Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Penakluk Hati Singa
Pagi harinya di kantor pusat SM Corporation, atmosfer terasa berbeda. Michael Miguel duduk di kursi kebesarannya, menatap pemandangan kota melalui dinding kaca setinggi langit-langit. Namun, pikirannya tidak sedang berada di laporan saham atau proyek properti. Pikirannya tertahan pada sisa aroma mesiu dan gerakan anggun namun mematikan yang ia saksikan semalam.
Rans masuk membawa laporan rutin, namun langkahnya tidak secepat biasanya. Ia meletakkan berkas di meja Michael, lalu terdiam sejenak.
"Tuan," panggil Rans, suaranya sedikit serak. "Saya sudah membereskan semua jejak di apartemen Nona Shaneen semalam. Tidak ada satu pun bukti yang tertinggal."
Michael hanya mengangguk pelan, jemarinya mengetuk meja dengan irama yang tenang.
"Saya harus jujur, Tuan," lanjut Rans dengan tatapan yang masih menyiratkan sisa syok. "Selama ini, saya hanya membaca profil tentang 'The Mad Woman' di berkas intelijen kita sebagai rumor pasar gelap. Tapi menyaksikan Nona Shaneen beraksi semalam... dia bukan sekadar wanita biasa. Dia benar-benar luar biasa. Seperti binatang buas yang sangat efisien dalam membantai mangsanya."
Rans menarik napas dalam, mencoba menormalkan detak jantungnya yang kembali berpacu. "Oh... jadi ini alasan kenapa Anda mencabut semua pengawasan dan kecurigaan Anda terhadap Nona Shaneen? Anda sudah tahu siapa dia sebenarnya sejak awal?"
Michael menyandarkan punggungnya, sebuah senyum puas yang tipis dan penuh kemenangan terukir di wajah tampannya.
"Bagi orang lain, Rans, apa yang dia lakukan itu mengerikan. Tapi bagiku? Itu adalah karya seni," ucap Michael rendah. "Itulah kenapa aku begitu terpesona satu tahun yang lalu di gedung tua itu. Saat wanita bertopeng itu muncul dari kegelapan dan membantai musuh yang mencoba membunuhku dalam hitungan menit... aku tahu, aku tidak menginginkan wanita lain selain dia."
Michael memejamkan mata sejenak, membayangkan kembali momen semalam. Bayangan Shaneen yang berdiri tenang di tengah mayat-mayat penjahat elit Don, dengan piyama sutra yang bahkan tidak ternoda, benar-benar membuatnya gila.
Apalagi saat ia teringat momen kemarin malam, saat ia pertama kali berhasil menyusup masuk ke markas rahasia di bawah lantai perpustakaan Shaneen. Melihat jejeran senjata koleksi pribadi yang tertata rapi—senjata-senjata prototipe yang bahkan tidak bisa dibeli dengan uang—Michael merasa seperti menemukan belahan jiwanya yang hilang.
"Dia adalah kepingan puzzle yang sempurna untuk hidupku, Rans," gumam Michael. "Dia punya kecantikan seorang dewi, tapi punya naluri seorang algojo. Itulah yang membuatnya tidak membosankan."
Michael kembali teringat saat kakinya pertama kali menginjakkan kaki masuk ke apartemen Shaneen kemarin. Awalnya ia datang dengan rasa curiga dan ingin membuktikan dugaannya, namun yang ia temukan justru harta karun yang jauh lebih berharga.
"Rans, perintahkan tim keamanan untuk meningkatkan proteksi di sekitar kantor Tizon Tech, tapi lakukan secara diam-diam. Aku tidak ingin Damian merasa aku mencampuri urusannya," Michael berdiri, mengancingkan jasnya dengan elegan.
Rans hanya bisa mengangguk patuh, meski dalam hati ia berpikir bahwa pasangan ini adalah pasangan paling berbahaya yang pernah ada dalam sejarah kota ini.
"Baik, Tuan. Saya mengerti," Rans berbalik untuk keluar, namun ia berhenti di ambang pintu dan bergumam pelan, "Saya rasa, kota ini harus mulai berdoa agar Nona Shaneen selalu berada di pihak kita."
Michael tertawa rendah, sebuah tawa yang sarat akan rasa bangga. "Berdoalah agar dia selalu berada di sampingku, Rans. Karena jika dia pergi, tidak ada satu pun tempat di dunia ini yang cukup aman untuk bersembunyi."
...***...
–Bunker Kegelapan: Amarah sang Arsitek–
Di sebuah ruangan bawah tanah yang hanya diterangi cahaya temaram, suara benturan keras menggema.
BRAK!
Tongkat kayu ek dengan kepala perak milik Aris mendarat keras di punggung Don, membuat pria itu tersungkur di lantai beton yang dingin. Don meringis kesakitan, namun ia tidak berani mendongak.
"Anak tidak berguna!" Bentak Aris, napasnya memburu karena amarah. "Satu tim elit The Reapers habis dalam semalam, dan kau kembali dengan tangan kosong? Aku memberimu segalanya—dana, akses, senjata—hanya untuk melihatmu dipermalukan oleh Michael Miguel!"
Don mengepalkan tangannya di lantai. "Maafkan aku, Tuan... Michael Miguel... dia bukan lawan yang mudah. Aku meremehkan kecepatannya. Dia membantai timku bahkan sebelum mereka sempat mengirim sinyal bahaya. Apartemen itu sudah berubah menjadi benteng kematian di bawah komandonya."
Don tetap yakin bahwa Michael-lah yang melakukan pembantaian semalam. Dalam pikirannya, tidak mungkin Shaneen—wanita yang terlihat lembut itu—bisa melakukan aksi sekeji itu. Aris mendengus jijik, ia tidak tahu bahwa yang baru saja mengalahkan timnya adalah cucu Alexander Tizon, bukan Michael.
"Kau terlalu terobsesi menyerang Michael secara frontal," ucap Aris dingin, ia kembali duduk di kursi kebesarannya. "Jika kau tidak bisa menebas kepala singanya, maka kita akan menarik napas naganya."
Aris menyeringai, sebuah rencana busuk mulai terbentuk di kepalanya. "Kita punya kartu as yang sudah lama tersimpan di tempat persembunyian yang aman. Sera."
Don mendongak, matanya berkilat. "Ibu Shaneen?"
"Ya. Wanita kesayangan Shaneen Tizon," Aris tertawa rendah, suara yang terdengar seperti gesekan amplas. "Sera adalah kelemahan terbesar Shaneen. Gunakan dia sebagai umpan. Aku ingin melihat apakah Michael Miguel tetap bisa menjadi pahlawan saat calon istrinya dipaksa memilih antara nyawa ibunya atau nyawanya sendiri."
...***...
Keesokan siangnya, suasana di Mansion Tizon tampak tenang. Martha sedang menemani Sera di taman belakang. Sera, yang kondisi kesehatannya masih labil sejak kematian Orlando, tampak menikmati udara segar.
Sebuah mobil boks medis dengan logo resmi masuk melalui gerbang utama setelah melewati pemeriksaan sensor sidik jari yang ketat. Penjaga tidak curiga karena ini adalah tim yang sama yang datang setiap bulan.
Namun, di dalam boks itu, para petugas medis yang asli sudah dilumpuhkan dan diganti oleh orang-orang suruhan Don yang mengenakan seragam identik. Saat mereka masuk ke ruang perawatan Sera, mereka tidak mengeluarkan jarum suntik, melainkan gas bius instan berkekuatan tinggi.
"Nyonya Sera!" Teriak salah satu pelayan, namun ia langsung tumbang.
Martha mencoba melawan, namun seorang pria besar mendorongnya hingga jatuh. Dalam hitungan menit, Sera yang tidak sadarkan diri dibawa masuk ke dalam boks medis. Saat penjaga di gerbang menyadari ada yang tidak beres karena durasi kunjungan yang terlalu singkat, mobil itu sudah melesat keluar, menabrak barikade gerbang dengan kecepatan tinggi.
Ponsel Michael berdering keras. Itu dari Damian. "Tuan! Mansion utama diserang. Mereka membawa Nyonya Sera!" Suara Damian terdengar penuh amarah dan rasa bersalah.
Michael berdiri seketika, matanya berkilat mematikan. Di saat yang sama, ia melihat Shaneen masuk ke ruangannya dengan wajah yang sangat pucat namun matanya memancarkan sinar predator yang haus darah. Shaneen sudah memegang ponsel yang menampilkan koordinat GPS yang dipasang di kalung ibunya—yang kini bergerak menjauh menuju gudang pelabuhan lama.
"Michael," suara Shaneen bergetar karena amarah yang tertahan. "Mereka mengambil ibuku."
Michael menghampiri Shaneen, memegang pundaknya dengan kokoh. "Aku tahu. Dan mereka baru saja menandatangani surat kematian mereka sendiri."
Michael menoleh pada Rans yang sudah bersiap. "Rans! Siapkan seluruh pasukan. Kita tidak hanya akan menjemput Ibu mertuaku, kita akan meratakan siapa pun yang berani menyentuhnya."