Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.18 Bersaksi
"Kamu tahu apa yang paling menyakitkan dari sebuah kebenaran, Sekar? Kebenaran tidak bisa menghidupkan kembali apa yang sudah mati. Ia hanya memberi kita alasan untuk terus menghukum diri sendiri."
Suara itu berat, serak, dan memantul di antara dinding kaca kedap suara yang memisahkan mereka.
Sekar menatap pria di depannya. Rahman tidak lagi mengenakan setelan jas buatan penjahit Italia yang sempurna. Ia mengenakan seragam tahanan berwarna oranye kusam yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang kini menyusut. Rambutnya dicukur pendek, menyisakan gurat-gurat kelelahan yang permanen di keningnya.
Sekar memegang gagang telepon interkom dengan tangan yang masih gemetar. "Aku tidak datang ke sini untuk mendengar filsafat penjaramu, Rahman. Aku datang untuk memberikan ini."
Sekar menempelkan sebuah foto ke kaca. Foto gundukan tanah kecil di pegunungan Alpen, yang kini telah ditutupi salju tipis. Di atasnya tertancap salib kayu sederhana tanpa nama, hanya sebuah ukiran bunga kecil yang melambangkan kehidupan yang layu sebelum berkembang.
Rahman memejamkan mata. Bahunya berguncang hebat, sebuah isakan tanpa suara yang tampak lebih menyakitkan daripada teriakan histeris. Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca, tepat di posisi foto itu berada.
"Dia sudah tenang, kan?" tanya Rahman, suaranya pecah.
"Dia sudah tidak merasakan sakit lagi. Sesuatu yang tidak bisa kita berikan padanya selama sepuluh tahun ini," jawab Sekar dingin. Matanya tetap kering. Air matanya seolah telah habis terkuras di Amsterdam.
"Viona sudah hancur. Ibumu akan menghabiskan sisa hidupnya di penjara wanita Jakarta. Ayahmu... dia tidak akan pernah bangun lagi untuk melihat kerajaan yang dia banggakan menjadi abu. Apa kamu puas?" ucap Sekar sarkas.
Rahman mendongak, menatap mata Sekar dengan sisa-sisa jiwa yang hancur. "Puas? Tidak ada kemenangan dalam hal ini, Sekar. Kita berdua adalah pecundang yang berdiri di atas tumpukan mayat masa lalu kita sendiri. Aku akan diekstradisi minggu depan. Jaksa penuntut di Hamburg meminta hukuman maksimal atas keterlibatanku dalam eksperimen Von Hess."
"Aku akan bersaksi," kata Sekar tiba-tiba.
Rahman tertegun. Apa yang baru saja ia dengar. Pengorbanannya akan sia-sia jika Sekar memutuskan bersaksi. "Jangan. Jika kamu bersaksi, mereka akan menggali keterlibatanmu dalam penculikan Lukas dari fasilitas medis. Kamu akan ikut terseret ke dalam sel ini," tolaknya tegas.
"Aku tidak peduli," Sekar menatap lurus ke dalam pupil mata Rahman. "Aku akan bersaksi bukan untuk menyelamatkanmu, tapi untuk memastikan dunia tahu bahwa Lukas bukan sekadar angka dalam laporan laboratorium. Aku akan menghancurkan Von Hess sepenuhnya, meski aku harus ikut terbakar bersamanya."
Dua minggu kemudian, ruang sidang di Hamburg dipenuhi oleh media internasional. Skandal—Serum biru— telah menjadi isu kemanusiaan terbesar tahun itu.
Sekar berdiri di podium saksi, mengenakan gaun hitam sederhana. Di belakangnya, deretan pengacara mahal dari Von Hess Pharma duduk dengan wajah tegang, siap menyerang kredibilitasnya.
"Dokter Sekar Wijaya," pengacara pembela Von Hess memulai dengan nada meremehkan. "Anda menuduh klien kami melakukan eksperimen ilegal, namun kenyataannya, Anda sendiri yang membawa lari anak tersebut dari perawatan medis yang sah, yang mengakibatkan kematiannya. Bukankah Anda sebenarnya adalah penyebab utama kegagalan jantung subjek?"
Sekar menarik napas panjang. Ia menoleh ke arah bangku terdakwa, di mana Rahman duduk dengan kepala tertunduk. Ia kemudian menatap hakim.
"Saya adalah seorang dokter bedah vaskular. Saya dididik untuk menyelamatkan nyawa dengan presisi," suara Sekar menggema, jernih dan tak tergoyahkan.
Tatapannya tegas, penuh dengan amarah yang tertahan untuk melumat habis Von Hess. "Saat saya membuka dada anak saya di sebuah gereja tua di tengah pelarian, saya tidak menemukan struktur jantung yang normal. Saya menemukan jaringan yang telah dimanipulasi secara paksa, pembuluh darah yang rapuh seperti sayap serangga karena zat kimia yang Anda sebut 'obat'. Lukas tidak mati karena saya membawanya pergi. Ia mati saat Anda pertama kali menyuntikkan ambisi Anda ke dalam nadinya sepuluh tahun lalu."
Sekar mengeluarkan sebuah flashdisk—data terakhir yang berhasil disalin Steiner sebelum laboratorium itu diledakkan oleh Rahman.
"Ini adalah catatan medis asli. Bukan versi yang telah dimanipulasi untuk pemegang saham. Di sini tertulis jelas: Subjek 01-L menunjukkan penolakan sistemik total, namun dosis ditingkatkan untuk mengamati ambang batas rasa sakit. Apakah itu yang Anda sebut perawatan medis yang sah?"
Ruang sidang mendadak riuh. Hakim mengetuk palu berulang kali. Rahman mendongak, menatap Sekar dengan pandangan tak percaya. Sekar telah mempertaruhkan seluruh karier dan kebebasannya untuk mengungkap kebenaran ini.
Di belahan bumi lain, di sebuah rumah sakit jiwa di pinggiran Jakarta, Viona duduk di sudut ruangan yang serba putih. Matanya kosong, menatap jemarinya yang terus bergerak seolah sedang merajut sesuatu yang tidak ada.
"Sudah waktunya minum obat, Viona," kata seorang perawat lembut.
Viona menoleh, namun ia tidak melihat perawat itu. Ia melihat bayangan Lukas yang sedang berlari di lorong-lorong gelap rumah sakit Wijaya. Ia melihat darah yang merembes dari gaun pengantinnya.
"Dia tidak mau bangun..." gumam Viona. "Rahman tidak mau bangun. Dia sedang tidur dengan dokter itu di bawah salju."
Viona telah kehilangan kewarasannya sejak malam ia menyaksikan Rahman menembak para penjaga di katedral.
Baginya, kenyataan terlalu menyakitkan untuk dihadapi. Ia memilih untuk mengunci dirinya dalam kegilaan, tempat di mana ia masih menjadi nyonya besar Wijaya yang tak tersentuh.
Ini adalah akhir yang sunyi bagi wanita yang pernah memegang dunia di telapak tangannya; sebuah kehampaan yang lebih buruk daripada kematian.
Setelah persidangan yang melelahkan selama berbulan-bulan, vonis akhirnya dijatuhkan. Von Hess Pharma dinyatakan bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan dijatuhi denda yang akan membuat perusahaan itu bangkrut seketika. Namun, hukum tetaplah hukum.
Sekar dijatuhi hukuman tiga tahun penjara dengan masa percobaan atas tuduhan pembobolan fasilitas medis dan malpraktik darurat di luar otoritas hukum. Rahman dijatuhi hukuman dua belas tahun penjara tanpa remisi.
Malam sebelum Sekar memulai masa hukumannya di sebuah penjara terbuka di dekat Berlin, ia berdiri di balkon apartemen sewaan Steiner.
Ia menatap lampu-lampu kota Hamburg yang gemerlap, merasa sangat asing dengan dunia yang kini tampak begitu normal.
"Kamu sudah melakukannya, Sekar," Steiner muncul dari dalam, membawa dua cangkir teh hangat. "Kamu telah memberikan keadilan bagi Lukas."
"Keadilan tidak membawa Lukas kembali, Dokter," jawab Sekar pahit. "Keadilan hanya membuat orang-orang jahat itu memakai seragam yang berbeda. Pada akhirnya, aku tetap sendirian."
"Tidak sepenuhnya," Steiner menyerahkan sebuah amplop besar. "Alvin mengirimkan ini sebelum dia menghilang ke Amerika Selatan. Tampaknya dia meninggalkan satu 'hadiah' terakhir untukmu."
Sekar membuka amplop itu. Isinya adalah dokumen pemindahan kepemilikan sebuah klinik kecil di pinggiran Berlin yang selama ini menjadi tempat persembunyian Steiner. Namun, yang membuat jantung Sekar berhenti berdetak adalah sebuah catatan kecil yang terselip di dalamnya.
"Sekar, aku menemukan data adopsi lain di arsip rahasia Ibu Wijaya. Lukas bukan satu-satunya. Ada satu lagi bayi perempuan lain, ia menjualnya satu tahun setelah kamu pergi ke Jerman. Ibu Wijaya menjualnya ke sebuah keluarga di Indonesia untuk menutupi hutang judi Tuan Wijaya. Namanya sekarang adalah Arini. Dia berada di sebuah panti asuhan di Bandung."
Sekar merosot ke lantai, tangannya mencengkeram kertas itu hingga lecek. Air mata yang selama ini ia tahan, akhirnya pecah menjadi raungan yang memilukan.
Dendamnya telah selesai, namun takdir seolah-olah senang mempermainkannya. Ia baru saja kehilangan seorang putra, dan kini ia diberitahu bahwa ia memiliki seorang putri yang selama ini ia anggap sebagai mitos atau kebohongan lain dari Rahman.
"Sekar? Ada apa?" tanya Steiner cemas.
Sekar tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menangis, merutuki betapa kejamnya hidup ini.
Di saat ia sudah siap untuk menyerah dan menerima hukumannya, ia diberikan alasan baru untuk tetap hidup—dan alasan baru untuk membenci Rahman sekali lagi.
Rahman tahu, pikir Sekar dengan amarah yang kembali menyala. Dia tahu ada anak kedua, dan dia membiarkanku hanya fokus pada Lukas.
Esok paginya, Sekar berjalan menuju kantor polisi untuk menyerahkan diri. Ia melangkah di trotoar yang basah oleh sisa hujan semalam.
Langkahnya tidak lagi gontai. Ada api baru di matanya, api yang lebih redup namun lebih stabil daripada dendam.
Ia tidak akan membiarkan Arini menjadi korban berikutnya. Ia akan menjalani tiga tahun masa hukumannya, ia akan membiarkan dirinya hancur dalam kesunyian sel, namun ia bersumpah demi abu Lukas yang ada di puncak gunung, bahwa ia akan kembali ke Indonesia.
Bukan sebagai dr. Sekar Wijaya yang penuh dendam. Tapi sebagai seorang ibu yang akan merebut kembali potongan terakhir dari jiwanya yang dicuri.
Dendam ini mungkin sudah berakhir, namun perjuangan untuk penebusan baru saja dimulai.
Di dalam kegelapan yang menyelimuti hidupnya, Sekar melihat setitik cahaya kecil di kejauhan—sebuah janji bahwa suatu hari nanti, ia tidak akan lagi mencium aroma kematian, melainkan aroma kehidupan yang baru.
Rahman, di sel isolasinya di Hamburg, menatap langit-langit yang kelabu. Ia tahu Sekar telah menerima informasi itu.
Ia sengaja menyembunyikannya hingga persidangan usai, agar Sekar punya alasan untuk terus hidup setelah Lukas tiada. Rahman menerima kebencian Sekar sebagai hukuman terakhirnya.