandirian yang ia gunakan untuk tetap menjaga jarak dari Isaac.

Dari kejauhan, sebuah mobil SUV hitam berkaca gelap terparkir diam. Di dalamnya, Clara memperhatikan Luna dengan tatapan penuh kebencian. Ia merasa telah kehilangan segalanya—kerja samanya diputus, namanya tercoreng di hadapan keluarga Waren, dan ia tak terima melihat Luna, wanita yang ia anggap remeh, justru menjadi pemenang tunggal di hati Isaac.

“Jika aku tidak bisa memilikinya, kau juga tidak boleh, Luna,” bisik Clara dingin sembari menginjak pedal gas dalam-dalam.

Luna sedang menyeberang jalan kecil menuju pangkalan taksi ketika suara raungan mesin mobil memecah kesunyian. Sebelum sempat menoleh, mobil itu melaju kencang ke arahnya.

BRAKK!

Tubuh Luna terpental beberapa meter sebelum menghantam aspal dengan keras. Mobil hitam itu langsung tancap gas, meninggalkan kepulan asap dan keheningan yang mencekam. Luna tergeletak tak berdaya, darah mengalir dari pelipisnya membasahi blus putih yang ia kenakan. Dunianya perlahan menjadi gelap, dan hal terakhir yang ia ingat bukanlah rasa sakit, melainkan bayangan wajah Isaac semalam saat membacakan surat lamanya.

Di saat yang sama, di ruangannya, Isaac mendadak merasakan firasat buruk yang luar biasa. Pena di tangannya terjatuh, dan dadanya terasa sesak tanpa alasan. Telepon genggamnya berdering keras, menampilkan nama asisten Luna.

“Pak… Pak Isaac! Ibu Luna… Ibu Luna kecelakaan di area parkir proyek!” suara di seberang sana terdengar panik dan gemetar.

Darah Isaac seolah berhenti mengalir. Tanpa sepatah kata pun, ia menyambar kunci mobilnya dan berlari keluar ruangan seperti orang kesetanan. Ia tak memedulikan tatapan heran para karyawannya. Pikirannya hanya dipenuhi satu nama: Luna.

“Tolong… jangan sekarang, Luna. Jangan saat aku belum berhasil membawamu kembali,” gumam Isaac dengan suara parau sembari memacu mobilnya menembus kemacetan kota.

Saat ia tiba di lokasi, ambulans sudah berada di sana. Isaac melihat tubuh mungil yang sangat ia kenali sedang diangkat ke atas tandu. Wajah Luna pucat pasi, matanya terpejam rapat. Dinding es yang selama ini ia keluhkan kini benar-benar terasa nyata dan dingin, namun kali ini dalam bentuk paling menakutkan: kematian yang mengintai.

Isaac jatuh terduduk di aspal, tangannya gemetar saat menyentuh sisa darah Luna yang tertinggal di jalanan. Di saat itulah, ia menyadari bahwa ia lebih baik menghadapi Luna yang diam membisu seribu tahun daripada melihat Luna yang tidak bernapas sama sekali.

Lorong rumah sakit yang serba putih terasa dingin dan mencekam. Isaac duduk di bangku tunggu di depan ruang operasi, kepalanya tertunduk dengan kedua tangan saling meremas kuat. Kemejanya yang rapi kini kotor oleh noda darah Luna—darah yang mengingatkannya betapa rapuhnya nyawa wanita yang ia cintai itu.

Lampu ruang operasi masih menyala merah. Sudah dua jam berlalu, dan setiap detiknya terasa seperti siksaan bagi Isaac.

“Isaac!” Suara derap langkah kaki mendekat. Tuan dan Nyonya Waren datang dengan wajah pucat, disusul asisten pribadi Isaac yang membawa tablet di tangannya.

“Bagaimana keadaan Luna?” tanya Nyonya Sofia dengan suara bergetar.

Isaac hanya menggeleng lemah. Suaranya seolah hilang ditelan rasa takut. “Masih di dalam, Bu. Dokter belum keluar.”

Asisten Isaac, Hendra, mendekat dengan ekspresi sangat serius. Ia membisikkan sesuatu yang membuat Isaac seketika mendongak. “Pak, saya sudah mendapatkan rekaman CCTV dari gedung di seberang lokasi kejadian. Area parkir itu memang sepi, tapi kamera di gedung sebelah menangkap sesuatu.”

Isaac menyambar tablet tersebut. Matanya yang merah menatap tajam layar yang menampilkan mobil SUV hitam tanpa plat nomor melaju kencang ke arah Luna. Mobil itu tidak berusaha mengerem sama sekali. Itu bukan kecelakaan biasa. Itu adalah percobaan pembunuhan.

“Periksa semua SUV hitam yang keluar-masuk area itu dalam satu jam terakhir. Cari tahu siapa pemiliknya!” perintah Isaac dengan nada rendah penuh ancaman. “Jika aku tahu siapa yang melakukan ini, aku sendiri yang akan menghancurkannya.”

Tepat saat itu, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah lelah, melepas maskernya. Isaac segera berdiri, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging.

“Keluarga Nyonya Luna?” tanya dokter.

“Saya suaminya,” jawab Isaac cepat.

“Operasinya berjalan lancar. Kami berhasil menghentikan pendarahan internalnya. Namun, benturan di kepalanya cukup keras. Dia sekarang dalam masa kritis dan harus melewati observasi 24 jam ke depan di ruang ICU,” jelas dokter. “Kita hanya bisa menunggu dan berdoa agar dia segera sadar.”

Isaac merasa lututnya lemas. Ia diizinkan melihat Luna melalui kaca ruang ICU. Di dalam sana, Luna tampak begitu kecil di tengah peralatan medis yang rumit. Kabel-kabel melilit tubuhnya, dan suara detak jantung di monitor menjadi satu-satunya tanda bahwa ia masih berjuang.

Di balik kaca itu, Isaac menempelkan telapak tangannya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. “Luna… kumohon, bangunlah. Kau boleh diam padaku selamanya, kau boleh membenciku sesukamu, asal kau tetap bernapas. Jangan hukum aku seperti ini.”

Sementara itu, di sudut lain kota, Clara menatap ponselnya dengan gelisah. Ia membakar sepasang sarung tangan hitam di dalam perapian rumahnya. Ia mengira jejaknya sudah bersih. Namun, ia tidak tahu bahwa kemarahan Isaac Waren adalah badai yang tidak akan berhenti sebelum meluluhlantakkan siapa pun yang menyentuh miliknya.

1
Nhi Nguyễn
😄
anggita
ikut dukung like👍, iklan☝aja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!