NovelToon NovelToon
Pelakor Berkedok Sahabat

Pelakor Berkedok Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gusmon

Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.


Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.


Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Perangkap di Balik Gelap

Udara malam di taman belakang terasa menusuk kulit, tapi tak sedingin darah Erian yang serasa membeku saat ini. Dengan langkah sangat pelan, ia menuruni anak tangga teras menuju gazebo kecil di pojok taman. Di sana, di bawah bayang-bayang pohon kamboja, Stefani sudah menunggu.

Wanita itu duduk dengan menyilangkan kaki, wajahnya diterangi cahaya remang dari layar ponsel yang sedang ia genggam. Begitu menyadari kehadiran Erian, Stefani tersenyum simpul—sebuah senyum yang kini terlihat seperti seringai iblis di mata Erian.

"Cepat sekali, Mas. Takut aku kirim videonya sekarang?" tanya Stefani dengan nada mengejek.

"Apa mau kamu, Stefani?!" desis Erian, suaranya tertahan karena takut terdengar sampai ke lantai atas. "Kamu sudah menjebakku, kamu sudah membuat istriku benci padaku. Belum cukup?"

Stefani tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat merdu namun mematikan. Ia memutar video di ponselnya. Suara kecupan dan napas terengah-engah dari rekaman itu membuat telinga Erian panas.

"Lihat ini, Mas. Siapa yang bisa menyangkal kalau suaminya Nadya yang terhormat ini sedang menikmati bibir sahabat istrinya? Kalau video ini sampai ke Nadya, menurutmu dia akan lebih percaya padaku atau padamu yang sudah berlutut minta maaf tadi?"

Erian mengepalkan tinju. "Jangan lancang! Aku bisa saja merebut ponsel itu sekarang dan menghancurkannya!"

"Silakan coba," tantang Stefani sambil menjauhkan ponselnya dengan tenang. "Videonya sudah otomatis masuk ke cloud storage dan aku punya salinannya di tempat lain. Satu langkah salah darimu, jempolku ini akan menekan tombol share ke grup WhatsApp keluarga kalian."

Erian terdiam. Tubuhnya bergetar hebat karena amarah yang tak bisa ia lampiaskan. "Katakan... apa yang kamu inginkan? Uang? Aku akan beri, asal kamu pergi dari rumah ini!"

"Uang? Mas pikir aku serendah itu?" Stefani bangkit, melangkah mendekati Erian hingga aroma parfum vanilanya kembali mencekik indra penciuman pria itu. "Aku ingin tetap di sini, Mas. Aku suka rumah ini. Aku suka kemewahannya, dan aku suka dekat denganmu."

Stefani mengelus dada Erian dengan ujung jarinya. "Besok, bicaralah pada Nadya. Katakan kalau kamu merasa bersalah sudah melecehkanku, dan sebagai bentuk penebusan dosa, kamu ingin aku diangkat menjadi asisten pribadi permanen. Aku harus ikut ke mana pun kalian pergi, termasuk saat kamu dinas luar kota."

"Gila! Kamu gila, Stef!"

"Mungkin. Tapi kamu tidak punya pilihan, Mas Erian sayang," bisik Stefani tepat di telinganya. "Pilih aku tetap di sini, atau pilih kehilangan Nadya dan semua harta yang kamu nikmati sekarang. Ingat, butik dan aset itu atas nama Nadya, bukan?"

Erian memejamkan mata. Ia merasa seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Bibir Stefani yang tadi sore terasa manis, kini terasa seperti bisa ular yang paling mematikan. Dalam batinnya, Erian terus mengutuk, "Sialan... mulut berbisa itu! Aku terjebak!"

Tiba-tiba, lampu balkon di lantai atas menyala terang benderang.

"Mas? Mas Erian? Kamu di mana?!"

Suara Nadya memecah kesunyian malam. Erian tersentak kaget. Jantungnya serasa mau copot. Ia melihat ke atas, ke arah balkon kamar mereka. Sosok Nadya berdiri di sana, menatap ke arah taman yang gelap.

"Cepat bersembunyi di balik semak-semak atau kita akan tamat!" desis Erian panik.

Bukannya panik, Stefani malah sengaja berdiri tegak, hampir saja ia menunjukkan dirinya kalau saja Erian tidak menarik lengannya dengan paksa masuk ke balik bayang-bayang pohon besar. Napas mereka memburu, posisi mereka sangat dekat di kegelapan, sementara di atas sana, Nadya mulai melangkah menuju pintu balkon, curiga karena suaminya tak kunjung menjawab.

Erian menahan napas, berdoa agar istrinya tidak turun ke bawah. Jika Nadya melihat mereka berduaan di taman dalam keadaan seperti ini, tak ada lagi kata maaf yang bisa menyelamatkannya.

Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis Erian. Di kegelapan yang pekat itu, tubuh Stefani menempel sangat dekat dengannya. Bau parfum vanila itu kembali menyeruak, tapi kali ini baunya terasa seperti aroma kematian bagi Erian. Stefani bukannya ketakutan, ia justru tampak menikmati momen ini. Dengan jemari lentiknya, ia justru sengaja memainkan kerah baju Erian, seolah ingin memancing pria itu untuk melakukan kesalahan lebih jauh.

"Mas... Nadya mulai turun tuh," bisik Stefani sangat pelan, suaranya mengandung nada senang yang sangat menyebalkan.

Langkah kaki Nadya terdengar menuruni anak tangga kayu teras. Tak... tak... tak... Suara itu bagaikan detak jam kematian di telinga Erian. Erian tahu, ia harus melakukan sesuatu. Jika ia tetap bersembunyi bersama Stefani, dan Nadya menyisir taman, mereka pasti tertangkap basah.

"Tetap di sini, jangan bersuara sedikit pun!" desis Erian dengan nada mengancam yang sangat rendah.

Erian melepaskan diri dari Stefani, lalu dengan sengaja ia melangkah keluar dari kegelapan pohon besar menuju area yang agak terbuka, tapi cukup jauh dari posisi Stefani bersembunyi. Ia berpura-pura sedang memegang perutnya dan membungkuk sedikit.

"Mas? Kamu di situ?" Suara Nadya terdengar lebih dekat. Ia muncul di ujung teras, menyipitkan mata ke arah kegelapan taman.

"I-iya, Nad... ini aku," sahut Erian dengan suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar seperti orang yang sedang menahan sakit.

Nadya segera berlari kecil menghampiri suaminya. "Ya ampun, Mas! Aku cariin ke mana-mana. Kamu ngapain di sini gelap-gelapan? Kenapa nggak jawab pas aku panggil?"

"Perutku... perutku mendadak melilit banget, Nad. Kayaknya salah makan pas makan malam tadi," dusta Erian, sambil terus berakting kesakitan agar Nadya tidak sempat melihat ke arah semak-semak di belakang mereka. "Tadi aku mau cari udara segar di sini, eh malah makin sakit sampai nggak sanggup jawab panggilannya."

Nadya yang dasarnya memang sangat menyayangi suaminya, langsung luluh. Wajah marahnya yang tadi sempat muncul karena kejadian dengan Stefani sore tadi, kini berganti dengan kecemasan. "Tuh kan, aku bilang juga apa. Kamu kalau stres dikit pasti maag-nya kumat. Ayo masuk, aku ambilin obat dan air hangat."

"Iya, Nad... ayo masuk. Aku sudah nggak kuat," ujar Erian, sambil melingkarkan lengannya di bahu Nadya, seolah butuh sandaran untuk berjalan.

Saat mereka mulai melangkah menjauh, Erian menyempatkan diri melirik ke belakang lewat bahunya. Di balik kegelapan pohon, ia bisa melihat sepasang mata Stefani yang berkilat-kilat penuh kemenangan. Stefani memberikan isyarat dengan tangannya—gerakan jari yang menirukan orang sedang mengetik—mengingatkan Erian soal ancaman video itu.

Erian membuang muka. Di dalam batinnya, rasa jijik dan amarah mendidih menjadi satu. "Sialan! Benar-benar mulut berbisa itu Stefani! Dia tahu persis Nadya akan lebih percaya pada aktingnya daripada kejujuranku," umpatnya dalam hati.

Sesampainya di kamar, Nadya membantu Erian berbaring. Suasana menjadi sunyi. Nadya yang tadi sibuk mengambilkan obat, tiba-tiba kembali teringat masalah mereka. Ia meletakkan gelas di nakas dengan agak kasar.

"Mas, meskipun kamu lagi sakit, aku tetap nggak bisa lupa sama apa yang kamu lakuin ke Stefani tadi sore," suara Nadya kembali dingin. "Stefani itu sahabatku, Mas. Dia sudah banyak bantu aku bangun butik dari nol. Tega-teganya kamu mau ngerusak kepercayaan dia."

Erian hanya bisa terdiam, menatap langit-langit kamar dengan perasaan hancur. Ia ingin sekali berteriak, 'Nadya, buka matamu! Dia yang menjebakku! Dia merekam semuanya agar bisa menguasai kita!' Tapi lidahnya kelu. Bayangan video itu menyebarluas dan menghancurkan reputasinya serta hati Nadya membuat Erian lumpuh.

"Besok pagi, aku mau kamu minta maaf secara resmi di depan aku sama Stefani," lanjut Nadya tanpa ampun. "Dan aku sudah pikirkan matang-matang... mulai besok, Stefani akan tinggal permanen di sini sebagai asisten pribadiku, dan dia juga akan ikut kalau kita ada perjalanan bisnis. Aku nggak mau dia sendirian dan merasa terancam lagi. Aku mau dia merasa aman di rumah ini."

Mendengar itu, jantung Erian seolah berhenti berdetak. Semuanya terjadi persis seperti yang direncanakan Stefani. Jebakan itu kini tertutup rapat.

"Ular itu... dia berhasil menyetir pikiran istriku sendiri," batin Erian penuh keputusasaan.

Malam itu, di kamar mewah yang terasa seperti penjara, Erian tidak bisa memejamkan mata. Ia tahu, esok hari adalah awal dari neraka yang sesungguhnya. Sementara itu, di kamar tamu, Stefani sedang bersandar di bantal empuk sambil memutar berkali-kali video rekaman ciumannya dengan Erian, tersenyum puas melihat betapa mudahnya ia mengobrak-abrik rumah tangga yang katanya paling harmonis di kompleks elit itu.

1
katty
up
Ovha Selvia
Nadya bodohnya minta ampun wkwkwkwkw
Lee Mba Young
Kbanyakan istri sah ki mesti baik nya kbanyakan bodoh mudah di tipu. masukin wanita lain ke rumah pdhl itu TDK bnar menurut agama.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭
katty
lanjut
katty
/Shy/
katty
lanjut
Indi_Dedy77
nadya oon, suaminya CEO tp oon juga, jd ada lubang si ular bs masuk se enaknya. kan bs pake ancaman utk stefani biar keluar dr rumahnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!