Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Jumat, 16 Mei : Pukul 15.30 WIB
Atap Ruko “Berkah Abadi”, Bandung Selatan
Langit sore Bandung tidak biru lagi. Abu-abu memar dengan semburat ungu di ufuk barat. Hujan deras satu jam lalu meninggalkan genangan air di aspal yang memantulkan cahaya lampu jalan yang baru menyala satu per satu. Udara harum petrichor bercampur tanah basah dan asap knalpot angkot yang mengetem sembarangan di bawah.
Di atap ruko tua tiga lantai yang catnya sudah mengelupas seperti kulit terbakar matahari, lima remaja duduk melingkar di atas karpet plastik motif Hello Kitty yang warnanya sudah pudar. Karpet itu warisan kakak tingkat Salsabilla dua tahun lalu, dan entah kenapa tak pernah ada yang rela membuangnya. Terlalu banyak kenangan yang sudah menempel di sana.
“Gue punya teori,” Zidan memecah keheningan sambil mulutnya penuh bakwan jagung yang masih mengepul. Remah-remahnya berjatuhan ke karpet Hello Kitty yang malang. “Kenapa Pak Bambang kasih kita semua nilai seratus, padahal nilai Matematika gue di kertas ujian itu murni fiksi ilmiah.”
Yazid yang duduk paling pojok, earphone menggantung di leher meski musiknya mati, menatap Zidan dengan ekspresi datar yang sudah dia sempurnakan selama tiga tahun.
“Karena Pak Bambang sudah capek,” jawabnya pelan. “Tiga tahun dia nahan darah tinggi tiap liat muka lo di kelas, Dan. Kalau lo nggak lulus, dia yang stroke duluan.”
“Bukan,” Zidan mengacungkan jari telunjuknya yang berminyak. “Gue yakin Pak Bambang itu alien. Tadi pas salaman perpisahan, tangannya dingin banget. Kayak megang cumi-cumi beku di pasar ikan ibu gue.”
Salsabilla yang biasa dipanggil Salsa oleh semua orang kecuali di kontak HP-nya sendiri tertulis “Salsa 🎥 Partner Kollab” tertawa renyah sambil langsung membidikkan kamera mirrorless-nya ke wajah Zidan.
“Stay, Dan. Jangan gerak.” Klik. “Oke, done. Ekspresi lo tadi juara buat thumbnail.”
Salsa mengintip layar kameranya, puas. “Teori lo makin gila aja, Dan. Kemarin lo bilang Bu Kantin agen BIN cuma karena dia tahu siapa yang pacaran di gudang belakang.”
“Eh, itu fakta, Sal!” Zidan meluruskan punggung. “Bu Kantin tahu segalanya. Dia Google versi kearifan lokal. Omniscient. Lo tahu omniscient, kan?”
“Lo yang ngajarin gue kata itu dua minggu lalu,” balas Salsa datar.
“Nah! Berarti gue juga guru. Bisa bikin konten bareng lo. Zidan Mengajar, episode satu.”
Runa yang duduk bersila rapi di sebelah Rehan tidak menoleh dari buku catatannya, tapi penanya berhenti bergerak.
“Secara logis,” katanya tanpa intonasi jenaka, “kalau Bu Kantin benar-benar omniscient, dia pasti tahu siapa yang ngutil cireng kemarin. Dan pelakunya pasti nggak lolos.”
Semua mata langsung tertuju ke Zidan.
Zidan menelan bakwannya terlalu cepat hingga tersedak. “Uhuk nggak ada hubungannya.”
“Zidan.” Runa akhirnya mengangkat kepala. Tatapannya tajam seperti pisau bedah. “Cireng Bu Kantin kemarin berkurang empat biji. Salsa beli dua. Rehan nggak suka cireng. Yazid vegetarian hari Jumat. Gue bawa bekal. Sisanya…”
“Oke, oke!” Zidan mengangkat kedua tangan menyerah. “Gue ganti besok. Tapi ini kategori pinjam, ya. Secara moral beda.”
“Secara hukum sama,” sahut Runa datar, lalu kembali ke bukunya.
Rehan yang sejak tadi diam akhirnya terkekeh pelan. Dia menyeka kacamatanya dengan ujung kaos gerakan khasnya sejak SMP.
“Udah,” katanya pelan, tapi ada wibawa yang tak pernah dia paksa-paksakan. “Yang penting kita sudah bebas. Nggak ada lagi razia rambut, nggak ada lagi upacara bendera yang bikin Zidan pura-pura pingsan”
“Gue beneran pusing waktu itu!” protes Zidan.
“nggak ada lagi drama adik kelas.” Rehan menatap mereka satu per satu. Ada sesuatu yang lebih dalam di matanya selain kegembiraan lulus. “Tiga tahun. Kita lewatin semuanya bareng.”
Keheningan turun perlahan seperti kabut sore.
Runa menutup bukunya.
Salsa menurunkan kameranya untuk pertama kalinya dengan sungguh-sungguh.
Yazid melepas earphone dari lehernya dan meletakkannya di pangkuan hal yang jarang sekali dia lakukan.
“Gue bakal kangen,” ucap Runa tiba-tiba. Kalimat itu keluar cepat, seolah kalau tidak diucapkan sekarang, dia akan menelannya selamanya. “Aneh ya. Gue yang paling sering ngomel soal sekolah. Bangun pagi, tugas nggak masuk akal, sistem penilaiannya bias. Tapi sekarang…” Dia menatap cakrawala Bandung yang mulai dibalut jingga redup. “Rasanya kayak ada yang dicabut dari dada.”
Tak ada yang langsung menjawab. Kalimat Runa terlalu jujur untuk dibalas basa-basi.
Mereka semua merasakannya.
Rehan akan kuliah hukum, mengikuti jalur yang sudah dirancang keluarga Wirawan sejak dia masih kecil. Yazid kemungkinan besar akan mengikuti jejak ayahnya yang dokter. Runa sudah diterima Teknik Informatika di universitas negeri terbaik di Bandung. Salsabilla akan fokus mengembangkan channel YouTube-nya yang sudah tembus 200 ribu subscriber.
Dan Zidan…
Zidan masih menjadi tanda tanya besar.
“Jangan melow dulu,” kata Yazid tiba-tiba dengan nada datar khasnya. “Nanti nangisnya di gunung aja. Lebih dramatis. Ada kabut segala. Bagus buat konten Salsa.”
Salsa langsung menunjuk Yazid. “Yazid. Lo baru saja kasih ide episode terbaik seumur hidup gue. Gue sayang lo.”
“Makasih,” jawab Yazid singkat, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit.
Zidan yang tadi mulai terdiam langsung memanfaatkan momen. “Ngomong-ngomong soal nangis di gunung… Gue udah siap secara mental. Gue udah nonton dua belas video survival di YouTube.”
“Dua belas video dalam berapa hari?” tanya Runa.
“Kemarin malam. Sampai jam tiga.”
Runa memejamkan mata sebentar. “Zidan. Lo nonton video survival sampai jam tiga pagi, tapi badan lo sekarang…” Dia mendekat, mengerutkan dahi. “Lo pucat. Mata lo kayak orang yang belum tidur dua hari.”
Semua mata beralih ke Zidan.
Zidan menyengir lebar. “Dramatisasi, Ru. Gue sehat walafiat. Tadi gue lari dari angkot ke sini.”
“Lo turun angkot di depan, Dan,” potong Salsa. “Gue liat dari atas.”
“…Itu lari singkat tapi bermakna.”
“Zidan.” Kini Rehan yang bicara. Nada tenang tapi tak bisa dibantah. “Kalau lo lagi nggak fit, bilang sekarang. Kita bisa tunda seminggu.”
“Nggak perlu ditunda,” tolak Zidan cepat terlalu cepat. “Tiket udah dibeli. Gue cuma kurang tidur. Besok gue tidur siang, lusa gue udah kayak atlet SEA Games.”
Yazid menatapnya lama.
“Lo batuk tadi di angkot.”
Zidan membeku. “Lo denger?”
“Gue duduk di sebelah lo,” jawab Yazid tenang. “Dan lo nutupin mulut ke arah jendela supaya gue nggak lihat.”
Keheningan yang lebih berat turun di antara mereka. Angin sore menderu, membuat spanduk ruko di bawah berkibar pelan.
“Gue baik-baik aja,” kata Zidan kali ini lebih pelan, tanpa senyum dibuat-buat. “Serius. Gue cuma butuh liburan ini. Gue butuh, guys.”
Kalimat terakhir itu terlalu jujur.
Dan mereka semua tahu itu.
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪