Kala Danuarta tidak pernah meminta menjadi pahlawan. Ia hanyalah seorang teknisi jam yang terjebak dalam kutukan Chronos-10, sebuah jam saku prototipe yang memungkinkannya kembali ke masa lalu selama 600 detik (10 menit). Namun, mesin itu memiliki sistem barter yang kejam: Memori untuk Waktu.
Setiap kali Kala melakukan lompatan waktu untuk mencegah kematian Arumi—gadis yang merupakan pusat dari segala paradoks—ia harus kehilangan satu kepingan ingatannya secara acak. Mulai dari nama guru SD-nya, rasa makanan favoritnya, hingga akhirnya ia lupa bagaimana wajah orang tuanya.
Kondisi semakin rumit karena Kala tidak kembali ke masa lalu sebagai dirinya sendiri, melainkan bertukar tubuh dengan orang asing yang ada di lokasi kejadian. Ia harus berpacu dengan waktu dalam tubuh yang bukan miliknya, tanpa identitas, untuk mengubah takdir yang seolah sudah digariskan oleh baja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpustakaan Ingatan Yang Terbuang
Cahaya biru yang menyilaukan itu meredup, menyisakan keheningan yang begitu pekat hingga Kala bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Ia membuka mata dan menemukan dirinya masih memeluk Arumi. Namun, mereka tidak lagi berada di dalam bus rute 402 yang hancur.
Mereka berada di sebuah tempat yang mustahil.
Lantai di bawah kaki mereka terbuat dari permukaan air yang tenang namun tidak basah, memantulkan bayangan langit yang tidak memiliki matahari—hanya hamparan nebula berwarna violet dan emas. Di sekeliling mereka, sejauh mata memandang, terdapat jutaan pintu kayu yang melayang tanpa dinding.
"Kita di mana?" bisik Arumi, suaranya gemetar. Ia tidak melepaskan genggamannya pada lengan Kala.
"Detik yang Hilang," jawab Kala pelan. Ia menatap tangannya. Bekas luka jam itu kini tidak lagi terasa panas, melainkan bercahaya lembut. "Vera pernah bilang ini adalah tempat pembuangan. Semua memori yang ditukar, semua garis waktu yang dihapus... semuanya berakhir di sini."
Kala berjalan mendekati salah satu pintu yang melayang paling dekat. Di daun pintunya, terdapat ukiran angka: 12-05-2016.
Ia menyentuh pintu itu, dan tiba-tiba pintu itu berubah menjadi transparan seperti layar bioskop. Di dalamnya, Kala melihat dirinya sendiri versi remaja sedang tertawa di sebuah taman. Namun, wajah gadis di sampingnya bukan Arumi, melainkan wajah yang tidak ia kenal.
"Itu adalah garis waktu yang gagal," sebuah suara berat terdengar dari balik deretan pintu.
Seorang pria tua keluar dari balik bayangan nebula. Itu adalah si Pria Tua dari Bab 2, namun kali ini ia tidak memakai jas abu-abu. Ia mengenakan jubah putih kusam, dan wajahnya tampak jauh lebih lelah.
"Kala muda," sapa si pria tua. "Dan Arumi... Kunci yang menolak untuk dikunci."
Kala memasang posisi waspada. "Siapa kamu sebenarnya? Vera bilang aku adalah orang yang mencuri jam itu sepuluh tahun lalu. Tapi kamu... kamu selalu muncul di setiap sudut hidupku."
Pria tua itu tersenyum sedih. Ia melepaskan penutup kepalanya, menunjukkan sebuah bekas luka yang sama persis dengan milik Kala di pergelangan tangannya. "Aku adalah kamu, Kala. Aku adalah Kala Danuarta dari garis waktu ke-9.999. Aku adalah versi dirimu yang memilih untuk tidak lupa, namun kehilangan segalanya."
Arumi tersentak. "Jadi... kamu adalah masa depan Kala?"
"Salah satu masa depan yang mungkin," koreksi si pria tua. "Di duniaku, aku berhasil menyelamatkan Arumi, tapi aku menghancurkan seluruh alam semesta. Aku terjebak di sini, menjaga perpustakaan ingatan ini agar tidak bocor kembali ke dunia nyata. Karena jika satu saja memori dari sini kembali ke otakmu, Kala muda... maka realitas yang kalian tinggalkan tadi akan runtuh sepenuhnya."
Kala melangkah maju. "Aku tidak peduli pada realitas yang palsu itu! Aku ingin ingatanku kembali. Aku ingin tahu siapa Arumi bagiku tanpa harus membaca catatan di saku!"
"Harga yang harus dibayar bukan lagi ingatanmu, Kala," pria tua itu menunjuk ke arah Arumi. "Harganya adalah keberadaan Arumi. Jika kamu mengambil kembali ingatanmu, maka Arumi akan kembali menjadi 'Inti Waktu'—sebuah objek mati, bukan manusia."
Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Arumi melepaskan pegangannya pada Kala. Ia menatap tangannya sendiri, lalu menatap hamparan pintu-pintu memori itu.
"Jadi selama ini..." suara Arumi pecah. "Aku hidup hanya karena kamu lupa siapa aku? Aku ada karena kamu mengorbankan bagian dari jiwamu?"
Kala menggeleng keras. "Tidak, Arumi. Jangan dengarkan dia!"
"Kebenarannya adalah," pria tua itu melanjutkan, "Dewan Realitas menciptakan Arumi untuk menjadi mesin pengatur ulang. Tapi kamu, Kala, memberikan 'nyawa' pada mesin itu. Kamu memberinya emosi, memori, dan nama. Itu adalah kejahatan terbesar bagi mereka, tapi keajaiban terbesar bagi kita."
Tiba-tiba, langit nebula di atas mereka retak. Suara dentuman keras terdengar. Pasukan Pemulih tidak bisa masuk ke sini, tapi mereka sedang mencoba menghapus dimensi ini dari luar.
"Mereka akan membakar tempat ini!" teriak si pria tua. "Kala! Kamu harus memilih sekarang! Di balik pintu nomor 601, ada memori aslimu. Jika kamu membukanya, kamu akan mengingat segalanya, kamu akan punya kekuatan untuk melawan Dewan Realitas. Tapi Arumi... Arumi akan kehilangan kemanusiaannya. Dia akan menjadi mesin kembali."
Kala menatap pintu nomor 601 yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Pintu itu berdenyut dengan cahaya emas yang sangat kuat. Ia merasakannya—semua kenangan tentang ibunya, tentang pertemuan pertamanya dengan Arumi, tentang rasa cinta yang nyata—semuanya ada di balik pintu itu.
Ia sangat haus akan identitas dirinya. Ia lelah menjadi orang asing.
Namun, ia menoleh ke arah Arumi. Arumi sedang menatapnya dengan senyum yang paling tulus yang pernah Kala lihat. Air mata mengalir di pipi gadis itu.
"Pilihlah, Kala," bisik Arumi. "Aku lebih baik menjadi mesin yang kamu ingat, daripada menjadi manusia yang kamu lupakan."
Kala menggenggam gagang pintu 601. Jantungnya berpacu. Ia bisa merasakan kunci-kunci memori itu siap masuk kembali ke otaknya.
Tapi kemudian, Kala melakukan sesuatu yang tidak terduga.
Ia melepaskan gagang pintu itu dan menghantamnya dengan kepalan tangannya yang bercahaya biru. Pintu itu tidak terbuka, melainkan hancur menjadi serpihan cahaya.
"TIDAK!" teriak pria tua itu.
"Aku tidak butuh memori untuk tahu siapa yang aku cintai," ujar Kala dengan suara yang menggetarkan dimensi itu. "Mungkin aku tidak ingat kapan kita pertama kali bertemu, Arumi. Mungkin aku tidak ingat apa warna favoritmu. Tapi setiap sel di tubuhku bergetar saat aku di dekatmu. Itu lebih dari cukup."
Kala menarik Arumi dan mencium keningnya. Di saat yang sama, bekas luka di tangannya meledak. Cahaya biru itu kini tidak lagi menghapus, tapi menyelimuti mereka seperti pelindung.
"Kita akan membuat memori baru," bisik Kala. "Di garis waktu yang kita buat sendiri. Tanpa jam, tanpa Dewan, tanpa aturan."
Dimensi itu mulai runtuh. Pria tua itu memudar sambil tersenyum—sebuah senyum lega karena akhirnya ada satu versi dirinya yang berani memutus siklus itu.
"Pergilah ke Detik ke-602," suara terakhir si pria tua bergema. "Di sana... waktu tidak lagi berkuasa."
Kala dan Arumi terjatuh ke dalam lubang cahaya yang muncul di bawah kaki mereka, meninggalkan perpustakaan ingatan yang kini mulai hancur ditelan kegelapan.