Slamet, seorang pengangguran yang hobi main game dan punya utang pinjol (pinjaman online) di 12 aplikasi berbeda, saking frustasinya, dia mencoba melakukan ritual pesugihan yang dia temukan di grup Facebook "Cepat Kaya Tanpa Kerja".
Bukannya dapat emas setumpuk, Slamet malah salah kirim sesajen. Dia malah melakukan kontrak kerja dengan Koperasi Makhluk Halus Nasional. Ternyata, dunia ghaib sedang mengalami krisis eksistensi karena manusia zaman sekarang sudah tidak takut setan (lebih takut tagihan cicilan).Slamet tidak jadi tumbal, tapi dipekerjakan sebagai "Manager Citra & Viralitas" untuk hantu-hantu lokal supaya mereka bisa eksis lagi di TikTok dan menakuti manusia modern. Komedinya muncul dari Slamet yang harus mengajari Kuntilanak cara skincare-an biar nggak kusam saat live streaming, atau Pocong yang minta dicarikan jasa lari maraton karena bosan lompat terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantu Global
Slamet tidak pernah membayangkan bahwa ruang tamu penthouse K.MN nya akan berubah menjadi meja perundingan Dewan Keamanan PBB versi Bar zah. Di hadapannya, Mr. Void sang utusan IGM.F (International Ghost Monetary Fund) duduk dengan angkuh sambil menyesap "Espresso Arwah" yang aromanya mirip kabel terbakar.
"Mr. Slamet," Mr. Void memulai dengan aksen Amerika yang sangat kaku. "Aplikasi 'Berkah-Go' milik Anda telah menyebabkan deflasi ketakutan di kawasan Asia Tenggara. Jika manusia di Jakarta berhenti merasa terancam, maka ekspor 'Energi Kecemasan' ke pasar global akan berhenti. Ini melanggar perjanjian perdagangan hantu internasional!"
Slamet, yang baru saja diajari Arini istilah-istilah bahasa Inggris lewat aplikasi Duolingo selama dua jam, mencoba menjawab dengan tenang. "Wait a minute, Mr. Void. In Indonesia, we have a principle called 'Kedaulatan Hantu'. Kenapa kami harus ekspor kecemasan? Kami lebih suka ekspor kebahagiaan. It's more sustainable, you know?"
Mr. Void menggebrak meja. "Happiness is not a currency in our system! Kami butuh rasa takut untuk menggerakkan mesin-mesin di Underworld Global. Jika Jakarta menjadi terlalu 'berkah', kota-kota lain seperti New York dan London akan ikut-ikutan. Ini ancaman terhadap status quo!"
Arini, yang bertindak sebagai Wakil Menteri sekaligus penerjemah (karena bahasa Inggris Slamet masih sebatas 'Yes, No, Bakso'), langsung menyambar. "Mr. Void, bukankah IGM.F selalu menyarankan digitalisasi? Kami melakukan digitalisasi. Masalahnya, kalian ingin kami tetap menggunakan 'Teknologi Teror' lama, sementara kami sudah pindah ke 'Pahala-as-a-Service'. Ini masalah inovasi, bukan regulasi!"
Tiba-tiba, pintu balkon terbuka lebar. Angin dingin yang sangat tidak wajar berhembus masuk, membawa aroma tanah makam Eropa dan parfum mawar kuno. Sesosok pria pucat dengan jubah hitam berlapis sutra merah mendarat dengan anggun.
"Von ade... Slamet," sapa pria itu dengan suara berat yang memiliki vibrasi magnetis. "Saya Count Vlad, perwakilan dari Uni Hantu Eropa. Kami mendengar hantu-hantu di Indonesia sekarang lebih suka dapat poin daripada hisap darah? Ini adalah penghinaan terhadap tradisi aristokrasi ghaib!"
Slamet melongo. "Busyet, Dracula beneran datang ke Kuningan? Pak Count, di sini nggak ada yang hisap darah. Adanya donor darah, dapet susu sama kacang ijo. Mau coba?"
Count Vlad mendengus. "Jangan merendahkan kami dengan kacang hijau! Kami datang untuk menuntut 'Adjustment Policy . Anda harus menghapus fitur 'Pahala Cashback' karena itu membuat hantu-hantu kami di luar negeri ingin migrasi ke Indonesia. Kemarin, dua puluh Vampire dari Transylvania mengajukan visa kerja ke Jakarta karena mau jadi kurir Berkah-Go! Ini menyebabkan 'Brain Drain' di Eropa!"
Slamet menoleh ke Arini. "Rin, gila ya. Hantu luar negeri aja mau kerja di sini. Ternyata lowongan kerja kita emang lebih menjanjikan."
Slamet berdiri, membetulkan letak emblem menterinya. "Oke, Gentlemen. Saya hargai kedatangan kalian. Tapi begini, Indonesia itu punya aturan main sendiri. Kami tidak mau diatur-atur oleh skema Bail out Energi dari luar negeri. Kalau kalian mau hantu-hantu kalian tetap di sana, ya perbaiki kesejahteraan mereka! Kasih mereka sinyal internet, kasih mereka sistem poin juga!"
"Kami tidak bisa melakukan itu!" seru Mr. Void. "Sistem kami berbasis utang dan penderitaan. Jika kami kasih mereka poin, siapa yang mau kerja di tambang keputusasaan?"
"Nah, itu masalah kalian, bukan masalah kami," balas Slamet telak. "Kedaulatan digital kami adalah harga mati. Kalau IGM.F mau sanksi kami, silakan. Tapi ingat, sebagian besar konten horor viral di internet itu asalnya dari Indonesia. Kalau kami lakukan 'Export Ban' untuk konten Kuntilanak dan Pocong, industri hiburan ghaib global kalian bakal anjlok!"
Mr. Void dan Count Vlad saling pandang. Mereka tahu ancaman Slamet bukan main-main. Netizen Indonesia baik yang hidup maupun yang hantu adalah kekuatan digital paling barbar di muka bumi. Sekali kena "Silaturahmi Ghaib", server internasional bisa lumpuh total.
Namun, Mr. Void tidak menyerah begitu saja. "Fine. Jika Anda menolak kerjasama, kami akan membawa kasus ini ke 'Mahkamah Arbitrase Takdir' di Den Haag Ghaib. Kami akan menuntut Anda atas tuduhan 'Dumping Kebahagiaan' yang merusak harga pasar penderitaan dunia."
Setelah kedua tamu internasional itu menghilang dalam kepulan asap kabut, Slamet terduduk lemas. "Rin... Den Haag? Itu jauh banget kan?"
"Iya Mas, di Belanda. Tapi tenang, kita punya rahasia," Arini tersenyum misterius. "Ingat Tuan Meneer yang kemarin kita kalahkan? Dia kan hantu Belanda. Dia punya banyak koneksi pengacara di Den Haag. Kita bisa 'paksa' dia buat jadi pengacara kita sebagai kompensasi atas kekalahannya kemarin."
Slamet tertawa. "Genius! Jadikan musuh sebagai konsultan hukum. Itu baru namanya taktik menteri."
Namun, di balik diplomasi tingkat tinggi ini, Bang Omen melaporkan sesuatu yang lebih mengkhawatirkan. "Met, IGM.F nggak cuma main hukum. Mereka juga kirim 'Tentara Bayaran Ghaib'. Mereka sewa hantu-hantu profesional dari luar negeri buat melakukan 'Hostile Takeover' terhadap server Berkah-Go."
"Siapa yang mereka sewa, Men?"
"Bukan sembarang hantu, Met. Mereka sewa 'Hantu Algojo' dari masa revolusi industri Inggris dan beberapa 'Poltergeist' kelas militer. Mereka sekarang lagi mencoba masuk lewat pintu belakang server kita di Gunung Lawu."
Slamet segera menghubungi Sugeng dan Kunti Sari. "Geng! Sar! Kita ada tamu asing ilegal. Mereka nggak punya izin tinggal dan mau nge rusak properti negara. Kasih mereka sambutan khas Indonesia: 'Keramahtamahan yang Mematikan'."
Malam itu, di perbatasan digital Gunung Lawu, terjadi bentrokan yang surreal. Hantu-hantu algojo Inggris yang memakai seragam kaku dan membawa kapak berkarat mencoba meretas pagar ghaib. Namun, mereka tidak menyangka akan dihadang oleh Sugeng yang memimpin pasukan "Pocong Skateboarder".
"Oi, Mister! No entry! Forbidden!" teriak Sugeng sambil melakukan trik kick flip di atas kepala salah satu algojo.
Pasukan Kunti Sari juga beraksi. Mereka tidak menyerang dengan fisik, melainkan dengan serangan "Mental Health". Mereka membisikkan kata-kata dalam bahasa Inggris yang sudah diterjemahkan Bang Omen "Why are you working so hard? Your boss is a vampire! Join us, we have BPJS Ghaib and unlimited points!"
Hantu-hantu luar negeri itu tertegun. Mereka yang selama ribuan tahun hanya tahu kerja rodi di tambang penderitaan, mendadak sadar bahwa di Indonesia, hantu bisa punya karir dan dapet bonus poin.
"Is it true? We get... points?" tanya seorang Poltergeist yang tadinya mau membanting server.
"Yes, Mister! Free Kuota and Shalat Idul Fitri holiday! Sangat enjoy!" jawab Sugeng bangga.
Hanya dalam waktu tiga jam, pasukan tentara bayaran itu justru melakukan pembelotan massal. Mereka malah minta diajari cara download aplikasi Berkah-Go.
Slamet yang memantau dari Jakarta hanya bisa geleng-geleng kepala. "Ternyata diplomasi paling ampuh itu bukan lewat meja perundingan, tapi lewat 'Kesejahteraan Karyawan'. Bahkan hantu luar negeri pun nggak tahan sama godaan bonus."
Namun, kemenangan ini memicu kemarahan besar di markas IGM.F di dimensi lain. Mr. Void melihat layar monitornya yang menunjukkan pembelotan massal pasukannya. "Slamet Sudjatmiko... kamu bukan cuma menteri, kamu adalah virus bagi tatanan dunia kami. Jika kami tidak bisa menghentikanmu dari luar, kami akan menghancurkanmu dari dalam."
Mr. Void menekan sebuah tombol merah di mejanya. "Aktifkan agen tidur di Jakarta. Saatnya menggunakan 'Masa Lalu' Slamet untuk menghancurkannya."
Di Jakarta, Slamet sedang merayakan kemenangan kecilnya bersama Arini di sebuah warung sate. Tiba-tiba, seorang wanita cantik dengan pakaian sangat modis namun tatapannya kosong, duduk di meja sebelah mereka. Dia menatap Slamet dengan tatapan yang sangat familiar.
Slamet tersedak potongan sate maranggi-nya. "Lho... Meta?"
Arini mengernyitkan dahi. "Siapa, Mas? Teman sekolah?"
Slamet berkeringat dingin. Meta adalah mantan kekasihnya yang dulu meninggalkannya karena Slamet terlalu miskin dan terlilit pinjol. Tapi ada yang aneh... Meta seharusnya masih hidup dan sudah menikah dengan orang kaya di Singapura. Kenapa sekarang dia ada di sini, dan kenapa Slamet bisa melihat aura ghaib di sekelilingnya?
"Slamet... aku butuh bantuanmu," suara Meta terdengar seperti rekaman yang diputar lambat. "Suamiku... dia bukan manusia. Dia adalah CEO dari Serikat Pinjol Internasional, dan dia menggunakan aku sebagai jaminan hutangnya."
Slamet terdiam. Dia terjebak dalam dilema klasik: menyelamatkan masa lalunya yang menyakitkan, atau tetap fokus pada masa depannya yang sedang dibangun bersama Arini. Dan dia tahu, ini adalah jebakan paling licik yang pernah dibuat oleh Mr. Void.
"Mas..." Arini memegang tangan Slamet, matanya menatap tajam ke arah Meta. "Hati-hati. Aku ngerasa ada 'Malware' di dalam aura cewek ini."
semakin rumit. Politik, ekonomi, dan kini... urusan asmara masa lalu ikut campur. Slamet menyadari bahwa untuk menjadi pemimpin dua dunia, dia harus lebih dulu berdamai dengan bayang-bayang di hatinya sendiri.