Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Ia sadar betul bahwa kemampuan basketnya masih sangat mentah. Teknik, pengalaman, maupun insting bertandingnya jelas kalah jauh dibandingkan Sun Yuson. Akan tetapi, bukan berarti ia tak memiliki keunggulan sama sekali. Setidaknya, kemampuan Angin cepat yang ia miliki seharusnya memberinya keuntungan besar—meski sejauh mana pengaruhnya dalam pertandingan nyata, masih perlu ia rasakan sendiri di lapangan.
Guru Xia Delong, yang memang penggemar basket sejati, sangat memahami kekuatan Sun Yuson. Ia tahu persis bahwa siswa itu bukan sekadar pemain biasa, melainkan salah satu pilar tim sekolah. Ketika melihat Sun Yuson menantang Zhang Yuze, Xia Delong secara refleks menganggap bahwa Zhang Yuze pun pasti memiliki kemampuan tersembunyi. Karena itulah, minatnya terhadap pertandingan ini langsung bangkit, dan ia memutuskan turun langsung menjadi wasit.
Aturan pertandingan ditetapkan sangat sederhana.
Satu lawan satu.
Siapa yang lebih dulu mencapai sepuluh poin, dialah pemenangnya.
Pertandingan semacam ini sebenarnya lazim dilakukan di setengah lapangan. Namun, secara mengejutkan, keduanya bersikeras menggunakan lapangan penuh. Keputusan itu menguras stamina dan langsung menimbulkan gumaman takjub di antara para penonton.
Di tengah lapangan, Xia Delong berdiri tegak. Dengan satu gerakan tegas, ia melemparkan bola ke udara, tepat di antara kedua pemain.
Mata Zhang Yuze langsung berbinar.
Ia menjejakkan kaki ke lantai dengan kuat dan mengulurkan tangan, berusaha menepuk bola ke arahnya. Namun, tepat ketika ujung jarinya hampir menyentuh bola, sebuah tangan lain bergerak lebih cepat.
Apa?!
Wajah Zhang Yuze langsung menggelap.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Sun Yuson bisa merebut bola lebih dulu. Memanfaatkan sepersekian detik keterkejutan Zhang Yuze, Sun Yuson langsung memutar tubuhnya ke belakang, menembus pertahanan, lalu melesat menuju ring. Dengan sebuah lay-up ringan, bola pun masuk dengan bersih.
Satu poin pertama.
Sorak sorai dan tepuk tangan langsung meledak, terutama dari kalangan siswi yang sejak awal memihak Sun Yuson.
“Ini jelas bukan level yang sama…” gumam Xia Delong sambil mengernyit. Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan samar.
Zhang Yuze mengerutkan kening, hatinya memaki dalam diam.
Sial… anak ini memang punya kemampuan nyata.
Kini giliran Zhang Yuze menyerang.
Ia mengangkat kepala dan menatap Sun Yuson, yang sedang memandangnya dengan senyum meremehkan. Dari sikap santainya, jelas terlihat bahwa Sun Yuson sama sekali tidak menganggapnya ancaman. Amarah kecil membara di dada Zhang Yuze, tetapi akalnya tetap jernih. Ia tahu, Sun Yuson memang pantas bersikap seperti itu.
Sebagai center tim sekolah, Sun Yuson adalah pemain serba bisa. Penguasaan bola, penetrasi, hingga postur tubuh—semuanya berada di kelas atas. Dibandingkan dengannya, Zhang Yuze memang hanya seorang amatir.
Zhang Yuze menenangkan napas dan mulai mengamati setiap gerakan lawannya. Ia membuat tipuan ringan ke kiri, lalu mendadak menerobos ke kanan. Sayangnya, Sun Yuson sama sekali tidak terkecoh. Tubuhnya tetap kokoh, posisinya tak bergeser sedikit pun.
Zhang Yuze menggertakkan gigi dan memaksakan terobosan.
Dengan kondisi fisiknya sekarang, ia tidak takut adu badan. Ia berhasil melewati Sun Yuson—namun kesalahan fatal terjadi. Bola di tangannya terangkat terlalu tinggi. Dalam sekejap, Sun Yuson dengan mudah menyapu bola itu pergi.
Saat Zhang Yuze berbalik, Sun Yuson sudah berlari cepat ke arah ringnya sendiri. Sebuah hook shot anggun kembali mendaratkan bola ke dalam keranjang. Ia berdiri di lapangan dengan ekspresi puas bercampur arogan. Dari kejauhan, Zhang Yuze bisa merasakan tatapan provokatif yang sengaja diarahkan padanya.
2 : 0.
Tepuk tangan kembali bergema.
3 : 0.
4 : 0.
……
Setiap serangan Sun Yuson terasa seperti palu yang menghantam kepercayaan diri Zhang Yuze. Selangkah lagi—hanya satu poin lagi—dan ia akan benar-benar kalah telak.
Sun Yuson berjalan mendekat, lalu berkata dengan suara rendah namun jelas, “Zhang Yuze, kalau kamu mengaku kalah sekarang, aku bisa berhenti. Setidaknya, kamu masih punya sedikit muka.”
Zhang Yuze tidak menjawab.
Ia menurunkan tubuh, bertumpu pada lututnya, dan menarik napas dalam-dalam. Pandangannya tertuju ke pinggir lapangan—ke arah Liu Mengting. Dari jarak itu, ia seakan bisa merasakan tatapan gadis itu yang samar-samar mengandung kekecewaan.
Awalnya, Zhang Yuze tidak ingin menggunakan kekuatan istimewanya di depan Liu Mengting. Ia ingin bertanding dengan kemampuan asli. Selama tidak kalah terlalu buruk, ia masih bisa menerimanya.
Namun sekarang…
Itu tampak mustahil.
Zhang Yuze perlahan berdiri.
Semangat bertarung di tubuhnya kembali menyala. Sebuah senyum miring yang berbahaya muncul di sudut bibirnya.
Kalau kau ingin mempermalukanku sepenuhnya…
maka aku akan membuatmu merasakan kekalahan di saat kau paling merasa berjaya.
Mulai sekarang, aku tidak akan menahan diri lagi.
Sun Yuson melihat bahwa Zhang Yuze masih belum menyerah. Ia mendecakkan lidah, lalu tersenyum merendahkan. Baginya, perlawanan Zhang Yuze hanyalah keputusasaan terakhir.
Giliran Zhang Yuze menyerang.
Sun Yuson mengambil posisi bertahan, bersiap menutup setiap celah. Namun, tepat saat itu, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Tubuh Zhang Yuze bergoyang samar.
Dalam sekejap, ia sudah melewati Sun Yuson.
Tak seorang pun tahu bagaimana caranya. Yang terlihat hanyalah bayangan kabur—lalu Zhang Yuze telah berada di belakang lawannya. Kejadian itu begitu cepat hingga membuat semua orang terpaku. Bahkan Xia Delong, yang berpengalaman puluhan tahun di dunia olahraga, tidak sempat memahami apa yang baru saja terjadi.
Sun Yuson terkejut, tetapi segera memaksa dirinya tenang.
Meskipun dia lolos, aku tak akan membiarkannya mencetak poin!
Ia hendak mengejar, tetapi kecepatan Zhang Yuze jauh melampaui dugaan. Dalam waktu yang sangat singkat, Zhang Yuze sudah tiba di depan ring. Ia melakukan lay-up tiga langkah, lalu melepaskan bola.
“Clang!”
Bola memantul dari ring dan terlempar keluar.
Serentak, wajah banyak orang menegang. Bahkan Chen Jialong, sahabat dekat Zhang Yuze, ikut berkeringat dingin. Namun, meski tekniknya buruk, kondisi fisik Zhang Yuze saat ini memungkinkan dia merebut rebound dengan mudah. Sebelum Sun Yuson sempat mendekat, ia kembali melompat dan akhirnya memasukkan bola ke keranjang.
9 : 1.
Sorak sorai kembali terdengar.
Meski hasil akhir hampir bisa ditebak, para siswa tetap memberikan tepuk tangan hangat untuk Zhang Yuze—sebuah pengakuan atas kegigihannya.
“Sial!” batin Sun Yuson geram. Rencananya untuk mempermalukan Zhang Yuze tanpa perlawanan telah gagal. Ia menguatkan tekad dalam hatinya: tak akan membiarkan Zhang Yuze mencetak satu poin pun lagi.
Kini, giliran Sun Yuson menyerang.
Sebagai center tim sekolah, kemampuannya memang luar biasa. Memanfaatkan kelengahan Zhang Yuze, ia melakukan tiga kali dribel di belakang punggung, disusul putaran balik yang rapi. Dalam sekejap, ia berhasil melewati pertahanan.
Namun, Zhang Yuze tidak panik.
Di bawah efek kemampuan Angin Cepat, tubuhnya bergerak cepat. Ia segera mengejar dari belakang.
Sun Yuson bersiap melakukan lay-up. Di detik itu, rasa puas membuncah di dadanya. Selama bola ini masuk, pertandingan akan berakhir.
Bukan hanya Sun Yuson—bahkan sebagian besar siswa kelas tujuh sudah yakin bahwa segalanya telah usai.
Namun, tepat saat Sun Yuson hendak melompat, sebuah sosok tiba-tiba melayang di sisinya.