Vania Adinata, tanpa sengaja melewatkan malam panasnya dengan seorang CEO terkenal. Putus cinta membuatnya frustasi hingga dia mabuk dan melakukan one night stand tanpa sengaja.
Dikucilkan karena hamil, hingga dijodohkan dengan pria tua. Namun, nasib baik masih berpihak padanya, dia kabur dan tanpa di duga bisa bertemu dengan Ayah biologis bayi yang ada dalam kandungannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? Siapa kira kira CEO terkenal dan nomor satu itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3 DIJODOHKAN
Byur!
Dengan penuh emosi, Baskara menyiramkan seember air tepat di wajah Vania, membuat gadis itu kaget dan langsung membuka matanya. Dia merasa diperlakukan seperti anak tiri. Dirinya menegakkan tubuh, kemudian menatap Baskara dengan tajam.
"Ap—" belum selesai bicara, satu tamparan sudah mendarat di pipinya.
"Pa!" teriak Vania tidak terima, dia memegangi pipinya yang terasa panas.
"Bahkan satu tamparan saja belum setimpal dengan perbuatanmu yang sudah mencoreng nama baik keluarga kita!" balas Baskara dengan nada tinggi.
Vania tidak berani menjawab, dia hanya diam saja dan menunduk.
"Kenapa? Sekarang kau sudah menyadari kesalahanmu?"
"Semua terjadi gara-gara, Papa." sahut Vania dengan berani.
"Kau yang berbuat tapi kau malah menyalahkan Papa?"
"Kak, kita bisa bicarakan semuanya baik-baik. Kenapa kau malah menyalahkan Papa?" Ratu angkat suara, ingin memperkeruh suasana.
"Diam! Jangan ikut campur dengan urusan Ayah dan anak." bentak Vania menunjuk Ratu.
"Kau yang diam, Vania! Ratu hanya peduli padamu."
"Terus saja bela dia, Pa. Kalian semua lah penyebab penderitaanku saat ini. Gara-gara dua benalu ini, Papa jadi tidak mempedulikanku. Papa gak pernah memikirkan perasaanku!" Vania meluapkan keluh kesahnya.
"Sebelum mereka masuk ke dalam keluarga kita, hidupku baik-baik saja. Dan setelah mereka masuk, Papa lebih mempercayai mereka bahkan membela mereka dibandingkan aku. Sakit, Pa. Hatiku sakit," air mata Vania menetes. "Sebenarnya aku anak kandung Papa atau bukan?"
Baskara tidak bisa berkata-kata, dia kembali teringat dengan amanah yang Vierra katakan. Satu sisi dia merasa bersalah, tapi disisi lain dia merasa marah.
"Kau sudah dewasa, harusnya kau tau mana yang baik dan mana yang buruk." ucap Baskara. "Papa tidak ingin reputasi keluarga kita jatuh karena perbuatanmu ini, Vania. Besok malam ikut Papa, kita akan temui Purnomo Yusgiantoro. Partner bisnis Papa. Mau tidak mau, kau harus segera menikah dengannya. Sudah lama dia menyukaimu."
Mata Vania sukses membulat. "Apa? Purnomo, si tua bangka yang selalu menggangguku itu? Papa sudah g*ila? Lebih baik aku ma*ti daripada harus menikah dengan pria seperti dia." ucapnya merasa tidak percaya dengan keputusan sang Papa.
"Papa tidak mau dengar apa pun, Vania. Kau harus turuti perkataan Papa atau g*ug*urkan kandunganmu itu!" Baskara keluar dari kamar Vania. Disusul oleh Ratu yang tersenyum puas dan mengejek.
Disana masih ada Risna, dia menatap Vania dengan rasa kasihan. Dirinya sangat menyayangi Vania seperti anaknya sendiri, tetapi Vania selalu berpikiran buruk tentangnya.
Risna mencoba mendekati Vania, dia duduk di tepi ranjang, tepat dibawah kaki Vania.
"Vania, Mama akan coba bicara pada Papamu, agar dia mengubah keputusannya. Anak ini tidak bersalah, kau tidak boleh mengg*gugurkannya. Dan kau juga tidak perlu menikah dengan Purnomo." Risna hendak mengelus kepala Vania, tetapi gadis itu mencegahnya dan mengusir.
"Keluar dari kamarku! Aku tidak perlu belas kasihan darimu. Kau dan anakmu sama saja, bermuka dua." ketusnya dengan sinis.
Risna menghela napas panjang, dia tidak ingin membuat perdebatan dan semakin menjauhkan hubungan yang ingin dibentuk.
Setelah semuanya pergi, Vania menangis sejadi-jadinya. Dia melemparkan semua bantal ke lantai.
Risna menemui Baskara yang sedang berada di dalam kamar. Pria itu berdiri dengan tangan kanan memegangi kepala dan tangan kirinya memegang sofa digunakan untuk menopang tubuh yang lemas.
"Bas! Apa kau sudah pikirkan semuanya matang-matang?" Risna berdiri disebelah Baskara.
"Lalu bagaimana lagi, Risna? Itulah jalan satu-satunya agar nama baik keluarga kita tetap terjaga."
"Menikahkan Vania dengan Purnomo? Bahkan pria itu lebih cocok menjadi kakeknya, Bas. Apa kau tidak kasihan melihat Vania? Dia sudah terpuruk karena kehamilannya tanpa seorang suami, dan kau malah menambah keterpurukannya dengan menikahkan dia."
Baskara menjatuhkan b*okongnya di sofa. "Aku merasa bersalah pada Vierra. Aku tak bisa menjaga Putri kami," sesalnya.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Baskara, sebelum kau menikahkan Vania dengan Purnomo, sebaiknya pikir-pikir dulu lagi. Jangan sampai kau menyesal untuk kedua kalinya." Risna mengelus pundak sang suami, mencoba menguatkan pria itu.
_____________
Gio menjalani aktivitasnya seperti biasa. Masih ada kejanggalan dihatinya karena belum menemukan gadis yang satu bulan lalu dia tiduri. Sang asisten pribadi sekaligus sahabat Gio — Hans selalu memperhatikan Bos-nya. Dimana Gio yang terlalu sering melamun bahkan tidak fokus saat mengadakan meeting.
"Cari detektif atau hacker handal di kota ini. Aku harus segera menemukannya sebelum terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu. Entah kenapa aku selalu memikirkannya, dan aku merasa akan ada musibah yang menimpanya." ucap Gio seakan memiliki ikatan batin yang kuat dengan Vania.
"Tapi pasti bayarannya mahal, Bos." sahut Hans.
"Hei, kau menyepelekanku, ya? Apa kau lupa, siapa aku ini? Giorgino Abraham, CEO terkenal perusahaan ABRAHAM GROUP." Gio hendak menyikut wajah Hans.
"Baiklah, nanti kita bahas lagi masalah itu. Jam sepuluh kau ada pertemuan dengan direktur utama perusahaan Adinata."
Gio mengerutkan dahinya. "Apa yang harus dibahas dengan Direktur Utama Perusahaan Adinata?" tanyanya kepada Hans.
"Beliau ingin membahas tentang proyek villa di kawasan elit, Bos. Katanya, ada beberapa investor yang tertarik untuk berinvestasi di proyek itu," jawab Hans.
Gio mengangguk. "Baiklah, aku akan mempersiapkan diri untuk pertemuannya. Tapi jangan lupa, aku ingin kau mencari detektif atau hacker handal untuk mendapatkan informasi tentang gadis itu. Aku tidak bisa melupakan perasaan ini, Hans. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres dengannya."
Hans menatap Gio sangat dalam. Sahabatnya itu tidak pernah seperti ini terhadap seorang wanita. "Baiklah, Bos. Tapi, apa yang membuat Bos begitu peduli dengan gadis itu? Apa Bos benar-benar merasa ada ikatan batin yang kuat dengannya?"
Gio juga merasa heran. "Entahlah. Mungkin aku benar-benar merasa ada ikatan batin yang kuat dengannya. Tapi, aku tidak tahu apa itu. Aku hanya ingin segera menemukannya. Aku percaya padamu, Hans. Kau orang yang bisa dipercaya dan diandalkan. Sekarang, aku harus mempersiapkan diri untuk pertemuan dengan Direktur Utama Perusahaan Adinata. Tolong siapkan semua dokumen yang dibutuhkan, ya?"
Hans mengangguk. "Aku akan mempersiapkan semua dokumen yang dibutuhkan. Dan jangan khawatir, Bos. Aku akan menemukan gadis itu untuk Bos.
Pukul sepuluh pagi.
Terlihat Gio sudah sampai di kantor milik keluarga Adinata. Dirinya keluar dari mobil mewahnya menuju ke pintu masuk kantor Adinata Group. Gio disambut oleh seorang sekretaris cantik yang berusia sekitar 25 tahun.
"Selamat pagi, Tuan Abraham. Tuan sudah di tunggu oleh Direktur Utama. Silakan masuk," kata sekretaris itu dengan senyum manis.
Gio tidak menjawab, bahkan dia memasang wajah datar dan angkuh. Di dalam ruangan, Direktur Utama Adinata Group, Pak Adinata, sudah menunggu dengan senyum lebar.
"Selamat pagi, Tuan Giorgino Abraham. Terima kasih sudah datang. Silakan duduk," kata Pak Adinata sambil menunjukkan kursi yang telah disiapkan untuk Gio.
Gio duduk dan memulai percakapan. "Selamat pagi, Tuan Adinata. Senang sekali bisa bertemu dengan Anda. Apa yang ingin dibahas hari ini?"
Pak Adinata tersenyum. "Ya, kita ingin membahas tentang proyek villa di kawasan elit. Kami telah menerima beberapa proposal dari investor yang tertarik untuk berinvestasi di proyek tersebut. Kami ingin meminta pendapat Anda tentang hal ini."
Gio mengangguk paham. "Baiklah, saya senang bisa ikut andil dalam pembangunan proyek besar ini. Silakan berikan saya proposal-proposal tersebut agar saya bisa mempelajarinya."
Pak Adinata meminta sekretarisnya untuk membawa proposal-proposal itu. Setelah sekretaris tersebut keluar, Pak Adinata memulai percakapan tentang proyek villa tersebut.
"Proyek villa ini akan dibangun di kawasan elit dengan luas tanah sekitar 10 hektar. Kami telah mempersiapkan desain yang modern dan elegan, serta fasilitas yang lengkap seperti kolam renang, lapangan tenis, dan pusat kebugaran. Kami berharap proyek ini dapat menjadi salah satu proyek yang paling sukses di kota ini," jelas Pak Adinata.
Gio mendengarkan penjelasan Pak Adinata dengan saksama, lalu meminta proposal-proposal tersebut untuk mempelajarinya lebih lanjut.
Setelah mempelajari proposal-proposal tersebut, Gio memberikan pendapatnya.
"Saya pikir proyek ini sangat menarik dan memiliki potensi yang besar. Namun, ada beberapa pertanyaan tentang anggaran biaya dan waktu pembangunan. Apakah Anda bisa menjelaskan lebih lanjut tentang hal ini?" tanya Gio.
Pak Adinata tersenyum. "Tentu saja, Tuan Abraham. Anggaran biaya untuk proyek ini sekitar lima ratus miliar, dan waktu pembangunan diperkirakan sekitar 2 tahun. Kami telah mempersiapkan rencana pembangunan yang rinci dan telah memilih kontraktor yang terpercaya untuk melaksanakan proyek ini."
"Baiklah, saya paham. Saya akan membawa proposal-proposal ini kembali ke kantor dan mempelajarinya lebih lanjut dengan tim saya. Kami akan memberikan jawaban kepada Anda dalam waktu dekat." Mereka berdua pun berjabat tangan.
Namun, saat Gio hendak pergi, Pak Adinata mengehentikan langkahnya.
"Tuan Abraham, ada yang ingin saya bicarakan, tapi ini diluar pekerjaan." Pak Adinata terlihat sedikit gugup.
"Begini, setau saya, Anda belum berkeluarga kan? Saya punya anak perempuan, kalau Anda berminat, saya bisa memperkenalkannya pada Anda." tawar Pak Adinata dengan penuh percaya diri.
Gio tersenyum miring. "Tidak perlu, Tuan Adinata. Jangan mencampurkan antara urusan pekerjaan dan pribadi.''
"Saya yakin pasti Anda menolak. Pengusaha muda dan terkenal seperti Anda, tentu saja banyak wanita yang mengantri." gurau Pak Adinata dengan senyum menutupi rasa malunya.
"Tapi saya tidak tertarik. Saya hanya sedang fokus dengan pekerjaan dan karier. Kalau begitu saya pamit, Tuan." Gio keluar dari ruangan mewah tersebut.
"Tuan Abraham tidak tertarik dengan wanita? Apa mungkin dia—" Pikiran Pak Adinata menerawang jauh.
_____________
BERSAMBUNG